<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100</id><updated>2012-01-20T07:55:15.234+07:00</updated><category term='plagiat'/><category term='pemilu'/><category term='ismail'/><category term='distribusi probabilitas'/><category term='akhtar'/><category term='kata'/><category term='sekolah'/><category term='dosen'/><category term='China'/><category term='superlative'/><category term='Dickin medals'/><category term='profesor'/><category term='Karl May'/><category term='Israel'/><category term='daripada'/><category term='riset'/><category term='Minangkabau'/><category term='barang bekas'/><category term='Jawa'/><category term='konferensi'/><category term='perjalanan'/><category term='Universitas Andalas'/><category term='pengembangan jurusan'/><category term='long tail economics'/><category term='klitikan'/><category term='kerisik'/><category term='unik'/><category term='Pakuncen'/><category term='Hotel Atjeh'/><category term='skripsi'/><category term='khutbah Jumat'/><category term='pejabat'/><category term='penelitian'/><category term='doktor'/><category term='UGM'/><category term='Tsunami'/><category term='Munich'/><category term='chris anderson'/><category term='nidji'/><category term='Padang'/><category term='kuliah'/><category term='rashad abdel-khalik'/><category term='pekerjaan'/><category term='nasib'/><category term='1833'/><category term='perbendaharaan kata'/><category term='valiant the movie'/><category term='ayah'/><category term='keputusan'/><category term='Roby Muhammad'/><category term='Mas&apos;ud Machfoedz'/><category term='Malioboro'/><category term='jabatan minimal'/><category term='gempa Padang'/><category term='Mesir'/><category term='jodoh'/><category term='Lucky Aminarko'/><category term='jalan hidup'/><category term='anak'/><category term='bangsa besar'/><category term='ensiklopedi'/><category term='jujur'/><category term='Belanda'/><category term='anakku'/><category term='harga'/><category term='kritik diri'/><category term='six degree of separation'/><category term='mahasiswa'/><category term='ide'/><category term='calon presiden'/><title type='text'>Mata dan telinga</title><subtitle type='html'>Setiap detik, setiap saat, kita melihat dan mendengar melalui mata dan telinga. Tapi, sadarkah kita bahwa jumlah mereka dua kali jumlah lidah kita?</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>106</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2560574505322154418</id><published>2012-01-09T20:50:00.000+07:00</published><updated>2012-01-09T20:50:09.862+07:00</updated><title type='text'>Hidup adalah sebuah pilihan? Keliru!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-MIc-Dq4wweY/Twrv06Rg6zI/AAAAAAAAAwQ/ptbPinPHfsw/s1600/choices.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-MIc-Dq4wweY/Twrv06Rg6zI/AAAAAAAAAwQ/ptbPinPHfsw/s1600/choices.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Anda pasti sudah pernah membaca kalimat tersebut: Hidup adalah sebuah pilihan. Sebuah kalimat yang sangat-sangat keliru dan dari dulu saya sudah gatal ingin mengatakan bahwa itu keliru. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda diberi sesuatu untuk dipilih, tersirat bahwa saat itu ada pilihan yang lain. Contoh, ketika kecil anda diajak ke toko untuk membeli baju untuk berlebaran. Jika orang tua anda mengatakan, "Pilihlah baju untukmu, Nak," maka artinya anda harus memilih satu atau dua baju di antara sekian banyak pilihan yang ada di toko. Contoh lain, suatu kali mungkin anda hendak masuk ke perguruan tinggi, maka saat itu anda pasti memilih salah satu--walau dalam praktiknya bisa lebih dari beberapa pilihan--dari sekian banyak pilihan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke kalimat tersebut. Jika kehidupan adalah sebuah pilihan, maka ada opsi lain, dong, kalau begitu? Apakah opsi itu? Menurut hemat saya, jika opsi yang pertama adalah hidup, maka opsi yang lain, dan satu-satunya opsi lain yang tersedia adalah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opss...! Tunggu dulu. Jika anda mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, maka anda juga boleh memilih mati sebagai sebuah pilihan? Itukah yang anda maksudkan dengan hidup sebagai sebuah pilihan? Sama, kan, dengan jika di toko pakaian hanya tersedia dua merek baju, katakan merek ABC dan merek XYZ, maka jika anda memilih ABC, opsi yang tidak anda pilih adalah XYZ, kan? Bolehkah anda mengganti pilihan, dari ABC, ke XYZ? Boleh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Jika begitu, bolehkah anda mengganti pilihan dari hidup ke mati? Tentu tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pindah dari alam roh ke alam dunia ini adalah sebuah ketetapan, berian (given), perintah dari ALLAH. Apakah saya punya opsi lain ketika mendapat perintah untuk hidup? Jelas tidak! Saya tidak punya hak untuk memilih mati karena tombol ON/OFF itu adalah hak prerogatif ALLAH. Anda juga tidak punya hak untuk memilih di antara hidup atau mati. IA perintahkan anda hidup, maka anda harus hidup; IA perintahkan anda mati, maka anda akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hidup bukanlah pilihan! Hidup adalah sebuah ketetapan dan kita, manusia, tidak punya pilihan lain selain menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika premis itu harus diperbaiki, maka menurut hemat saya yang lebih benar adalah bahwa di dalam hidup kita harus memilih; di dalam hidup kita disedikan pilihan-pilihan. Tugas kita adalah memilih salah satu dari pilihan-pilihan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu anda pernah makan di restoran Padang. Di sana, sekarang sebagian jika anda minta, di atas meja anda, akan dihidangkan belasan macam lauk-pauk, sayur-mayur, dan bahkan beragam jenis samba lado. Anda boleh pilih manapun yang anda akan makan, sesuai dengan kebutuhan anda. Ketika anda memilih ayam pop, maka saat itu anda tidak memilih yang lain. Artinya, walaupun anda menenggekkan rendang paru, misalnya, di piring anda, anda tetap saja memilih satu pilihan dari sekian pilihan karena tidak mungkin anda memilih serentak semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan anda di rumah makan adalah analogi posisi "hidup" anda. Rasa lapar menempatkan anda di rumah makan. Opsi lain, yaitu tidak makan, walau tersedia, bukanlah hak anda untuk memilih. Semua hidangan yang ada di meja anda perumpamaan semua pilihan yang anda bisa pilih selama anda hidup. Serakus apapun anda, anda tetap akan mampu memilih satu di antara beberapa pilihan yang ada. Kalaupun anda memilih lauk kedua, ketiga, dan seterusnya, semuanya diambil secara berurutan dari yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ibarat hidup di dunia, lapar di dalam kondisi di atas adalah kodrat. Anda tidak bisa mengatakan bahwa rasa lapar adalah pilihan. Lapar, ya, lapar. Jika anda tidak lapar, maka kebalikannya adalah kenyang. Anda tidak bisa merasa kenyang tanpa rasa lapar anda dihilangkan dulu. Demikian juga hidup. Hidup bukanlah pilihan. Anda hidup, ya, karena anda tidak mati. Anda tidak bisa memilih hidup atau mati. Untuk bisa mati, anda harus menjalani hidup dulu. Tidak ada pilihan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is life still a choice? Anda saat ini sudah hidup, jangan pernah mencari alasan untuk memilih opsi kedua. Itu bukan hak anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 9 Januari 2012&lt;br /&gt;Sumber gambar:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sentryjournal.com/2011/11/04/friday-ramblings-late-edition-liberty-is-about-the-power-of-choice/"&gt;http://www.sentryjournal.com/2011/11/04/friday-ramblings-late-edition-liberty-is-about-the-power-of-choice/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2560574505322154418?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2560574505322154418/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2012/01/hidup-adalah-sebuah-pilihan-keliru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2560574505322154418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2560574505322154418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2012/01/hidup-adalah-sebuah-pilihan-keliru.html' title='Hidup adalah sebuah pilihan? Keliru!'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-MIc-Dq4wweY/Twrv06Rg6zI/AAAAAAAAAwQ/ptbPinPHfsw/s72-c/choices.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-7835300244179173854</id><published>2011-12-29T20:04:00.004+07:00</published><updated>2012-01-20T07:55:15.251+07:00</updated><title type='text'>Keluh!</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nej1c6h4YNY/Tvxo3uM1oWI/AAAAAAAAAwI/kBRY_7vg-9A/s1600/complain.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-nej1c6h4YNY/Tvxo3uM1oWI/AAAAAAAAAwI/kBRY_7vg-9A/s1600/complain.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu, butuh 10 hari untuk mengirim dan menerima balasan surat kilat khusus--&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;&lt;i&gt;Keluh&lt;/i&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, butuh tidak lebih semenit untuk mendapatkan balasan SMS--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun yang lalu kadang-kadang harus mengantre lama untuk bisa mengakses internet--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tinggal pencet ponsel atau komputer sendiri--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu anda harus membayar Rp.3000 per jam untuk mengakses internet--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini anda cukup membayar Rp.5000 untuk mendapatkan akses 24 jam penuh--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu anda harus bergantian dengan anggota keluarga membaca selembar koran--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini dua puluh koran mengantre di linimasa twitter anda--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu anda harus punya paman yang banyak untuk tahu banyak--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini anda cukup punya satu paman untuk menunjuki anda tempat mencarinya--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu anda harus ke wartel jam 10 malam untuk bisa menelpon SLJJ yang murah--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini dengan Rp.300 hingga Rp.3000 anda sudah bicara bicara puas dengan ibu anda di rumah--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun yang lalu anda ngiler melihat orang menggenggam ponsel--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini anda punya tiga nomor ponsel aktif--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu anda harus menunggu rumah kosong untuk bisa mencuri-curi telpon--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini setiap anggota keluarga punya saluran telpon pribadi--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu gemerisik di telpon dianggap biasa--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kehilangan sinyal semenit bisa membuat sumpah serapah keluar--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu nonton dua saluran tv sudah luar biasa--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini dua puluh kanal masih kurang banyak--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu dari Padang ke Jakarta lebih dari 30 jam diguncang-guncang bus--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini anda bisa hanya akan makan siang di Jakarta untuk kembali istirahat di Padang--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu anda harus beli kamera dan film untuk bisa memotret--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini anda cukup punya ponsel--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu mengirim telegraf masih canggih, walau telah ada sejak zaman koboi--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun lalu mengirim telegraf lewat ponsel sudah canggih--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini video dan suara bisa dikirim bersamaan--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu anda harus menabung sebulan untuk membeli satu kaset penyanyi kesayangan--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini anda tidak perlu beli satupun asal punya akses ke internet--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu pita kaset yang kusut bisa membuat anda mencak-mencak--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini anda tinggal unduh kembali--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu anda harus keluar masuk pasar barang bekas untuk mencari kliping berita untuk tugas sekolah--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tinggal ketik kata kunci di portal pencarian--&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Keluh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu mengeluh!&lt;br /&gt;Sepuluh tahun yang lalu mengeluh!&lt;br /&gt;Kemaren mengeluh!&lt;br /&gt;Hari ini masih mengeluh!&lt;br /&gt;Besok tetap akan mengeluh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 29 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber gambar:&amp;nbsp;&lt;a href="http://julieamarxhausen.wordpress.com/2011/06/15/complaining-a-terrible-waste-and-very-contagious/"&gt;http://julieamarxhausen.wordpress.com/2011/06/15/complaining-a-terrible-waste-and-very-contagious/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-7835300244179173854?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/7835300244179173854/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/12/keluh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7835300244179173854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7835300244179173854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/12/keluh.html' title='Keluh!'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nej1c6h4YNY/Tvxo3uM1oWI/AAAAAAAAAwI/kBRY_7vg-9A/s72-c/complain.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-7582645943322238735</id><published>2011-12-17T09:23:00.007+07:00</published><updated>2011-12-17T21:06:54.276+07:00</updated><title type='text'>Tua</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-64CLpEc0UEs/Tuya4ERmSRI/AAAAAAAAAv8/mfmLTNbJO3w/s1600/bapak+tua.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-64CLpEc0UEs/Tuya4ERmSRI/AAAAAAAAAv8/mfmLTNbJO3w/s320/bapak+tua.jpg" width="297" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tua itu adalah ketika sesal sudah mulai datang&lt;br /&gt;Dewasa adalah tentang makna&lt;br /&gt;Tua bukan dewasa&lt;br /&gt;Tua adalah kesadaran akan perjalanan&lt;br /&gt;Dewasa adalah kesadaran akan pilihan-pilihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tua, masa 10, 20, atau 30 tahun bagai kemaren yang jauh&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"&lt;i&gt;Ah...bagai baru kemaren&lt;/i&gt;"&lt;/blockquote&gt;Ketika dewasa, 10, 20, atau 30 tahun adalah dulu yang jauh&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"&lt;i&gt;Dulu! Tidak lagi&lt;/i&gt;."&lt;/blockquote&gt;Tak perlu tua untuk menjadi dewasa&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"&lt;i&gt;Lautan budi, tepian ilmu.&lt;/i&gt;"&lt;/blockquote&gt;Namun, tak dewasa bukan berarti tak tua&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"&lt;i&gt;Tua-bangka tak tahu diri&lt;/i&gt;."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya&lt;br /&gt;(WS Rendra, 1972)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu&lt;br /&gt;Sementara kau kenangkan encokmu&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang&lt;br /&gt;Dan juga masa depan kita yang hampir rampung&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dan dengan lega akan kita lunaskan.&lt;span id="more-341"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita&lt;br /&gt;Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.&lt;br /&gt;Suka duka kita bukanlah istimewa&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kerna setiap orang mengalaminya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh&lt;br /&gt;Hidup adalah untuk mengolah hidup&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bekerja membalik tanah&lt;br /&gt;Memasuki rahasia langit dan samodra,&lt;br /&gt;Serta mencipta dan mengukir dunia.&lt;br /&gt;Kita menyandang tugas,&lt;br /&gt;Kerna tugas adalah tugas.&lt;br /&gt;Bukannya demi sorga atau neraka.&lt;br /&gt;Tetapi demi kehormatan seorang manusia.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu&lt;br /&gt;Meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.&lt;br /&gt;Kita adalah kepribadian&lt;br /&gt;Dan harga kita adalah kehormatan kita.&lt;br /&gt;Tolehlah lagi ke belakang&lt;br /&gt;Ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.&lt;br /&gt;Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.&lt;br /&gt;Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit&lt;br /&gt;Melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.&lt;br /&gt;Dan kenangkanlah pula&lt;br /&gt;Bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa&lt;br /&gt;Menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.&lt;br /&gt;Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.&lt;br /&gt;Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.&lt;br /&gt;Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib, dan kehidupan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lihatlah!&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sembilan puluh tahun penuh warna&lt;br /&gt;Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.&lt;br /&gt;Kita menjadi goyah dan bongkok&lt;br /&gt;Kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita&lt;br /&gt;Tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Aku tulis sajak ini&lt;br /&gt;Untuk menghibur hatimu&lt;br /&gt;Sementara kaukenangkan encokmu&lt;br /&gt;Kenangkanlah pula&lt;br /&gt;Bahwa kita ditantang seratus dewa.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 17 Desember 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak dari &lt;a href="http://lenterahati.web.id/sajak-seorang-tua-untuk-istrinya.html" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar dari &lt;a href="http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/11/10/cucuku-dialah-yang-menyelamatkan-nyawa-kakek/" target="_blank"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-7582645943322238735?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/7582645943322238735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/12/tua.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7582645943322238735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7582645943322238735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/12/tua.html' title='Tua'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-64CLpEc0UEs/Tuya4ERmSRI/AAAAAAAAAv8/mfmLTNbJO3w/s72-c/bapak+tua.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4191750175133116807</id><published>2011-12-07T22:50:00.007+07:00</published><updated>2012-01-12T21:19:25.424+07:00</updated><title type='text'>Tuhan Bertindak dan Anda Hanya Harus Paham</title><content type='html'>Di saat wisuda S1, di tengah lagu Padamu Negeri, saya menyadari jalan hidup saya. Di tahun yang sama dengan kelulusan itu saya melamar menjadi dosen di universitas saya. Walau itu bukan satu-satunya lamaran yang saya buat, namun itu satu-satunya panggilan yang saya penuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, dua tahun kemudian, satu di antara kesibukan saya adalah mencari beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. TOEFL mumpuni dan teratas dari semua dosen yang ada di Fakultas. Saat itu saya sangat yakin bahwa waktu hanyalah satu-satunya pembatas antara saya dengan sekolah manapun di luar sana. Kemudian, walau memang saya tidak pernah lulus beasiswa G-to-G Australia, Perancis, maupun AS, namun selembar surat penerimaan dari Birmingham telah ada di tangan saya di awal tahun 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memberi waktu hingga Agustus bagi saya untuk melunasi SPP. Dan hingga batas waktu itu berlalu, saya tidak bisa mendapatkan satupun dana. Ada paket beasiswa yang bisa saya dapatkan sebenarnya, namun saya harus bisa mendapatkan satu surat lagi: penerimaan langsung ke S3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Jelas ini tidak bisa saya dapatkan kemudian. Jika saat ini saya mengingat lagi momen itu, satu hari di bulan April di tahun 2000, saat saya kalang-kabut menyusun apa yang saya kira adalah outline proposal S3, saya hanya bisa menertawai keluguan saya saat itu. Bagaimana mungkin saya bisa menyusun sebuah outline seperti itu jika satu-satunya riset yang pernah saya tulis adalah skripsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 2001 harapan saya muncul. Lamaran saya seperti akan berujung baik karena saya sudah mencapai tahap wawancara. Malang kemudian, saya tidak tahu persis korelasinya, malam setelah saya pulang dari wawancara, dua menara di NY runtuh dan AS kemudian menjadi takut dengan alien-alien yang akan masuk ke negara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari bahwa tahun itu saya sudah berusia 26 dan saya telah jauh dari cita-cita "usia 30 tahun" saya, maka tanpa benar-benar sadar dengan apa yang saya lakukan, saya kemudian telah berada di Jogja, di ruang ujian wawancara. Dan tanpa bisa saya cegah kemudian saya telah menjadi mahasiswa master dan tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergelutan batin yang sama terjadi kembali saat saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Jogja. FYI, saya memutuskan kembali ke Jogja setahun setelah saya gagal melewati wawancara ADS. Saya duga masalah kegagalan saya hanya karena saya laki-laki, akuntansi, dan tidak bisa menunjukkan dua kardus bukti riset yang saya klaim telah saya selesaikan seperti yang tunjukkan oleh wanita insinyur sebelum saya. Walau tidak ingin menyalahkan orang lain karena kegagalan saya, namun saya sangat yakin bahwa ketiga alasan itu adalah yang membuat saya tidak bisa mendapatkan beasiswa itu. Saya memang tidak tahu, namun hanya jika ia memiliki IELTS 6.5 sama seperti saya, maka ia memang lebih baik mendapatkan beasiswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun lebih saya di sini, saya baru mulai menyadari bahwa doa saya dahulu, yang meminta agar saya bisa bersekolah di Barat memang tidak dikabulkan Tuhan. Konon memang ada doa yang tidak dikabulkan Tuhan karena IA akan berikan di akhirat sana. Namun, doa saya untuk bersekolah di Barat memang tidak dikabulkan, namun IA merubahnya menjadi berupa ilmu-ilmu dari Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita yang menyadari beda dunia hari per hari, maka anda akan setuju dengan saya barat dan timur adalah imajinasi belaka. Pembatas yang kita ciptakan karena kita tidak bisa menyeberanginya seperti kita menyeberangi dunia hari ini, detik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Tuhan, saya sadari kemudian, tidak hanya memberikan ilmu-ilmu dari Barat kepada saya. Ia juga memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan ilmu ke Barat. Dalam empat tahun terakhir, paper saya telah sampai ke Jerman, Turki, dan Australia. Ketiga negara itu mengundang saya untuk datang, namun saya tidak memiliki kemewahan untuk datang. Sedih? Sangat! Namun, bukan itu yang lebih penting. Jika dahulu saya mencarinya ke Barat, sekarang sudah akan tiba masanya untuk berbagi ke Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di dalam hati, saya tahu, sebenarnya ada rahasia lain yang ingin disampaikan Tuhan kepada saya. Di dalam hati manusia ada api yang menjadi bahan dasar sifat iblis. Jika api itu besar, maka iblis akan menjadi raja. Padahal, menurut ahli suluk dan sufi, sifat itu adalah sifat Tuhan yang tidak boleh ditiru makhluk. Tuhan pengasih dan penyayang dan manusia juga harus demikian. Tuhan maha pemaaf dan manusia juga harus begitu. Tapi, Tuhan boleh sombong, namun manusia tidak boleh, sama seperti orang kaya boleh sombong--karena ia punya apa yang perlu ia sombongkan, orang miskin tidak boleh sombong; dan karena Tuhan Maha Kaya, maka Ia berhak menyombongkan diriNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berdoa agar saya bisa mencari ilmu ke Barat, IA tidak membiarkan saya mencari ke sana. Ia antar ilmu-ilmu yang ingin saya cari itu ke halaman rumah saya. Sekali waktu saya pernah berspekulasi mengapa IA "kejam" kepada saya. Mengapa ia tidak membiarkan saya melanglang buana ke tanah-tanah asing; mengapa IA tidak membiarkan saya berimajinasi bisa melambung setinggi orang-orang sana; mengapa ia tidak membiarkan saya pulang bersimpuh menunjukkan ijasah-ijasah saya kepada kedua orang tua saya; mengapa ia tidak membiarkan salju yang putih menyengat kulit tropis saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jawabannya semuanya ternyata ada di dalam diri saya. Ada api besar di dalam diri saya dan api itu hanya butuh sedikit terik untuk menyala dan membakar habis semua. Dan IA tidak ingin itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya harus paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 7 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4191750175133116807?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4191750175133116807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/12/tuhan-bertindak-dan-anda-hanya-harus.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4191750175133116807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4191750175133116807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/12/tuhan-bertindak-dan-anda-hanya-harus.html' title='Tuhan Bertindak dan Anda Hanya Harus Paham'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-7869425549731082698</id><published>2011-10-09T12:35:00.001+07:00</published><updated>2011-10-09T12:40:52.588+07:00</updated><title type='text'>...membaca saja aku sulit...</title><content type='html'>Setelah selesai menulis tentang Erdos-Bacon Number &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/10/paul-erdos-kavin-bacon-dan-erdos-bacon.html"&gt;di artikel yang lalu&lt;/a&gt;, saya mencoba mencari tahu apakah di kalangan dosen di Indonesia ada yang punya Erdos Number atau tidak. Caranya, pertama saya tanyakan di grup di FB dan satu lagi saya tanyakan di mailinglist kampus saya. Tentu saja, ketika bertanya saya sampaikan sedikit apa yang saya tanyakan serta saya lengkapi dengan alamat artikel saya tersebut. Tujuan saya, ya, agar kalau ada yang belum tahu tentang Erdos Number dan tidak sadar bahwa ia mungkin saja punya Erdos Number sendiri jadi sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di artikel yang lalu tersebut, saya berusaha sebaik mungkin dan seringkas mungkin menjelaskan apa itu Erdos dan Bacon Number. Saya sendiri sangat takut keliru, terutama dalam memahami Erdos Number. Salah satu yang saya khawatirkan tersebut adalah bahwa ternyata Erdos Number itu tidak sesederhana pendeskripsian seberapa "jauh" jarak seseorang dari Paul Erdos. Misalnya, saya sangat berhati-hati dan takut kalau-kalau Erdos Number itu juga berarti sebuah koefisien atau solusi tertentu atau rumusan tertentu di dalam ilmu matematika, bukan seperti yang saya tulis di artikel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah berkutat seharian menulis artikel tersebut, klik sana-sini, baca atas-bawah lengkap-lengkap, saya akhirnya yakin bahwa pemahaman saya tentang Erdos Number sudah benar. Lalu, artikel saya poskan dan di akhir hari saya tanyakan kepada orang-orang apakah ia memiliki Erdos Number atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dua atau tiga hari setelah saya poskan tulisan tersebut datang balasan atas surel saya di mailinglist di kampus saya. Dari seseorang dosen matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang mengecewakan saya adalah bahwa ia mempertanyakan pengetahuan saya atas apa yang dimaksud dengan Erdos Number; atau lebih tepatnya, ia menuduh bahwa saya hanya berkicau tidak jelas menanyakan tentang angka itu tapi tidak paham: "&lt;i&gt;Apakah anda paham apa yang dimaksud dengan Erdos Number?&lt;/i&gt;" Sebelum kalimat itu, ia malah menuliskan tempat dan tanggal lahir dan tanggal kematian Paul Erdos, serta kebangsaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas bahwa ia tidak membaca lengkap surel yang saya kirimkan ke mailinglist dan tidak melihat bahwa di akhir surat saya ada tautan ke artikel saya. Bahkan kalaupun ia tidak melihat tautan tersebut, seharusnya ia tidak tidak melihatnya, alias melihatnya, karena saya tulis, "...&lt;i&gt;yang tautannya ada di bawah ini&lt;/i&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jelas, bukan? Seharusnya ia sudah tahu bahwa ada tautan ke sebuah artikel dan seharusnya ia telah melihat dan membacanya, bukan, sebelum mempertanyakan apakah saya tahu atau tidak dengan Erdos Number itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya bukan penulis yang baik dan terdidik. Setidaknya itu yang saya pahami tentang cara saya menulis. Saya hanya belajar sambil jalan. Intip tulisan seseorang di koran, majalah, blog, atau di media lain; lalu membayangkan bagaimana cara si penulis, di antara beberapa hal penting, memilih gaya penulisan, alur, dan, yang paling penting, panjang tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya sangat sadar bahwa saya tidak punya kemampuan untuk bertahan berlama-lama di depan sebuah teks. Saya akan cepat bosan dengan sebuah tulisan yang panjang dan setelah setengah jam saja saya akan melepasnya lalu mencari perhatian ke hal-hal yang lain sebelum kembali ke tulisan tadi. Itupun kalau saya harus kembali ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya saya juga berusaha menulis pendek-pendek di blog ini demi mempertahankan pembaca di sebuah tulisan, hingga ia bisa mendapatkan cerita utuh dari setiap tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kembali ke komentar si dosen tadi, terkesan bahwa ia sebenarnya tidak membaca apa yang saya tulis, lalu kemudian berkomentar. Dan, ia bukan yang pertama berkomentar tanpa membaca lengkap sebelumnya. Di beberapa tulisan di blog saya bertebaran bukti-bukti bahwa si penulis komentar tidak membaca apa yang seharusnya telah ia baca sebelum meninggalkan komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah contoh, namun tidak ada di dalam komentar di artikel di blog saya, seorang pembaca artikel saya tentang &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/02/kite-runner-membaca-afghanistan-dari.html"&gt;Afganishtan&lt;/a&gt;, mempertanyakan bagaimana saya bisa membuat simpulan bahwa Afganishtan adalah negeri orang Pashtun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai...sesungguhnya apa yang ia tanyakan tersebut ada dengan jelas terpampang di depan matanya jika ia bersedia "menyusahkan diri" barang dua-tiga menit membaca baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi bertanya-tanya, apakah bangsa kita benar-benar bisa memahami apa yang ia dengar, baca, dan apakah benar-benar ia bisa membaca. Adik saya, setelah kematian Steve Jobs kemaren, menunjukkan contoh komentar orang di sebuah media sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan anda nikmati dan mari bercermin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-dAF3I5mdK9A/TpEyQia8WkI/AAAAAAAAAvQ/JShpqaz3PUA/s1600/ga+kenal+steve+jobs.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-dAF3I5mdK9A/TpEyQia8WkI/AAAAAAAAAvQ/JShpqaz3PUA/s1600/ga+kenal+steve+jobs.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 9 Oktober 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-7869425549731082698?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/7869425549731082698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/10/membaca-saja-aku-sulit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7869425549731082698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7869425549731082698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/10/membaca-saja-aku-sulit.html' title='...membaca saja aku sulit...'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-dAF3I5mdK9A/TpEyQia8WkI/AAAAAAAAAvQ/JShpqaz3PUA/s72-c/ga+kenal+steve+jobs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-8458736267273224022</id><published>2011-10-02T09:07:00.004+07:00</published><updated>2011-10-03T08:05:26.885+07:00</updated><title type='text'>Paul Erdos, Kevin Bacon, dan Erdos-Bacon Number</title><content type='html'>Bagi saya, dan mungkin bagi sebagian orang yang lain, lelaki tua ini mungkin bukan wajah yang familiar, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zQ_h7sp9jys/ToepI8M-g2I/AAAAAAAAAuw/3rQbISNQ2vw/s1600/erdos.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-zQ_h7sp9jys/ToepI8M-g2I/AAAAAAAAAuw/3rQbISNQ2vw/s320/erdos.jpg" width="268" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-I_l3Zno0jLA/ToepbKWLPKI/AAAAAAAAAu4/RZu1yxIG0nk/s1600/erdos1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-I_l3Zno0jLA/ToepbKWLPKI/AAAAAAAAAu4/RZu1yxIG0nk/s1600/erdos1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan foto yang kedua ini? Ah, mungkin anda bisa menebaknya langsung: Kevin Bacon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-CWjirYzZAwk/ToepYqRFQYI/AAAAAAAAAu0/-kOS4V4CmBU/s1600/Kevin-Bacon-Ponzi-Scheme-Victim.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="254" src="http://3.bp.blogspot.com/-CWjirYzZAwk/ToepYqRFQYI/AAAAAAAAAu0/-kOS4V4CmBU/s320/Kevin-Bacon-Ponzi-Scheme-Victim.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan, yang terakhir, anda yang telah menonton film Thor akan langsung mengenali wajah pemeran Jane Foster: Natalie Portman ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wehJ1djRsvI/Toeryve1aBI/AAAAAAAAAu8/37hW4pPE0GE/s1600/Natalie_Portman_Thor.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-wehJ1djRsvI/Toeryve1aBI/AAAAAAAAAu8/37hW4pPE0GE/s320/Natalie_Portman_Thor.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Y4iWHAcssaQ/Toer0pc-AFI/AAAAAAAAAvA/rYcU6YmDqOg/s1600/Natalie_Portman_in_Thor_Wallpaper_3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-Y4iWHAcssaQ/Toer0pc-AFI/AAAAAAAAAvA/rYcU6YmDqOg/s320/Natalie_Portman_in_Thor_Wallpaper_3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Namun, mungkin sangat sedikit yang sadar bahwa Natalie Portman adalah satu dari (SANGAT) sedikit aktris yang terhubung dengan Paul Erdos dan Kevin Bacon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Ini sedikit ceritanya, yang secara kebetulan saya dapatkan dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Paul Erdos adalah seorang matematikawan kelahiran Hungaria di tahun 1913 (tahun 1996 ia meninggal dunia). Ia dikenal eksentrik. Walaupun ia adalah seorang ahli matematika yang dihormati--dan sangat mungkin akan dihargai tinggi oleh banyak universitas, ia lebih banyak menghabiskan hidupnya di luar rumah dan tinggal bersama koleganya yang bersedia memberinya tempat berteduh. Yang paling mengagumkan dari dirinya adalah bahwa ia adalah penulis paper matematika terbanyak di dalam sejarah. Di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Erdos_number"&gt;wikipedia&lt;/a&gt; ia diberitakan menulis 1.525 paper, namun di &lt;a href="http://www.brilliantstudent.in/blog/?p=786"&gt;sumber lain&lt;/a&gt;&amp;nbsp;disebutkan jumlah yang lebih rendah, yaitu 1.475.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebagian besar dari paper-paper matematika tersebut ditulis bersama satu atau lebih orang lain. Di tautan yang tadi dikatakan bahwa ia memiliki 511 orang kolaborator penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini dunia ilmu pengetahuan diwarnai oleh saling-kait antar ilmu pengetahuan. Sulit mencari ilmu di dunia yang tidak berhubungan dengan matematika. Fisika, kimia, bisnis/keuangan, biologi, astronomi, statistika adalah contohnya. Bahkan ilmu politik sangat mungkin meminjam sebagian teori yang ada di dalam matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari saling-kait antar ilmu tersebutlah Erdos kemudian menjadi semacam ukuran. Sebanyak 511 orang yang telah berkolaborasi dengan Erdos secara langsung dalam penulisan paper tentu akan berkolaborasi lagi dengan orang lain. Orang yang telah berkolaborasi tersebut akan berkolaborasi lagi dengan orang yang lain lagi, demikian seterusnya. Ke-511 orang yang pertama tersebut kemudian diberi angka indeks 1 yang menunjukkan bahwa orang tersebut pernah berkolaborasi secara langsung dengan orang berindeks 0, yaitu Erdos sendiri. Jika 511 orang tadi kemudian menulis lagi dengan masing-masing dua orang kolaborator yang sama-sekali tidak pernah menulis bersama Erdos, maka 1.022 orang tersebut (511 x 2) adalah orang berindeks/berangka 2, yaitu orang yang pernah menulis paper dengan orang yang secara langsung menulis paper bersama Erdos. Demikian seterusnya, sehingga akan anda orang yang memiliki angka Erdos 3, 4, 5, hingga tak-hingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang disebut dengan Erdos Number.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Ketika membintangi film &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_River_Wild"&gt;The River Wild&lt;/a&gt; di tahun 1994 (salah satu film yang bagus sekali menurut saya), Kevin Bacon berseloroh bahwa setiap orang di Hollywood pasti pernah bekerja dengannya. Beberapa orang kemudian penasaran tentang jumlah film yang sebenarnya telah dibintangi oleh Bacon dan berapa banyak orang yang telah bekerja-sama dengannya, khususnya membintangi film. Orang-orang tersebut kemudian membuat sebuah permainan yang sebenarnya berbasis konsep six degree of separation. Contoh penjelasan konsep ini bisa dibaca dengan mengklik kata &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2008/11/six-degree-of-separation.html"&gt;tautan&lt;/a&gt; ini. Penjelasan lain ada di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Six_degrees_of_separation"&gt;tautan ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Menurut konsep tersebut anda hanya butuh enam langkah (satu langkah berarti adalah satu orang) untuk mengkaitkan anda dengan orang lain yang sama sekali asing bagi anda. Artinya, jika anda bertemu dengan orang asing di sebuah negara asing, maka teman anda&amp;nbsp;(langkah pertama)&amp;nbsp;memiliki teman&amp;nbsp;(langkah kedua) yang memiliki teman lain (langkah ketiga) yang memiliki teman lain lagi&amp;nbsp;(langkah keempat) yang juga memiliki teman (langkah kelima) yang mengenal orang asing ini (langkah keenam).&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;Nah, Bacon Number itu meniru konsep Erdos Number. Setiap orang yang pernah bermain di film bersama Kevin Bacon (angka/indeks Bacon 0) adalah orang berangka Bacon 1. Orang berikutnya yang bermain di dalam film bersama teman main Bacon di film memiliki angka Bacon 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan angka Erdos, angka Bacon tidak berarti bergerak ke depan, namun juga ke belakang, ke masa lalu. Misalnya, di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bacon_number#Bacon_numbers"&gt;wiki&lt;/a&gt;&amp;nbsp;disebutkan bahwa Elvis Presley memiliki angka Bacon 2 karena ia pernah bermain film bersama Edward Asner di tahun 1977 di dalam film Change of Habit, sementara Edward Asner pernah bermain film dengan Bacon di tahun 1991 di dalam film JFK. Namun, tentu saja geraknya juga bisa ke arah depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah Kevin Bacon, di antara sebegitu banyak bintang di Hollywood, cukup pantas dijadikan pusat semesta di Hollywood dan kemudian memberi label pada orang-orang lain yang menunjukkan apakah orang itu dekat atau tidak dengan Bacon. Misalnya ada Clint Eastwood yang lebih pantas yang telah berkarir sejak tahun 1950-an. Di IMDB.com data &lt;a href="http://www.imdb.com/name/nm0000102/"&gt;jumlah film Bacon&lt;/a&gt; hingga 2011 adalah 72 judul, sementara &lt;a href="http://www.imdb.com/name/nm0000142/"&gt;Eastwood&lt;/a&gt; hanya 66 judul film. Saya tidak tahu seberapa lengkap data ini. Yang jelas, Bacon menurut sebuah penelitian memang bukanlah titik pusat dari semesta Hollywood dan ini menjadi lebih menguatkan perannya untuk dijadikan titik pusat di Hollywood untuk mencari keterhubungan antar orang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Natalie Portman. Sebagai aktris sangat mungkin ia memiliki kaitan dengan Bacon. Jika anda memasukkan namanya ke dalam pencarian di &lt;a href="http://oracleofbacon.org/"&gt;oracleofbacon.org&lt;/a&gt;, maka di sana ditunjukkan bahwa Portman pernah bermain di film Heat dengan Xander Berkeley (1995), sementara Berkeley pernah bermain di film A Few Good Men (1992) bersama Bacon. Jadi, Portman memiliki angka Bacon 2 melalui jalur Berkeley (angka Bacon 1). Namun, Portman dan Bacon ternyata pernah bermain bersama di dalam film &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Erd%C5%91s%E2%80%93Bacon_number"&gt;New York, I Love You&lt;/a&gt; sehingga angka Bacon-nya menjadi 1 dalam jalur ini. Jadi, dari jalur yang berbeda-beda, seseorang bisa memiliki angka Bacon yang juga berbeda-beda dan bisa kemudian dibuat rata-rata angka Bacon bagi seseorang, jika tidak ingin mengambil nilai terendahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Portman sendiri tidak hanya memiliki dua jalur itu dengan Bacon. Ada beberapa jalur lain yang bisa anda periksa ke situs di atas. Misalnya ada Matt Dillon yang bermain bersama Portman di film Beautiful Girls (1996) dan Dillon bersama Bacon di film Loverboy (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ternyata Portman sendiri juga memiliki angka Erdos sendiri! Ini fakta yang mengagumkan karena tidak banyak orang dunia hiburan yang pernah menulis paper dan kemudian memiliki angka Erdos yang jelas, bukan angka yang tak-terdefinisikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natalie Portman sebenarnya terlahir sebagai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Natalie_Portman"&gt;Natalie Hershlag&lt;/a&gt;. Ia sengaja menggunakan nama ibunya demi melindungi keluarga bapaknya. Ia adalah Yahudi dari kedua sisi dan berasal dari keluarga yang melek pendidikan tinggi sejak dari kakeknya. Bahkan darah spionase juga mengalir di dirinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Portman, selain aktif di dunia film, juga adalah sarjana psikologi lulusan Harvard. Nah, di sini ia menulis &lt;a href="http://rabi.nmr.mgh.harvard.edu/DOT/PDF/Baird_NeuroImage_16_1120_2002.pdf"&gt;sebuah paper&lt;/a&gt; bersama Abigail A. Baird. Baird pernah menulis bersama Gazzaniga; Gazzaniga pernah menulis bersama dengan Victor; Victor pernah menulis bersama dengan Gillis; dan Gillis pernah menulis bersama dengan Erdos. Jadi, dengan demikian, Natalie Hershlag atau Natalie Portman memiliki angka Erdos 5 melalui jalur Baird--Gazzaniga--Victor--Gillis--Erdos dari laman &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Erd%C5%91s%E2%80%93Bacon_number"&gt;wikipedia&lt;/a&gt; ini (lihat catatan kaki 54-58).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau digabungkan Natalie Portman memiliki angka Erdos-Bacon 6 (angka Erdos 5, angka Bacon 5). Dan ia satu dari sedikit orang di dunia yang memiliki angka Erdos-Bacon!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa nama lain yang memilikinya ada di laman &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Erd%C5%91s%E2%80%93Bacon_number"&gt;wikipedia&lt;/a&gt; ini. Di antara mereka ada Carl Sagan, John Nash, Stephen Hawking, dan Collin Firth (film English Patient).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini saya jumpai ketika awalnya menonton di tivi bahwa ia termasuk satu dari beberapa pesohor dunia hiburan yang dikenal terdidik dan cerdas dan membandingkannya dengan pesohor di Indonesia yang membiarkan kecerdasan mereka tidak terdidik. Artinya, pesohor di Indonesia lebih memilih untuk melepaskan bangku sekolah dan kuliah ketimbang mendulukan sekolah ketimbang berdiri di depan kamera, seperti yang dipilih oleh Portman/Hershlag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik perhatian saya kemudian adalah apakah [1] ada orang di Indonesia yang memiliki angka Erdos atau Bacon atau keduanya; dan [2] apakah indeks/angka sejenis bisa dibuat di Indonesia. Kalau bisa, siapa kira-kira yang akan menjadi "Erdos" di Indonesia dan siapa yang menjadi "Bacon".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan-angan saya untuk "Erdos" mungkin adalah Profesor Sumitro atau Profesor Yohanes Surya. Sementara "Bacon" mungkin Benyamin Sueb atau Dedi Mizwar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 2 Oktober 2011&lt;br /&gt;Daftar orang dengan Erdos-Bacon Number misalnya ada di:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Erd%C5%91s%E2%80%93Bacon_number#Table"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Erd%C5%91s%E2%80%93Bacon_number#Table&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar nama sebagian orang yang memiliki Erdos Number saja:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www-users.med.cornell.edu/~jdvicto/erdos.html"&gt;http://www-users.med.cornell.edu/~jdvicto/erdos.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-7MqXhZm_SoM/TokKJv7uMoI/AAAAAAAAAvI/WTEA4GzK3jg/s1600/Erdos_Blessing_0102.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-7MqXhZm_SoM/TokKJv7uMoI/AAAAAAAAAvI/WTEA4GzK3jg/s320/Erdos_Blessing_0102.jpg" width="295" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-9hP7W0Vz2YA/TokKO2an-9I/AAAAAAAAAvM/BLVWdxry090/s1600/Erdos_Forte_0107.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-9hP7W0Vz2YA/TokKO2an-9I/AAAAAAAAAvM/BLVWdxry090/s320/Erdos_Forte_0107.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber gambar:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.brilliantstudent.in/blog/?p=786"&gt;http://www.brilliantstudent.in/blog/?p=786&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.plambeck.org/oldhtml/mathematics/klarner/ep/index.htm"&gt;http://www.plambeck.org/oldhtml/mathematics/klarner/ep/index.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://starcasm.net/archives/87369"&gt;http://starcasm.net/archives/87369&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://best-movie1.blogspot.com/2011/03/6-character-posters-thor-with-natalie_6997.html"&gt;http://best-movie1.blogspot.com/2011/03/6-character-posters-thor-with-natalie_6997.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-8458736267273224022?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/8458736267273224022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/10/paul-erdos-kavin-bacon-dan-erdos-bacon.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8458736267273224022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8458736267273224022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/10/paul-erdos-kavin-bacon-dan-erdos-bacon.html' title='Paul Erdos, Kevin Bacon, dan Erdos-Bacon Number'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-zQ_h7sp9jys/ToepI8M-g2I/AAAAAAAAAuw/3rQbISNQ2vw/s72-c/erdos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2267756986584267693</id><published>2011-09-24T08:35:00.005+07:00</published><updated>2011-09-29T15:22:19.344+07:00</updated><title type='text'>Dunia dan dominasi pengguna tangan kanan</title><content type='html'>Manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam menggunakan tangan kiri atau kanannya. Sebagian besar manusia (70-90%) adalah pengguna tangan kanan. Sementara itu, pengguna tangan kiri adalah antara 8-15%. Jenis yang ketiga disebut dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Handedness"&gt;mixed-handheadedness&lt;/a&gt;&amp;nbsp;adalah orang yang memiliki kecakapan yang berbeda untuk tangan yang berbeda. Misalnya, untuk menulis ia lebih senang menggunakan tangan kiri sementara untuk melempar bola ia akan menggunakan tangan kanannya. Dan jenis yang keempat disebut dengan &lt;i&gt;ambidexterity&lt;/i&gt;, yaitu orang yang bisa menggunakan kedua belah tangannya untuk melakukan tugas-tugas yang sama dengan sama baiknya. Misalnya, ketika menulis dengan pena, ia bisa menulis sama rapinya jika ia menggunakan tangan kanan maupun kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dominasi yang tinggi tersebut, yang konon &lt;a href="http://www.sciencedaily.com/releases/2011/04/110419131543.htm"&gt;telah terjadi sejak 500.000 tahun yang lalu&lt;/a&gt;, maka tidak heran jika sebagian besar benda-benda kebutuhan manusia di dunia dibuat dengan asumsi penggunanya adalah orang yang dengan dominan menggunakan tangan kanan. Daftar di bawah ini tidak lengkap, namun menunjukkan sebagian dari benda-benda tersebut. Dan daftar ini akan terus tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0f3Oo3fDVjE/Tn0ej3XzIJI/AAAAAAAAAtg/hacJsvaox0s/s1600/computer-mouse-no-sound-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-0f3Oo3fDVjE/Tn0ej3XzIJI/AAAAAAAAAtg/hacJsvaox0s/s320/computer-mouse-no-sound-2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Um2vnhkLrMk/Tn0erLaJ-1I/AAAAAAAAAtk/_tPq2gc2lcY/s1600/keyboard.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="128" src="http://2.bp.blogspot.com/-Um2vnhkLrMk/Tn0erLaJ-1I/AAAAAAAAAtk/_tPq2gc2lcY/s320/keyboard.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--zrmtuGNJRY/Tn0es0td3MI/AAAAAAAAAto/LIwc1JwMzMA/s1600/komputer.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="http://3.bp.blogspot.com/--zrmtuGNJRY/Tn0es0td3MI/AAAAAAAAAto/LIwc1JwMzMA/s320/komputer.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komputer jelas-jelas diciptakan bagi pengguna tangan kanan. Pertama, perhatikan papan kunci dan pusatkan perhatian pada bagian kanannya. Di bagian kanan papan kunci ada papan angka yang biasa digunakan untuk memasukkan angka ke dalam komputer. Biasanya, tombol-tombol angka ini akan dipakai oleh kasir bank atau pengguna komputer yang akan memasukkan ke dalam komputer angka-angka dalam jumlah yang banyak dan sering. Mengapa diletakkan di sebelah kanan, bukan di sebelah kiri? Jawabannya tentu berhubungan dengan kecakapan pengguna tangan kanan untuk memasukkan angka-angka yang banyak dan sering dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-X01dpuXaV-c/Tn0gqzDv3LI/AAAAAAAAAt0/WBkCbHSRyC0/s1600/numeric+pad.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-X01dpuXaV-c/Tn0gqzDv3LI/AAAAAAAAAt0/WBkCbHSRyC0/s1600/numeric+pad.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tetikus diset bagi pengguna tangan kanan. Jika pengguna tangan kiri hendak memindahkannya ke tangan kirinya tentu bisa, namun ia harus mengubah penyetan (setting) dulu sebelum menggunakannya di tangan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-s_vZTtAGqQc/Tn0gk_GJSpI/AAAAAAAAAts/MsWWKTGrDDM/s1600/Polycom+SoundPoint+IP+450+Cubical+%255B1%255D.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-s_vZTtAGqQc/Tn0gk_GJSpI/AAAAAAAAAts/MsWWKTGrDDM/s320/Polycom+SoundPoint+IP+450+Cubical+%255B1%255D.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Benda lain yang mirip dengan papan kunci di komputer adalah telpon meja dan mesin ATM. Sebuah telpon meja memiliki gagang yang bisa digunakan untuk berbicara dan mendengarkan dan seperangkat tombol-tombol. Jika kita perhatikan, maka gagang telpon selalu berada di bagian kiri dari telpon sementara tombol-tombol ada di sebelah kananya. Dari tampilannya kita bisa membayangkan bahwa pabrik telpon berasumsi bahwa pengguna akan mengangkat telpon dengan kanan kirinya dan menggunakan tangan kanan untuk memencet tombol-tombol. Untuk mengangkat gagang telpon orang hanya butuh satu aksi, sementara untuk memencet tombol orang mungkin butuh lebih dari satu tindakan. Jika nomor tujuan tidak disimpan di salah satu memori telpon atau ia tidak memiliki seorang sekretaris yang akan menelponkan seseorang lain bagi dirinya, maka ia setidaknya akan melakukan setidaknya dua atau tiga aksi untuk tersambung dengan telpon rekan sekantornya atau lima hingga belasan aksi untuk terhubung dengan orang lain di luar kantornya. Jelas untuk aksi yang lebih banyak itu ia butuh tangan yang lebih dominan, dan pabrik berasumsi bahwa &amp;nbsp;tangan itu adalah tangan kanan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7zsifz3krPc/Tn0hQ2EYtnI/AAAAAAAAAt4/h17rAPQnU_g/s1600/ATM+Machine+small.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="249" src="http://3.bp.blogspot.com/-7zsifz3krPc/Tn0hQ2EYtnI/AAAAAAAAAt4/h17rAPQnU_g/s320/ATM+Machine+small.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hal yang hampir mirip terterapkan pada mesin ATM. Lubang kartu ada di sebelah kanan--berarti sebaiknya menggunakan tangan kanan untuk melakukannya. Tombol-tombol mungkin ada di bagian tengah meja mesin, namun tombol-tombol eksekusi lain kebanyakan ada di bagian kanan. Jadi, jelas pabrik berasumsi penggunanya beraksi dengan tangan kanan lebih sering karena dompetnya ada di tangan kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6mjyMYiwKsM/Tn0j63QA60I/AAAAAAAAAt8/uW4oDmS7mN4/s1600/man-taking-photo-camera-300x202.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-6mjyMYiwKsM/Tn0j63QA60I/AAAAAAAAAt8/uW4oDmS7mN4/s1600/man-taking-photo-camera-300x202.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini yang cukup parah. Jika pengguna komputer bisa mendapatkan tetikus atau papan kunci yang menguntungkan mereka, tidak demikian dengan pengguna kamera foto. Tombol untuk mengambil gambar ada di bagian kanan kamera. Oleh sebab itu, pasti harus menggunakan telunjuk tangan kanan untuk menekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-T4v_nYgWOi4/Tn0k2wXMeCI/AAAAAAAAAuA/BpAIYgnnr3E/s1600/wrist-watch-spy-camera.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="http://4.bp.blogspot.com/-T4v_nYgWOi4/Tn0k2wXMeCI/AAAAAAAAAuA/BpAIYgnnr3E/s320/wrist-watch-spy-camera.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam tangan juga demikian. Lihat sejenis tombol yang digunakan untuk menyesuaikan waktu dan tanggal itu. Untuk menyesuaikan waktu atau tanggal, anda harus menggunakan tangan kanan anda karena posisinya yang ada di bagian kanan jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mwBhaZ7MBmQ/Tn0loOFwQbI/AAAAAAAAAuE/9jFd5m6_Ay8/s1600/Womens_Ruffle_shirt.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-mwBhaZ7MBmQ/Tn0loOFwQbI/AAAAAAAAAuE/9jFd5m6_Ay8/s320/Womens_Ruffle_shirt.jpg" width="269" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-xmEv9FpwJIM/Tn0lpKcvJXI/AAAAAAAAAuI/jDoRnZz4udI/s1600/man%2527s+shirt.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-xmEv9FpwJIM/Tn0lpKcvJXI/AAAAAAAAAuI/jDoRnZz4udI/s1600/man%2527s+shirt.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, apa beda antara kemeja wanita dengan pria? Jawabannya adalah posisi kancingnya. Kancing kemeja pria ada di sebelah kanan kemeja sementara wanita ada di sebelah kiri. Mengapa? Jawabannya ada &lt;a href="http://www.stupidquestionsanswered.com/answered/buttons.htm"&gt;di sini&lt;/a&gt; dan berhubungan dengan penggunaan tangan yang dominan juga. Maksudnya adalah bahwa pakaian pria pada umumnya adalah pakaian yang cukup mudah untuk dipakai dan oleh karena itu ia tidak butuh orang lain untuk membantunya memasang pakaiannya. Dalam hal ini, ia tidak akan kesulitan untuk mendorong kancing yang ada di bagian kanan kemejanya karena, lagi-lagi dengan asumsi seperti tadi, setiap manusia bertangan kanan. Sebaliknya, kancing blus perempuan ada di sebelah kiri bajunya karena umumnya, dulu, wanita dilayani oleh pembantunya dalam berpakaian. Mungkin karena pakaian mereka yang rumit dan merepotkan. Oleh sebab itu, lagi-lagi karena yang si pembantu mungkin saja bertangan kanan, maka kancing baju perempuan harus berada di sebelah kanan si pembantu atau di sebelah kiri pakaian si wanita. Cukup jelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xPi_fuAnVfE/Tn0qkh_RtbI/AAAAAAAAAuM/Vim8BgQcXF8/s1600/Kursi-fiberglass-untuk-sekolah.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="316" src="http://3.bp.blogspot.com/-xPi_fuAnVfE/Tn0qkh_RtbI/AAAAAAAAAuM/Vim8BgQcXF8/s320/Kursi-fiberglass-untuk-sekolah.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;Nah, ini yang mungkin paling mengesalkan bagi pengguna tangan kiri ketika kuliah dulu. Di kampus hanya tersedia kursi-meja dengan lengan untuk menulis di sebelah kanan. Untuk mengakali masalah ini saya pernah melihat teman yang kidal harus meminjam lengan-tulis kursi di sebalahnya. Misalnya, orang yang kidal akan duduk di kursi yang paling kanan, namun menulis menggunakan lengan-tulis kursi yang di sebalah kirinya. Otomatis kursi yang di sebelah tengah tidak ada yang menduduki. Orang berikutnya baru bisa duduk di bagian paling kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-a617f4lrAyI/Tn0rlFa0VrI/AAAAAAAAAuQ/53H_vnOxmM0/s1600/cafe-racer-babe-94-21-290x290.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-a617f4lrAyI/Tn0rlFa0VrI/AAAAAAAAAuQ/53H_vnOxmM0/s1600/cafe-racer-babe-94-21-290x290.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-W4_sFxwhDPg/Tn0rmKvDawI/AAAAAAAAAuU/-jbx-RJt0pU/s1600/36739-Eec-Dot-Standard-Electric-Scooter-500w-800w-1000w-1200w-1500w-2000w-3000w-With-Lithium-Battery-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-W4_sFxwhDPg/Tn0rmKvDawI/AAAAAAAAAuU/-jbx-RJt0pU/s1600/36739-Eec-Dot-Standard-Electric-Scooter-500w-800w-1000w-1200w-1500w-2000w-3000w-With-Lithium-Battery-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Di sepeda motor ketidakadilan itu juga terlihat. Starter kaki ada di sebelah kanan sehingga orang kidal akan kesulitan jika ia ingin menggunakan kaki kirinya untuk mengengkol motor. Standar, baik yang tunggal maupun ganda, terletak di kiri motor. Ini bukan berarti ditujukan untuk orang kidal. Jika seorang pengendara motor telah naik ke sadel dan ia ingin melepas standar tunggalnya, maka otomatis ia butuh kaki kiri untuk melepas standar sementara keseimbangan motor ia pertahankan dengan kaki sebelah kanan--kaki yang terkuat (setidaknya itu yang diasumsikan oleh pabrik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar ganda juga dibuat dengan asumsi itu. Perhatikan semacam injakan yang menonjol di standar tersebut. Letaknya ada di sebelah kiri motor karena diasumsikan pengendara, ketika akan memarkir motor dan menggunakan standar ganda, ia akan berada di sebelah kiri motor. Dengan kaki kirinya ia akan menginjak besi injakan tersebut, bertumpu dengan kaki kanannya--yang lebih kuat!--dan menggunakan kedua tangannya untuk menarik sepeda motor agar bisa berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-wL6yDsDRkro/Tn0vfiWF6BI/AAAAAAAAAuc/9Zmo-g-6xaQ/s1600/bikeadvice-helmet.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-wL6yDsDRkro/Tn0vfiWF6BI/AAAAAAAAAuc/9Zmo-g-6xaQ/s320/bikeadvice-helmet.jpg" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-pDpFl4PDM64/Tn0vg4M61eI/AAAAAAAAAug/kQ-WH9V9bBI/s1600/SuperStock_4107-1258.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-pDpFl4PDM64/Tn0vg4M61eI/AAAAAAAAAug/kQ-WH9V9bBI/s320/SuperStock_4107-1258.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Pernah perhatikan bahwa kunci tali pengaman di helm ada di sebelah kiri bukan kanan helm anda? Mengapa? Logikanya sama dengan logika kancing kemeja pria di atas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VfzMMCbABq0/Tn020UkGaOI/AAAAAAAAAus/9YjUjoqSrUg/s1600/people_playing_guitar_hero_3_-_2007.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://3.bp.blogspot.com/-VfzMMCbABq0/Tn020UkGaOI/AAAAAAAAAus/9YjUjoqSrUg/s320/people_playing_guitar_hero_3_-_2007.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Gitar dibuat dengan asumsi pengguna bertangan kanan, tidak kidal. Oleh sebab itu, pengguna tangan kiri harus membalik posisi semua senar dari atas ke bawah.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-5mb5WtjI9Hg/Tn0wb-DPXeI/AAAAAAAAAuk/U71D7OW8-1g/s1600/mg3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="186" src="http://2.bp.blogspot.com/-5mb5WtjI9Hg/Tn0wb-DPXeI/AAAAAAAAAuk/U71D7OW8-1g/s320/mg3.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qIX_tE6j5PI/Tn0wcw0X89I/AAAAAAAAAuo/GHkBb5gY-sM/s1600/M107_left.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="153" src="http://4.bp.blogspot.com/-qIX_tE6j5PI/Tn0wcw0X89I/AAAAAAAAAuo/GHkBb5gY-sM/s320/M107_left.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Nah, yang terakhir adalah ini, senapan. Jika anda adalah pengguna tangan kiri, maka anda akan meletakkan telunjuk kiri anda bersama dengan seluruh telapak tangan anda di pemicu dan sekitarnya. Sampai di sini tidak akan ada masalah. Masalah baru timbul karena setiap senjata api memiliki tuas pengaman, yang kalau tidak dipindahkan dari posisi "terkunci" maka ia tidak akan bisa ditembakkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Pertanyaannya, di mana letak kunci itu? Lihat bagan senapan di atas. Tuas "safety" adalah kunci pengaman yang dimaksud ternyata ada di sebelah kiri senjata. Jadi, anda butuh tangan kiri anda untuk memindahkan tuas pengaman itu dari terkunci ke tidak terkunci. Jika senjata yang anda gunakan adalah pistol atau senapan serbu biasa, maka anda mungkin tidak akan terlalu kesulitan. Namun, bagaimana jika senapan itu adalah senapan tembak senyap seperti di atas, yang anda harus memastikan dulu sasaran anda, ketepatan sasaran anda, dan anda hanya punya momen sekejap untuk menembak sebelum sasaran mengirap, NAMUN anda lupa melepas kunci ke posisi tidak terkunci? Jika anda pengguna tangan kanan, anda tinggal menggerakkan tangan kiri anda yang bebas untuk itu. Namun, jika anda pengguna tangan kiri, maka anda akan melepas tangan anda dari pegangan senapan dan dari pemicu untuk melepaskannya dan ini jelas berisiko untuk membiarkan sasaran melarikan diri.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Sleman, 24 September 2011&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Pemutakhiran:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Pisau bahkan juga ada yang ditujukan secara khusus bagi pengguna tangan kanan dan yang khusus bagi pengguna tangan kiri. Jadi, jangan salah beli.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Ini tautannya untuk pisau tangan-kanan:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://www.knifecenter.com/item/RPDPKNHSFR3OD/dpx-hest-right-handed-folder-3"&gt;http://www.knifecenter.com/item/RPDPKNHSFR3OD/dpx-hest-right-handed-folder-3&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Ini tautan untuk pisau tangan-kiri:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://www.knifecenter.com/item/RPDPKNHSFL3OD/dpx-hest-right-handed-folder-3"&gt;http://www.knifecenter.com/item/RPDPKNHSFL3OD/dpx-hest-right-handed-folder-3&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Sumber gambar:&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.mousearena.com/how-to-overcome-pc-mouse-problems/&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://design18comp.wordpress.com/&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://inggridgladis.blogspot.com/2011/03/sejarah-komputer.html&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.123rf.com/photo_833716_close-up-of-a-computer-white-keyboard-with-woman-typing-on-the-numeric-pad.html&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://catalogs.infocommiq.com/avcat/ctl1642/index.cfm?manufacturer=polycom&amp;amp;product=soundpoint-ip-450&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;https://www.plantersfirst.com/PersonalbrBanking/OtherServices/tabid/2819/Default.aspx&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://enriquesantos.com/man-arrested-for-taking-suspicious-pics-of-miami-international-airport&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.hardwaresphere.com/2009/07/29/stealth-watch-spy-camera-record-something-like-a-modern-ninja/&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.kaboodle.com/reviews/mens-shirts--mens-dress-shirts-mens-oxford-shirts-button-down-flannel-shirts&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.endofiberglass.com/2011/04/kursi-fiberglass-dengan-meja-dan-kursi.html&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://silodrome.com/tag/motorcycle-woman/&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.traderscity.com/board/products-1/offers-to-sell-and-export-1/eec-dot-standard-electric-scooter-500w-800w-1000w-1200w-1500w-2000w-3000w-with-lithium-battery-221679/&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.jazztrain.net/tag/motorcycle-helmets&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://www.free-photos.biz/photographs/consumer_products/electronics/367946_people_playing_guitar_hero_3_-_2007.php"&gt;http://www.free-photos.biz/photographs/consumer_products/electronics/367946_people_playing_guitar_hero_3_-_2007.php&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://www.superstock.co.uk/stock-photos-images/4107-1258&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;http://militaryvids.wordpress.com/category/weapons/&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2267756986584267693?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2267756986584267693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/09/dunia-dan-pengguna-tangan-kanan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2267756986584267693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2267756986584267693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/09/dunia-dan-pengguna-tangan-kanan.html' title='Dunia dan dominasi pengguna tangan kanan'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-0f3Oo3fDVjE/Tn0ej3XzIJI/AAAAAAAAAtg/hacJsvaox0s/s72-c/computer-mouse-no-sound-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-9032123343584745535</id><published>2011-07-17T12:17:00.005+07:00</published><updated>2011-12-11T10:01:13.551+07:00</updated><title type='text'>Buku, apakah ceritamu?</title><content type='html'>Jika di tangan anda saat ini ada sebuah buku, mungkin sekali buku itu adalah buku teks sekolah atau kuliah anda. Mungkin pula adalah buku tentang cara bertani, beternak, merangkai bunga, atau memasak. Mungkin pula buku tersebut adalah sebuah novel, komik, atau roman seharga &lt;a href="http://katapekanini.blogspot.com/2010/04/semua-tentang-uang.html"&gt;picis&lt;/a&gt;. Mungkin pula yang di tangan anda adalah buku tentang sejarah dunia, negara anda, kampung anda, atau biografi seseorang yang sangat sukses, berjasa, fenomenal atau jahat di masa lalu. Buku yang saat ini ada di tangan anda juga mungkin adalah buku tentang cara merangkai dan memperbaiki komputer atau ponsel, memilih investasi di pasar modal, atau teknik menulis yang baik dan menjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon di suatu masa seorang raja yang sangat berkuasa meminta kepada para cendekiawan di kerajaannya untuk menuliskan sejarah manusia, atau mungkin kerajaannya. Lalu, setelah beberapa tahun, sejarah itu selesai ditulis. Raja terkejut dan kaget melihat buku-buku yang dihaturkan ke hadapannya yang dibawa dengan kereta-kereta yang ditarik oleh kuda-kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian bertanya tentang apakah buku-buku yang dibawa kepadanya. Para cendekiawan itu menjawab bahwa itu adalah seluruh sejarah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lP7tJT83CHw/TuQcf7jsBqI/AAAAAAAAAv0/aM0h6VduFnE/s1600/DSC02261.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-lP7tJT83CHw/TuQcf7jsBqI/AAAAAAAAAv0/aM0h6VduFnE/s320/DSC02261.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-k4QEUMpGEGE/TiJwA1RzjZI/AAAAAAAAAr4/YEtwJeD6Lvo/s1600/StackOfBooks.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-k4QEUMpGEGE/TiJwA1RzjZI/AAAAAAAAAr4/YEtwJeD6Lvo/s320/StackOfBooks.jpg" width="227" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja tidak puas. Ia menganggap buku-buku tersebut terlalu tebal dan banyak. Ia ingin agar sejarah itu ditulis lebih ringkas lagi. Para cendekiawan itu berlalu dan mematuhi perintah raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, mereka kembali lagi. Kali ini kereta pembawa buku tidak lagi sebanyak yang lalu. Namun, raja masih belum puas. Ia ingin mendapatkan versi yang lebih ringkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, para cendekiawan tersebut kembali harus berupaya keras agar bisa menuruti perintah sang raja. Namun, tahun-tahun berlalu lebih cepat dan panjang. Sang raja terus menua, demikian juga para cendekiawan yang dulu ia tugaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu hari raja dan para cendekiawannya bertemu, mereka sudah sama-sama tua. Raja menanyakan kembali tugas yang ia berikan kepada mereka. Lalu, salah seorang dari cendekiawan yang masih hidup menyerahkan secarik kertas kepada sang raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang raja kemudian bertanya kertas apakah itu. Cendekiawan renta itu menjawab, "Itulah sejarah kita, Paduka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang raja tertegun membaca tiga kata yang tertulis di kertas itu: LAHIR, HIDUP, MATI.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-iTiyc_sfX-k/TjYNaxDcGRI/AAAAAAAAAr8/Frc9HBFIWZE/s1600/gambar+kertas.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-iTiyc_sfX-k/TjYNaxDcGRI/AAAAAAAAAr8/Frc9HBFIWZE/s320/gambar+kertas.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;LAHIR adalah masa lalu; HIDUP adalah hari ini; MATI adalah hari esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang ditulis dan beredar di dunia saat ini tidak lepas dari ketiga masalah ini. Buku teks sekolah berbicara tentang apa yang telah dicapai di masa lalu untuk bisa dimanfaatkan di masa ini dan apa yang bisa diantisipasi untuk masa depan. Misalnya, buku tentang investasi di pasar modal. Di bagian awal buku kita mungkin akan disuguhkan tentang teori-teori investasi. Teori-teori itu adalah hasil dari penelitian di masa lalu. Mungkin jauh ke awal abad yang lalu. Lalu, paruh berikutnya bisa jadi berbicara tentang model-model yang bisa digunakan untuk memilih investasi dan bukti-bukti keberhasilan orang yang telah menggunakan salah satu atau lebih dari model-model tersebut. Anda kemudian akan diyakinkan bahwa model atau alat analisis tertentu lebih unggul dan bisa anda gunakan untuk kepentingan anda hari ini, jika anda hendak berinvestasi di pasar modal. Di paruh lain anda juga akan diberikan wejangan bahwa ada masalah-masalah tertentu yang harus anda antisipasi di masa depan karena, mungkin, hal yang telah terjadi di masa lalu. Misalnya, bahwa krisis ekonomi di dunia selalu berulang setiap sekitar 30-40 tahun sekali: 1930; 1970; 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tentang memasak, bertani, berkebun, merakit komputer, merangkai bunga, juga bicara tentang masa lalu, masa ini, dan, mungkin pula, masa depan. Biografi dan sejarah akan berbicara tentang masa lalu. Komik atau novel bisa menjadi cara lain bagi kita untuk melihat sesuatu yang berlaku di masa lalu. Namun, mereka juga bisa juga hanya untuk tujuan kehidupan hari ini: kesenangan atau kepuasan semata.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-5OQ_CmcZlOA/TjYO43OVX_I/AAAAAAAAAsA/Hv6YUiOUarg/s1600/1084000-kids_reading_comics_3_super.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-5OQ_CmcZlOA/TjYO43OVX_I/AAAAAAAAAsA/Hv6YUiOUarg/s320/1084000-kids_reading_comics_3_super.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada novel atau komik yang mungkin hanya memberikan keasyikan masa kini, setiap buku, atau setidaknya sebagian besar, akan berbicara tentang tiga perioda waktu. Kita mungkin tidak benar-benar menyadari bahwa buku seperti buku kumpulan puisi Kahlil Gibran atau kumpulan lukisan Renaissance menggambarkan karya mereka di masa lalu. Sebenarnya, di dalam tulisan dan lukisan tersebut tersirat apa yang terjadi di masa mereka dulu dan mungkin yang terjadi di masa sebelumnya yang kemudian mereka lukiskan di masa mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku, dengan demikian adalah gambaran tentang kita: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Lombok, 18 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-9032123343584745535?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/9032123343584745535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/07/buku-apakah-ceritamu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/9032123343584745535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/9032123343584745535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/07/buku-apakah-ceritamu.html' title='Buku, apakah ceritamu?'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lP7tJT83CHw/TuQcf7jsBqI/AAAAAAAAAv0/aM0h6VduFnE/s72-c/DSC02261.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4378212212555616509</id><published>2011-07-11T09:49:00.002+07:00</published><updated>2011-07-12T07:49:51.834+07:00</updated><title type='text'>Tiga puluh tahun yang lalu</title><content type='html'>Ya, kurang-lebih pekan-pekan ini, tiga puluh tahun (sekitar 13 Juli 1981 kalau perhitungan &lt;a href="http://calendarhome.com/tyc/tyc.xls"&gt;di sini&lt;/a&gt; benar) yang lalu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di sekolah formal, di sekolah dasar. Kenangan akan saat-saat pertama datang ke sekolah itu masih saya ingat. Saya masih ingat bagaimana saya ragu-ragu masuk ke dalam "gerbang" sekolah--sebuah pintu di antara barisan seng yang dipakukan ke tiang-tiang kayu. Takut dengan suasana baru yang jauh dari "lingkaran kenyamanan" saya sebelumnya. Saya juga masih ingat bahwa saat itu pula seorang guru datang "menjemput" saya, menghapus keragu-raguan itu. Mungkin karena suasana di hari pertama itulah makanya kenangan hari pertama itu masih sangat jelas. (&lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/05/sebuah-ceriat-tentang-guru-guruku.html"&gt;Cerita itu ada di artikel ini.&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang telah beruntung--yang memang harus beruntung untuk bisa bersekolah di Indonesia bahkan hingga hari ini--mendapatkan pendidikan dasar, SD adalah ibarat sebuah peristiwa terbesar selain pernikahan. Di sana, di SD-lah, pertama kali kita sesungguhnya mengerti bahwa bunyi bisa dilukis dalam rangkaian beberapa simbol. Di sana pula kita pertama kali tahu bahwa setiap benda bisa diwakili dengan sebuah sebuah &lt;a href="http://katapekanini.blogspot.com/2011/03/tally-gundal.html"&gt;gundal&lt;/a&gt; dan gundal-gundal tersebut akan menunjukkan jumlah benda-benda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya huruf-huruf yang kemudian menjadi kata, frasa, kalimat; dan gundal yang menjadi angka; di SD pula setiap bunyi, warna, rasa, dan bau memiliki nama, makna, dan mengetahuinya semua membuat kita menjadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tidak hanya sekarang, dari dulupun pendidikan adalah hal yang mahal. Bedanya, dulu kita masih bisa menikmatinya dengan harga yang cukup murah dibandingkan standar hari ini. Misalnya, saat itu--setidaknya di SD saya--walau dari kelas yang beragam, kemutlakan keseragaman tidak perlu. Memang ada pakaian seragam (biru-putih, seingat saya) namun, beda dengan sekolah sekarang, pakaian bisa dibeli sendiri atau didapat dari "warisan" orang lain. Bahkan, ketidakseragaman itu juga berarti bahwa anda tidak harus memiliki sepatu untuk bisa bersekolah. Saya punya seorang sahabat bernama Agus Salim yang hingga kelas dua belum bisa datang ke sekolah dengan sepatu. Yang ia punya hanya sendal "jepang" saja. Saya ingat bahwa guru-guru kami mengingatkan dia untuk membeli sepatu, namun tidak mendesaknya karena mendesaknya menggunakan remeh-temeh itu pasti akan membuat ia tidak lagi akan datang ke sekolah keesokan harinya. Agus bukan satu-satunya anak yang demikian di kelas saya, bahkan di sekolah saya. Seorang lagi teman perempuan kami seingat saya juga tidak lebih baik daripada dia. Terakhir saya pernah bersua ia dengan keluarga tinggal di sebuah rumah bedeng di tanah yang belum dibangun oleh pemilik tanah. Setelah di tanah itu kemudian dibangun rumah, saya tidak lagi melihatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu, saya masih beberapa kali bertemu dengan Agus sahabat saya ini. Hidupnya tidak seberuntung teman-teman sekelas kami yang lain. Saya bersua dengannya di pasar saat ia bekerja menjadi buruh memperbaiki pasar tersebut. Beberapa giginya sudah tidak ada, tidak tahu karena apa. Tubuhnya masih kurus seperti terakhir saya ingat. Dari cerita seorang teman, saya dengar bahwa ia beberapa kali tidak naik kelas setelah saya pindah dari SD itu ke SD yang lain. Saya tidak tahu sejauh mana ia telah bisa bersekolah sejak terakhir kami sesekolah di tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Duh...jujur, saya tidak ingat apakah kami pernah sekelas di kelas dua!&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;Setiap orang yang pernah membaca cerita Laskar Pelangi pasti mengira bahwa SD yang diceritakan di sana adalah SD yang paling merana di Nusantara. Menurut saya, SD kami hanya sedikit lebih beruntung daripada SD di Belitong tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasinya ada di lahan milik Balai Pelatihan Guru. Di tahun 1984 kami mendapat gedung di lokasi lain dari pemerintah. Karena tidak jauh dari pantai, maka tanah di sekolah itu juga adalah tanah pasir. Bangunan sekolah berbentuk huruf L, dengan ruang kelas yang hanya lima karena kelas 1 dan 2 harus berbagi waktu setengah hari. Kalau pekan ini kami bersekolah siang hari, maka pekan depan akan bersekolah pagi hari. Sebelum atau setelah jadwal sekolah kami ada SD lain yang menggunakan fasilitas tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai sekolah dicor dengan semen dan sebagian dinding terbuat dari bata. Namun sisanya adalah dinding kayu. Saya tidak tahu kapan SD itu berdiri, namun ketika saya sekolah, sebagian lantai gedung itu telah bolong-bolong sehingga sebagian kaki kami langsung bersua dengan pasir. Kadang-kadang kursi belajar yang berupa kursi panjang seperti di banyak warung harus diganjal dengan batu agar sama rata antara pasir dengan lantai beton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang berpasir ini juga memberi "masalah" pada kami jika kami dapat giliran sekolah siang. Jam istirahat kedua bertepatan dengan waktu shalat Ashar. Begitu lempengan besi yang saya tidak tahu diambil dari apa itu dipukul, ratusan siswa dari kelas 2 sampai 6 langsung merubung satu sumur milik penjaga sekolah. Air harus ditimba oleh setiap siswa agar bisa berwuduk dari ember. Jika terlalu padat, kadang-kadang kami menjarah air sumur milik orang lain yang ada di seberang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai berwuduk, dengan kaki yang masih basah dan kadang-kadang dengan rasa sayang yang berlebihan kepada sepatu, kami bertelanjang kaki kembali ke kelas. Sesampai di kelas, jelas saja kaki kami telah kotor lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang beruntung lebih awal tiba di kelas bisa shalat di atas meja panjang dan kalau tidak terpaksa harus shalat di kursi panjang. Karena tidak semua meja atau kursi ada di lantai yang rata, maka tidak jarang sepanjang shalat ada saja yang menghabiskan waktu shalat untuk menyeimbangkan diri di atas meja atau kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tidak menamatkan sekolah dasar saya di sana. Alasannya, yang jelas, bukan karena kondisinya yang mirip kandang kambing--julukan yang diberikan oleh banyak orang kepada SD kami itu. Namun, di sanalah saya banyak betul belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana saya pertama kali bisa membaca--dan seingat saya, sebelum kelas 1 berakhir, saya tidak pernah tidak membaca koran setiap hari karena saya telah bisa membaca! Di sana pula saya pertama kali mendapat pelajaran yang jauh lebih berharga yang banyak "menyelamatkan" saya di masa depan: keberagaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan SD saya yang kedua yang cenderung lebih homogen, di SD ini kami sangat heterogen. Di kelas kami ada anak nelayan, anak buruh harian, anak pegawai negeri/swasta, anak guru, anak pemilik warung/pedagang, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenalan dengan berbagai lapisan orang seperti ini membuat saya mengetahui bahwa dunia ini adalah pelangi. Pelangi itu berbau bedak Johnson &amp;amp; Johnson hingga berbau lumpur &lt;a href="http://kateglo.bahtera.org/index.php?phrase=parak&amp;amp;mod=dictionary&amp;amp;search=Cari"&gt;parak&lt;/a&gt; &lt;a href="http://alamendah.wordpress.com/2011/04/11/mengenal-nipah-atau-nypa-fruticans/"&gt;nipah&lt;/a&gt;. Pelangi itu ada yang berupa celana yang tersetrika rapi maupun yang pisaknya ditambal dengan kain perca. Pelangi itu ada yang berupa rambut yang disemir dengan &lt;a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7259294"&gt;Tancho atau Brisk&lt;/a&gt; maupun pirang oleh panasnya pantai dan keringnya air laut. Pelangi itu ada yang berwujud sepatu Wangyu, Specs dan ada pula yang hanya berupa sepasang sendal jepang tipis. (Yang tidak tahu deskripsi sepatu Wang Yu itu apa, ke &lt;a href="http://rasyefki.com/2008/07/09/80an-dan-90an-versi-saya/"&gt;sini&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://aswilblog.wordpress.com/2009/11/"&gt;sini&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/72185?var=1"&gt;sini&lt;/a&gt; dulu.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Ya, tiga puluh tahun yang lalu...Saat itulah pertama kali saya diajarkan menggambarkan bunyi dan melukiskan bunyi. Betapa beruntungnya saya di tengah keluh-kesah saya tiga puluh tahun setelahnya.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Lombok&lt;br /&gt;Senin, 11 Juli 2011.&lt;br /&gt;Hari pertama sebagian besar murid kelas 1 SD mengawali apa yang saya dulu saya awali 30 tahun yang lalu. Semoga masih ada SD yang bersedia mengajar siswa barunya membaca!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4378212212555616509?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4378212212555616509/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/07/tiga-puluh-tahun-yang-lalu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4378212212555616509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4378212212555616509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/07/tiga-puluh-tahun-yang-lalu.html' title='Tiga puluh tahun yang lalu'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-6956886149495571272</id><published>2011-06-12T09:30:00.059+07:00</published><updated>2011-07-25T07:11:34.998+07:00</updated><title type='text'>Rahasia kesuksesan orang Minangkabau</title><content type='html'>Bagi anda yang pernah singgah di berbagai kota di Indonesia, cobalah cari di mana orang Minang (yang secara keliru direduksi menjadi "orang Padang" saja) tidak bisa ditemukan. Setidaknya, carilah di sudut jalan mana di sebuah kota di Indonesia di mana anda tidak dapat menemukan rumah makan Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin tidak akan bisa karena sepanjang ada jalan yang bisa bisa dilalui pedati, di sana akan ada orang Minang membuka warung nasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, mengapa orang Minang begitu jauh meninggalkan kampung halaman mereka?&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Karatau madang di hulu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Babuah, babungo balun&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Marantau bujang dahulu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Di rumah baguno balun&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pantun di atas adalah sebuah "dasar hukum" bagi anak-anak muda Minangkabau untuk&amp;nbsp;menguatkan niat,&amp;nbsp;melangkahkan kakinya, dan berhenti untuk ragu-ragu meninggalkan ibunya di rumah. Pergi merantau. Di ambang pintu, para ibu tidak sedikitpun meragu melepas si anak bujang pergi, walau berarti mungkin hanya mereka, amai, mayai, dan uwo saja yang menghuni kampung, sambil mempersiapkan generasi berikutnya untuk bergelombang merantau.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Tinggi malanjuikan oi batang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kijang barandam maelo tali&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Tingga lanjuiklah oi kampuang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Bujang bajalan hanyo lai&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam keyakinan orang Minang--mungkin juga hanya sebagai cara memperkuat tekad untuk merantau--kampung memang harus ditinggalkan jika si bujang benar-benar mencintai kampungnya. Filosofi yang sangat aneh bagi sebagian orang jika demi kecintaan pada tanah dan keluarganya, seorang laki-laki harus meninggalkan semua yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Talang dipancuang ditugakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Batang nan kaciak dipatipih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sayang ka kampuang ditinggakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sayang ka adiak dipatangih&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rantau orang Minang pada awalnya hanya berada di sekitar Sumatera Barat, bahkan sebagian besar di dalam &amp;nbsp;propinsi sendiri. Dahulu, pergi ke kota Padang sudah bisa disebut dengan merantau karena, secara adat, Padang bukan bagian dari Minangkabau. Demikian juga kota-kota lain di sekitar Sumatera Barat. Tidak aneh untuk mendengar bahasa Minangkabau didengar di tengah-tengah kota Pekanbaru, Medan, apalagi Jakarta. Belum lagi di kota-kota lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merantau tidak pernah akan mudah. Anak laki-laki di Ranah Minang tidak memiliki hak atas tanah ulayat. Seorang kemanakan dari seorang penghulu besar dengan kekayaan warisan adat yang luas sekalipun tetap tidak memiliki hak atas tanah adat tersebut. Hak ulayat hanya atas perempuan, tidak pula untuk diperjual-belikan. Makanya, sakit-susah di rantau bukanlah rintangan yang terlalu besar untuk dilalui karena bekal yang dibawa dari kampung tidak lebih daripada apa yang bisa diberikan oleh orangtua.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Karatau disangko madang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Saenggan panangguang padi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Marantau disangko sanang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Maninggakan kampuang barisau hati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Mancarikan paruik tak barisi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Mancarikan pungguang tak basaok&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Mancarikan kapalo tak batutuik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orang Minangkabau bisa bertahan hidup di rantau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama yang harus didapat adalah teman dan kerabat di rantau. Untuk bisa melupakan kerinduan pada keluarga di kampung, pertama mereka harus mendapatkan keluarga baru di rantau. Di rantau mungkin telah ada sahabat yang telah terlebih dulu datang, maka merekalah yang harus ditemui dulu. Mereka sendiri mungkin ingin tahu kabar yang baru dari kampung. Namun, walau tidak ada kerabat sekalipun, orang Minang harus bisa mendapatkan teman di kampungnya yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, orang Minangkabau tidak pergi merantau hanya untuk berkumpul-kumpul di negeri orang. Mereka harus bekerja. Makanya, setelah menemukan kerabat atau keluarga baru di rantau, maka yang selanjutnya mereka cari adalah seorang induk semang, yang akan memberi mereka pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kok anak pai ka pakan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Ikan bali, balanak bali&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Ikan panjang bali dahulu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kok anak pai bajalan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kawan cari, dunsanak cari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Induak samang cari dahulu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Minangkabau dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan di mana saja ia berada. Mereka harus bisa mengambil hati lingkungan di sekitar mereka, menjadi bagian dari masyarakat barunya. Sependek pengetahuan saya, saya tidak pernah menemukan sebuah wilayah di dalam sebuah kota di Indonesia yang disebut dengan "kampung Minang" atau "kampung Padang". Sebaliknya, di kota Padang sendiri ada kampung Jawa. Demikian juga kampung Bugis, kampung Makasar, kampung Bali, dll di kota lain di Indonesia. Orang Minang melebur ke dalam kampung baru mereka.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kalau pandai bakain panjang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Labiah pado bakain saruang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kalau pandai bainduak samang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Labiah pado bainduak kanduang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranah Minang mungkin bisa menjadi terlalu sulit bagi seorang laki-laki Minang untuk bisa hidup dan berkembang. Alam Sumatera Barat bergunung-gunung sehingga sukar untuk mendapatkan tanah pertanian yang datar dan luas seperti di Jawa. Merantau juga bukan perjalanan sehari-dua hari, sangat mungkin seumur hidup. Oleh sebab itu, penting bagi orang Minang untuk bergiat lebih keras daripada orang lain demi mendapatkan tempatnya di hati orang rantau, lebih daripada harganya di rumah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Minangkabau merantau harus menjaga kehormatannya. Sangat dilarang &lt;a href="http://kateglo.bahtera.org/index.php?op=1&amp;amp;phrase=dagang&amp;amp;lex=&amp;amp;type=&amp;amp;mod=dictionary&amp;amp;srch=Cari"&gt;anak dagang&lt;/a&gt;&amp;nbsp;untuk membuat masalah di rantau. Tidak hanya berarti bahwa perbuatan itu akan mempermalukan dirinya sendiri, namun juga akan mempermalukan perantau lain di sana, bahkan seluruh orang Minang. Wajib bagi orang Minang juga untuk menghormati aturan setempat.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Elok-elok manyubarang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Jan sampai titian patah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Elok-elok di rantau urang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;i&gt;Jan sampai babuek salah&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Babelok-belok pantau baranang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Bajipang batang mangkudu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Elok-elok di rantau urang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Jan sampai mambuek malu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Rao-Rao sasudah Panti&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Painan jo Taluak Kabuang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;i&gt;Di mano bumi dipijak&lt;/i&gt;&lt;i&gt;i&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Di sinan langik dijunjuang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya dan kesabaran adalah kunci keberhasilan utama orang Minangkabau. Jauh di negeri orang mengharuskan orang Minang untuk menjadi orang yang suka bekerja keras dan bersabar. Keberhasilan tidak pernah datang di awal, ia selalu datang di akhir.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Barakik-rakik ka hulu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Baranang-ranang ka tapian&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Basakik-sakik dahulu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Basanang-sanang kamudian&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelat nomor polisi daerah Sumatera Barat dimulai dengan huruf BA. Tidak ada yang benar-benar tahu apa alasan Belanda dulu memberi label BA untuk bekas wilayah Sumatera Tengah itu. Ada yang berseloroh bahwa BA adalah singkatan dari Batang Anai, nama sungai yang mengalir dari Gunung Singgalang. Namun, ada pula yang memanjangkan BA menjadi "Banyak Akal".&amp;nbsp;Orang Minang memang tidak boleh putus akal: "&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Indak ado kusuik nan indak ka salasai. Indak ado karuah nan indak ka janiah&lt;/span&gt;"; semua ada pemecahannya.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Marunduak lalu ka pakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Manyiluduak sambia balari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Tatumbuak biduak dikelokkan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Tatumbuak kato dipikiri&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Tagaliciak batang tabu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Tagulimang baro dadak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Taguliciak tampek lalu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Dialiah tampek tagak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam perantauan, mungkin ada kekeliruan yang telah dibuat. Ada keputusan yang mungkin tidak tepat, usaha mungkin merugi, modal mungkin tandas. Namun, bukan berarti bahwa ia harus menyerah. Mungkin itu adalah isyarat untuk berpindah; isyarat untuk memikirkan kembali tujuan perantauan; dan isyarat untuk menyerahkan semua kebaikan kepada Tuhan. Mereka harus percaya bahwa di ujung semua kepayahan ada hikmah yang menunggu dan Tuhan yang menentukan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kalek buah marapalam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Ambiak mako dimakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sasek di ujuang jalan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Baliak ka pangka jalan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Ka lauik jalan ka hilia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Naiak kapa pai balayia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Takuik di ujuang badia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Lari ka pangka badia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Ukia-bauikia saruang padang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Simpai dulu mangko dipaluik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Bao bapikia duduak surang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Raso ka kanai ganjua suruik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Laka jo dulang dalam lubuak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sasah tali barendo bukan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Aka hilang paham tatumbuak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Basarah diri pada Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jangan kira bahwa orang Minang tidak akan pernah memikirkan kampung halamannya walau ia jauh di rantau. Ia tidak akan pernah lupa bahwa ada seorang ibu yang selalu menunggunya di jenjang rumah. Sebelum jendela ditutup di petang hari, sebelum pelita dipadamkan, si induk ayam tetap menanti anak-anaknya pulang. Tapi, ia tahu bahwa masa itu tidak akan pasti; tapi anak-anaknya akan pulang, walau mungkin petang telah menjadi malam dan &lt;a href="http://kateglo.bahtera.org/index.php?op=1&amp;amp;phrase=dian&amp;amp;lex=&amp;amp;type=&amp;amp;mod=dictionary&amp;amp;srch=Cari"&gt;dian&lt;/a&gt; telah &lt;a href="http://kateglo.bahtera.org/index.php?phrase=pudur&amp;amp;mod=dictionary&amp;amp;search=Cari"&gt;pudur&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Singkarak kotonyo tinggi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sumaniak mandadok pulang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Awan bararak ditangisi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Badan jauah di rantau urang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Baduri batang manau&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Salaronyo babuangan juo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Satinggi-tinggi tabang bangau&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Inggoknyo ka kubangan juo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sakanyang-kanyangnyo bantiang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Rumpuiknyo dimamah juo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sajauah-jauah malantiang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Suruiknyo ka tanah juo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi perantau bukan menjadi pengemis; mencari induk semang bukan untuk menjadi babu; melebur bukan menjadi hancur; merendah bukan untuk direndahkan; mengalah bukan untuk dikalahkan. Harga diri dan kehormatan harus tetap dijaga. Oleh karena itu, silat adalah bekal wajib seorang anak sebelum merantau. Dahulu silat diajarkan di belakang surau, oleh guru mengaji sendiri. Saya beruntung pernah mendapatkan masa yang berharga itu, walau tidak sampai putus kaji. Bahkan suatu hari, sebelum hendak merantau--setidaknya begitu yang didengar oleh kakek saya tentang rencana saya--kakek saya memerintahkan saya agar mau diajarkan satu-dua gerak silat.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kok anak pai marantau&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kok mandi di bawah-bawah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kok manyauak di hilia-hilia&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Tapi kok dialiah urang lantak pasupandan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Ditutuik urang banda sawah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Busuangkan dado waang buyuang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Paliekan tando laki-laki&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Jan takuik tanah ka sirah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Aso hilang duo tabilang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Sabalun aja bapantang mati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Namun dalam kabanaran&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Walau dipancuang lihia putuih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Satapak pun jan namuah suruik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat filosofi silat yang diajarkan kakek saya kepada saya malam itu:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Kok ka kanai jadi tasebeang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;i&gt;Kok tasebeang&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;jadi tailak&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;Lawan indak dicari, Yuang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: yellow;"&gt;&lt;i&gt;Basuo pantang diilakkan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Minang harus menghindari kerusakan yang lebih besar dan harus menjadikannya lebih kecil. Saya cukup bangga, bahwa hingga sekarang tidak pernah mendengar orang Minang yang diusir dari rantau, tidak secara besar-besaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kami orang Minang merantau adalah untuk hidup, untuk menjadi berarti: bagi ibu yang melepas kami dan bagi kampung kami, yang kami tinggalkan maupun tinggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 12 Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafian:&lt;br /&gt;Pantun disadur dari&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.cimbuak.net/content/view/362/7/"&gt;http://www.cimbuak.net/content/view/362/7/&lt;/a&gt;&amp;nbsp;dengan sedikit pengurangan dan perubahan, tanpa maksud untuk mengubah maupun merusaknya. Segala kekurangan penafsiran adalah dari penulis semata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-6956886149495571272?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/6956886149495571272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/06/rahasia-kesuksesan-orang-minangkabau.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/6956886149495571272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/6956886149495571272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/06/rahasia-kesuksesan-orang-minangkabau.html' title='Rahasia kesuksesan orang Minangkabau'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-3356979354335746153</id><published>2011-05-14T10:58:00.003+07:00</published><updated>2011-05-16T09:22:52.769+07:00</updated><title type='text'>Sekerat daging, sesuap nasi, dan seteguk air</title><content type='html'>&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Dalam sebuah kuliah, saya bertanya kepada mahasiswa bagaimana cara mengukur kelezatan sebuah makanan. Macam-macam jawaban mereka. Lalu saya mengusulkan satu, yaitu seberapa tandas makanan itu di piring. Menurut saya, semakin tandas makanan di piring, berarti (bisa) disimpulkan bahwa makanan itu lezat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Seorang mahasiswa kemudian membantah karena menurutnya ia justru tidak menghabiskan makanan yang lezat. Baginya, makanan yang lezat tidak mesti dihabiskan. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Saya membiarkan ia berpendapat begitu walau bagi saya itu tidak benar. Tapi dia bukan satu-satunya orang yang berperilaku begitu. Coba sesekali perhatikan tabiat makan seseorang. Kalau mau lihat yang lebih banyak, datanglah ke rumah makan atau restoran. Coba lihat piring-piring yang ditinggalkan oleh orang yang selesai makan. Seberapa banyak dari mereka yang benar-benar telah menghabiskan makanan mereka?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Sekerat daging mungkin saja masih ada di atas piring tersebut. Sepertiga es teh mungkin ada di gelas di meja yang lain. Sesuap nasi mungkin tidak disentuh di piring yang lain. Jika anda berpikir bahwa anda berhak berperilaku demikian karena anda yang membayar semua makanan dan minuman itu dan akan ada makhluk lain yang bisa menikmati sisa makanan anda, mulai dari kucing hingga jin, mari kita lihat dari perspektif yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Daging yang anda sisakan itu berasal dari seekor sapi seberat 200 kg. Ia disembelih di sebuah tempat dan ia berkorban nyawa hanya untuk memberi anda sekian kilo kalori dan sekian gram protein. Anda berhak membuang 1000 rupiah dari harga 10.000 rupiah potongan tersebut karena anda yang memilikinya. Namun, sadarkah bahwa pada saat yang sama, seseorang lain, di suatu tempat di sana, berharap mendapatkan protein walau hanya 10% dari protein yang anda konsumsi?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-IqBOxZcbtPw/Tc38irqlaGI/AAAAAAAAArk/V0DNmavnnZA/s1600/piring+kotor.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="244" src="http://3.bp.blogspot.com/-IqBOxZcbtPw/Tc38irqlaGI/AAAAAAAAArk/V0DNmavnnZA/s320/piring+kotor.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HC8lf_g74mg/Tc38uZZFVjI/AAAAAAAAAro/-yd9po4FlWA/s1600/sisa-makanan-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-HC8lf_g74mg/Tc38uZZFVjI/AAAAAAAAAro/-yd9po4FlWA/s320/sisa-makanan-1.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-QUqXTuPkFiE/Tc38w6lX3qI/AAAAAAAAArs/bOON46mEUv8/s1600/waste_food_on_plate_s.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://4.bp.blogspot.com/-QUqXTuPkFiE/Tc38w6lX3qI/AAAAAAAAArs/bOON46mEUv8/s320/waste_food_on_plate_s.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gYjaKtrMWbA/Tc38JFVIqpI/AAAAAAAAArg/wBp2puH3xS0/s1600/anak+makan+sisa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;img border="0" height="219" src="http://3.bp.blogspot.com/-gYjaKtrMWbA/Tc38JFVIqpI/AAAAAAAAArg/wBp2puH3xS0/s320/anak+makan+sisa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; line-height: normal;"&gt;Ah, masa bodoh. Saya masih bisa bersedekah.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;Tentu saja, namun jumlahnya tetap kurang karena 1000 rupiah telah anda buang. Walaupun hanya sekerat daging, tapi untuk sekerat itupun satu nyawa seberat 200 kg harus melayang demi sekerat daging di piring anda--yang ternyata juga anda buang sebagian. Bayangkan betapa sia-sia pengorbanan si sapi (sesungguhnya memang ia telah berkorban demi manusia, kita!) seandainya itulah satu-satunya potongan tubuhnya dari 200 kg tubuhnya yang tersisa, karena, misalnya, yang lain hanyut ke sungai atau terbakar bersama toko penjualnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Seteguk air yang anda sisakan di gelas mungkin berasal dari sebuah mata air puluhan kilometer dari tempat anda meminumnya. Mata air tidak bisa memberikan anda segelas air kecuali di sana sudah ada kandungan air yang sangat mungkin membutuhkan puluhan atau ratusan tahun untuk bisa terkumpul, setetes demi setetes.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Tahukah anda bahwa memang setetes demi seteteslah air itu terkumpul karena ia harus melewati berlapis-lapisan saringan tanah agar air yang keruh di permukaan hutan yang berasal dari hujan bisa menjadi jernih di dalam tanah?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Lalu, bisakah anda membayangkan berapa lama air harus menetes agar bisa terkumpul menjadi segelas air, segalon air, atau satu truk air dan bahkan bisa disedot bertahun-tahun?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kalau tidak percaya, coba saja menyaring seember air keruh sendiri menggunakan teknik penyaringan sederhana. Lihat berapa lama anda bisa mendapatkan seember air lagi--untung kalau benar-benar seember yang berhasil menetes ke ember anda. Sebagian mungkin tertinggal di ijuk, tanah liat, atau kerikil yang anda gunakan sebagai penyaring.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;Ah, saya tidak mau membayangkan.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;Pun demikian dengan sesuap nasi yang tersisa di atas piring anda. Lupakah anda bahwa sebatang rumput butuh 100-120 hari untuk bisa berubah menjadi padi dan kemudian beras?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; line-height: 24px;"&gt;Dan lupakah anda bahwa betapa kenikmatan suapan pertama saat anda berbuka puasa di awal malam setelah satu teguk yang melegakan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-CGx7sQOM2BQ/Tc3_k7c1DNI/AAAAAAAAArw/-tz9v8V258k/s1600/dahaga+%25281%2529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://1.bp.blogspot.com/-CGx7sQOM2BQ/Tc3_k7c1DNI/AAAAAAAAArw/-tz9v8V258k/s320/dahaga+%25281%2529.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&amp;nbsp; &lt;a href="http://galeribogor.net/laskar-galuga/dahaga/"&gt;Sumber&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-U0vZBN-FiDU/Tc3_mDSQGXI/AAAAAAAAAr0/U8PnH2xqbHc/s1600/dahaga.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;img border="0" height="232" src="http://4.bp.blogspot.com/-U0vZBN-FiDU/Tc3_mDSQGXI/AAAAAAAAAr0/U8PnH2xqbHc/s320/dahaga.jpg" width="320" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://forum.detik.com/share-foto-human-interest-t41526p50.html?langid=1"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;Itulah kekuatan dari sekerat daging, seteguk air, dan sesuap nasi. Sayangnya kita lebih suka untuk lupa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Sleman, May 2011&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;Patut dilihat dan menjadi sumber setiap gambar di sini&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white; font-family: inherit;"&gt;&lt;a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?p=420974152"&gt;http://www.kaskus.us/showthread.php?p=420974152&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://bpmkotabandaaceh.wordpress.com/2010/09/20/penghamburan-makanan/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;http://bpmkotabandaaceh.wordpress.com/2010/09/20/penghamburan-makanan/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://ashev-chenko.blogspot.com/2011/01/video-mengharukan-mereka-masih.html"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;http://ashev-chenko.blogspot.com/2011/01/video-mengharukan-mereka-masih.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://fahmy319.wordpress.com/page/2/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;http://fahmy319.wordpress.com/page/2/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 1.5em; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://bumikaryasenja.wordpress.com/2011/01/26/potret-kehidupan/"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: white;"&gt;http://bumikaryasenja.wordpress.com/2011/01/26/potret-kehidupan/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-3356979354335746153?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/3356979354335746153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/05/sekerat-daging-sesuap-nasi-dan-seteguk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3356979354335746153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3356979354335746153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/05/sekerat-daging-sesuap-nasi-dan-seteguk.html' title='Sekerat daging, sesuap nasi, dan seteguk air'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-IqBOxZcbtPw/Tc38irqlaGI/AAAAAAAAArk/V0DNmavnnZA/s72-c/piring+kotor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-1185424929229849504</id><published>2011-05-01T18:17:00.007+07:00</published><updated>2011-05-21T18:08:09.599+07:00</updated><title type='text'>Seorang remaja di dua teater PD II</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FHICsAQe3BI/Tb0_fSXFWpI/AAAAAAAAArE/700dWmp-kP0/s1600/41yyTReMELL._SS500_.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-FHICsAQe3BI/Tb0_fSXFWpI/AAAAAAAAArE/700dWmp-kP0/s320/41yyTReMELL._SS500_.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ByPDta1UKSU/Tb1AVa5COnI/AAAAAAAAArI/oTJJM0KQ6lo/s1600/Paladin_9786028801607_copy.gif.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-ByPDta1UKSU/Tb1AVa5COnI/AAAAAAAAArI/oTJJM0KQ6lo/s320/Paladin_9786028801607_copy.gif.gif" style="cursor: move;" width="224" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Dunia II memiliki dua teater, European Theater of Operation (ETO) dan Pacific Theater of Operation (PTO). Dari nama keduanya jelas ETO mengambil tempat di Eropa, sedangkan PTO digelar di Pasifik. Teater Eropa sendiri secara kasar terdiri dari dua front besar, yaitu front Timur antara Jerman melawan Rusia dan front Barat adalah antara Sekutu melawan Jerman. Di teater Pasifik, Amerika Serikat menjadi pemimpin utama perang melawan Jepang. Di sana sebenarnya ada Inggris dan Belanda juga, misalnya, yang berperang karena memiliki banyak jajahan di Asia, namun AS adalah penyumbang pasukan terbesar. Selain kedua front tersebut, sebenarnya masih ada pertempuran lain antara Sekutu dengan Jerman, yaitu di Afrika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama PD II tersebut tidak banyak prajurit yang bisa mengambil bagian di semua front pertempuran. Sebagian besar malah mungkin tidak pernah sempat menembakkan satu butir pelurupun sebelum terbunuh, entah di Belgia, &amp;nbsp;Tunisia, Libya, Balkan, Normandia, atau di atol-atol di Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pernahkah anda membayangkan bahwa ada satu orang remaja belum 20 tahun telah terlibat di dalam PD II di hampir semua front? Bahkan ia telah menjadi saksi kepengecutan penguasa Belgia terhadap Jerman yang menyerahkan diri dan harga diri mereka. Ia menyaksikan bagaimana Belgia menyerahkan dan menunjukkan semua perbekalan mereka kepada Jerman hanya agar tidak dilibas oleh Jerman. Dan ia harus membayar tindakannya itu dengan jatuh dari atap rumah dan nyaris terkurung di bawah tanah ketika Jerman masuk menyerang Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Selanjutnya, ia berjalan menyelinap di tengah pertempuran antara Jerman dan Inggris ke arah Barat demi menyampaikan kepada Tigger alias Winston Churchill.&amp;nbsp;Si anak ini sendiri memiliki kode panggilan Christopher Robin. Selain itu ia memiliki atasan lain, yang mengendalikan dan mengawasinya, yaitu Pooh dan Owl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu ia tidak berhasil menemukan kontaknya di Belgia karena kemajuan Jerman yang tidak terbendung. Namun, ia bertekad harus menemukan pasukan Inggris untuk menyampaikan pesan radio ke London. Ketika itulah ia menjadi saksi pengunduran diri Inggris dari daratan Eropa di Dunkirk. Dan usianya, masih 15 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ia masih remaja tanggung ketika pertama kali bertugas sebagai mata-mata pribadi Tigger. Tugasnya sangat rahasia sehingga hanya ada dua orang lain selain Churchill yang tahu keberadaannya. Kisahnya ditulis bersama oleh Brian Garfield dan Christopher Creighton--yang juga bukan nama asli dari si anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini ibarat sebuah buku sejarah yang bercerita tentang sisi lain dari peperangan di tengah PD II. . Christopher Robin bahkan seperti menjadi aktor penentu jalan PD II. Misalnya, jika saja kontak radionya masih ada di tempat yang direncanakan, tidak lari karena serangan Jerman, maka ia bisa menyampaikan berita penting tentang rencana Belgia membiarkan Jerman melewati Belgia dan menjarah perbekalan pasukan Belgia dengan peta Belgia sendiri. Inggris yang saat itu telah masuk ke daratan Eropa bisa saja menekan Belgia untuk mempertahankan diri atau mungkin tidak menyerahkan perbekalan mereka kepada Jerman. Dan sangat mungkin Inggris dan sekutunya lain tidak harus menyeberang lari ke Inggris melalui Dunkirk. Tugas amatirnya yang kedua dan sangat menegangkan adalah ketika ia harus mencari tahu di mana di Irlandia pasukan U-Boat Jerman berpangkalan. Dengan menyamar sebagai seorang pramuka laut yang ingin berlibur, ia menyelinap di pedesaan Irlandia, lolos dari pemeriksaan pasukan Irlandia, masuk ke pangkalan U-Boat Jerman, dan bahkan menyaksikan sendiri bengkel pemeliharaan U-Boat di sana. Dan dalam tugasnya inilah ia pertama kali harus membunuh seorang tentara Jerman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robin atau Creighton, setelah penugasan pertamanya dimasukkan ke kursus komando. Dalam pelatihan ini identitasnya sendiri disamarkan sebagai seorang Letnan bernama Peter Hamilton. Identitas ini yang juga sering ia gunakan di dalam penugasan-penugasan yang lain, seperti di Pasifik, Afrika Utara, dan Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia akhirnya bersedia menjalani pelatihan komando, Churchill alias Tigger memintanya secara pribadi agar bersedia menjadi Paladin atau pejuang pribadinya. Robin tidak menolak permintaan Churchill tersebut karena ia sangat hormat dan menyayangi Tigger sejak ia masih anak kecil. Pertemuan mereka yang unik dan dilanjutkan dengan persahabatan jauh sebelum Churchill menjadi Perdana Menteri membuat hubungan mereka tidak biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, barangkali hanya Robin lah satu-satunya prajurit Inggris yang bisa menolak perintah pemimpinnya kecuali ia mendengar perintah langsung dari Churchill. Ia bahkan bisa meminta pertemuan empat mata dengan Churchill setiap kali ia marah sekembalinya dari penugasan yang telah menghancurkan sisi-sisi kemanusiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang demikian, Robin pernah "menyelinap" ke dalam kapal selam Belanda, menipu seisi kapal dengan ide torpedo dengan kendali magnetis yang sebenarnya hanyalah bom waktu bagi sekutu utama Inggris itu sendiri. Akibat dari perbuatannya tidak hanya pasukan satu kapal selam itu yang tewas sia-sia, namun juga ribuan pasukan Amerika di Pearl Harbor. Semua itu hanya karena Inggris, sebagai komando Eropa tertinggi yang membawahkan armada Belanda dan sekutu lainnya, mendapat pesan radio dari kapal selam itu bahwa armada Jepang mendekati Pearl Harbor. Tigger tidak ingin AS tahu bahwa Jepang akan menyerang karena hanya dengan kehancuran AS sendirilah rakyat AS akan bersedia terjun di PD II. Makanya, Robin harus memastikan agar tidak satupun awak dari kapal selam itu sempat berbicara di darat. Ia bahkan harus membunuh tiga petugas sandi Inggris sendiri di London, salah seorang darinya justru adalah pacarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa bayangkan sendiri kehancuran seorang remaja 17-18 tahun karena tindakan yang harus ia lakukan itu. Dan apa yang kemudian ia dengar dari Churchill justru lebih mengejutkan, yaitu bahwa FDR sendiri tahu tentang gerakan Jepang ke Pearl Harbor dan justru mendiamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah banyak membaca sejarah PDII sebelumnya, lewat banyak buku. Namun, membaca cerita tentang Christopher Robin alias Peter Hamilton alian Christopher Creighton seakan melengkapi dan menjelaskan banyak hal yang telah saya ketahui. Dan, akibatnya, saya justru meragukan kelengkapan pengetahuan saya yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, di sini saya baru mengetahui bahwa untuk memutuskan pantai mana di Perancis yang akan didarati oleh Sekutu, Inggris menugaskan banyak orang, termasuk Hamilton untuk mendarat di sana, mengambil sampel pasir di berbagai tempat, dan meninggalkan jejak-jejak yang sangat jelas bagi Jerman bahwa Inggris telah menyusup ke sana dan merencanakan sesuatu untuk pendaratan. Di dalam film &lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0824330/"&gt;Female Agents&lt;/a&gt;, operasi penelitian tanah pantai-pantai di Perancis juga dikisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Hamilton tugas seperti ini sangat menyenangkan karena ia jelas-jelas menyerang Jerman. Sama dengan kenikmatan yang ia rasakan saat bergabung dengan French Resistance. Namun, tugas utamanya tidaklah berhadapan dengan Jerman, namun mengalahkan Jerman, dengan cara apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kali ia harus melatih seorang Perancis untuk membunuh seorang Jenderal Perancis hanya karena Jenderal tersebut tidak disenangi Sekutu. Ia harus membunuh seorang diktator untuk menggantinya dengan diktator yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tugas yang lain, ia harus menyamar menjadi Creighton, perwira sandi yang manja dan gila uang sehingga bersedia menjual informasi kepada Jerman. Untuk itu ia harus menyaksikan sendiri ribuan pasukan Kanada dan Sekutu yang lain, termasuk sahabatnya, Roberts, tewas di Dieppe. Tugas ini, hanya karena Churchill tidak senang dengan kengototan sekutunya untuk segera menginvasi Eropa ketika persiapan belum matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tugas mematangkan persiapan itu akhirnya kembali dibebankan kepada Robin. Setelah dijejali dengan informasi yang sangat detil tentang rencana pendaratan di Normandia, termasuk dengan detil sandi setiap pantai yang akan didarati, ia diminta untuk menyesatkan Jerman yang telah mempercayai pengkhianatannya di Dieppe sebelumnya. Kali ini, ia justru menjual informasi yang keliru tentang rencana pendaratan di Calais, titik terpendek antara Inggris dan Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugasnya yang terakhir ini sebenarnya tugas sangat terencana dan penuh tipu muslihat. Ia diberitahu bahwa tugas itu&amp;nbsp;tugas bunuh diri. Ia bahkan dibekali dengan sebuah gigi palsu yang berisi sianida--yang ternyata juga palsu. Ia memang dengan sengaja dikirim untuk disiksa dan agar seluruh informasi tentang rencana pendaratan keluar dari mulutnya. Awalnya ia bercerita tentang bahwa seakan-akan pendaratan adalah di Calais, namun Jerman yang curiga menyiksanya luar-dalam hingga akhirnya keluar dari mulutnya sendiri informasi Normandia, tentang &lt;a href="http://www.blogger.com/"&gt;&lt;span id="goog_1867202834"&gt;&lt;/span&gt;Omaha&lt;span id="goog_1867202835"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Utah_Beach"&gt;Utah&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Juno_Beach"&gt;Juno&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sword_Beach"&gt;Sword&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gold_Beach"&gt;Gold&lt;/a&gt;, dan seluruh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Overlord"&gt;Operation Overlord&lt;/a&gt;. Namun, yang mengherankan Hitler tetap menganggap bahwa pendaratan di Normandia, walau telah berjalan sepekan, sebagai pengalih perhatian dari pendaratan sesungguhnya di Calais. Dan sepertinya, memang itulah inti dari operasi Robin yang terakhir itu: menyesatkan dengan informasi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini sangat menarik dan menggelitik anda untuk bertanya: apakah memang demikian yang terjadi. Saya sendiri sangat penasaran apakah memang benar Belanda telah tahu tentang armada Jepang namun dicegah oleh Inggris dengan cara yang sangat memilukan. Jika benar demikian, maka Belanda patut marah kepada Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan buku ini adalah penggunaan "-nya" yang tidak pada tempatnya. Berkali-kali di dalam teks ditemukan akhiran "-nya" yang tidak mengacu kepada kepemilikan. Misalnya, "tanknya Rommel" alih-alih "tank Rommel". Jika tank (milik) dia adalah Rommel, lalu Rommel itu siapa? Jelas, penggunaannya "-nya" ini berasal dari bahasa percakapan, terutama dari bahasa Jawa, sebagai pengganti "e" seperti "mak-e" atau "bapak-e". Jika kekeliruan "-nya" ini tiada, maka buku ini menjadi lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kekeliruan penerjemahan, adalah terjemahan dari "hundreds of thousand" menjadi "ratusan dari ribuan". Karena buku itu sedang tidak di tangan saya saat ini, saya hanya bisa menunjukkan bahwa terjemahan itu ada di bagian mana Creighton alias Robin alias Hamilton memikirkan nasib pasukan Sekutu yang akan mendarat menginvasi Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan buku ini yang lain adalah pada kulit luarnya. Jika diperhatikan dengan cermat, maka tentara yang digambarkan di sana bukanlah salah satu dari pasukan Inggris di PD II. Ciri yang jelas adalah helm baja yang dikenakan, yang sangat mungkin itu adalah tentara AS. Tentara Inggris di PD II punya helm yang kurang-lebih seperti piring makan yang terbalik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-fFoPoLPNzNY/Tb1flA7hPHI/AAAAAAAAArU/8jpSwH2XCuQ/s1600/1300385462-60.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-fFoPoLPNzNY/Tb1flA7hPHI/AAAAAAAAArU/8jpSwH2XCuQ/s320/1300385462-60.jpg" width="226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.songsofwar.com/4255/vasyuhnovaowoku-first-world-war-clothing/"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-rHUVFGmpLEY/Tb1ecy7zEXI/AAAAAAAAArM/ehz1dISv2JU/s1600/wBritSoldier.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="216" src="http://1.bp.blogspot.com/-rHUVFGmpLEY/Tb1ecy7zEXI/AAAAAAAAArM/ehz1dISv2JU/s320/wBritSoldier.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.rowanpix.com/reenactments/pages/w-brit-soldier.htm"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan seragam tentara AS di PD II di bawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hkLjkBoUv-Y/Tb1gYpXXeGI/AAAAAAAAArY/QTsl4XK8tlo/s1600/wwII-soldiers.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="219" src="http://1.bp.blogspot.com/-hkLjkBoUv-Y/Tb1gYpXXeGI/AAAAAAAAArY/QTsl4XK8tlo/s320/wwII-soldiers.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://berkeley.edu/news/berkeleyan/2009/02/12_Kennedy.shtml"&gt;Sumber&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nFs7EcSz2sM/Tb1ghEyUp5I/AAAAAAAAArc/gqfGg3FBKPw/s1600/miracle-at-st-anna.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="216" src="http://1.bp.blogspot.com/-nFs7EcSz2sM/Tb1ghEyUp5I/AAAAAAAAArc/gqfGg3FBKPw/s320/miracle-at-st-anna.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.firstshowing.net/2008/first-look-spike-lees-miracle-at-st-anna/"&gt;Sumber&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang suatu hari nanti ingin memenangi perang, menangilah tanpa harus membunuh jiwa seorang anak, apalagi jika belum mencapai usianya yang ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 1 May 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-1185424929229849504?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/1185424929229849504/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/05/seorang-remaja-di-dua-teater-pd-ii.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1185424929229849504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1185424929229849504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/05/seorang-remaja-di-dua-teater-pd-ii.html' title='Seorang remaja di dua teater PD II'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-FHICsAQe3BI/Tb0_fSXFWpI/AAAAAAAAArE/700dWmp-kP0/s72-c/41yyTReMELL._SS500_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-8555061501547401364</id><published>2011-04-10T21:22:00.003+07:00</published><updated>2011-04-10T21:27:31.871+07:00</updated><title type='text'>Apa yang kau kejar, kawan?</title><content type='html'>Apa yang kau kejar, kawan&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika yang lain sedang memikirkan bagaimana menyekolahkan anak-anak mereka,&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Engkau masih bergulat untuk memikirkan dirimu sendiri.&lt;/blockquote&gt;Apa yang kau kejar, kawan&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika yang lain menghitung keuntungan hari ini, &lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Engkau masih menghitung bagaimana menukuk pokok&lt;/blockquote&gt;Apa yang kau kejar, kawan&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika yang lain berkejar-kejaran dengan anak-anak mereka,&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Engkau sibuk memikirkan bagaimana caramu untuk bisa menjenguk mereka&lt;/blockquote&gt;Apa yang kau kejar, kawan&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika yang lain telah melangkah ke depan,&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Engkau bahkan belum tahu akan ke mana hari ini&lt;/blockquote&gt;Apa yang kau kejar, kawan&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika yang lain memikirkan apa yang akan dilakukan di masa tua,&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Engkau tiba-tiba menjadi tua&lt;/blockquote&gt;Apa yang kau kejar, kawan&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika matamu mulai rabun, pikiranmu telah tumpul, dan para sahabat telah jauh&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Akankah kau masih akan hidup seribu tahun lagi?&lt;/blockquote&gt;Apa yang telah kau kejar, kawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 10 April 2011&lt;br /&gt;The night before the big day&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-8555061501547401364?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/8555061501547401364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/04/apa-yang-kau-kejar-kawan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8555061501547401364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8555061501547401364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/04/apa-yang-kau-kejar-kawan.html' title='Apa yang kau kejar, kawan?'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-7413512950147173440</id><published>2011-03-10T22:04:00.001+07:00</published><updated>2011-03-10T22:05:21.108+07:00</updated><title type='text'>Belajarlah...</title><content type='html'>&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Mendengarlah dan apa yang senyap akan menyapamu&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Melihatlah dan yang berselubung akan terkuak&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Menghidulah dan mana ambar dan bangar akan mengerak&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 0px;"&gt;Menyentuhlah dan apa yang gaib akan maujud&lt;/div&gt;Melangkahlah dan apa jauh akan mendekat&lt;br /&gt;Meragulah dan soal akan terjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajarlah dan dunia dan setelahnya akan datang kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 10 Maret 2011&lt;br /&gt;--Buat ayah saya yang akan berusia 70 tahun besok, insya ALLAH--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-7413512950147173440?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/7413512950147173440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/03/belajarlah.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7413512950147173440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7413512950147173440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/03/belajarlah.html' title='Belajarlah...'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-5116599463373030133</id><published>2011-03-10T21:20:00.010+07:00</published><updated>2011-12-02T14:26:16.351+07:00</updated><title type='text'>Selamat menempuh usia yang baru, Ayah</title><content type='html'>Saya ingin mengenang kembali ingatan saya tentang ayah saya, yang insya ALLAH akan berusia 70 tahun besok. &amp;nbsp;Jujur, saya tidak tahu apakah memang ada besok bagi saya maupun ayah saya. Namun, saya masih berharap bahwa kami masih bisa bertemu lagi. Mengapa? Karena ada satu janji lagi yang harus saya penuhi. Janji yang hanya saya dan ayah yang pahami. Tidak usah bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kenangan yang cukup membekas, dan yang ingin saya ingat berhubungan dengan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah ketika suatu hari saya diantar ke SD 44 Padang Utara (sekarang ada di belakang Polsek Padang Utara, dulu masih di halaman BPG). Kalau saya tidak salah ada satu teman yang bersama saya saat itu. Namun saya tidak ingat itu siapa. Seingat saya kalau tidak Agus Salim atau Afrenaldi (maaf saya lupa nama panjangnya kecuali nama panggilannya Ren). Di atas mobil Hardtop, ayah saya mengajarkan teknik menghapal perkalian 9 menggunakan teknik yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika ingin tahu hasil perkalian 4 x 9, maka cari angka pertama di bawah angka 4, yaitu 3. Lalu, angka berapa yang kalau ditambahkan dengan 3 akan menghasilkan 9?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu menghitung, "enam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, kedua angka tadi, 3 dan 6, disusun berurutan dari 3 dan 6. Dibaca tigapuluh enam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang, kalau 7 x 9, berapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"Angka di bawah 7 adalah 6 dan enam ditambah tiga hasilnya sembilan. Jadi, enampuluh tiga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman saya kemudian terkesima. Saat itu memang kami masih disuruh menghapal semua perkalian 1 hingga 10. Jadi, satu teknik seperti ini sangat berguna bagi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ayah saya. Beliau sangat kuat di dalam berhitung. Jangan ragukan beliau dalam hal ini. Ketika dulu meteran SPBU masih memakai jarum, beliau dengan cepat menghitung berapa rupiah uang yang harus beliau bayar jika meteran menunjukkan 35,3 liter, misalnya--dan tidak lupa memberitahu saya berapa uang kembalian yang harus saya terima dari kasir. Tidak hanya matematika, beliau juga pemahaman yang baik tentang ilmu kimia. (&lt;i&gt;Ada cerita unik yang selalu diceritakan ibu saya tentang ayah yang mengajarkan ilmu kimia kepada ia dan teman-temannya semasa SMA, namun tidak ingin saya bicarakan di sini.&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah ketika saya meminta secara khusus kepada beliau untuk mengantar saya mendaftar ke SMP 2 Padang. Saat itu, kami, siswa baru, harus mendaftar ulang. Seingat saya Rp.27 ribu saat itu. Namun, kami harus membawa orangtua untuk pendaftaran itu--mungkin karena jumlahnya yang besar saat itu. Dan saya kali itu sangat ingin membawa ayah saya. Beliau sebenarnya sedang sibuk siang itu di RS Ibnu Sina, namun beliau bersedia. Sempat beliau bertanya mengapa saya tidak meminta ibu saja yang menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya tidak menjawab. Saya tidak pernah bermanja-manja kepada beliau--kecuali mungkin di masa kecil yang saya tidak ingat--namun saya punya alasan khusus untuk permintaan itu. Beberapa bulan sebelumnya, sakit keras yang saya alami memaksa saya nyaris menyelesaikan SD saya dalam perawatan di dua rumah sakit. Saya bahkan harus belajar berjalan lagi setelah sembuh karena lama berbaring. Dan bahkan saya harus mengikuti ujian Ebtanas susulan karena kemudian sempat sakit lagi. Namun, ALLAH memberikan kepada saya jalan yang sangat lapang untuk bisa berada di peringkat atas di SD saya dan bisa dengan mudah melenggang pindah rayon ke SMP manapun di Padang. Dan saya memilih SMP 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah alasan saya. Saya ingin menunjukkan kepada beliau betapa saya bangga &lt;i&gt;dimilikinya &lt;/i&gt;dan ingin menunjukkan bahwa kasih-sayangnya telah membantu saya berprestasi lagi. &lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Suatu hari saya baru tahu bahwa malam pernah hampir menjadi malam yang sangat panjang. Hari itu saya baru juga tahu betapa tabah beliau menyalakan suluh saat itu dan di hari-hari setelahnya.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Ketiga adalah ketika saya menyelesaikan pendidikan magister saya. Kala itu suasana di rumah tidak memungkinkan bagi ibu saya untuk meninggalkan kemenakan saya yang masih kecil-kecil di rumah untuk menghadiri wisuda saya. Apalagi jika beliau harus meninggalkan ayah dengan dua kemenakan tersebut. Sementara itu, ayah sendiri tidak akan bisa bepergian sendirian tanpa teman sejatinya. Makanya, saya kemudian menyarankan agar mereka tidak usah datang ke wisuda saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya mereka tidak keberatan. Namun, kemudian ibu saya tahu bahwa saya lulus dengan predikat &lt;i&gt;cum laude&lt;/i&gt;. Saya tidak sengaja memberitahu ibu saya tentang hal ini karena saya pernah dengar isu bahwa ada kemungkinan bahwa orangtua dari lulusan yang berpredikat itu akan dipanggil oleh senat--walau itu tidak terjadi kemudian. Namun, itu sudah cukup untuk membuat ayah saya menangis di kamar jika ia tidak bisa datang ke wisuda saya. Ibu yang bercerita belakangan tentang hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya ayah saya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Jogja. Masalahnya adalah itu. Ayah saya sudah sangat lama tidak terbang dan belum pernah sekalipun harus menggunakan dua penerbangan. Jangan tertawa dengan kekunoan ayah saya ini karena memang demikianlah beliau. Beliau akan lebih senang menempuh perjalanan darat yang melelahkan karena dengan demikian ia bisa mengajak kami semua dan melihat lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu beliau dibekali satu ponsel oleh ibu saya (jangan juga tanya mengapa beliau saya sebut "dibekali"). Namun, berkali-kali saya telpon mengecek posisinya, berkali-kali pula beliau menelpon kembali menanyakan siapa yang menelpon sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir adalah ketika pertengahan tahun lalu beliau bicara di telpon dengan saya. Ayah saya bukan orang yang banyak bicara dan--seperti tadi--jauh dari telpon. Namun malam itu beliau dengan sengaja meminta bicara dengan saya. Hanya satu pertanyaannya, "Kapan perkiraanmu lulus dan seberapa lama lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, itulah ayah saya, ayah kami.&amp;nbsp;Yang rela jarang kami manjai di rumah, namun selalu mengantar kami ke kehidupan yang lebih baik, yang sebagian besar hanyalah impian baginya. Yang rela harus kami tinggalkan dan berdoa sendirian di rumah bagi kami setiap kali kami hendak mengejar &lt;i&gt;sesuatu-yang-kami-kira&lt;/i&gt; adalah impian kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah orang sederhana yang rela mandi peluh hanya untuk melengkapi rumah kami dengan buku yang bahkan tidak kami butuhkan hari itu. Di Mekkah kemaren beliau bergegas masuk ke toko mencari sebuah Alqur'an dengan terjemahan bahasa Inggris. Ketika saya tanya untuk apa, "Kemenakanmu akan memasuki pergaulan internasional suatu hari". Saya hanya bisa malu karena telah bertanya dengan kebodohan yang luar biasa. Impiannya demikian tinggi dan jauh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, masih ada satu impian dan janji kami berdua. Dan saya ingin kami berdua sama-sama menikmati janji itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menempuh usia yang baru, Ayah. Tetaplah tegak bersama kami--duh, masih saja saya meminta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 10 Maret 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-5116599463373030133?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/5116599463373030133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/03/selamat-menempuh-usia-yang-baru-ayah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5116599463373030133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5116599463373030133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/03/selamat-menempuh-usia-yang-baru-ayah.html' title='Selamat menempuh usia yang baru, Ayah'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2290296237776311709</id><published>2011-02-28T15:43:00.008+07:00</published><updated>2011-03-01T18:08:24.948+07:00</updated><title type='text'>The Kite Runner--Membaca Afghanistan dari Sebuah Buku</title><content type='html'>&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Saya buta dengan Afghanistan. Sama-sekali. Saya tahu bahwa negara itu ada di antara Pakistan dan Iran. Namun jangan tanyakan kepada saya di mana kira-kira posisi Kabul. Saya tidak tahu bahasa apa yang digunakan oleh mereka: apakah mirip dengan bahasa Pakistan atau justru Iran? Suku apa yang menjadi nenek moyang mereka? Lagi-lagi, apakah mereka sama dengan orang Iran atau Pakistan?&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Pengetahuan saya tentang Afghanistan pertama kali dipasok oleh John Rambo dan film-film seputar perseteruan AS dengan Soviet di sana. Lalu kemudian, Soviet terusir dan digantikan oleh Taliban, yang kala itu saya tahu hanya milisi dari kelompok pelajar. Itu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Bagi saya, negara itu, ya, tidak berbeda atau ada persamaan dengan Pakistan, yaitu sama-sama muslim. Tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya bahwa di sana ada patung Budha yang sangat besar, di Bamiyan, yang dihancurkan oleh Taliban. Bahkan saya tidak pernah menyangka bahwa di sana, di Afghanistan yang muslim, ada ladang opium yang besar yang memasok ke banyak negara, bahkan sangat mungkin hingga ke Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-foy05a-96Yk/TWtIzXdgLaI/AAAAAAAAApc/Kxan4knWRpE/s1600/bamiyan-buddha-faut2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="https://lh5.googleusercontent.com/-foy05a-96Yk/TWtIzXdgLaI/AAAAAAAAApc/Kxan4knWRpE/s320/bamiyan-buddha-faut2.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&amp;nbsp;Setelah dihancurkan oleh Taliban&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-dWSPimRl2BQ/TWtI0q_graI/AAAAAAAAApg/ReFCIIRJkiQ/s1600/bamiyan1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="248" src="https://lh6.googleusercontent.com/-dWSPimRl2BQ/TWtI0q_graI/AAAAAAAAApg/ReFCIIRJkiQ/s320/bamiyan1.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Sebelum dihancurkan oleh Taliban&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-d_EQ0jZ64Aw/TWtKpd4QRDI/AAAAAAAAApk/pSTExXskg2g/s1600/a36_18453883.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="216" src="https://lh5.googleusercontent.com/-d_EQ0jZ64Aw/TWtKpd4QRDI/AAAAAAAAApk/pSTExXskg2g/s320/a36_18453883.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-2_TReCbCq-E/TWtKtKitBKI/AAAAAAAAApo/XzCqfTcBGpQ/s1600/a08_18386827.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="207" src="https://lh5.googleusercontent.com/-2_TReCbCq-E/TWtKtKitBKI/AAAAAAAAApo/XzCqfTcBGpQ/s320/a08_18386827.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Dan, saya juga tidak tahu bahwa orang-orang Afghanishtan memiliki mata yang sangat berkilau&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-wxkzpRUWCLY/TWtZIclHqaI/AAAAAAAAAqE/zOaHxp6f1wE/s1600/a36_20109629.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="https://lh4.googleusercontent.com/-wxkzpRUWCLY/TWtZIclHqaI/AAAAAAAAAqE/zOaHxp6f1wE/s320/a36_20109629.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-FPvC4GvXogM/TWtZMqJuC-I/AAAAAAAAAqI/wAnyEkHODJI/s1600/a05_20505827.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="https://lh4.googleusercontent.com/-FPvC4GvXogM/TWtZMqJuC-I/AAAAAAAAAqI/wAnyEkHODJI/s320/a05_20505827.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-cibeGGeaP64/TWtZRdf5wdI/AAAAAAAAAqM/xpBeQAZvYcA/s1600/a07_21730479.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="229" src="https://lh6.googleusercontent.com/-cibeGGeaP64/TWtZRdf5wdI/AAAAAAAAAqM/xpBeQAZvYcA/s320/a07_21730479.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-T1rEo-1SUeY/TWtZYLAr46I/AAAAAAAAAqQ/hxvia198W4o/s1600/a15_20347555.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="216" src="https://lh3.googleusercontent.com/-T1rEo-1SUeY/TWtZYLAr46I/AAAAAAAAAqQ/hxvia198W4o/s320/a15_20347555.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-WtfsUe7nppk/TWteOXHDqsI/AAAAAAAAAqY/v0qo3Sn5tZw/s1600/a19_22580363.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="222" src="https://lh4.googleusercontent.com/-WtfsUe7nppk/TWteOXHDqsI/AAAAAAAAAqY/v0qo3Sn5tZw/s320/a19_22580363.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Perang yang dikomandoi oleh AS telah memperpanjang status Afghanistan sebagai medan perang. Negara ini adalah sebuah negara yang telah menjadi ajang peperangan sebelum Abad Pertengahan. Iskandar Zulkarnaen dan Jengis Khan adalah di antara mereka di masa lalu yang pernah berperang di sini. Sejak tahun 1970 hingga sekarang, Afghanistan bukan lagi sebuah negara, namun adalah sasana pelatihan militer! Kawah Chandradimuka bagi prajurit dari berbagai penjuru dunia. Berseragam...&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-6QRvEMR-PxM/TWtQ9KxLRhI/AAAAAAAAApw/EQWXaGEmH_o/s1600/isaf03_16590093.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="https://lh3.googleusercontent.com/-6QRvEMR-PxM/TWtQ9KxLRhI/AAAAAAAAApw/EQWXaGEmH_o/s320/isaf03_16590093.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-vckIAuGO7sM/TWtQ_yeq5pI/AAAAAAAAAp0/aS5tET8PFQw/s1600/isaf20_16558897.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="https://lh5.googleusercontent.com/-vckIAuGO7sM/TWtQ_yeq5pI/AAAAAAAAAp0/aS5tET8PFQw/s320/isaf20_16558897.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;maupun tidak.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-g2GLRGGvxY0/TWtRFxvooZI/AAAAAAAAAp4/gYJYcDSLD24/s1600/a04_19675373.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="209" src="https://lh3.googleusercontent.com/-g2GLRGGvxY0/TWtRFxvooZI/AAAAAAAAAp4/gYJYcDSLD24/s320/a04_19675373.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-IT-emgYsBAk/TWtQ5iT95hI/AAAAAAAAAps/B7RhEIxh0nA/s1600/a05_19675369.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="222" src="https://lh3.googleusercontent.com/-IT-emgYsBAk/TWtQ5iT95hI/AAAAAAAAAps/B7RhEIxh0nA/s320/a05_19675369.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Ketika mengamati foto di bawah ini, saya sadar bahwa buku yang sedang dibaca oleh prajurit tersebut adalah buku yang ditulis oleh Khaled Hosseini, penulis The Kite Runner.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-15mr3k3Rqfo/TWtSmrx9MlI/AAAAAAAAAp8/rPxm0AN8LnI/s1600/a17_19314265.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="210" src="https://lh3.googleusercontent.com/-15mr3k3Rqfo/TWtSmrx9MlI/AAAAAAAAAp8/rPxm0AN8LnI/s320/a17_19314265.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-__8xczu4Vog/TWtTIl3D52I/AAAAAAAAAqA/LyphcHRaboU/s1600/MV5BODcyNjY2MjEwM15BMl5BanBnXkFtZTcwODQ0MzI1MQ%2540%2540._V1._SY317_CR6%252C0%252C214%252C317_.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh5.googleusercontent.com/-__8xczu4Vog/TWtTIl3D52I/AAAAAAAAAqA/LyphcHRaboU/s1600/MV5BODcyNjY2MjEwM15BMl5BanBnXkFtZTcwODQ0MzI1MQ%2540%2540._V1._SY317_CR6%252C0%252C214%252C317_.jpg" style="cursor: move;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Ketika membaca The Kite Runner, saya baru mengetahui bahwa Afghanistan adalah Tanah orang Pashtun (&lt;i&gt;catatan:&amp;nbsp;pashtun adalah ejaan lain dari afghan dan -istan artinya adalah tanah, sehingga Afghanistan adalah tanah orang Pashtun--silakan periksa tautan ke Wikipedia di bawah&lt;/i&gt;) dan yang lain adalah warga kelas dua. Amir adalah anak dari seorang Pashtun sedangkan Hassan adalah (setengah) Hazara, suku kecil, minoritas, dan (harus) berada di bawah Pashtun. Wikipedia menunjukkan bahwa Hazara adalah suku ketiga terbesar (9%) di Afghanistan sementara Pashtun 42%, jauh di atas Tajik (27%) di tempat kedua.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-M9pCtWNseLA/TWtevyWk5XI/AAAAAAAAAqc/9mnZyveq7c8/s1600/a09_19216169.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="288" src="https://lh3.googleusercontent.com/-M9pCtWNseLA/TWtevyWk5XI/AAAAAAAAAqc/9mnZyveq7c8/s320/a09_19216169.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Persahabatan Amir dan Hassan adalah persahabatan murni anak-anak. Mereka tidak pernah tahu bahwa mereka adalah dari dua suku yang berbeda dan, oleh sebab itu, harus ada di derajat kemulian yang berbeda. Orang-orang dewasalah yang memberi makna terhadap perbedaan etnis tersebut. Dan sebagian dari mereka menekankan kepada anak-anak mereka hal tersebut. Seperti Assef yang bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Hitler.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Saya membayangkan, berandai-andai, jika saja Soviet tidak datang, Taliban tidak menang, AS tidak menyerbu, apakah Afghanistan akan pernah benar-benar damai? Jika akhirnya AS telah keluar dari Afghanistan, akankah Tanah Pashtun akan bisa ditinggali oleh semua etnis di Afghanistan?&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Saya yakin bahwa Khaled Hosseini juga ragu dengan jawaban dari pertanyaan itu. Ia menunjukkan sendiri bahwa perbedaan itu telah ada dan sangat kuat mengakar di tengah masyarakat. Contohnya, ketika Amir hendak mencari Hassan yang belum kembali dari mengejar layang-layang, ia bertanya kepada orang di pasar bahwa ia mencari seorang Hazara. Ia tidak mencari seorang anak kecil yang berlari mengejar layangan karena sore itu pasti banyak yang mengejar layang-layang terakhir itu. Ia tidak mencari temannya. Dan dari semua yang berlari itu, mungkin hanya sedikit (atau mungkin hanya Hassan seorang) yang berasal dari suku Hazara. Kepengecutan Amir membela Hassan sore itu dari kebejatan Assef adalah jawaban atas pertanyaan itu. Pashtun tidak akan membela Hazara.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Empatpuluh tahun dalam peperangan yang tanpa jeda bisa dipastikan bahwa tidak ada lagi satupun dari golongan dewasa Afghanistan yang pernah mencium semerbak bau kedamaian. Saya tidak tahu kapan bayi pertama akan lahir di Afghanistan tanpa mendengar peluru berdesing, tanpa mencium bau mesiu, tanpa peduli ia Pashtun atau tidak.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Sudah sedemikian lamakah Tuhan memalingkan kepala dari Afghanistan dan meninggalkannya dalam peperangan?&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh5.googleusercontent.com/-PG9JZa07UmU/TWtdy1xqfcI/AAAAAAAAAqU/wQGXmFMPLtg/s1600/a43_22369957.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="https://lh5.googleusercontent.com/-PG9JZa07UmU/TWtdy1xqfcI/AAAAAAAAAqU/wQGXmFMPLtg/s320/a43_22369957.jpg" style="cursor: move;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Sleman, 28 Februari 2011&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Sumber foto Patung Budha:&amp;nbsp;&lt;a href="http://sandalkumu.com/?p=521"&gt;http://sandalkumu.com/?p=521&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Sumber foto:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.boston.com/bigpicture/2009/04/recent_scenes_from_afghanistan.html"&gt;http://www.boston.com/bigpicture&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-small;"&gt;Sumber sejarah Afghanistan yang lain:&amp;nbsp;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Afghanistan"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Afghanistan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan dari penulis:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jika anda sudah menonton filmnya, sebaiknya baca sendiri bukunya. Ada banyak penjelasan yang hilang di sana dan itu sangat penting untuk menjelaskan mengapa Ali dan Hassan harus difitnah oleh Amir.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2290296237776311709?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2290296237776311709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/02/kite-runner-membaca-afghanistan-dari.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2290296237776311709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2290296237776311709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/02/kite-runner-membaca-afghanistan-dari.html' title='The Kite Runner--Membaca Afghanistan dari Sebuah Buku'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh5.googleusercontent.com/-foy05a-96Yk/TWtIzXdgLaI/AAAAAAAAApc/Kxan4knWRpE/s72-c/bamiyan-buddha-faut2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-6316909335848614869</id><published>2011-01-05T22:39:00.000+07:00</published><updated>2011-01-05T22:39:33.721+07:00</updated><title type='text'>Ada itu tiada; tiada itu ada</title><content type='html'>Keberhasilanmu adalah ketika engkau menerima kegagalanmu.&lt;br /&gt;Kecerlanganmu adalah ketika engkau menerima kesuramanmu.&lt;br /&gt;Keberadaanmu adalah ketika engkau menerima kepapaanmu.&lt;br /&gt;Kecerdikanmu adalah ketika engkau menerima ketololanmu.&lt;br /&gt;Kebisaanmu adalah ketika engkau menerima kelumpuhanmu.&lt;br /&gt;Kecantikanmu adalah ketika engkau menerima keburukrupaanmu.&lt;br /&gt;Kesempurnaanmu adalah ketika engkau menerima kecacatanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hanya karena yang lain tiada.&lt;br /&gt;Tiada hanya karena yang lain ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 5 Januari 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-6316909335848614869?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/6316909335848614869/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/01/ada-itu-tiada-tiada-itu-ada.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/6316909335848614869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/6316909335848614869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2011/01/ada-itu-tiada-tiada-itu-ada.html' title='Ada itu tiada; tiada itu ada'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-3290758170237665167</id><published>2010-12-07T19:46:00.004+07:00</published><updated>2010-12-17T07:26:31.980+07:00</updated><title type='text'>Jarum bergerak lebih kuat di dalam kegelapan</title><content type='html'>Apa yang dibutuhkan untuk sebuah kejahatan dan ibadah yang&amp;nbsp;sempurna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda, bahwa yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah kejahatan yang benar-benar kejam, bengis, dan mulus sama dengan yang dibutuhkan untuk melaksanakan ibadah yang khusyuk dan ikhlas adalah satu yaitu KEGELAPAN!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang-lebih di 13-14 tahun yang lalu, saya menemukan sebuah buku tentang TAO. Tertarik dengan isinya berupa petuah-petuah, saya kemudian membelinya dan membaca serta membawa-bawanya. Lucunya, seorang teman menuduh saya telah meninggalkan keimanan saya karena keseringan terlihat membawa-bawa buku itu. Tentu saja tidak dan tidak akan pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Buku itu hanya berisi petuah-petuah hidup. Dan yang di atas adalah salah satunya, dalam kalimat yang berbeda tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita renungkan bahwa ada kebenaran di dalam pernyataan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang penjahat, suasana atau lingkungan yang "terang" jelas sekali tidak ia inginkan. Sepandai apapun ia hendak menipu orang lain, ia membutuhkan kegelapan. Seorang pencopet mungkin saja beraksi di tengah hari, di tengah keramaian, namun ia tetap harus menutupi aksinya. Penjambret di tengah hari pun harus berlari sekencang mungkin dan menutupi identitasnya dengan helm atau jaket agar ia tidak bisa terkejar. Koruptor pun demikian. Walaupun orang berkata korupsi adalah budaya di Indonesia, tetap saja uang diserahkan secara sembunyi-sembunyi, permintaan disampaikan secara rahasia, dan hanya pemberi dan penerima yang mengetahuinya. Semuanya harus gelap. Makanya, saya kira saya dapatkan dari sebuah hadits, bahwa untuk mengetahui bahwa sebuah perbuatan adalah dosa atau bukan, tanyailah diri anda apakah anda ingin orang lain tahu atau tidak dengan perbuatan anda tersebut. Jika anda menjawab "Tidak", maka itulah dosa, kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi yang lain, amal baik, ibadah, juga membutuhkan kegelapan. Mungkin saja anda akan puas jika anda menyumbangkan sejumlah uang ke mesjid di dalam sebuah amplop yang di depannya tertulis nama anda lalu di hari Jumat depan anda akan melihat nama anda di papan neraca mesjid. Atau anda mungkin saja bisa shalat sangat khusyuk di masjid lalu ditambahi dengan shalat-shalat sunat lain sebelum dan sesudahnya dan baru pulang ketika garin mesjid memberitahu anda bahwa sebentar lagi sudah menjelang subuh sementara anda belum bersahur. Atau anda mungkin bisa saja menjadi orang yang paling banyak berwakaf dan membangun mesjid, langgar, dan mushala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk bisa sempurna, perbuatan baik pun membutuhkan kegelapan--sekali lagi, sama dengan kejahatan. Di tengah kegelapan, hanya Tuhan yang tahu amal anda, demikian juga hanya Tuhan yang tahu kejahatan yang anda lakukan di tengah kegelapan. Kegelapan adalah ketika hanya anda dan hanya anda satu-satunya makhluk fana yang tahu ibadah anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang habib menceritakan bahwa di hari akhir sana ada dua orang bersaudara yang ditimbang amalnya. Yang pertama, saudara yang lebih tua, timbangan amalnya berat dengan amalannya karena tidak terbilang kali karena telah mengkhatamkan Al Quran. Namun, ketika amal saudaranya ditimbang, amal saudaranya jauh lebih berat. Setelah diperiksa ternyata perbedaan mereka adalah karena saudara yang lebih muda ini lebih banyak membaca shalawat bagi Rasulullah dibandingkan saudara yang lebih tua. Ia memang tidak mengkhatamkan Al Quran sebanyak saudaranya, namun dia tidak pernah putus menyampaikan shalawat bagi Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah membaca shalawat lebih utama daripada membaca Al Quran? Bukan begitu. Si habib bercerita bahwa saudara yang rajin membaca Al Quran itu harus membawa-bawa Al Quran-nya ke mana ia pergi dan setiap orang akan tahu bahwa ia sedang membaca Al Quran walaupun ia tidak melantangkan suaranya. Sementara itu, saudaranya yang lebih muda cukup dalam hati saja bershalawat tanpa ada orang yang tahu dengan ibadahnya. Pungkas si habib, itulah yang menyebabkan perbedaan amal mereka, yaitu yang pertama beribadah terlihat oleh orang banyak sedangkan yang kedua beribadah tanpa terlihat oleh orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Islam diajarkan bahwa berpuasa adalah sebuah ibadah yang hanya diketahui oleh orang yang berpuasa dan Tuhan. Oleh karena itu, ibadah itu secara langsung akan diterima Allah, berbeda dengan ibadah-ibadah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian istimewanya berpuasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda mengucapkan dua kalimat syahadat, terutama jika anda muslim setelah dewasa, anda butuh orang lain untuk menjadi saksi bagi keimanan anda. Ketika anda shalat, anda datang ke mesjid, langgar, mushala, atau sendiri di rumah. Seseorang pasti akan menyaksikan anda melakukannya. Jika tidak ada yang pernah menyaksikan anda shalat, maka jenazah anda tidak akan sudi dishalatkan oleh umat muslim. Ketika anda membayar zakat anda, anda menyampaikannya kepada seseorang yang lain. Ketika anda berhaji, orang satu kampung akan mengantar anda pergi dan semua orang kemudian akan menukuk huruf "H" di depan nama anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bahkan bisa berpura-pura menjadi muslim, berpura-pura shalat, berpura-pura berzakat, atau berpura-pura berhaji. Dan tidak akan ada orang yang tahu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbalik dengan semua itu, walaupun anda mengaku berpuasa, lemas di siang hari, namun tidak ada seorang pun yang akan bisa tahu apakah anda benar-benar berpuasa atau tidak. Bahkan ketika anda berbuka di siang hari, orang juga tidak pernah tahu apakah anda benar-benar tidak berpuasa sejak subuh tadi. Makanya, Islam menilai bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang sangat pribadi antara manusia dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa, dan demikian juga amal ibadah yang lain, seharusnya dilakukan dalam kegelapan. Di zaman di mana informasi berpindah secepat cahaya, cukup mudah melihat bahwa banyak orang lupa dengan pentingnya kegelapan untuk beribadah. Di lokasi pengungsian, contohnya, akan dengan mudah ditemukan bendera partai politik, organisasi massa, atau calon bupati atau gubernur bertebaran, sambil memberikan sumbangan ini dan itu. Akan lebih meriah lagi jika pemilihan umum sudah di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jejaring sosial sudah menjadi sebuah gaya hidup dan semua perasaan disampaikan di sana dan menyebar ke banyak orang, maka cukup mudah di hari Senin dan Kamis atau di hari-hari yang istimewa untuk berpuasa yang lain, untuk tahu bahwa seseorang sedang berpuasa. Bukan karena mereka dengan susah payah memencet tombol-tombol ponsel atau komputer (memangnya sesukar mengayun cangkul seorang petani yang berpuasa?), namun justru karena mereka bersemangat untuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa sambil bertanya utara-selatan tentang menu apa yang baik untuk berbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat argometer sebuah taksi, amal orang seperti itu memang akan dihitung juga. Namun, jarumnya akan bergerak lebih cepat jika tidak ada orang yang tahu kesusahan yang ia tanggung untuk beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat bahwa Rasulullah di Madinah setiap hari, selama beberapa waktu, melumatkan roti dan menyuapkannya ke mulut seorang Yahudi tua dan buta sambil mendengarkan si Yahudi buta itu mengumpati Rasulullah dan melarang orang yang menyuapinya untuk memeluk Islam.&amp;nbsp;Ketika Rasulullah wafat dan Abu Bakar ingin tahu amalan apa yang harus ia tiru dari Rasulullah, istri Beliau lalu memberitahu tentang roti dan Yahudi itu. Namun, Abu Bakar ketahuan dan si Yahudi itu bertanya ke mana orang yang selama ini telah menyuapinya. Ketika ia tahu orang yang selama ini telah menyuapinya dan telah ia caki-maki adalah Rasulullah, maka saat itu pula si Yahudi itu menjadi muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang diajarkan Rasulullah tentang pentingnya berbuat baik di dalam kegelapan. Dan upahnya lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit memang, apalagi jika anda, kita, ingin agar orang tahu bahwa kita telah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 7 Desember 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-3290758170237665167?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/3290758170237665167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/12/jarum-bergerak-lebih-kuat-di-dalam.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3290758170237665167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3290758170237665167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/12/jarum-bergerak-lebih-kuat-di-dalam.html' title='Jarum bergerak lebih kuat di dalam kegelapan'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2550604896875305553</id><published>2010-10-22T00:58:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T07:39:57.784+07:00</updated><title type='text'>Anak-anak muda di Simposium Nasional Akuntansi</title><content type='html'>Selama tiga hari penyelenggaraan Simposium Nasional Akuntansi (SNA) ke-13 pekan yang lalu, beberapa kali saya menyampaikan kekaguman saya kepada teman-teman saya tentang perubahan peserta SNA. Saya melihat bahwa banyak peserta Simposium yang berusia muda. Saya menebak bahwa mereka baru saja menyelesaikan pendidikan S1 mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saya menginap di Hotel Wisata Niaga. Di sana setahu saya, selain kami reviewer, menginap juga para pemakalah. Awalnya saya ragu menyimpulkan bahwa semua yang menginap di sana adalah pemakalah. "Terlalu muda", duga saya. Namun, yang jelas mereka hadir di sepanjang Simposium tersebut. Jadi, saya yakin bahwa saya benar bahwa peserta Simposium beralih ke "anak-anak muda".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, saya baru yakin bahwa anak-anak muda yang saya lihat di hotel tersebut benar adalah pemakalah dan benar juga bahwa mereka adalah lulusan S1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang juga melihat anak-anak muda menulis. Karya ilmiah yang serius pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tahun 2005 saya pertama kali berhasil membawa mahasiswa saya ke SNA ke-8 di Solo. Saat itu dia, Bobby, malah belum menyelesaikan S1-nya. Ia baru maju ujian sarjananya satu pekan setelah skripsinya dipresentasikan di Solo. Saat itu saja saya sudah merasa luar biasa ada mahasiswa S1 yang bisa maju ke level nasional, bahkan di sesi internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2009, prosedur pemilihan paper yang berhak disajikan di SNA berubah. Penyaringan terjadi dua kali sehingga menjadi lebih ketat dan sulit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jadi, pantas jika paper yang lulus di SNA sejak 2009 diharga lebih tinggi. Pantas pula &amp;nbsp;jika kita bangga pada anak-anak muda yang berani mengambil jalur yang tidak terlalu popular di antara teman-teman seusia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, awal tahun 2005 ketika saya menantang dua orang mahasiswa saya untuk menulis skripsi yang serius agar bisa dipresentasikan di SNA ke-8 di Solo, hanya satu yang menjawab tantangan saya. Yang lain menjawab, "Saya ingin cepat selesai, Pak". Sama-sekali pilihan yang pragmatis dan sangat wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pantas pula jika mereka, para anak-anak muda tersebut dihargai atas keputusan mereka meluangkan waktu menulis skripsi yang serius, meringkasnya menjadi paper, dan memberanikan diri mengirim ke Simposium dan berdiri di depan ruang yang dipenuhi oleh orang-orang yang ingin mendapat ilmu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, itu yang selalu saya sampaikan kepada diri saya dan mahasiswa saya: "Jika anda seorang dosen, lalu anda mengajar di depan kelas, maka apa yang anda ajarkan adalah apa yang sangat mungkin telah diketahui oleh orang lain yang anda ajar. Saya jamin 1000 persen bahwa tidak ada seorang profesor akuntansi yang bersedia mendengar anda bicara tentang akuntansi. Namun, bila yang sampaikan di depan kelas atau sidang adalah hasil penelitian anda, maka yang anda ajarkan adalah ilmu anda. Karena itu ilmu anda sendiri, maka anda akan bisa "memaksa" seorang profesor duduk mendengarkan anda, mendapat ilmu dari anda--walau anda hanyalah seorang mahasiswa S1!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman saya menduga bahwa kemunculan anak-anak muda tersebut disebabkan karena "pemakalah tua" telah mencari tantangan lain ke luar negeri. Semacam mekanisme peremajaan secara alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja ada benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 13 kali pergelaran Simposium ini, ada setidaknya tiga kesan mendalam yang saya dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ajang ini telah menjadi ajang yang sedemikian bergengsi yang bisa memikat banyak penulis di dalam negeri untuk "bertanding". Beberapa tahun terakhir angka paper yang dikirim ke panitia berkisar di angka 300 paper. Tahun ini hanya 100-an makalah yang diterima atau dengan rasio 1 : 3. Cukup baik dibandingkan dengan simposium-simposium lain yang menerima semua makalah yang dikirimkan alias nol penolakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, apa yang terbangun selama 13 kali penyelenggaraan Simposium ini bukanlah usaha yang mudah dan murah. Di bidang ilmu yang berdekatan tidak ada simposium lain yang terselenggara dengan seteratur ini. Simposium ini tidak dibangun atau dimiliki oleh satu atau dua universitas. Walau kesan itu sedikit ada, namun saya melihat bahwa kesadaran bahwa Simposium ini adalah milik seluruh akademisi akuntansi telah tumbuh cukup kuat. Berbeda dengan sebagian simposium yang hanya diselenggarakan di satu tempat tertentu atau sesekali berpindah, Simposium ini selalu berpindah dari satu kota ke kota yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, yang membedakan Simposium ini dengan simposium yang lain adalah keluasan pemakalahnya. Anda akan menemukan paper yang ditulis oleh mahasiswa S1, S2, S3. Selain itu ada pula paper yang ditulis oleh profesor atau dosen lain non-mahasiswa. Jika pada kongres profesi yang anda akan lihat adalah sosok-sosok pelaku profesi, maka jangan heran jika anda akan menemukan di Simposium ini anak-anak muda medio 20 tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salut, sekali lagi salut bagi semangat mereka para penulis muda dan apa yang telah dibangun oleh IAI-KAPd &amp;nbsp;selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai jumpa tahun depan di Banda Aceh. (Ah, terbayang mie kocok di Pulau Sabang, Bang Syukriy!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman,&amp;nbsp;(menjelang parak siang) 22 Oktober 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusan ingat artikel yang saya tulis tahun 2009 di blog Formadegama. Masih tentang anak-anak muda di akuntansi.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://formadegama-foto.blogspot.com/2009/05/anak-anak-muda-akuntansi-itu.html"&gt;Klik ini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2550604896875305553?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2550604896875305553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/10/anak-anak-muda-di-simposium-nasional.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2550604896875305553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2550604896875305553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/10/anak-anak-muda-di-simposium-nasional.html' title='Anak-anak muda di Simposium Nasional Akuntansi'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4577741956553693663</id><published>2010-10-05T08:15:00.010+07:00</published><updated>2012-01-14T07:34:24.108+07:00</updated><title type='text'>Tubuh, bayangan, dan sang waktu</title><content type='html'>&lt;b&gt;Pagi hari:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya kepada bapakku,&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Mengapa bayanganku begitu panjang dan jauh, Bapak?"&lt;/blockquote&gt;Bapakku menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena matahari masih ada di belakangmu.&lt;br /&gt;Bayanganmu bukan jauh, Nak.&lt;br /&gt;Ia panjang sehingga terlihat jauh.&lt;br /&gt;Mari kita tetap di sini sejenak lebih lama.&lt;br /&gt;Perlahan kau akan melihat hal berbeda."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Benar, Bapak. Ia memendek."&lt;/blockquote&gt;"Bukan memendek. Ia menjadi lebih dekat dan lebih terang."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Iya, Bapak."&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Bapak, apakah ia akan semakin pendek dan terang jika kita menunggu lebih siang lagi?"&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;"Bukan memendek, Nak, tapi lebih dekat.&lt;br /&gt;Dan, ya, akan lebih terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kau hendak di sini lebih lama lagi?"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Iya, Bapak, aku ingin tahu seperti apa bayanganku jika hari makin siang."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketika matahari telah tegak di atas kami:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;"Sekarang, apa yang kau lihat, Nak?"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bayanganku memendek, Bapak.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bahkan aku bisa menginjak bayangan kepalaku.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Padahal tadi pagi ia begitu jauh."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita lihat apakah kamu akan tetap bisa menggapai bayangan kepalamu, Nak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Mengapa begitu, Bapak?"&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Kita lihat saja, Nak. Sebentar lagi".&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bapak, mengapa sekarang bayanganku sekarang tidak lagi di depan. Ia sekarang ada di belakangku."&lt;/blockquote&gt;"Tapi, kamu masih bisa menjangkaunya, Nak?&lt;br /&gt;Balikkan badanmu!"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Masih bisa, Bapak.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Namun, coba lihat ini.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bayanganku menjauh, Pak."&lt;/blockquote&gt;"Benar. Ia sekarang menjauh.&lt;br /&gt;Coba amati lebih lama lagi, Nak.&lt;br /&gt;Kita lihat apa yang akan terjadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm... sepertinya kita akan tetap di sini hingga malam menjelang."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bapak, aku mengerti sekarang.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bayanganku semakin menjauh ketika matahari makin ke Barat."&lt;/blockquote&gt;"Lalu?"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Ia menjauh, Pak.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bayangan diriku menjauh dan menjadi lebih kabur daripada tadi siang."&lt;/blockquote&gt;"Ada lagi?"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Ya.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Walaupun aku menghadapkan wajahku ke arahnya dan berusaha menggapai ujung bayanganku, ia semakin tak teraih, Pak."&lt;/blockquote&gt;"Jadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Aku tidak akan pernah lagi bisa berharap ia mendekat seperti tadi pagi, Bapak.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Sebentar lagi mungkin aku tidak akan bisa melihatnya lagi."&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;"Nah, sekarang aku sudah tidak bisa melihat lagi, Pak.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Matahari sepertinya sudah terbenam.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ya, ia telah terbenam.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Di belakang kita."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Adakah yang lain yang kau rasakan, Nak?"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Ya.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Ketika pagi, udara dingin, sejuk, dan kemudian menghangat.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Di siang hari, panas terik.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Dan di sore hari, suasana mulai teduh namun masih menyisakan hangat."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Kehangatan siang tadi masih ada, Pak. Namun, sebentar lagi tentu akan dingin."&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, kalau begitu kita pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TKs4L0G_ndI/AAAAAAAAAm4/hq4aBJERX-A/s1600/bayangan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TKs4L0G_ndI/AAAAAAAAAm4/hq4aBJERX-A/s320/bayangan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://debuterbang.blog.friendster.com/2007/08/bayangan/"&gt;Sumber gambar&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;5 Oktober 2010&lt;br /&gt;Pulau Lombok dan Sleman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Perbaruan 14 Desember 2012&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Apakah kamu tidak memerhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana DIA memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau DIA menghendaki niscaya DIA menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian KAMI jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,&lt;br /&gt;kemudian KAMI menarik bayang-bayang itu kepada KAMI dengan tarikan yang perlahan-lahan.&lt;br /&gt;(Al-Furqan: 45-46)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4577741956553693663?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4577741956553693663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/10/tubuh-bayangan-dan-sang-waktu.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4577741956553693663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4577741956553693663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/10/tubuh-bayangan-dan-sang-waktu.html' title='Tubuh, bayangan, dan sang waktu'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TKs4L0G_ndI/AAAAAAAAAm4/hq4aBJERX-A/s72-c/bayangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-8105849058529105202</id><published>2010-08-07T07:25:00.004+07:00</published><updated>2010-12-17T07:42:34.402+07:00</updated><title type='text'>Type A Behavior Pattern (TABP)</title><content type='html'>Ada pengelompokan sederhana (dan tidak berarti satu-satunya) atas pola perilaku manusia, yaitu manusia dengan pola perilaku tipe A dan manusia dengan pola perilaku tipe B--belakangan muncul kombinasi dari A dan B menjadi AB.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum bicara yang lain, ada baiknya saya sajikan kutipan dari &lt;a href="http://psikologi-online.com/kepribadian-anda-tipe-a-atau-tipe-b"&gt;situs psikologi&lt;/a&gt; tentang ciri dari orang berpola perilaku tipe A dan tipe B.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="color: #333333; font-family: Tahoma, Geneva, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 20px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Friedman &amp;amp; Ulmer (1984), dalam bukunya “Treating Type A Behavior – And Your Heart”, mengidentifikasi sebagian ciri-ciri orang dengan tipe A, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 2.5em; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Mengepalkan jari dalam pembicaraan biasa&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Menggeremetukkan gigi&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Terobsesi berkompetisi hampir di semua aktivitas, meskipun hanya hal-hal kecil&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Kurang rela kalah meskipun pada anak kecil&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Ingin mendominasi dalam situasi sosial maupun bisnis&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Mudah tersinggung dan tidak sabaran pada orang lain, terutama orang yang kontra&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Memiliki opini yang tidak berubah&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Terlihat kurang mampu menikmati kesuksesan orang lain&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Mudah tersinggung hanya oleh kesalahan kecil yang dilakukan orang lain&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Berkonsentrasi pada hal-hal yang salah dan hal-hal yang bisa menjadi salah&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Tidak mampu menertawakan diri sendiri atau orang lain&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Sangat bangga dengan diri sendiri&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Berpikir bahwa orang lain tidak bisa dipercaya dan memiliki motif tersembunyi&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Merasa kurang menyukai orang lain&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Sering menyalahkan berbagai hal, khususnya kelompok yang besar seperti pemerintah, generasi muda, kondisi ekonomi, dan lainnya&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Sering mengedipkan mata&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Berbicara dengan cepat&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Menginterupsi pembicaraan orang lain, meskipun belum selesai&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Melakukan gerakan-gerakan dengan cepat&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Tidak sabaran&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Memperhatikan kecepatan aktivitas orang lain dan menyarankannya untuk memperlambat&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Sulit untuk duduk diam tanpa melakukan apa-apa&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Tidak nyaman untuk terus duduk di meja setelah selesai makan semua makanan&lt;/li&gt;&lt;li style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Mencoba berpikir atau melakukan lebih dari satu hal pada saat yang sama&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Sudah tentu tidak semua ciri-ciri di atas dimiliki orang dengan tipe A, dan bisa saja sebagian cirinya dimiliki hanya dalam kadar rendah. Akan tetapi itulah sebagian ciri-ciri yang biasanya tampak pada orang-orang tipe A.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;Berikut adalah sebagian ciri-ciri orang dengan tipe B&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 2.5em; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Sabar&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Jarang melihat jam&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Pendengar yang baik&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Menghargai kenyamanan dan keindahan&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Tidak asyik sendiri dengan pencapaian-pencapaiannya&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Bersifat gampangan atau easy going&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Tidak kompetitif&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Membagikan tugas dengan nyaman&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Mengalokasikan waktu khusus untuk memikirkan suatu hal secara khusus&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Bergaya kasual&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Melakukan satu hal pada satu waktu&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Menikmati keberhasilan yang diraih baik oleh diri sendiri maupun orang lain&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Pembicara yang pelan&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Tidak membiarkan diri merasa terburu-buru&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Menikmati hadiah-hadiah&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Senang dengan bersantai&lt;/li&gt;&lt;li class="" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 2px; padding-left: 5px; padding-right: 5px; padding-top: 2px;"&gt;Mengekspresikan kasih secara terbuka&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;....&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebenarnya, sekadar latar belakang, ciri-ciri tersebut terkait dengan penyakit jantung koroner dan tipe perilaku orang yang menderita penyakit tersebut. Ringkasnya, orang-orang dengan pola perilaku tipe A (TABP) berpeluang lebih besar menderita penyakit jantung koroner dibandingkan dengan orang dengan pola perilaku tipe B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam artikel Richard T. Fisher (jurnal Behavioral Research in Accounting, 2001) dikatakan bahwa TABP adalah sebuah sindroma perilaku yang terjadi secara konsisten pada orang-orang yang &amp;nbsp;memiliki keinginan untuk mengendalikan lingkungan mereka. Jadi, jika diacu ke nukilan di atas, orang-orang TABP adalah orang yang sangat ingin mengendalikan lingkungan mereka. Interaksi dengan orang, peristiwa, dan/atau situasi yang dicerap mengancam &lt;i&gt;sense of control&lt;/i&gt;&amp;nbsp;akan cenderung memunculkan karakteristik perilaku tipe A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikaitkan dengan pekerjaan, motivasi untuk mempertahankan kontrol terhadap lingkungan tersebut dikatakan berhubungan positif dengan kinerja. Hanya saja hubungan positif tersebut valid jika orang-orang TABP dihadapkan pada level stres yang moderat. Ketika level stres meninggi, berkepanjangan, penting, dan tidak bisa mereka kendalikan, kinerja orang TABP akan menurun. Hal ini terjadi karena mereka menjadi merasa tidak berdaya. Ketika dihadapkan pada level stres yang tinggi dan berkepanjangan, orang TABP akan beralih menjadi orang yang tidak efektif dalam bekerja. Mereka kemudian akan membebankan kegagalan mereka kepada kebodohan atau ketidakmampuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa beda kinerja orang dengan tipe A (TABP) dengan orang dengan tipe B (TBBP)? Dari Fisher dinukil bahwa orang-orang TABP memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan TBBP untuk tugas-tugas yang sulit yang membutuhkan data tahan yang lama dan panjang; sedangkan orang TBBP lebih unggul dibandingkan dengan orang TABP untuk tugas-tugas yang lambat (&lt;i&gt;slow&lt;/i&gt;) dan memerlukan respon yang terukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, terkait dengan akuntan, Fisher mengungkap bahwa&amp;nbsp;TABP juga didapati pada auditor eksternal atau orang-orang yang bekerja di kantor akuntan publik. Salah satu kemungkinan penjelasan tersebut adalah karena TABP sering ditemukan pada orang yang sering melakukan perjalanan dan bekerja dalam jangka waktu panjang. Selain itu, di dalam pekerjaannya, auditor eksternal sering terjebak di dalam konflik peran, yaitu apakah sebagai auditor "upahan" manajer ataukah sebagai "mata dan telinga" pemegang saham. Oleh karena itu, Fisher menduga bahwa TABP akan memperburuk kinerja akuntan. Hanya saja ia tidak bisa membuktikannya. Namun, ia mendapatkan bahwa auditor TABP lebih puas pada pekerjaannya dibandingkan auditor TBBP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup dulu sampai di sana. Kembali lagi ke cerita awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau secara sederhana orang TABP dan TBBP bisa dipahami dari gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFyzub63vJI/AAAAAAAAAlw/drr5bX1o4Zk/s1600/type+a+dan+b.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="256" src="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFyzub63vJI/AAAAAAAAAlw/drr5bX1o4Zk/s320/type+a+dan+b.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, orang TABP sangat ingin mengendalikan lingkungannya. Orang seperti ini tahan bekerja untuk tugas-tugas yang membutuhkan daya tahan yang lama. Mereka juga bisa &amp;nbsp;mencapai &lt;i&gt;serangkaian&lt;/i&gt; sasaran secepat mungkin, bekerja dengan cepat, tahan terhadap kelelahan atau kemungkinan gagal, dan bisa mengabaikan gangguan-gangguan yang muncul selama proses pencapaian sasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, walaupun terlihat seperti mesin yang super, jangan harapkan mereka bisa bertahan terlalu lama. Mereka hanya bisa berkinerja baik sepanjang level stres masih moderat di mana mereka memiliki kontrol terhadap lingkungan. Sebaliknya, ketika mereka dihadapkan pada level stres yang telah lebih tinggi dan mereka tidak lagi bisa mengendalikan lingkungan mereka, orang TABP akan berhenti berupaya untuk mendapatkan kontrol atas lingkungan. Pada saat ini orang TABP akan kalah dari orang TBBP. Jadi tidak selalu orang TABP lebih baik dibandingkan dengan TBBP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pekan ini saya berkunjung ke rumah teman sejawat ayah saya. Dia menasehati saya untuk menelan pil EGP a la orang Jogja. Yah, mungkin juga setelah tiga tahun mengganjat sel abu-abu dan membuntang mata, saatnya membiarkan mereka terabar dan melandung sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 7 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-8105849058529105202?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/8105849058529105202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/08/type-behavior-pattern.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8105849058529105202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8105849058529105202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/08/type-behavior-pattern.html' title='Type A Behavior Pattern (TABP)'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFyzub63vJI/AAAAAAAAAlw/drr5bX1o4Zk/s72-c/type+a+dan+b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-5473431496217542436</id><published>2010-07-29T13:58:00.012+07:00</published><updated>2011-03-10T22:11:51.815+07:00</updated><title type='text'>Keunikan Jam Gadang, apakah ia sendirian?</title><content type='html'>Setiap kali ada tayangan acara televisi yang berhubungan dengan Jam Gadang di Bukittinggi, penulisan angka "4" yang bukannya dalam angka Romawi yang lazim, IV, selalu disinggung. Jika anda perhatikan gambar Jam Gadang di bawah ini yang saya ambil dari &lt;a href="http://arahha-sensei1204.blogspot.com/2009/06/jam-gadang-ku.html"&gt;sumber ini&lt;/a&gt;, angka "4" tidak dalam aturan penulisan Romawi, namun ditulis IIII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEWcqXziZI/AAAAAAAAAko/xnbtZ2Y-dkw/s1600/Jam+Gadang3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEWcqXziZI/AAAAAAAAAko/xnbtZ2Y-dkw/s320/Jam+Gadang3.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini saya, dan mungkin sebagian orang lain, percaya bahwa ini adalah keunikan dari Jam Gadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, beberapa waktu yang lalu saya menemukan gambar di bawah ini. Setelah mengamati gambar itu baik-baik, saya baru menyadari bahwa angka "4" pada jam tersebut juga sama dengan angka "4" pada Jam Gadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEhN9b4-1I/AAAAAAAAAkw/iKqDZF71teg/s1600/m01_16895561.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEhN9b4-1I/AAAAAAAAAkw/iKqDZF71teg/s400/m01_16895561.jpg" width="400" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.boston.com/bigpicture/2009/02/at_work.html"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;Sumber gambar&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Di gambar itu anda bisa lihat bahwa angka "4" ditulis dengan IIII, bukan IV. Ketika menyadari itu, saya jadi bertanya-tanya, apakah gambar tersebut hanya kebetulan belaka. Artinya, hanya kebetulan jam yang saya lihat itu saja yang demikian, sementara sebenarnya pabrik tersebut tidak menulis angka "4" seperti itu untuk produknya yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;Saya kemudian mencoba datang ke situs perusahaan pembuat jam tersebut, &lt;a href="http://electrictime.com/"&gt;http://electrictime.com&lt;/a&gt;. Lalu, apa yang sama temukan?&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Ini dia:&lt;/div&gt;&lt;div class="" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Post clock&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEj8SFx44I/AAAAAAAAAk4/hHuD8htAxwI/s1600/PSTCLK-LG2HOWARD%40img_installation.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEj8SFx44I/AAAAAAAAAk4/hHuD8htAxwI/s400/PSTCLK-LG2HOWARD%40img_installation.jpg" width="160" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEkAcFd9iI/AAAAAAAAAlA/OgbWSADQdGk/s1600/PSTCLK-LG2HOWARD-ILLUM%40img_installation.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEkAcFd9iI/AAAAAAAAAlA/OgbWSADQdGk/s400/PSTCLK-LG2HOWARD-ILLUM%40img_installation.jpg" width="160" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Tower clock&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEkvNmQ4CI/AAAAAAAAAlI/1Lv99Jq9fjc/s1600/1100%40img_installation.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEkvNmQ4CI/AAAAAAAAAlI/1Lv99Jq9fjc/s320/1100%40img_installation.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEk5SnIpUI/AAAAAAAAAlQ/vr7L8f8QU1c/s1600/8000%40img_installation.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEk5SnIpUI/AAAAAAAAAlQ/vr7L8f8QU1c/s400/8000%40img_installation.jpg" width="187" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bracket clock&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFElERgboQI/AAAAAAAAAlY/VrDr8BdSeaY/s1600/63AXX-CORNER%40img_installation.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFElERgboQI/AAAAAAAAAlY/VrDr8BdSeaY/s320/63AXX-CORNER%40img_installation.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFElY6kDyuI/AAAAAAAAAlg/SOAtfBEjZmU/s1600/LG4HOWARD-PEDESTAL%40img_installation.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFElY6kDyuI/AAAAAAAAAlg/SOAtfBEjZmU/s400/LG4HOWARD-PEDESTAL%40img_installation.jpg" width="187" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, anda bisa lihat bahwa keenam jam yang gambarnya saya sajikan di sini adalah jam dengan penulisan angka "4" yang sama dengan angka "4" di Jam Gadang. Memang perusahaan ini tidak semuanya menulis angka "4" dengan cara demikian, sebagian tetap dengan "IV" dan sebagian lain dengan angka Arab. Namun, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa ada cerita lain sepertinya di balik dari penulisan angka "4" di Jam Gadang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda masih percaya bahwa penulisan itu unik untuk Jam Gadang saja dan tidak ada di tempat lain, silakan kunjungi tautan ini&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.canclockmuseum.ca/gallery.html"&gt;http://www.canclockmuseum.ca/gallery.html&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 29 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 Juli 2010--Keesokan hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saya mendapat email balasan dari Museum Jam Kanada dan seorang ahli per-jam-an yang alamatnya saya dapatkan dari museum tersebut. Untuk mengetahui ringkasan jawaban mereka, silakan lihat gambar di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFIrfZnRRBI/AAAAAAAAAlo/jxqML-DYQqI/s1600/660px-BadSalzdetfurthBadenburgerStr060529.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFIrfZnRRBI/AAAAAAAAAlo/jxqML-DYQqI/s320/660px-BadSalzdetfurthBadenburgerStr060529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka, King Louis XIV&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;(5 September 1638 - 1 September 1715, dari Wikipedia)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;meminta kepada seorang pembuat jam untuk membuat sebuah jam baginya. Lalu, si pembuat jam membuatkan jam dan memberi nomor pada setiap jam sesuai dengan aturan angka Romawi. Si raja, setelah melihat jam yang diberikan kepadanya, tidak setuju dengan penulisan IV sebagai angka "4" dengan alasan ketidakseimbangan visual. Menurutnya, angka VIII ada di seberang angka IV. Jika ditulis IV, maka ada ketidakseimbangan secara visual dengan VIII yang lebih berat. Oleh karena itu, Louis XIV meminta agar diubah IV menjadi IIII sehingga lebih seimbang dengan VIII yang ada di seberangnya. Selain itu, jika dikaitkan dengan angka XII, maka keseimbangan itu akan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu cerita yang saya dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memeriksa beberapa situs, saya juga mendapatkan penjelasan yang sama. Salah satu yang lucu adalah &amp;nbsp;dari &lt;a href="http://www.adrianbruce.com/roman_numerals/roman_numerals_vii.htm"&gt;sebuah situs&lt;/a&gt; yang mempertanyakan mengapa si raja yang memerintahkan perubahan itu lebih dikenal dengan Louis XIV daripada Louis XIIII, sesuai dengan permintaannya kepada pembuat jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari &lt;a href="http://www.ubr.com/clocks/frequently-asked-questions-faq/faq-roman-iiii-vs-iv-on-clock-dials.aspx"&gt;sebuah situs lain&lt;/a&gt;, saya mendapat penjelasan yang lebih beragam.&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: verdana, sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 12px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang bernama Milham mengatakan bahwa penjelasan seperti di atas tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, penulisan IIII untuk angka "4" telah ada jauh sebelum Louis XIV. Dari &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Roman_numerals"&gt;wikipedia&lt;/a&gt; saya mendapatkan penjelasan bahwa penomoran Romawi memang bervariasi dari awalnya. Pada masa awal angka "4" memang ditulis IIII dengan empat huruf I. Penulisan "4" menjadi IV hanya terjadi di masa modern, yang menunjukkan bahwa "empat adalah kurang satu dari lima". Manuskrip Forme of Cury (1390) menggunakan IX untuk "9" namun IIII untuk "4". Sedangkan dokumen lain dari manuskrip yang sama di tahun 1380 menggunakan IX dan IV untuk "9" dan "4", berturut-turut. Lebih lanjut, ada manuskrip ketiga yang menggunakan IX untuk "9" dan campuran antara IIII dan IV untuk "4". Angka "5" juga ditemukan disimbolkan dengan IIIII, IIX untuk "8" dan VV, bukannya X, untuk "10". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksian lain dari situs tersebut, Franks, menyatakan bahwa ia tidak pernah melihat jam matahari yang dibuat sebelum abad ke-19 yang menggunakan angka IV, semuanya IIII. Sehingga, para ahli jam heran dengan arsitek masa ini yang membuat jam menara besar-besar menulis "4" dengan IV, bukan IIII. Salah satu yang menggunakan IV, bukan IIII, adalah Big Ben. Jadi, implisit dikatakan bahwa Big Ben melanggar konvensi per-jam-an!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan lain cukup menarik. Harvey, &lt;a href="http://www.ubr.com/clocks/frequently-asked-questions-faq/faq-roman-iiii-vs-iv-on-clock-dials.aspx"&gt;di situs yang sama&lt;/a&gt;, mengatakan bahwa IV adalah singkatan dari dewa Romawi, Jupiter, yang ditulis IVPPITER. Jadi, jika IV diletakkan di dalam jam bangsa Romawi, maka jam itu akan bertuliskan 1, 2, 3, DEWA, 5... Nah, saya tidak jelas apakah penjelasan ini bermakna positif atau negatif. Jika dilihat dari kacamata bangsa Romawi, mungkin mereka tidak ingin nama tuhan mereka ditaruh di jam seperti itu. Namun, kalau dilihat dari kacamata Louis XIV (yang mungkin kristen), maka mungkin ia tidak ingin ada nama dewa pagan di permukaan jam. Mana yang benar, saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di situs yang sama, menurut Mialki, alasan penggunaan IIII bukan IV semata-mata masalah teknis. Jika IV yang digunakan, maka pandai besi harus membuat huruf I sebanyak 16 batang, huruf &amp;nbsp;X sebanyak 4 batang, dan V sebanyak 5 batang. Masalahnya, pada masa itu, pandai besi hanya bisa ekonomis kalau membuat besi dalam kelipatan empat. Jika ditulis IV untuk "4", maka akan ada satu 3 batang huruf V yang terbuang. Sementara itu, jika "4" ditulis IIII, maka huruf V hanya dibuat empat batang--dengan demikian ekonomis--dan huruf I sebanyak 20 batang--juga ekonomis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mana yang benar dari penjelasan ini, saya tidak tahu. Namun, satu yang kita tahu sekarang adalah bahwa angka IIII di Jam Gadang tidak unik. Justru itulah konvensinya dan terbukti bahwa Londo yang menjajah kita dulu tidak memberi kita barang yang jelek, justru yang bagus dan masih hidup hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari Sleman&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: sans-serif; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px; line-height: 19px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-5473431496217542436?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/5473431496217542436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/07/keunikan-jam-gadang.html#comment-form' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5473431496217542436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5473431496217542436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/07/keunikan-jam-gadang.html' title='Keunikan Jam Gadang, apakah ia sendirian?'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/TFEWcqXziZI/AAAAAAAAAko/xnbtZ2Y-dkw/s72-c/Jam+Gadang3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-1910913178587373834</id><published>2010-07-23T21:32:00.001+07:00</published><updated>2010-12-17T07:42:51.063+07:00</updated><title type='text'>Gerakan Indonesia Mengajar oleh Anis Baswedan</title><content type='html'>Baru saja saya menemukan sebuah usaha yang ambisius namun mulia dari Pak Anis Baswedan melalui gerakan &lt;a href="http://indonesiamengajar.org/"&gt;Indonesia Mengajar&lt;/a&gt;. Beliau dan timnya mengundang tenaga-tenaga muda lulusan S1 untuk mengabdikan diri selama satu tahun mengajar di SD. SD?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau beliau menjelaskan mengapa harus di SD, namun saya telah menduga mengapa SD yang menjadi sasaran. Di situs itu dikatakan bahwa pendidikan dasar adalah tahapan awal bagi perkembangan seseorang. Tepat sekali seperti dugaan saya dan pernah saya sampaikan di &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/kusir-dan-pedati-tak-berkusir.html"&gt;artikel yang ini&lt;/a&gt;. Selama menjalani masa tugas yang pendek ini di perguruan tinggi, saya merasakan sekali bagaimana pendidikan dasar telah membantu keberhasilan pendidikan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saya hendak memberi satu contoh dari kemampuan berbahasa saja. Selama kurang-lebih tiga tahun sejak kembali dari sekolah pascasarjana, saya sempat membimbing beberapa belas mahasiswa S1, D3, dan S2. Dari sekian banyak mahasiswa saya, kesalahan berbahasa yang paling sering saya temukan adalah penggunaan kata "di" sebagai sebuah awalan dan sebagai kata tunjuk. Dalam mengoreksi tulisan mahasiswa, saya memilih menggunakan warna yang mencolok, yaitu merah. Tujuan saya adalah agar mahasiswa bisa langsung melihat kesalahannya. Nah, ketika kesalahan seperti itu saya temukan, maka saya "dengan senang hati" akan mencoret lebih tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf jika saya mengatakan bahwa saya juga menemukan kesalahan penggunaan "di" pada level dosen. Saya termasuk yang iseng ingin tahu bagaimana seseorang menulis, terutama rekan dosen. Bukan karena ingin mencari borok orang atau tidak punya kerjaan, namun saya ingin menjadikannya sebagai bahan bercermin diri sendiri. Alasan saya senderhana: jika dosen memerintahkan mahasiswa menulis, apakah ia juga sudah bisa menulis? Tidak jarang saya melihat dan mendengar dosen marah-marah kepada mahasiswanya karena menurutnya ia tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh mahasiswa tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang memang saya menemukan tulisan seorang dosen yang luar biasa lezat. Tulisan yang lezat menurut saya adalah tulisan yang hanya butuh satu kali pembacaan untuk memahami maksud si penulis dan anda akan terus ingin membaca dan tidak ingin berhenti sebelum tuntas. Sama persis dengan kenikmatan makanan yang lezat. Ketika anda mengecap sebuah makanan yang lezat, anda tidak butuh konfirmasi, tidak perlu berpikir apakah makanan tersebut memang lezat atau tidak. Suapan kedua, ketiga, dan seterusnya bukan lagi untuk menjawab apakah memang makanan tersebut lezat atau tidak, namun semata-mata demi pemuasan. Demikian juga dengan tulisan yang lezat.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak jarang saya menemukan dosen yang buruk sekali dalam menulis. Sedemikian buruknya sehingga saya tidak tahu apakah ia sedang bercerita sesuatu atau tidak, atau apakah ia memang menceritakan apa yang ia ingin ceritakan ataukah sesuatu yang lain. Saya ingin mengatakan bahwa penulisan yang buruk tidak sama dengan ide yang buruk. Tetapi, ide yang bagus akan hilang jika penulisan kacau-balau. Bayangkan jika perbuatan mulia seorang da'i ini ditulis dengan buruk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Da'i itu sekarang dipenjara karena berkotbah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ada di pikiran pembaca ketika membaca kalimat seperti itu? Tidakkah si pembaca akan mengira bahwa ada yang salah dengan si da'i bukannya si penulis kalimat, ketika sebenarnya si da'i datang ke penjara atas undangan kepala penjara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kita tidak bisa menyalahkan guru SD semata atas kualitas seseorang, terutama terkait dengan penulisan seperti itu. Ada banyak level pendidikan yang telah dijalani seseorang yang mendapat kesempatan sekolah hingga perguruan tinggi. Jadi, tanggungjawab tersebut ada pada setiap jenjang yang ia lewati. Guru SD tidak sepenuhnya bisa kita salahkan karena mereka, terutama mereka yang mengabdi di tahun 1980an atau kurang, adalah lulusan sekolah menengah saja, SPG. Dengan segala keterbatasan mereka, mereka setidaknya berhasil membuat murid-muridnya mendapat nilai tambah terbesar. Mereka yang membuat kita bisa membaca dan berhitung. Guru-guru setelahnya hanya menikmati hasil kerja guru SD saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini baru banyakguru-guru SD yang sarjana. Namun, Pak Anis melihat bahwa kondisi yang sekarang masih belum memadai untuk menghasilkan sumber daya yang bagus di masa depan. Kekurangan tenaga guru telah lama kita ketahui dan belakangan makin jelas, misalnya, melalui acara Kick Andy. Saya yakin guru bukanlah pekerjaan yang tidak diinginkan oleh sebagian orang di Indonesia. Yang menghalangi orang untuk berani menjadi guru adalah tantangan hidup yang mesti dihadapi mereka ketika pekerjaan itu telah dijalani. Yang saya maksud bukanlah tantangan jika harus ditugaskan ke daerah terpencil entah di mana di Indonesia. Selalu saja ada orang lokal yang bisa dicari dan bersedia untuk itu.Yang saya maksud dengan tantangan di sini adalah penghargaan kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, jika seorang guru berstatus PNS, sementara untuk menjadi guru dulu mereka bisa berasal dari diploma, maka otomatis gaji mereka ada di level yang rendah. Itupun kalau gaji mereka dibayarkan tepat waktu. Tidak jarang dari mereka baru bisa mendapatkan gaji setelah sekian bulan bekerja. Belum lagi banyak di antara guru yang mengabdi sekarang ini tidak atau belum berstatus PNS. Jika sudah begini, maka makin besar tantangan bagi seseorang untuk menjadi guru, apalagi di daerah terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang saya kira akan dibantu oleh Pak Anis melalui organisasinya. Beliau tidak hanya mencoba menutupi defisit guru, namun juga memberikan kualitas yang lebih baik. Sepertinya imbalan yang akan diberikan juga tidak buruk. Namun, apakah perbedaan gaji dengan guru lokal tidak akan menjadi hambatan baru? Semoga isu ini sudah dipikirkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya baru lulus S1, beranikah saya menerima tantangan Pak Anis ini? Seandainya ada kesempatan, tidak ada salahnya jika mencobanya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 23 Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-1910913178587373834?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/1910913178587373834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/07/gerakan-indonesia-mengajar-oleh-anis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1910913178587373834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1910913178587373834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/07/gerakan-indonesia-mengajar-oleh-anis.html' title='Gerakan Indonesia Mengajar oleh Anis Baswedan'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-7093021294376933993</id><published>2010-07-19T20:50:00.006+07:00</published><updated>2010-12-17T07:47:15.422+07:00</updated><title type='text'>Cerita tentang pohon kelapaku</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Aku punya cerita tentang sebatang pohon kelapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Pohon kelapa yang tumbuh di halaman rumahku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ah, ya, kamu pasti tahu seperti apa pohon kelapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Dan bertanya mengapa anda harus mendengar ceritaku tentang pohon kelapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tentu saja semua orang tahu pohon kelapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tapi tidak semua orang punya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Apalagi yang tumbuh di halaman rumah sendiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Bukan begitu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Seperti yang kamu juga telah kira sejak tadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Pohon kelapaku memang tidak berbeda dengan pohon kelapa lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ya, dia berbuah, berdaun lebat, berbatang tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Jamaknya pohon kelapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Buahnya yang muda berisi daging yang lembut dan air yang manis segar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Buahnya yang tua berisi daging yang tebal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Yang jika kamu peras akan mengalir santan kental &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tinggal pilih: gulai atau minyak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Dua-duanya kualitas nomor satu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ketika aku masih kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Pohon kelapaku pun masih muda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Buahnya bulat, besar, hijau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Batangnya pun tak tinggi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Aku tinggal menggapaikan tangan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Buahnya bisa kuraih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Sambil dinaungi dedaunannya yang rindang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Dua tiga kali catuk airnya telah mengalir ke dalam tenggorokan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Amboi… segarnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Hari yang panas menjadi sejuk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tubuh yang lelah menjadi hidup lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Racun pun mengirap dari tubuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ketika aku remaja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Pohon kelapa aku bertambah tinggi pula&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Segar buahnya jangan kau tanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kental santannya apalagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Daun-daunnya lebat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Lidinya tebal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Jadi jangan kau heran jika orang sekampung datang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Sekadar mencari daun untuk atap atau ketupat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Atau lidi untuk sapu atau tusuk sate&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tidak jarang mereka pulang membawa santan atau minyak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Buah kelapa muda jangan kau tanya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tidak satu, setandan mereka jinjing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Di siang yang panas atau malam yang gerah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Aku sering tertidur di bawahnya &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Daun-daunnya melebar menghalangi silau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kipasannya mengusir nyamuk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Pokoknya memberi selimut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Rumahku tidak jauh dari laut lepas &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Setiap ahad kapal laut melintas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kupanjat kelapaku hingga tuntas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Walau hanya asapnya bisa kulihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kelapaku selalu berkabar lebih, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;“Walau ia telah terlihat terjauh, ia bukan terjauh&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Jika kau ingin melihat lebih jauh&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Kayuhlah sendiri kapalmu&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Kau akan tahu bahwa yang jauh tidaklah jauh&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Namun yang dekat akan menjauh&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Jika kau rindu akannya”&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;“Aku ingin”, doaku satu kali&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Setelah entah berapa kali kapal itu lewat di cakrawala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Setelah pohon kelapaku tidak lagi meriap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Yang &lt;u1:p&gt;kutahu tak lagi bertukuk&lt;/u1:p&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ketika itulah pohon kelapaku merunduk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Menyuruhku turun dan berjalan ke pantai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Di mana biduk kelapa tertambat di muara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Bercadik dua, di kiri dan di kanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;“Kayuhlah dengan ini, buyung”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;, sambil dipatahkannya lengan daunnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;“Kiri atau kanan, kau nahkoda haluan&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Arungi samudera sejauh kau kuasa&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Pulanglah ketika nak berberita”&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Demikianlah asal mula aku berlayar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kala aku haus, ku sesap air kelapa bekalku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kala aku lapar, ku cungkil dagingnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Asal kau tahu, airnya tak kering, dagingnya tak habis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Maka tak kurasa telah berapa jauh aku mengayuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Angin di buritan, angin di haluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Lautan dan pulau&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Hingga suatu kala ketika aku masih mendayung biduk&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kulihat di cakrawala pohon kelapaku lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ia melambai-lambaikan dedaunannya&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ya, itu kelapaku, menungguku berberita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Duhai…telah sebulat duniakah ku berhanyut?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Oh, pohon kelapaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Yang telah menemaniku bermain sedari kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Yang telah melepas dahagaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Yang telah mengenyangkan perutku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Yang telah meneduhkan aku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Yang telah menyediakan kayuh buat bidukku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Begitu keraskah waktu telah menekan tubuhmu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Atau angin lautkah yang telah membuatmu bungkuk?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Memang air kelapamu masih manis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Daging buahmu masih tebal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Namun, urat-uratmu tak lagi kuat mengantar air dari bumi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ketika itu aku sadar bahwa pohon kelapaku telah tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Namun kelapa adalah kelapa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Urat hingga pucuk, selaksa makna selaksa guna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ketika aku ingin mengasihinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Selembar daun ia berikan kepadaku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;“Kalungkan di lehermu, buyung&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Bawalah aku terbang bersamamu&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Ke negeri mana si Alifba pernah terbang&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Ke negeri dari mana sang ayah telah memanggil kita”&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Ah, kelapaku iri pada Alifba ternyata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Alifba hanya meminjam daun kelapa untuk dirinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kelapa tetap sendirian di kampung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kelapaku ingin sekarang ia juga terbang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Terbang seperti Alifba&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kukalungkan daun kelapa itu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kami datang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Kami berkisar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Demi pohon kelapaku&lt;u1:p&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Demikianlah ceritaku, kawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tentang sebatang pohon kelapa yang tumbuh di halaman rumahku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Sekarang pohon kelapaku telah tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Tidak lagi sekokoh dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Batangnya selalu condong mengikut angin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Buahnya tidak lagi sebanyak dulu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Namun, kawan, gunanya masih selaksa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;Masih selaksa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;Masih selaksa&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;Sleman, 19 Juli 2010&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;Terimakasih kepada Alifba (yang sayangnya tidak lagi ada yang ingat. Sayang sekali!)&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-7093021294376933993?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/7093021294376933993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/07/cerita-tentang-pohon-kelapaku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7093021294376933993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7093021294376933993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/07/cerita-tentang-pohon-kelapaku.html' title='Cerita tentang pohon kelapaku'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-8171964659311888978</id><published>2010-06-06T10:03:00.006+07:00</published><updated>2010-12-22T15:51:40.268+07:00</updated><title type='text'>Filosofi segenggam beras</title><content type='html'>Pagi ini, walau kurang menyukai gaya si ustad yang menurut saya berlebihan, namun ceritanya tentang salah satu dari tujuh hal yang membuat Jibril ingin menjadi manusia karena manusia memiliki kesempatan memberikan air kepada manusia lain mengingatkan saya tentang cerita ibu saya tentang nenek saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ustad bercerita bahwa di kampung, entah di mana itu, dulu sering ada kendi dan gelas yang ditaruh di luar rumah buat musafir yang lewat dan kehausan. Menurutnya, sifat tolong-menolong ini membuat Jibril iri kepada manusia dan ingin menjadi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, cerita ini mengingatkan saya kepada cerita tentang nenek saya. Ibu saya bercerita bahwa nenek selalu menanak nasi lebih banyak satu genggam dibandingkan kebutuhan rumah. Ketika ditanya mengapa beliau selalu menukuk segenggam beras, beliau menjawab, "Kalau-kalau ada orang yang datang dari jauh atau kemalaman di jalan dan lapar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi yang mirip dengan cerita kendi air si ustad tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Seingat saya, memang selalu ada nasi dan sekadar lauk yang tersedia bagi saya, setidaknya, setiap kali saya dan keluarga pulang kampung. Biasanya kami sampai di kampung selalu tengah malam atau lewat tengah malam karena bapak saya baru bisa berangkat setelah pulang kerja. Ketika sampai di rumah, saya selalu ditawari makan--atau, bahkan, memintanya!--dan jam berapapun itu, saya makan. Tentu saja beliau senang mendapati makanan yang beliau sediakan ada manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, beliau mendapat ajaran itu dari neneknya juga. Sebagai catatan, beliau tidak pernah dibesarkan oleh ibunya (ceritanya di &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/02/kerisik-uwo-amak.html"&gt;sini&lt;/a&gt;), sehingga ajaran itu mungkin sudah cukup lama diamalkan oleh beliau dan meluas di masyarakat Minangkabau saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh, how I miss her. Here, now.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak. Setiap kali saya hendak melangkah jauh dan lama ada satu pertanyaan yang selalu ia tanyakan kepada saya, "Yuang, kalau Amak meninggal, siapa yang akan menguburkan Amak?" Karena beliau selalu bercanda dengan saya, maka saya selalu menjawab dengan canda juga, "Kan ada adik-adik yang lain atau orang yang mau diupah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada maksud apa-apa di balik jawaban saya selain karena ingin mencandai beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berangkat tiga tahun yang lalu, beliau memang sudah sangat sepuh. Dan, seperti biasa, di hari-hari menjelang keberangkatan saya dan istri, pertanyaan yang sama kembali ia ulang dan jawaban saya masih sama. Masih dengan canda. Saat itu saya masih (sedikit) berharap bahwa ini bukan pertanyaannya yang terakhir kali. Saya masih berharap akan ada perjalanan-perjalanan lain di masa datang dan pertanyaan-pertanyaan sama. Namun, pertanyaan kala itu adalah yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian saya masih bisa bertemu dengan beliau, namun itu adalah yang terakhir. Saya bahkan tidak sempat menyambut tubuhnya turun ke liang lahatnya, menimbun kuburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya merindukannya, nenek kami yang dibesarkan hanya dengan lembar-lembar kerisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 6 Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-8171964659311888978?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/8171964659311888978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/06/filosofi-senggenggam-beras.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8171964659311888978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8171964659311888978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/06/filosofi-senggenggam-beras.html' title='Filosofi segenggam beras'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-3246361198152338043</id><published>2010-06-04T13:14:00.011+07:00</published><updated>2010-12-17T07:47:47.727+07:00</updated><title type='text'>Tamparan dari seorang anak SD</title><content type='html'>Ketika tadi muazin hendak mengumandangkan iqamah, ia meninggalkan tempat duduknya dan maju mendekati mimbar. Karena itu, tempat yang ia tadi duduki menjadi kosong. Nah, mendengar iqamah otomatis jamaah shalat Jum'at bergerak mengisi shaf yang masih kosong dan merapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk seorang anak SD berpakaian putih-putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mungkin termasuk yang paling cepat merespon iqamah itu dan terus mengisi setiap baris yang masih lowong. Dan ketika ia melihat ada tempat kosong di baris paling depan ia segera saja mengisi. Ia tidak menyadari bahwa spasi itu disediakan oleh jamaah bagi muazin yang masih ada di depan mengumandangkan iqamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saya ada di baris kedua dan menyaksikan polah anak ini yang dengan percaya diri tidak menggeser tempatnya meski ia kemudian tahu ada orang lain yang seharusnya di sana. Jamaah lain juga tidak mengusirnya ke baris belakang. Malahan ia ada di kiri muazin sehingga lebih dekat kepada imam daripada muazin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini dia masalahnya. Bagi saya, polah anak itu seakan-akan menampar, setidaknya diri saya. Dirinya yang masih tanpa dosa sangat mungkin digerakkan oleh malaikat untuk menyindir orang-orang seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga sekarang, saya sangat jarang berani shalat di baris pertama tepat di belakang imam. Seingat saya ketika di madrasah dulu, guru saya mengatakan bahwa imam bisa saja batal shalatnya karena batalnya wuduk atau sebab yang lain. Apabila imam batal shalatnya, maka ia harus digantikan dan orang yang harus menggantikannya adalah orang yang ada di belakangnya. Yang dimaksud orang di belakang imam, tentu saja adalah yang paling dekat dengannya. Dalam hal ini, menurut guru saya, adalah empat orang yang tepat di belakang imam. Sederhananya, adalah dua orang yang di kiri dan dua orang yang di kanan imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, keempat calon pengganti imam haruslah orang yang memiliki kualitas bacaan dan hapalan yang harus setara dengan imam. Biasanya salah satunya adalah muazin sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, itulah alasan mengapa saya tidak (selalu) berani berada di belakang imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya menjadi imam adalah masalah yang sepele: cukup punya hapalan yang banyak dan suara yang merdu. Benar harus demikian, namun menjadi imam adalah menjadi pemimpin ibadah orang-orang. Dan yang paling sukar adalah ikhlas, tidak riya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hapalan anda cukup baik atau jika anda punya kesempatan membuka Al-Qur'an ketika seorang imam memimpin shalat dan anda cocokkan antara bacaannya dengan teks asli, maka anda akan bisa menemukan kesalahan bacaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusiawi sebenarnya. Namun, seharusnya tidak ada kesalahan. Lidah indonesia kita membuat kita tidak terlalu waspada dengan perbedaan bunyi 'ain dengan alif; dzal dengan zal; tsa dengan sin; sin dengan syin; shod dengan sin atau syin; ha dengan Hha; qaf dengan kaf; dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya mungkin karena sebagian dari kita dulu belajar ayat-ayat dari metoda menghapal dari hapalan orang lain, bukan menghapal dari pembacaan kita sendiri. Saya sendiri bahkan berkali-kali mendapati seorang imam yang keliru melafalkan zal dengan ya: man tazakka menjadi man tayakka. Awalnya saya mengira itu adalah ciri lidah orang dari daerah tertentu yang menukar bunyi "zet" menjadi "yet"; namun ia tidak melafalkan "rezeki" menjadi "reyeki", tetap "rezeki".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menjadi imam tidak hanya harus punya banyak hapalan, namun juga tajwid yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, walaupun tajwid anda sudah benar, syarat imam yang lebih penting lagi adalah keikhlasan. Walaupun anda punya banyak hapalan, nyaris bergelar hafiz, namun jika anda riya, maka tunggu saja hingga anda akan memanjangkan bacaan satu alif menjadi dua atau tiga alif, memendekkan yang tiga alif menjadi satu atau yang lebih parah: lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya pendapat bahwa jika imam yang sudah dikenal memiliki hapalan yang baik, namun tiba-tiba lupa di tengah bacaan, maka bisa saja saat itu ia sedang tidak ikhlas dan riya memimpin shalat itu. Setidaknya itu yang berkali-kali yang saya sadari setiap kali saya keliru atau lupa dengan bacaan shalat saya, bahkan ketika shalat sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke anak kecil tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja di dalam shalat tadi, dengan alasan apapun, imam harus diganti , maka si anak kecil itu bisa saja adalah pengganti si imam dan memimpin shalat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena ia adalah satu dari empat orang yang terdekat dengan imam, muazin bahkan lebih jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika memang si anak itu sempat menggantikan imam memimpin shalat kami, misalnya karena tiga orang lain ragu-ragu dan ia tahu tugasnya&amp;nbsp;(wow!),&amp;nbsp;maka kualitas kami semua tidak lebih dari seorang anak kelas V SD. Dan mungkin memang demikianlah kualitas saya, kami, saat itu sehingga malaikat menggerakkan anak tanpa dosa itu bershalat di baris terdepan, tepat di belakang imam, menggeser muazin menjauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah sedang menyindir: saya tidak bertambah baik setelah sekian puluh tahun; anak kecilpun jauh lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 4 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Yang mengumandangkan iqamah bukan orang yang sama dengan yang mengumandangkan azan. Ia baru datang beberapa saat sebelum khatib menyelesaikan kutbah pertama--seperti keseringan terjadi.&amp;nbsp;Jadi, tidakkah tepat bahwa dia pun sebenarnya telah ditampar oleh seorang anak SD sehingga terlempar menjauhi imam?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-3246361198152338043?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/3246361198152338043/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/06/tamparan-seorang-anak-sd.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3246361198152338043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3246361198152338043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/06/tamparan-seorang-anak-sd.html' title='Tamparan dari seorang anak SD'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2071289328182741077</id><published>2010-06-03T15:20:00.002+07:00</published><updated>2010-06-03T15:38:39.603+07:00</updated><title type='text'>Transit, sejenak</title><content type='html'>Telah ku dengar azan&lt;br /&gt;Sebentar lagi tentu salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 3 Juni 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2071289328182741077?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2071289328182741077/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/06/transit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2071289328182741077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2071289328182741077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/06/transit.html' title='Transit, sejenak'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-9101514086119548987</id><published>2010-05-19T23:24:00.007+07:00</published><updated>2010-12-17T07:49:42.446+07:00</updated><title type='text'>Januari di kota Dili--Tentang sebuah negeri, seorang saudara</title><content type='html'>Tadi, iseng-iseng karena tidak ingin rugi dengan jatah bandwidth yang sudah mentok, saya periksa-periksa Youtube. Satu lagu saya temukan, lawas: Januari di Kota Dili oleh Rita Effendy. Sudah cukup tua lagu ini namun ternyata memiliki arti yang mendalam bagi mereka yang singgah ke utas lagu itu di Youtube. Tertarik dengan komentar-komentar pengunjung saya kemudian membaca semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda pernah membaca komentar-komentar pengunjung utas lagu di Youtube, pasti anda akan menjumpai bahwa sebagian besar dari pengunjung mengatakan bahwa mereka memiliki memori dengan lagu-lagu di sana. Macam-macam: ada yang teringat masa kecil, teringat masa berpacaran, teringat pacar lama yang tidak tahu di mana lagi, teringat kotanya, teringat orang tuanya, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hal yang sama juga terjadi pada lagu Januari di Kota Dili ini. Namun, yang membuat saya terenyuh adalah bahwa sebagian dari mereka, dengan perasaan yang sama seperti pengunjung lain di utas lagu-lagu yang lain, merindukan sanak, ibu, ayah, keluarga, kampung, dan tanah kelahiran mereka: Dili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saya terenyuh membaca bahwa banyak di antara pengunjung yang sebenarnya menyayangkan keputusan Indonesia membiarkan Timor Timur lepas. Bagi pemerintah kita, Indonesia dan Timor Lorosae, itu mungkin keputusan politik. Namun, bagi mereka yang hidup dan lahir di sana namun kemudian tercerabut dari tanah mereka, terpisah dari keluarga mereka, hanya karena keharusan memilih sebuah identitas legal, keputusan itu mengabaikan kenyataan bahwa mereka adalah orang Timor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini di antara pesan yang ditinggalkan pengunjung (sebagai catatan, karena saya tidak meminta izin kepada penulis pesan, maka nama mereka saya hapus)&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;This﻿ song reminds me of my childhood in Dili. Miss and love u Dili&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Lagu ini hilang bersama dengan Timor Lorosae yang berpisah dari NKRI﻿&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;This song reminds me of﻿ my childhood in Dili. Miss and love u Dili&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Almost 10yrs I'm away from home, I MISS﻿ U MY HOME LAND.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Timor Lorosae tak mungkin kembali.....&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Untung Habibie wkt itu Cuman Jadi Presiden Setaon, jadi propinsi yang﻿ lepas merdeka cuman 1, kalo jadi presiden 5 taon propinsi yang merdeka brapa ya?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;lagu yang bagus...tapi kenapa﻿ sekarang timtim harus pisah dari NKRI...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Everlasting memory from this﻿ song b4 dilli separated from indonesia...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;I Love my﻿ Timor&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Lagu ini Gue suka banget, dulu jaman Indo dengan Timor Leste masih bersama. terus terang aku ada kenangan yang indah bersama kekasih yang tercinta yang berasal dari NTB, Bima,,,,,ya aku bisa bukain namanya adalah: Nxxx Kxxxx Kxxx. aku teringat akan cinta yang telah terjalin waktu itu,kalo ada bisa nunjukin sekarang Dia dimana aku sangat akan berterima kasih...walau hanya menyapa﻿ dari disudut Kota Dili ini, aku selalu mencintai Dia sampai bumi ini hilang.....AMEN,,,,,,,,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;luv this﻿ song......Kangen banget mau balik nihhhh....The best song from indonesia forever,with pop modern version ...so awesome....cool pop song.Rita's voice is amazing....lagu ini bikin saya kangen lagi my exgirl(indonesia girl from Manado)masa-masa smp di Dili...cheers from portugal&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;tak da kata bisa teruca utk ni﻿ lagu....satu memory dari timor leste yg tlah pisah ma kita&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;What a beauty there! It's just really amazing and nostalgic as I know someone that I've ever loved is still there. I miss her up here....Thanks Rita for singing this song, flashing me back to the days that﻿ I was going through.....And a bunch of thanks to Johnny for uploading this song.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Lagu ini ngingetin aku waktu tugas di Timtim tahun 1989 s/d 1993, jadi inget n kangen pengin nengok Timtim sekarang kayak apa ya. semoga aja udah mulai﻿ damai. Tuhan memberkati.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;i love this song,,.... please come back to timor lorosae to get ur love back..., u will be specially welcomed... thanks to mbak RITA EFFENDY n uploader.﻿ SALAM DARI TIMOR LOROSAE&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;This song is cool, man, especially the percussions with a mixture of East and West. And Rita is such an exotic woman. Two thumbs for your song, Timorese people﻿ should be indebted to her for singing such a nice love song about their country fellowman.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;I love d song, I think it´s great song. make me remember my lovly city Dili &amp;amp; my girl. Rita﻿ tem uma voz espectacular e belissima cantora.&amp;nbsp;Thanks 4 who posted d song.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;ah..dili..miss﻿ that place..smg timor leste makin damai..biar bisa berkunjung...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;looking down the memory﻿ lane ;) I remember this song, the last january Dili was indonesian :(&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa menebak sendiri bahwa mereka yang komentarnya saya kutip tersebut adalah orang asli Timor Lorosae, yang pernah tinggal di sana, yang pernah bertugas di sana, atau orang yang sama-sekali tidak pernah ke sana, namun sadar bahwa mereka, orang Timor Lorosae adalah saudara mereka. Anda tidak menemukan bahwa mereka menganggap bahwa keputusan politik pemerintah kita sebuah keputusan yang baik. Keputusan tersebut hanya memutuskan ikatan budaya mereka, ikatan budaya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pesan lagi yang bersahut-sahutan yang menurut saya itu antara seseorang yang berada di luar Timor Lorosae kepada seseorang di Timor Lorosae. Orang yang di luar Timor Lorosae meminta kepada yang di dalam mencarikan seseorang. Ia sampai memberikan nama lengkap dan asalnya. Orang yang ada di dalam Timor Lorosae tersebut kemudian memberitahu bahwa si perempuan yang dicari itu telah kawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Speechless....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hanya Rita Effendy yang bisa menyatukan kedua negara ini lagi ke dalam satu keluarga besar.&lt;br /&gt;(Ssst...jangan-jangan ada K dan R juga yang menjadikan lagu ini lagu kebangsaan mereka....Peace)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;object height="385" width="480"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/H8y_eyxyjOo&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;rel=0"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/H8y_eyxyjOo&amp;amp;hl=en_US&amp;amp;fs=1&amp;amp;rel=0" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, May 2010&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;sedang merenung bahwa keputusan kecil menyingkirkan kerikil kecil di sepatu ternyata membuat seluruh gunung pun akhirnya harus dipindahkan&lt;/span&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-9101514086119548987?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/9101514086119548987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/05/januari-di-kota-dili.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/9101514086119548987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/9101514086119548987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/05/januari-di-kota-dili.html' title='Januari di kota Dili--Tentang sebuah negeri, seorang saudara'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-6564477754940895205</id><published>2010-05-05T09:06:00.014+07:00</published><updated>2011-05-06T08:37:50.379+07:00</updated><title type='text'>Sebuah cerita tentang buku</title><content type='html'>Kalau mengingat buku ada hal yang paling saya ingat tentang buku. Pertama adalah ensiklopedi yang dibeli oleh ayah saya ketika saya masih sangat kecil. Banyaknya 30 jilid termasuk indeks, Americana. Sampai sekarang masih utuh. Alasan mengapa saya sangat teringat dengan buku ini telah pernah saya ceritakan di &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2008/06/ayah-yang-saya-ingat.html"&gt;artikel lain&lt;/a&gt;. Ketigapuluh jilidnya masih utuh hingga sekarang. Akhir tahun lalu ketika pulang ke Padang, saya mengajarkan kepada keponakan saya yang masih SD bagaimana mencari sesuatu di dalam ensiklopedi. Walau tidak sepenuhnya benar untuk kondisi sekarang ini, saya tekankan kepadanya bahwa apapun yang ia ingin ketahui ada di ensiklopedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan kedua saya tentang buku adalah kumpulan komik dan buku cerita saya. Koleksi yang saya miliki dulu semasa masih kecil bisa dikatakan lumayan banyak, terutama yang berhubungan dengan superhero. Setiap pekan saya selalu diantar ke toko Sari Anggrek (toko itu masih ada sampai sekarang!) untuk membeli satu komik. Biasanya saya akan membeli komik Superman, Batman, dkk begitu. Harganya sekitar Rp.750 saat itu. Kira-kira 2-3 dollar kalau dikonversi. Tidak hanya komik-komik tersebut sebenarnya. Ada berbagai judul yang lain yang bisa saya ingat. Misalnya, Sgt. Rock (kabarnya dulu Arnold Zegarzeger pernah akan memerankan tokoh ini. Nggak tahu filmnya jadi dibuat atau tidak. Dulu masalahnya, kabarnya, logat Arnold masih berbau Eropa Timur, jadi dia harus berlatih logat amerika dulu.). Ada koleksi H.C. Andersen punya kakak perempuan saya yang juga saya lahap. Terus, ada koleksi cerita tentang tokoh-tokoh dunia seperti Henry Dunant, Nightingale, Pasteur, Helen Keller, dll. Terus terang, buku-buku yang terakhir ini baru saya baca setelah komik-komik saya habis dan mulai langka. Saat itu saya kurang begitu bisa menikmati buku non-komik. Lima Sekawan, Trio Detektif, dan Agatha Christie baru benar-benar mulai saya baca ketika SMP. Sebelumnya sudah ada Pasukan Mau Tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sering membeli komik, namun saya tidak punya uang yang cukup untuk membeli semua komik yang beredar saat itu. Misalnya, saya tidak punya satupun koleksi Tintin, Storm (hanya satu, itupun yang seri pertama), Trigan (hanya satu atau dua), Lucky Luke, Smurf (punya satu saja), Convoy atau Commando (saya lupa, tapi tentang pasukan elit Inggris di PD II), Asterix dan Obelix, dan yang paling utama seri Winnetou. Semua komik-komik tersebut hanya bisa saya baca-pinjam dari tempat penyewaan buku di Pasar Raya Padang--walau juga tidak semuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong tentang tempat penyewaan ini--yang kalau di Padang dikenal dengan Pasar Burung--saya termasuk pengunjung berat. Sejak "diajar" pertama kali oleh tetangga saya waktu kelas V SD, setiap pekan saya terus-menerus ke sana. Saya ingat bahwa saya diajak ke sana karena sebelumnya saya dipinjami buku Tikam Samurai dan Giring-Giring Perak karya Makmur Hendrik oleh teman yang lain. Sebenarnya sudah telat saya baru memulai membaca TS karena serinya sudah lama terbit di koran Singgalang(?). Karena teman saya hanya punya beberapa jilid, makanya untuk melanjutkan ceritanya, saya diajak oleh teman itu ke "pusat perbukuan". Di sanalah saya kemudian menemukan keasyikan saya. Setiap pekan di hari Ahad, saya pergi ke sana. Cukup jauh dari rumah di Air Tawar dan bukan tempat yang terlalu ramah bagi anak kecil untuk main ke Pasar Burung yang selain menjual burung juga menjual barang-barang bekas dan tadahan. Bahkan guru SD saya sempat menasehati orang tua saya agar tidak mengizinkan saya setiap pekan ke Pasar Raya (kebetulan beberapa kali saya bertemu beliau di dalam mikrolet). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, hingga kelas 2 SMP saya masih teratur ke sana dan sempat terhenti sebentar karena pasar itu terbakar waktu saya kelas 2 itu (Selama SMA saya jarang ke sana, baru setelah kuliah lagi saya kembali lagi dan makin intens di masa-masa penulisan skripsi). Saya cukup sedih karena saya tahu bagaimana susahnya mengumpulkan buku-buku tersebut kembali. Saya bisa membayangkan betapa susahnya mengumpulkan karya-karya Jan Mintaraga, Djair, Tatang S, dll. Seingat saya kemudian, tidak semua buku-buku yang dulu terbakar yang bisa diselamatkan dan tidak semua tempat penyewaan yang bisa pulih kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan yang cukup dalam bagi saya adalah ketika saya menyerahkan buku-buku saya untuk dihibahkan kepada perpustakaan di kampung. Kalau tidak salah saya ketika itu sudah SMP atau SMA dan saat itu "para pahlawan sudah pensiun". Saya ingat bagaimana serunya teman-teman saya di SMA menceritakan  bagaimana Superman mati dibunuh Doomsday--menyedihkan, karena mereka  sebenarnya tidak pernah menikmati Superman di masa hidupnya, tahu-tahu  sudah mati saja dan pura-pura berempati! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lemari penuh buku-buku saya diambil dan dibawa pulang ke kampung oleh ayah saya. Ketika saya sudah memiliki anak ini, saya merasakan betapa rindunya saya untuk membaca semuanya dan membacakannya buat anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Kebetulan istri saya adalah pecinta bacaan juga sehingga kami memiliki keinginan dan misi yang sama agar anak kami mencintai buku. Kebetulan istri saya berlangganan sebuah majalah yang di dalamnya selalu ada sisipan komik tipis buat anak-anak, &lt;a href="http://www.ayahbunda.co.id/"&gt;Buncil &lt;/a&gt;namanya. Saya tidak ingat pada usia berapa istri saya menceritakan isi komik itu kepada anak kami. Mungkin di sekitar usia setahun. Namun, kemajuan paling &lt;i&gt;ruar&lt;/i&gt; biasa itu adalah pada usianya yang keduapuluh bulan. Setiap sebelum tidur, tidak tidur siang, tidak tidur malam, harus dimulai dengan membaca Buncil dulu. Kalau tidak dituruti, maka ia akan menghentak-hentakkan badannya di kasur. Parahnya, dia tidak pernah mau sekali dibacakan cerita yang sama, edisi yang sama. Jadinya, satu edisi bisa dua-tiga kali diulang. Taktik istri saya untuk membuatnya berhenti adalah dengan menceritakan sebuah cerita bohong-bohongan bahwa di Mosi Tikus dan Simon Monyet akan tidur. Ia mengarang-ngarang dialog mereka dan karena anak saya selalu menjawab perintah yang diakhiri dengan&amp;nbsp; kata "Ya" dengan "Ya" juga, maka ketika Mosi berkata ia ingin pamit mau tidur, anak saya akan menjawab, "Ya". Dan barulah ia mau tidur juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih luar biasa dari kemajuannya ini adalah ketika ia hanya berdua dengan mBahnya, ia menarik tangan mBahnya lalu menceritakan kembali isi Buncil-nya itu. Benar-benar menceritakan, seperti apa yang diceritakan kepadanya oleh ibunya. Ketika mendengar cerita ini istri saya terpana dan tidak percaya. Suatu hari ia mengintip dan membuktikan sendiri bahwa anak kami memang sedang menceritakan isi Buncil kepada mBahnya. Saya hanya bisa bangga kepada istri dan anak saya ketika mendapat cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif utama saya mengajarkan kepada anak kami kecintaan kepada buku hanyalah agar dia bisa belajar sebanyak-banyaknya dari banyak orang. Saya tidak terlalu peduli apakah ia akan menjadi apa dan siapa di masa depan. Sepanjang dia mencintai membaca--daripada tontonan--maka ia akan memiliki ilmu yang lebih luas dari orang lain. Untuk itu, ia harus menyaksikan sendiri bahwa kami pun mencintai buku. Pernah suatu hari saya dan istri saya membaca dua novel dengan warna kulit yang nyaris sama. Ketika itu dia baru bisa berjalan, lalu kami mengetes dia, apakah dia memperhatikan kedua orang tuanya membaca atau tidak. Saya minta kepadanya mengambilkan buku saya di meja di ruang tamu. Pertama ia datang dengan buku yang berwarna biru tapi saya tolak dan meminta buku yang lain. Ia kemudian berlari lagi ke sana dan kembali dengan buku yang benar! Sebenarnya, buku yang pertama tidak salah. Buku yang berwarna biru itu adalah buku yang baru saya selesai membacanya dua hari sebelumnya, sebelum beralih membaca buku yang coklat. Jadi dia benar sejak pertama kali. Lalu saya minta ia kembali ke ruang itu lagi untuk mengambilkan buku yang dibaca ibunya. Sekali lagi ia kembali dengan buku yang benar! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya bukan pembaca yang tekun. Sebuah novel yang tidak tebalpun kadang-kadang baru saya selesaikan dalam dua pekan atau bahkan sebulan. Banyak saya temui orang yang benar-benar pembaca yang tekun. Di dalam perjalanan Jogja-Jakarta, saya bersebelahan dengan seseorang yang membaca dua buku secara bergantian sepanjang perjalanan. Kemampuan saya jauh dari itu. Saya juga membayangkan bahwa koleksi saya pun masih jauh dari dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya harga sebuah buku lebih murah daripada "harga" menekan tombol tipi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, May 2010 dan May 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terinspirasi oleh tulisan GM tentang buku di &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2010/04/26/mbm.20100426.CTP133378.id.html"&gt;http://www.tempointeraktif.com/hg/caping/2010/04/26/mbm.20100426.CTP133378.id.html&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-6564477754940895205?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/6564477754940895205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/05/sebuah-cerita-tentang-buku.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/6564477754940895205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/6564477754940895205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/05/sebuah-cerita-tentang-buku.html' title='Sebuah cerita tentang buku'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-1067887101525331219</id><published>2010-05-02T22:15:00.012+07:00</published><updated>2010-12-17T07:50:01.392+07:00</updated><title type='text'>Sebuah kisah tentang guru-guruku</title><content type='html'>Mumpung hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional, tidak ada salahnya jika saya ingin sedikit mengenang guru-guru saya. Saya termasuk yang beruntung bisa belajar dalam jangka panjang, sehingga dengan demikian banyak guru yang telah saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya ingin mengecilkan satu guru dibandingkan guru yang lain, namun memang ada beberapa guru yang membekas ingatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu guru-guru di masa awal saya sekolah adalah seorang guru yang (kalau tidak salah) kami panggil ibu Ida. Beliau orang yang pertama menyambut saya di SD ketika saya diantar oleh bapak saya ke sekolah. Begitu saya memasuki gerbang sekolah--terlalu mentereng kalau sekolah kami dikatakan memiliki gerbang karena pagarnyapun hanya dari seng--beliau langsung memeluk saya dan menyebut saya, "Ini anak, Ibu", di depan siswa-siswa SD yang lain. Saya ingat ada satu anak lain yang menyaksikan itu sambil tersenyum. Anak itu berkacamata tebal, yang belakangan saya tahu adalah anak ibu Ida tersebut karena anak-anaknya semua berkacamata tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bagi saya, kesan di pagi hari itu cukup dalam. Hanya guru yang berperasaan halus namun tajam yang bisa merasakan seorang anak yang ragu-ragu, takut datang ke sekolahnya yang baru, ke lingkungan baru dengan teman-teman baru. Makanya, bukan berarti tidak menghargai guru-guru saya yang lain kemudian terutama yang membuat saya bisa membebaskan saya dari kebutahurufan saya, bu Ida adalah guru yang paling membekas di diri saya di masa saya SD. Sayang sekali, saya harus pindah sekolah ketika akan naik ke kelas IV sementara bu Ida adalah guru kelas V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah saya yang baru, saya hanya pernah diajar satu guru saja, bu Ani (kebetulan beliau menjadi wali kelas kami sejak kelas IV hingga kelas VI, makanya peran beliau menjadi dalam bagi saya). Di SD ini, saya mulai bandel. Sering berkelahi dan mulai meniru-niru perangai-perangai teman-teman lain. Saya tidak tahu apakah anak-anak seusia saya saat itu memang mulai nakal. Seingat saya ada tiga atau empat kali saya dengan sengaja menantang teman sekelas dan berkelahi di pinggir laut disaksikan anak-anak lain. Saya bahkan sering mandi di laut dengan beberapa teman. Bahkan pernah hanya dengan seorang teman di hari Sabtu ketika hujan turun lebat dan angin kencang di pantai. Itu benar-benar sebuah ketololan. Padahal, salah satu acara favorit saya di TVRI (karena memang yang ada di Padang saat itu baru siaran TVRI) adalah prakiraan cuaca, terutama tinggi gelombang di pantai barat Sumatera. Tujuannya tiada lain selain untuk tahu apakah acara "berenang" besok aman atau tidak. Saya tidak ingat mengapa hari Sabtu yang satu itu kami tetap nekat berenang ke pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena mulai nakal ini, suatu hari di pelajaran Bahasa Indonesia, setelah beberapa hari sebelumnya tidak masuk sekolah, bu Ani memperkenalkan peribahasa yang sepertinya ditujukan untuk menyindir saya: "Dari mata air yang jernih, tidak akan mengalir air yang keruh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya peribahasa itu telah diajarkan beliau pada pertemuan sebelumnya, ketika saya tidak hadir. Nah, ketika saya hadir, peribahasa itu diulang kembali oleh beliau. Seingat saya, hari itu saya sedang bergelut dengan seorang teman di dalam kelas sambil mengucapkan kata-kata kotor baru yang ramai diucap-ucapkan teman-teman lain: "mens" (jujur, saya tidak tahu arti kata mens kala itu). Lalu, tiba-tiba bu Ani meminta teman gelut saya itu untuk mengulang peribahasa yang telah dibahas di pertemuan sebelumnya dan memintanya menjelaskan artinya. Saat itu, pandangan mata beliau seakan meminta saya untuk tidak melupakan peribahasa itu. Hingga sekarang, kadang-kadang ketika saya bandel, peribahasa bu Ani itu terngiang-ngiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di SMP ada guru lain yang tidak bisa saya lupakan. Namanya pak Hasan Basri, guru Bahasa Indonesia. Beliau mengajar saya di kelas I. Yang tidak bisa saya lupakan bukanlah sifat pemarah beliau dan coretan-coretan kapur di wajah kami ketika kami tidak bisa merangkai beberapa kata menjadi kalimat dan mengejek kami semua sebagai orang-orang yang berotak nanah. Tapi, perlu diingat, nih, saya pernah dipuji-puji beliau di dalam kelas ketika saya bisa merangkai 15 kata (kalau tidak salah) menjadi sebuah kalimat yang benar dan juga pernah diolok beliau sambil menarik kembali pujian di pertemuan "merangkai kata" sebelumnya ketika saya tidak bisa merangkai beberapa kalimat menjadi satu paragraf yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membekas dalam di ingatan saya adalah ketika beliau mendatangi saya di lapangan basket sekolah. Hari itu sebenarnya saya sudah tamat (atau akan tamat) dari SMP tersebut. Saya harus ke sekolah karena hari sebelumnya sekolah saya didatangi oleh petugas dari Kodim mencari saya. Tentu sekolah geger ketika ada tentara, bukan polisi, tentara!, mencari siswanya. Pak Hasan sepertinya tahu tentang kedatangan petugas tersebut dan kemudian ketika saya datang ke sekolah, beliau mendatangi saya dan bertanya apa sebenarnya yang dicari oleh petugas Kodim dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian menjelaskan bahwa mereka sebenarnya mencari rumah saya, namun tidak menemukannya. Saya diundang untuk tes lanjutan untuk masuk ke SMA Taruna Nusantara, angkatan I. Karena tidak bisa menemukan alamat saya, maka mereka datang ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, pak Hasan mengira bahwa saya saat itu saya akan melamar menjadi tentara. Beliau lalu menceritakan apa yang akan saya alami selama di "barak". Saya hanya bisa mendengar dan mengiyakan semua nasehat beliau. Saya tahu bahwa SMA TN memang didirikan oleh militer dan berafiliasi ke sana. Namun, itu cuma SMA dan bukan pendidikan militer. Setidaknya itulah yang saya bayangkan tentang SMA TN yang memang belum pernah menerima siswa sebelumnya dan baru akan dibuka tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saya baru tahu bahwa pak Hasan dulu memang seorang tentara. Saya tidak tahu kapan beliau keluar dari ketentaraan, namun yang jelas sikap disiplin dan kerasnya masih tersisa ketika mengajar. Saya tidak pernah mendengar lagi cerita tentang beliau setelah itu. Jika beliau masih hidup sekarang mungkin sudah sangat tua karena saat itu saja beliau mengaku sudah punya cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak guru-guru lain yang bisa saya kenang dan berterimakasih pada jasa-jasa mereka menyuluhi jalan saya. Di antara mereka mungkin saja ada yang justru memberi pengaruh lebih besar daripada ketiga guru tadi. Guru les matematika saya, bu En, salah satunya. Beliau adalah guru saya selama 6 tahun. Dari beliaulah saya mendapat banyak didikan matematika. Bahkan saya tetap datang kepada beliau selepas SMA ketika saya berdebat dengan dosen matematika saya di S1 dan beliau bangga dengan apa yang saya lakukan ketika saya ceritakan bahwa dosen itu marah mengira saya menguji-ujinya. LOL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang banyak memiliki kesan baik tentang saya, tidak sedikit pula yang mungkin mengira saya adalah murid yang sok alim. Seorang guru di SMA menatap marah kepada saya ketika sebuah mercon meledak di depan perpustakaan sekolah sesaat setelah saya melewati perpustakaan tersebut. Sialnya, saya baru saja menyapa dua orang teman saya yang terlihat dari pintu dan ibu guru itu sedang piket di pustaka dan juga saya sapa. Padahal, saya bukan pelaku peledakan itu. Sebuah mercon terbang dari kelas mengarah ke perpustakaan dan saya muncul di sudut perpustakaan itu. Jadilah saya tersangka utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata peristiwa itu tidak berhenti di sana, agaknya sampai ke guru-guru yang lain. Guru lain, guru Fisika, percaya bahwa saya memang adalah pelakunya. Di sekolah, saya dan teman-teman lain suka sekali menunda-nunda pembayaran SPP karena begitu tanggal 10 lewat, petugas akan datang ke kelas-kelas menagih. Saat penagihan adalah saat yang ditunggu-tunggu karena bisa bolos "resmi" beberapa menit. Kadang-kadang, walau yang ditagih cuma 2 orang, kami baru masuk lagi nanti di akhir pelajaran seakan-akan yang telah mengantri 200 orang. Nah, penagihan SPP hari itu jatuh pada jam pelajaran Fisika, pelajaran yang memang tidak saya sukai karena saya memang tidak ingin menjadi insinyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika nama saya dipanggil oleh petugas SPP dan lewat di depan guru ini, beliau langsung menyindir saya, "Jadi uang SPP lebih dulu kamu pakai untuk mercon, Mat?" Saya diam saja karena saya tidak menyadari sayap di kata-kata ibu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teman-teman yang tidak mengutang SPP kemudian saya tahu bahwa di antara guru-guru saya dianggap adalah orang yang bertanggungjawab terhadap ledakan mercon kemaren di kelas lain. Karena perang mercon antar kelas kemaren, seorang siswi yang punya masalah jantung sempat pingsan. Mungkin atas laporan guru yang piket di perpustakaan kemaren, maka saya dikira adalah salah satu dari peserta perang mercon tersebut. Belakangan di hari itu saya sadar bahwa ketika perang itu antar kelas itu terjadi (kebetulan sekolah kami berbentuk U dan perang terjadi antara dua kelas yang berseberangan-menyudut) saya berdiri di pintu salah satu kelas dari mana mercon-mercon itu berterbangan. Mungkin, ketika para "penjahat perang" sesungguhnya meluncurkan mercon-mercon dari jendela-jendela kelas, sosok saya yang berdiri di pintu itu dianggap sebagai salah satu pelakunya. Padahal, emoh saya membakar uang lagi di SMA. Cukup sudah di SD saya main mercon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tamat dari SMA itu saya tidak pernah bisa menjernihkan masalah itu kepada guru-guru itu. Saya juga tidak peduli karena memang saya tidak bersalah dan memang tidak pernah menyukai pelajaran itu dan, apalagi, pengajarnya. Di kelas II tidak jarang saya dengan sengaja "memindahkan" kelas saya ke bioskop ketika jam pelajaran Fisika berlangsung. Bukan kebetulan, tapi memang gurunya sama dengan ketika saya di kelas III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha, belakangan saya ingat lagi tentang satu orang guru saya. Satu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang semua saya ceritakan di atas saya masih ingat nama mereka, guru yang satu ini saya tidak tahu, bukan lupa tapi tidak tahu. Mengapa tidak tahu? Ya, karena dulu semasa SMP para guru dipanggil dengan nama mata pelajarannya. Nah, guru ini namanya Ibu IPBA (ilmu pengetahuan bumi dan antariksa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu momen yang membuat saya "dendam" kepada beliau. Seingat saya pelajaran itu ada di kelas 2 SMP. Ketika itu ia bercerita tentang revolusi bulan mengelilingi bumi. Lazim kita beranggapan bahwa bulan adalah benda langit yang tugasnya sebagai substitut bagi matahari. Jadi, bulan terbit setelah matahari terbenam. Bukan begitu? "Apakah ada bulan yang terbit di siang hari?", tanya beliau dengan yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada, buk", jawab saya lantang. Sangat lantang sehingga ibu itu tidak tahan untuk tidak mengejek saya, "Kalau begitu, itu bulan kesiangan namanya". Yang tertawa sepertinya mengamini pendapat si ibu itu tentang tugas bulan sebagai substitut matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seisi kelas menertawakan saya. Saya sebenarnya sangat marah, bukan karena saya keliru dan ditertawakan, namun karena saya benar--sama-sekali benar--tapi ditertawakan. Oleh seorang guru IPBA lagi. Saya telah pernah membaca bahwa bulan setiap hari selalu telat sekitar 50 menit. (Seingat saya, dari buku yang saya baca malam sebelum sesi "memalukan" itu, bulan terbit rata-rata 52,8 menit.) Jadi, suatu hari, maksimum setelah 12-13 jam, bulan akan terbit di siang hari. Jangan dikira saya tidak pernah membaca buku-buku tersebut. Suatu masa, ketika masih sekolah menengah, hampir buku terbitan TIME &amp;amp; LIFE tentang planet di tata surya selesai saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa saya ditertawakan? Jawabannya cuma satu, karena si ibu tidak pernah mengoreksi "gurauannya", berarti ia tidak tahu fakta itu. Lebih kasarnya, ia tidak menyenangi pelajaran itu dan tidak bermaksud untuk mencintainya untuk diberikan kepada siswa-siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kalau saya berkata kasar, namun ketika saya berada di dalam profesi yang sama dengan beliau saat ini, saya tidak ingin saya bersikap demikian karena saya tahu persis bagaimana rasa dianggap bodoh. Hingga sekarang saya berusaha untuk tidak menyalahkan pendapat murid saya, apalagi menertawakannya. Dendam itu bisa buruk, kawan. Syukur-syukur dendam itu bisa positif, menjadi pendorong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau demikian, saya bukan sedang tidak berterimakasih kepada mereka. Saya tidak menyukai fisika bukan karena saya membenci matapelajaran itu (walau mungkin saya memang tidak menyukai pengajarnya yang memiliki anak-anak emas di antara kami). Sejak kelas I SMA, saya telah menetapkan diri saya untuk belajar akuntansi. Titik. Sehingga, saya tidak merasa ada pelajaran yang lebih penting daripada yang dibutuhkan untuk meluluskan saya ke jurusan akuntansi. Fisika dan Kimia di antara yang saya abaikan. Jadi, pengabaian saya adalah karena saya telah menetapkan tujuan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, guru tetap guru dan hanya atas pengabdian merekalah saya bisa melangkah lebih jauh, melihat lebih terang, mendengar lebih tajam. Di hari pendidikan ini saya hendak berterimakasih kepada mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, 2 May 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-1067887101525331219?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/1067887101525331219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/05/sebuah-ceriat-tentang-guru-guruku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1067887101525331219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1067887101525331219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/05/sebuah-ceriat-tentang-guru-guruku.html' title='Sebuah kisah tentang guru-guruku'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4422776023233510338</id><published>2010-04-24T11:58:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T07:50:19.488+07:00</updated><title type='text'>A life in transit</title><content type='html'>Sesekali, ketika bercakap di dunia maya, dengan teman-teman, mereka selalu bertanya, di tengah percakapan, "Kamu sedang berada di mana?" Kadang-kadang sebelum saya menjawab mereka memberikan tiga opsi kepada saya, "Padang, Jogja, atau Lombok?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan gampang saya akan menjawab salah satunya. Memang saya hanya berpergian di antara ketiga kota itu. Namun, karena sebagian dari mereka bukan teman-teman yang setiap saat bercakap dengan saya, maka pertanyaan itu selalu akan terucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi juga demikian. Seorang teman lama di Jogja yang sekarang tinggal di Jakarta bertanya hal yang sama. Dengan bercanda saya menjawab bahwa saya sedang di Jogja sedang transit ke Lombok untuk bertemu anak dan istri saya. Entah mengapa saya tidak memilih kata yang lain, tetapi justru "transit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saya tidak tahu banyak apa beda antara kata yang lebih menunjukkan kemapanan, seperti "tinggal", "berdomisili", "berada" dibandingkan dengan "transit". Namun, bagi saya, kata itu, transit, membuat saya lebih bersemangat, bergelora, berharap. Ada masa depan di sana, ada harapan di ujung perjalanan, ada arah yang telah diputuskan, tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kata "tinggal", "domisili", "berada" justru menghilangkan semangat. Walau diimbuhkan kata "saat ini", tetap saja berarti bahwa seseorang telah mencapai apa yang harus ia capai, bahwa ia sudah ada di titik terminasi. Kata "saat ini" tidak menggambarkan bahwa ia akan beranjak dari sana suatu hari. Tidak tersirat kemungkinan bahwa ia akan mengepak bekal, melipat tenda, dan melangkah ke sebuah tempat yang lebih baik. Ia telah memilih untuk tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan ketika anda berada di sebuah bandar udara dan baru saja mendarat di kota tujuan. Di dalam istilah penerbangan, bandara itu adalah terminal anda. Tapi, apakah anda akan berada di sana seterusnya? Apakah anda tidak akan melanjutkan ke, misalnya, kantor atau rumah? Jika jawaban anda YA, bukankah bandar udara tersebut juga adalah titik transit anda? Jika kemudian anda berada di kantor anda, apakah anda akan selamanya di sana? Tidakkah anda ingin pulang atau meninjau proyek anda di tempat lain? Setelah dari sana, tidakkah anda akan berpindah lagi ke tempat lain? Jadi, bukankah semua "keberadaan" ada dalam kondisi transit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah keadaan transit. Kita tidak pernah tidak akan ke mana-mana. Pun tidak pernah bukan dari mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang maha penting adalah: Transit hendak ke manakah anda saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, ditulis 2009, diterbitkan April 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4422776023233510338?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4422776023233510338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/04/life-in-transit.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4422776023233510338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4422776023233510338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/04/life-in-transit.html' title='A life in transit'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4276439242054199038</id><published>2010-02-17T12:29:00.018+07:00</published><updated>2010-12-17T07:51:48.703+07:00</updated><title type='text'>The beauty of not knowing</title><content type='html'>Sekiranya anda diberi hak untuk memilih apa yang ingin anda ketahui dan tidak ingin anda ketahui, rahasia apa yang ingin anda ketahui dan tidak ketahui itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak yakin orang akan pernah memilih untuk tidak mengetahui rahasia dirinya. Ujian, kenaikan pangkat, jodoh, atau rezeki mungkin adalah beberapa dari rahasia yang ingin diketahui seseorang. Saya juga yakin, walau tidak untuk semua orang, bahwa ada orang yang ingin tahu tentang rahasia kematian dirinya: kapan, di mana, dan apa yang ada di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, jika kita memiliki kemewahan itu, pasti kita ingin tahu sebuah rahasia. Itulah alasan mengapa peramal ada. Mulai yang harus ditemui di puncak gunung, di tengah lembah di negeri antah-berantah maupun yang bisa ditemui melalui enam digit angka: ketik RAMAL kirim ke 794745 (atau: SYIRIK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Indah sesungguhnya mengetahui apakah jalanan nanti akan macet atau tidak, tugas yang diserahkan nanti akan dipuji atau tidak oleh atasan, apakah jabatan tahun ini akan naik, apakah guru fisika hari ini akan masuk atau tidak, akan ulangan fisika atau tidak, soal ujian berasal dari diktat yang mana, apakah si dia akan suka hadiah ulangtahunnya atau tidak. Masih banyak soal remeh-temeh yang akan mengasyikkan jika kita tahu lebih awal. Jika rahasianya diberitahu kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah lebih baik bagi kita, saya dan anda, untuk sama-sama tahu tentang masa depan kita? Jawabannya bisa ya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berandai-andai hanya anda yang memiliki pengetahuan tentang masa depan, sementara saya tidak. Anda besok akan melakukan melakukan perjalanan darat yang panjang dan anda diberitahu tentang teman sebangku anda di kereta api. Apa yang akan anda lakukan? Jika anda sudah tahu siapa saya lebih awal, maka, jika anda tidak ingin menjalani perjalanan yang membosankan tanpa teman bicara, anda akan berusaha tahu siapa saya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ice breaker&lt;/span&gt; apa yang tepat untuk memulai percakapan, apa yang mungkin tidak saya sukai untuk dibicarakan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengasyikkan, bukan? Tapi itu bagi anda karena anda tahu sesuatu tentang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika saya juga bisa tahu sesuatu tentang anda? Latar belakang anda, pekerjaan anda, topik yang anda sukai, hobi anda, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika saya tahu apa yang akan anda tanyakan kepada saya, bagaimana anda akan memulai percakapan dengan saya, percakapan apa yang akan anda hindari jika berbicara dengan saya, dll. Saya tahu apa yang anda akan antisipasi dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga anda. Anda tahu apa yang akan saya antisipasi dari anda. Demikian seterusnya, terjadi sirkulasi tanpa akhir: &lt;b&gt;I know that you know that I know what you know&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu bahwa anda tahu bahwa saya tahu apa yang ingin anda ketahui dan anda juga tahu bahwa saya tahu bahwa anda tahu apa yang ingin saya ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan terjadi jika anda tahu bahwa istri anda tahu bahwa anda tahu yang ingin ia dapatkan sebagai hadiah ulangtahun perkawinan? Maka, istri anda akan berbahagia dengan hadiah yang akan anda berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang akan terjadi jika pada saat yang sama istri anda tahu bahwa anda tahu bahwa istri anda tahu apa yang akan anda berikan sebagai hadiah ulangtahun perkawinan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda dan istri anda sama-sama tahu bahwa kalian tahu bahwa yang lain tahu apa yang lain tahu, masing-masing pihak akan saling mengantisipasi perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri anda mungkin akan berpura-pura kegirangan ketika menerima hadiah dari anda karena ia telah tahu bahwa anda akan membelikan sebuah jam tangan yang memang ia inginkan karena ia tahu bahwa anda tahu itulah keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama anda juga akan berpura-pura bahagia melihat istri anda yang menyukai hadiahnya karena anda juga tahu bahwa istri anda tahu bahwa anda akan membelikan jam tangan itu baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah begini, tidak ada lagi yang akan membahagiakan dari pengetahuan itu. Jika ini terjadi, maka anda akan lebih berbahagia dengan ketidaktahuan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalani setengah langkah hingga sekarang, saya begitu berharap bahwa semakin banyak yang tidak ingin saya pernah ketahui. Dan satu hal yang tidak ingin pernah saya ketahui itu berasal dari gambar ini yang saya ambil dari &lt;a href="http://boston.com/bigpicture"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S3yh6ZrNxAI/AAAAAAAAAdo/ZAlGPIzcK-Q/s1600-h/a25_heic0916a.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439400474653344770" src="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S3yh6ZrNxAI/AAAAAAAAAdo/ZAlGPIzcK-Q/s400/a25_heic0916a.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 456px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 367px;" /&gt;&lt;/a&gt;Bagi sebagian orang adalah pertanyaan yang naif jika saya kembali bertanya apakah kita, manusia, adalah satu-satunya makhluk hidup di alam semesta ini. Anda mungkin akan menjawab: "Ya, Mat, kita satu-satunya tidak ada yang lain". Sementara yang lain mungkin akan menjawab: "Tidak mungkin, pasti ada yang lain, di suatu tempat di luar sana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana jawaban yang benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bintik-bintik cahaya di bagian bawah gambar di atas adalah galaksi-galaksi yang terekam melalui teleskop Hubble. Kumpulan galaksi yang sedemikian banyak itu diambil dari bidang gelap yang ditandai dengan petak di bagian atas gambar. Bayangkan jika bidang-bidang gelap berikutnya dan berikutnya diperiksa lagi dan lagi dan lagi. Bagaimana jika bidang-bidang gelap dari bidang gelap yang telah terekam oleh Hubble di atas diperiksa lagi. Akankah ada kumpulan dari galaksi-galaksi lain di sana? Bagaimana pula di bidang gelap dari bidang gelap yang telah terekam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang galaksi berarti bicara tentang jutaan bintang dan bicara tentang sekian juta tahun cahaya lebar dari ujung ke ujung galaksi. Bicara tentang dua galaksi juga bicara tentang jarak sekian juta tahun cahaya dari satu galaksi ke galaksi yang lain. Bicara tentang satu tahun cahaya berarti bicara tentang 300.000 km/detik * 3600 detik * 24 jam * 30 hari * 12 bulan = 9.331.200.000.000 kilometer atau 9,3 trilyun km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru satu tahun cahaya. Lima tahun cahaya, seratus tahun, seribu tahun cahaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori mengatakan bahwa alam semesta ini (jika bicara tentang alam semesta anda harus melihat kembali gambar di atas dan menyadari bahwa ada bidang hitam dari bidang hitam yang berisi sekian banyak galaksi dan bahwa Hubble hanya melihat sebagian kecil dari langit!) terus mengembang! Ada yang berpendapat bahwa pengembangannya terjadi ke semua arah. Ibaratnya pengembangan alam semesta itu seperti berkembangnya sebuah balon bulat sempurna. Terus dan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagian apa yang saya korbankan dengan memiliki sedikit pengetahuan ini? Bukankah menakjubkan mengetahui bahwa, misalnya, Allah benar-benar sedang mempersiapkan tempat bagi kita nanti setelah mati yang maha luas sesuai dengan apa yang diwahyukan di dalam Al Qur'an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan jika saya hanya tahu bahwa hanya ada bumi, hanya ada kehidupan di bumi. Saya membayangkan bahwa matahari hanya sebuah benda yang memang secara kebetulan bersinar di siang hari. Bintang-bintang adalah hiasan di malam hari. Sebagian kelihatan, sebagian tidak kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan diri saya adalah anak kecil, lugu, tanpa dosa. Ketika membayangkan itu, maka ketidakberpengetahuan adalah kemewahan tiada tara. Adalah kemewahan jika nanti Allah tidak akan pernah meminta pertanggungjawaban saya tentang apa yang saya telah ketahui. Allah tidak akan pernah bertanya mengapa tanda-tanda kekuasaanNYA yang sedemikian terang telah diberitahukan kepada saya tidak juga membuat saya menggigil tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bukankah ketidakberpengetahuan itu adalah sebuah keindahan, kawan, jika keberpengetahuan hanyalah sebuah jalan untuk mencari jalan lain untuk mengabaikan keberpengetahuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Ditulis kala satu-pengetahuan-terus-menerus-membawa-kepada-ketidaktahuan-yang-lain-dan-berharap-bahwa-ketidakberpengetahuan-adalah-kemewahan-dan-kala-rasa-lapar-itu-bisa-membuat-frustasi-ketika-lemari-kosong-dan-hujan-sangat-lebat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;P.S.&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan yang berbicara tentang keindahan dari ketidaktahuan:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://acitoz.multiply.com/journal/item/27/THE_BEAUTY_OF_NOT_KNOWING"&gt;The beauty of not knowing&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.heathersellers.com/blog/2008/10/14/the-exquisite-beauty-of-not-knowing/"&gt;The exquisite beauty of not knowing&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://existentiallylds.blogspot.com/2009/04/beauty-of-not-knowing.html"&gt;The beauty of not knowing&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.essentialprose.com/chatter-blather/the-beauty-of-not-knowing"&gt;The beauty of not knowing&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://gbt.blogspot.com/2009/12/beauty-of-not-knowing.html"&gt;The beauty of not knowing&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4276439242054199038?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4276439242054199038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/02/beauty-of-not-knowing.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4276439242054199038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4276439242054199038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/02/beauty-of-not-knowing.html' title='The beauty of not knowing'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S3yh6ZrNxAI/AAAAAAAAAdo/ZAlGPIzcK-Q/s72-c/a25_heic0916a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-253619072020713969</id><published>2010-02-07T07:01:00.012+07:00</published><updated>2010-12-17T07:52:25.564+07:00</updated><title type='text'>Alasan mengapa umat muslim tidak membalas</title><content type='html'>Semalam saya menemukan kembali sebuah link ke sebuah blog yang membuat sakit hati kami para muslim. Blog itu http://beritamuslim.wordpress.com dengan judul blog "Berita Muslim Sahih". Karena penasaran saya datang ke sana. Dan yang saya temukan persis dengan apa yang saya kira akan saya temukan. Tidak jauh dari apa yang dulu ditampilkan di http://lapotuak.wordpress.com, yaitu menjelek-jelekkan Islam, terutama Rasulullah Muhammad SAW. Dengan membaca cepat saya juga tahu bahwa isinya sama dengan mailing list atau situs diskusi lain di internet yang lain. Sampah dan sumpah serapah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda menyukai seseorang, yang walau tidak pernah anda temui, hanya anda lihat di layar kaca misalnya, sangat menyebalkan jika ada orang lain yang membicarakan hal-hal buruk tentang orang yang anda sukai tersebut. Masalah agama, apalagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya merasa geram dan terpancing untuk membalas dengan cara yang saya bisa. Beberapa orang memang saya lihat membalas semua argumen palsu seperti yang diajukan di blog tadi. Namun, sebagian besar dari umat muslim saya lihat lebih memilih membiarkan penghinaan itu terjadi dan tidak membalas penghinaan kepada nabi atau tuhan orang-orang-yang-nenek-moyangnya-dulu-memeluk-agama-samawi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Hal yang sama juga saya lakukan semalam. Bagi saya, dan mungkin demikian juga bagi muslim yang lain, alasan untuk diam ada beberapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tidak ada perlunya dan tidak ada hebatnya untuk meyakinkan orang lain dengan cara menghina keyakinan orang lain tersebut. Blog di atas dan blog-blog lain hanya berisi penghinaan terhadap Islam dan Rasulullah. Sepanjang hidup saya, saya tidak pernah menemukan seorang sahabat muslim yang menghina temannya dari agama yang lain untuk menyatakan bahwa ia adalah pemeluk agama yang benar. Sejak awal perbedaan keyakinan dari pemeluk agama samawi ini muncul, tidak pernah muslim berusaha meyakinkan bahwa ia benar dengan cara mencaci-maki pemeluk agama lain. Misalnya, tidak pernah ada pertanyaan menghina dari muslim dari mana kemiripan yang-dikira-anak-tuhan itu dengan Zeus? Saya justru tahu itu dari Dan Brown!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, umat Muslim lebih berhak terhadap Isa 'alaihissalam, Musa 'alaihissalam, Sulaiman 'alaihissalam, dan Ibrahim 'alaihissalam dibandingkan dengan siapapun yang hidup di dunia hari ini. Ketika agama lain menjadikan Isa tuhan, umat Islam tidak pernah tega menertawakan keyakinan tersebut--justru umat muslim tetap bershalawat kepada beliau: 'alaihissalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena umat muslim tahu bahwa beliau adalah manusia yang lahir dari rahim manusia. Walaupun sudah lama heran mengapa Adam 'alaihisalam tidak pernah difitnah sebagai anak tuhan oleh umat agama lain padahal ia tidak berbapak dan beribu, umat Islam tidak pernah mau mempermasalahkan kecacatan keyakinan itu. Jika Adam saja yang "yatim-piatu" adalah manusia dan apalagi hanya Isa yang hanya "yatim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak mau menertawakan kedua nabi tersebut? Karena umat Islam lebih berhak terhadap mereka daripada siapapun di muka bumi ini dan karena suatu hari nanti, ketika huru-hara di Padang Mahsyar terjadi, umat manusia akan memohon kepada Nabi Adam 'alaihissalam, bapak para manusia, untuk memohon kepada Allah untuk segera mengakhiri huru-hara itu dan mulai mengadili manusia. Adam 'alaihissalam akan menolak karena ia malu dengan dosanya dulu. Lalu manusia terus berjalan mencari para rasul yang lain meminta agar mereka memohon kepada Allah agar pengadilan segera dibuka. Namun, hingga manusia bertemu dengan Isa 'alaihissalam, beliau pun akan menolak permohonan manusia itu karena ia malu dengan fitnah yang telah diberikan oleh manusia kepadanya sebagai tuhan dan anak tuhan. Ia bahkan tetap menolak untuk itu walau yang memintanya adalah umat muslim yang tidak pernah memfitnahnya. Barulah setelah sampai kepada Muhammad SAW, Rasulullah memberanikan diri meminta kepada Allah untuk memulai pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, agama adalah masalah hidayah, masalah apakah selubung yang menyongkok hati akan terbuka atau tidak. Saya memiliki seorang teman yang agnostik dan ia mengakui kepada saya tentang keyakinannya itu. Namun, "Mat, saya tahu bahwa tuhan itu ada! Yang saya tidak lakukan adalah memilih satu agama, tidak memilih tuhan yang mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembicaraan kami kemudian di malam itu di sebuah hotel di Palembang akhir tahun 2009, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa memilih satu agamapun karena ia melihat bahwa banyak sekali peperangan yang dibawa oleh agama-agama. Setidaknya itu yang ia lihat terjadi di India dan Pakistan, tanah leluhurnya. Setiap kali peperangan terjadi, mereka berteriak bahwa "tuhan bersama kami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal, Mat, manusia ini hanya 0,001% saja berbeda dari manusia yang lain. Jika kamu mengupas kulit tubuhmu dan saya mengupas kulit tubuh saya, maka kita persis sama. Tidak ada lagi kulit putih, hitam, merah, kuning. Di bawah lapisan jangat ini, kita sama putihnya. Bahkan, tanda bahwa kita adalah spesies yang sama adalah kemungkinan kita saling bertukar darah, jantung, mata, hati, dan ginjal ketika yang lain membutuhkan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sudah membaca tentang sejarah manusia dan perpindahan manusia yang terjadi mulai dari Afrika ke seluruh dunia. Manusia cerdas itu telah bermigrasi ratusan ribu tahun yang lalu dari Afrika Timur ke seluruh dunia. Dan saya tidak menemukan penjelasan tentang kebenaran sejarah manusia itu di dalam kitab suci manapun", katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat tentang sebuah buku, &lt;a href="http://www.serambi.co.id/modules.php?name=Katalog&amp;amp;op=tampilbuku&amp;amp;bid=110"&gt;Mapping Human History&lt;/a&gt;, yang menjelaskan hal yang sama. Saya tahu bahwa satu hal yang tidak disampaikan kepada saya oleh sahabat saya ini adalah mengapa sebuah kitab suci bisa mengatakan bahwa Adam lahir hanya beberapa ribu tahun yang lalu, sementara salah satu fosil manusia tertua berumur lebih daripada 150 ribu tahun yang lalu. (&lt;span style="color: #3333ff; font-size: 85%;"&gt;Perhatikan bahwa Penerbit Serambi melunakkan bahasa-fakta Olson di laman webnya--namun tidak di dalam buku Olson ini--dengan menggunakan ukuran waktu 7500 generasi yang lalu. Jika satu generasi setara 20 tahun, maka 7500 generasi = 150.000 tahun lalu.&lt;/span&gt;) Mengapa ada perkataan tuhan yang keliru bin ngawur dengan angka hanya "beberapa ribu tahun"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an, sama untuk masalah-masalah ilmiah lain, hanya memberikan petunjuk-petunjuk tersirat untuk dipecahkan oleh manusia. Ia, teman saya ini, sepertinya berharap bahwa ia bisa menemukan hal yang seeksplisit itu di dalam Al Qur'an dan ia berharap bisa memverifikasinya dengan temuan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan semua umat Islam yang lain yang tahu dengan fakta ini, saya hanya diam. Saya sadar bahwa kalau sudah di tahap ini, ketiadaan hidayah adalah jawabannya. Karen Armstrong tahu pasti bahwa agama lamanya keliru dan Islam adalah yang benar, namun kepadanya tidak turun hidayah--setidaknya belum hingga terakhir saya baca tentang dirinya. Teman saya ini tahu bahwa jika ia melihat lebih dalam lagi kepada agama ayahnya, maka ia akan tahu kebenaran di sana. Namun, sama dengan Armstrong, hidayah itu bukan lagi urusan saya untuk meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi kepada kediaman umat Islam terhadap penghinaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diam karena tidak ada gunanya bagi kami untuk membalas. Jika kami membalas, maka yang akan dirasakan oleh mereka adalah rasa sakit hati, yang kemudian akan menjauhkan mereka dari peluang hidayah muncul. Siapa yang akan mau bersahabat dengan orang yang telah menghina-hinanya? Siapa yang mau memeluk agama yang telah menghina agamanya juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang tidak dilakukan oleh muslim kepada mereka yang menghina-hina tersebut dan ini yang dilakukan oleh mereka terhadap Islam dan umat muslim mendiamkan saja. Suatu hari jika kebenaran muncul di dunia bagi mereka, maka mereka akan datang. Jika kebenaran itu datang di pintu sebelah sana, maka mereka akan menyesal sendiri. Pintu hanya membuka ke satu arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika berandai-andai bahwa mereka benar dan Isa adalah anak dari tuhan, apakah orang Islam yang tidak pernah menghina Isa akan dibenci oleh Isa nanti? Apakah anda akan membenci orang yang sama-sekali tidak pernah menggunjingkan anda, walaupun tidak pernah memuji anda? Sebaliknya, jika Islam benar tentang Muhammad SAW, apakah nanti mereka akan dicintai oleh Muhammad SAW?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog di atas adalah satu dari entah-berapa situs lain yang berusaha memvisualisasi Rasulullah untuk tujuan penghinaan. Beberapa kali di waktu yang lalu beberapa teman mengajak mengajukan petisi online terhadap, misalnya, Wikipedia yang memuat gambar Rasulullah. Saya tidak berminat untuk bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Jangan dulu berpikiran negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali ada berita bahwa di sana ada gambar Rasulullah atau di situ ada lukisan Rasulullah, seberapapun positif atau seberapapun negatifnya beliau divisualisasi, saya akan mencoba untuk melihat. Bagi saya, seperti juga umat muslim lain, ada kerinduan untuk bisa melihat lebih awal roman muka Rasulullah. Hanya orang-orang yang terpilih sajalah yang akan bisa lebih dahulu melihat wajah beliau di dalam mimpi sebelum nanti di Padang Pengadilan. Bahkan &lt;a href="http://kikingeblog.blogspot.com/2009/09/catatan-ramadhan-3.html"&gt;sebagian besar muslim hanya akan bermimpi akan bertemu dengannya&lt;/a&gt; namun tidak berhasil menemukannya. Sama dengan yang lain, saya tidak berhasil menemukan Sang Alasan-Allah-dalam-Penciptaan-Langit-dan-Bumi di tengah mimpi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu jangan salahkan saya yang ingin menemukan wujud lelaki itu di coretan manapun di muka bumi ini dan diam saja jika penggambaran itu tidak menghina seperti yang ada di Wikipedia. Jika foto istri dan anak saya yang ada di dinding di depan meja kerja saya bisa mengobati kerinduan saya, apalagi gambaran tentang Rasulullah yang entah kapan akan bisa saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menurut saya, biarkanlah saja mereka dengan lelah menghina Islam dan Rasulullah. Jika mereka lelah, mereka akan berhenti sendiri. Orang mulia tidak akan menghina orang lain dan hanya yang hina-dina dan bodoh yang sibuk mengatakan orang lain salah. Tidak usah repot-repot membela diri dari orang yang tidak pernah akan bersua dengan satu petunjuk pun di dalam kitab sucinya tentang siapa nama tuhannya dan wujud tuhannya. Usaha terbaik mereka hanya meminjam wajah dewa dari agama lain dan nama tuhan dari agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Saya memiliki banyak teman dari agama-agama samawi yang lain dan agama non-samawi. Tulisan ini tidak bermaksud menyerang keyakinan teman-teman saya. Tulisan ini justru untuk teman-teman muslim saya, agar mereka menghemat energi mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-253619072020713969?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/253619072020713969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/02/alasan-mengapa-umat-muslim-tidak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/253619072020713969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/253619072020713969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/02/alasan-mengapa-umat-muslim-tidak.html' title='Alasan mengapa umat muslim tidak membalas'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-5816446817400720270</id><published>2010-02-01T17:46:00.010+07:00</published><updated>2010-12-17T07:52:49.320+07:00</updated><title type='text'>Karena ini yang saya bisa!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S2a4puPa8HI/AAAAAAAAAc8/rADMuTHV4sk/s1600-h/40_baobama3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433233027395940466" src="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S2a4puPa8HI/AAAAAAAAAc8/rADMuTHV4sk/s400/40_baobama3.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 238px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hari ini:&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Mengapa anda memilih pekerjaan ini?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dokter&lt;/span&gt;: Saya ingin mengabdikan ilmu saya bagi kesehatan bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pegawai negeri&lt;/span&gt;: Saya ingin berbakti kepada bangsa dan negara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Wiraswasta&lt;/span&gt;: Saya ingin menjadi pengusaha yang sukses.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pegawai swasta&lt;/span&gt;: Gajinya, bo….&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pengemis&lt;/span&gt;: Cuma ini yang bisa saya kerjakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Limabelas tahun kemudian:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;em&gt;Apa alasan anda tetap pada pekerjaan anda?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dokter&lt;/span&gt;: Memang ini adalah jalan hidup yang saya pilih. Saya senang melayani masyarakat. Anda harus tahu rasa bahagia melihat pasien anda sembuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pegawai negeri&lt;/span&gt;: Saya bangga bisa membaktikan hidup saya bagi pembangunan bangsa kita. Setiap saat kebijakan yang kita buat bisa membuat masyarakat menjadi lebih makmur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Wiraswasta&lt;/span&gt;: Usaha saya makin berkembang. Saya bisa memberi kerja bagi lingkungan saya. Anda bisa lihat bahwa karyawan saya bekerja dengan riang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pegawai swasta&lt;/span&gt;: Karir makin baik, bro….&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pengemis&lt;/span&gt;: Cuma ini yang bisa saya kerjakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S2a3YQVBPwI/AAAAAAAAAc0/s2kZXJjrdzg/s1600-h/m01_16895561.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433231627796954882" src="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S2a3YQVBPwI/AAAAAAAAAc0/s2kZXJjrdzg/s400/m01_16895561.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 260px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tigapuluh tahun kemudian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;em&gt;Setelah tigapuluh tahun, apa alasan anda tetap pada pekerjaan anda?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dokter&lt;/span&gt;: Coba anda pikir. Saya lulusan fakultas kedokteran. Memangnya anda pikir saya akan ke mana? Memang saya bisa membantu masyarakat. Namun, setelah saya pikir-pikir, saya tetap melakukan pekerjaan ini, ya, karena memang cuma ini yang bisa saya lakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pegawai negeri&lt;/span&gt;: Anda pikir mencari kerja saat itu mudah? Saya sudah pernah ditempatkan di kantor lurah di pelosok, pernah di kantor walikota yang mewah. Saya pernah hanya mengantar &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; antar kantor hingga sekarang bisa duduk di biro ini. Anda bertanya saya mau ke mana? Memang ini yang bisa saya lakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Wiraswasta&lt;/span&gt;: Tigapuluh tahun jatuh-bangun di bisnis ini membuat saya makin tahu dengan seluk-beluknya. Saya tahu bagaimana mengelola uang, mengelola karyawan, mengelola pelanggan. Apakah anda pikir saya akan beralih ke pekerjaan yang lain? Di sini keahlian saya. Ini yang bisa saya lakukan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pegawai swasta&lt;/span&gt;: Saya memulai karir di sini sebagai akuntan. Kemudian saya diangkat menjadi penyelia. Tidak hanya di kantor pusat, saya telah berkeliling di berbagai kantor cabang hingga sekarang menjadi manajer keuangan. Mengapa saya masih di sini? Karena memang di sini keahlian saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pengemis&lt;/span&gt;: Memang saya bisa apa lagi? Saya cuma bisa ini!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S2a3XzR6YoI/AAAAAAAAAcs/comoIsX2I_Y/s1600-h/a07_20069271.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433231619999294082" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S2a3XzR6YoI/AAAAAAAAAcs/comoIsX2I_Y/s400/a07_20069271.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 265px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Sleman, Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;(Gambar-gambar dari www.boston.com/bigpicture) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-5816446817400720270?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/5816446817400720270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/02/karena-ini-yang-saya-bisa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5816446817400720270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5816446817400720270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/02/karena-ini-yang-saya-bisa.html' title='Karena ini yang saya bisa!'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S2a4puPa8HI/AAAAAAAAAc8/rADMuTHV4sk/s72-c/40_baobama3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2278194210356471399</id><published>2010-01-25T23:13:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T07:53:30.043+07:00</updated><title type='text'>Puisi untuk si Buyung</title><content type='html'>Buyung,&lt;br /&gt;Aku ingin kau mendengar bisikanku: Tidurlah yang pulas, biarkan hatimu tetap merindu karena di sana ada aku, ada Ibumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau, Buyung, betapa berbedanya duniaku ketika engkau pertama kali menangis di telingaku?&lt;br /&gt;Tahukah engkau juga, Buyung, betapa aku menjadi ayah ketika azanku engkau simak dengan khusyuk.&lt;br /&gt;Dan tahukah engkau, Buyung, betapa aku lintuh ketika engkau mengucapkan: Pak! Bapak…! ketika siang itu engkau 'ku pangku.&lt;br /&gt;Engkau harus tahu Buyung bahwa aku akan tetap ingat tatap mata bulatmu bertanya siang itu: Mengapa tinggalkan ‘ku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buyung,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Jangan kau mengira kala kau sendiri menendang-nendang bola itu aku tak ingin membiarkan peluh membasuh punggung kita.&lt;br /&gt;Jangan kau mengira kala kau menyandarkan dirimu di sepedamu aku tak ingin kita meracaknya sekadar mengantarmu melihat pipit bermain di sawah.&lt;br /&gt;Jangan kau mengira kala kau haus di malam hari aku tak ingin mengusap mataku, menegakkan badan walau letih.&lt;br /&gt;Jangan kau mengira kala kau mendengar derum motor di pagar aku tak ingin wajahku yang melongok melihat tanganmu menggapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala kau merindu, Buyung, kala itu aku terampas.&lt;br /&gt;Kala kau merindu, Buyung, kala itu aku berharap bumi terlipat, lautan mengering, selat mendangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, Buyung, ketika sebentuk bunyi bisa kau gambar, kala itu kau akan tahu mengapa rindumu menjadi rinduku dan rinduku adalah rindumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Januari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2278194210356471399?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2278194210356471399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/01/puisi-untuk-si-buyung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2278194210356471399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2278194210356471399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2010/01/puisi-untuk-si-buyung.html' title='Puisi untuk si Buyung'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-8053913326312834904</id><published>2009-12-23T10:38:00.010+07:00</published><updated>2010-12-17T07:53:45.591+07:00</updated><title type='text'>Infotainment, makhluk apa sih?</title><content type='html'>Kalau mendengar kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;, maka yang langsung terbayang hari ini adalah kata lain: Luna Maya dan kemarahannya. Menurut saya, dan ribuan orang lain yang mendukung Luna Maya, kemarahannya wajar-wajar saja. Setiap saat orang bisa saja marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin bicara tentang marah-marahnya Luna Maya dan tentang mana yang benar di antara dia dengan "orang-orang yang memegang kamera" dan datang mengadu ke polisi setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang yang memegang kamera"? Ya, saya lebih senang mengatakan bahwa mereka yang dimarahi oleh Luna Maya adalah "orang-orang yang memegang kamera" alih-alih sebagai wartawan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dari awal penggunaan kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt; itu di televisi, saya sudah merasa bahwa itu aneh. Kok, orang capek-capek mencari sebuah kata baru dari gabungan kata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;information&lt;/span&gt;" dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;entertainment&lt;/span&gt;" untuk menamaikan acara "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;information on entertainment&lt;/span&gt;? Dari susunan kata saja kita sudah tahu bahwa makna yang kita pahami keliru. Afro-America adalah warga negara Amerika yang keturunan Afrika. Kita lihat, "bungkusnya" adalah Amerika, isinya adalah "Afrika".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment &lt;/span&gt;berarti adalah bungkusnya adalah hiburan, isinya adalah informasi. Sehingga kalau digabungkan kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment &lt;/span&gt;adalah sebuah reportase (ingat, reportase bukan hanya di televisi!) yang disuguhkan dalam format yang lebih menghibur. Kalau anda lihat ke Wikipedia (&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Infotainment#Entertainment_and_news_crossovers"&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Infotainment#Entertainment_and_news_crossovers&lt;/a&gt;) anda akan lihat dan paham bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment &lt;/span&gt;sering juga dikaitkan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soft news&lt;/span&gt;. Di Wiki juga ditegaskan bahwa isi dari sebuah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment &lt;/span&gt;adalah berita yang dibungkus dengan suasana yang menghibur. Jadi jelas bukan sebuah acara yang berisi tentang informasi dunia hiburan! Keliru! Telusuri baik-baik, maka kita TIDAK akan menemukan bahwa acara gosip-menggosip memenuhi definisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak yakin contoh saya berikut ini pas. Di Indonesia, acara yang bisa dikatakan sebagai acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;, menurut definisi di Wiki (dan adalah definisi yang benar, saya kira) adalah acara "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selamat Pagi&lt;/span&gt;" atau "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Good Morning&lt;/span&gt;" (masih ada gak, ya?) atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Jelang Siang"&lt;/span&gt;. Contoh lain adalah acara "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Healthy Life&lt;/span&gt;". Kedua kelompok itu saja berbeda. "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selamat Pagi&lt;/span&gt;" atau "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Good Morning&lt;/span&gt;" dikemas menghibur tapi berisi berita yang serius. Berita yang sama bisa kita temukan di acara berita Trans7 dan TransTV beberapa jam sebelum kedua acara itu ditayangkan. Kalau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Healthy&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Life &lt;/span&gt;lebih sesuai disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;soft news &lt;/span&gt;yang tidak terlalu serius dan tidak terlalu terkini. Keempat acara ini, walau berbeda, lebih sesuai disebut dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Insert&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silet&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kiss &lt;/span&gt;dan lain-lain dan saudara-saudaranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...itu cuma acara gosip-menggosip. Penggosip bisa siapa saja dan tidak perlu menjadi seorang pewarta--dan tidak pantas disebut pewarta. Bisa siapa saja, mau makan sekolahan atau tidak, terserah. Yang penting bisa menemukan tombol on-off kamera dan perekam, sudah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Infotainment, &lt;/span&gt;sebaliknya&lt;span style="font-style: italic;"&gt;, &lt;/span&gt;adalah bagian dari jurnalisme dan mengikuti kaidah-kaidah jurnalisme yang benar dan baik. Tidak hanya yang bisa memencet tombol on-off kamera saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa tetap memakai istilah "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt;"? Saya lebih suka bilang bahwa mereka yang menggunakan istilah itu karena ingin terlihat nginggris saja, biar keren. Mereka ini takut berdosa kalau dibilang penggosip karena banyak gosip hanyalah fitnah dan fitnah lebih keji dari pembunuhan (makanya jangan heran Luna Maya bilang mereka pembunuh!). Jadi, kalau pakai kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment &lt;/span&gt;mungkin dikira malaikat Atid tidak tahu itu isinya adalah gosip dan fitnah sementara  malaikat Raqib mencatat pekerjaan para penggosip itu sebagai ibadah kepada keluarga yang diberi makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sebaiknya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;infotainment &lt;/span&gt;yang terlanjur dipakai di Indonesia diberi nama apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut saya lebih baik mengaku saja bahwa yang disuguhkan adalah acara gosip. Sudah, titik. Tidak perlu lagi berlagak menjadi sebuah komunitas pewarta karena pewarta, itu tadi, punya kode etik yang jelas, sementara penggosip tidak cukup modal bibir tipis--seperti yang sekarang kita lihat dimiliki para penggosip di tv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Juli 2010&lt;br /&gt;Pekan lalu di acara Mata Najwa, Metro TV menurut saya telah mempermalukan dirinya sendiri dengan membuat tajuk acara "Balada Infotainment" (&lt;a href="http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/2010/07/21/6281/308/Balada-Infotainment"&gt;tautan di sini&lt;/a&gt;). Saya tidak menonton acara tersebut tapi yang saya tahu yang diundang adalah pembawa acara gosip atau berita artis dan yang diperbincangkan adalah tentang rencana penyensoran acara-acara jenis gosip tersebut. Kenapa mempermalukan diri sendiri? Karena dengan sumber daya sedemikian besar, dengan jangkar yang cakap berbahasa Inggris semua, mengapa tidak mengecek arti kata tersebut ke Wikipedia, misalnya? Padahal, lihat saja, berapa persen tajuk acara Metro TV yang tidak menggunakan bahasa Inggris? Lalu mengapa satu kata bentukan baru di dalam bahasa Inggris tidak ada yang memeriksa dulu tajuk acara Mata Najwa tersebut?&lt;br /&gt;Di sebuah forum ada yang berkomentar, "Bagaimana kalau kita mengusulkan agar Metro TV di acara Save Our Nation mengangkat topik 'Save Our Bahasa Indonesia'?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-8053913326312834904?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/8053913326312834904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/12/infotainment-makhluk-apa-sih.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8053913326312834904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8053913326312834904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/12/infotainment-makhluk-apa-sih.html' title='Infotainment, makhluk apa sih?'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-8041763300004604154</id><published>2009-12-11T14:44:00.013+07:00</published><updated>2011-12-22T13:10:12.943+07:00</updated><title type='text'>Elegi buat Guruku</title><content type='html'>Jika suatu hari engkau mendapat kabar dari seseorang bahwa ada seseorang yang lain yang berusaha mencari-cari engkau untuk mendapatkan maaf darimu, apa yang akan engkau lakukan? &lt;br /&gt;Bergegas mendatanginya? Menyambut uluran maafnya?&lt;br /&gt;Atau justru menghindarinya karena justru kabar itu telah mengorek kembali luka lamamu, membakar kembali bara yang telah padam?&lt;br /&gt;Atau justru engkau akan berdiam-diam saja, memendamnya di dalam hati berpura-pura tidak pernah tahu bahwa ia ingin menemuimu dan engkau tidak akan pernah menyongsongnya? Mungkin saja engkau malu dengan dirimu karena apa yang telah engkau lakukan yang kemudian membuat dirinya marah. Lalu engkau berharap bahwa suatu hari kalian akan sama-sama lupa dengan sesuatu yang terjadi di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa yang akan engkau lakukan jika orang yang berusaha mencari dan meminta maaf darimu adalah orang yang sedang menunggu panggilan akhir dan ia dan kau tahu bahwa ia harus memenuhi panggilan itu?&lt;br /&gt;Akankah engkau bergegas mendatanginya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Akankah engkau menjabat erat tangannya dan mengatakan bahwa marahmu sudah lama pupus?&lt;br /&gt;Akankah engkau mengatakan bahwa saat terbaik dalam hidupmu (dan hidupnya) adalah saat kalian berangkulan?&lt;br /&gt;Akankah engkau kemudian membisikkan ke telinganya, yang makin jauh, bahwa kalian ingin kembali bertemu dan memintanya menunggumu di pintu sebelah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, jika engkau ternyata tidak pernah bisa bertemu dengannya dan ia telah melewati pintu di sebelah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, apa yang akan engkau lakukan?&lt;br /&gt;Apakah engkau akan menyesali bahwa kalian tidak pernah bertemu?&lt;br /&gt;Apakah engkau akan menyesal bahwa engkau tidak pernah bisa memberitahunya bahwa engkau telah memaafkannya dan mengatakannya langsung ke telinganya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, hampir setahun setelah pintu itu menutup di belakangmu baru aku tahu bahwa engkau pernah mencariku.&lt;br /&gt;Hampir setahun kemudian aku baru tahu bahwa engkau merasa bahwa ada hitam di antara kita yang harus telah putih.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Guru, sesungguhnya pada pagi itu, aku yang engkar sebagai muridmu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Guru, sesungguhnya pagi itu engkau mengembalikan aku kepada lajurku, menjadi seorang pemelajar, menghilangkan keangkuhan yang telah membelokkanku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Guru, sesungguhnya setelah pagi itu, engkau tetap Guru yang harus kuikuti, bukan kumaki—tak akan pernah, Guru.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Guru, jika engkau merasa bahwa ada sesuatu yang masih tertinggal, dan jika ada, aku akan menghantarkannya kepadamu dan akan aku jelaskan kepada Sang Pengadil bahwa engkau adalah Guruku dan semata-mata itulah peranmu terhadapku. &lt;/div&gt;Aku akan bersaksi, Guru, bahwa engkau adalah Guruku dan akan kuminta kepada Sang Pengadil agar semua amal dari ilmu yang kupunya mengalir juga kepadamu, Guru. &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Guru, aku sungguh menyesal tidak pernah bisa menemanimu di saat-saat akhir engkau menunggu Sang Kekasih datang. Sungguh itu adalah beban yang berat bagiku mengetahui bahwa engkau telah berangkat, sementara engkau mungkin masih ingin bersua denganku. Pun demikian denganku, Guru. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Demi Sang Kekasih yang telah menjemputmu, Guru, sesungguhnya akulah yang seharusnya mendatangimu, mencium tanganmu, dan berterimakasih atas pelita yang telah engkau nyalakan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Guru, terimakasihku tidak akan pernah cukup. Aku berjanji akan menjaga pelita yang telah engkau nyalakan dan semoga pelita itupun menerangi istirahatmu, Guru.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, Guru. Jika kelak aku telah melewati pintu itu, Guru, engkaulah orang pertama yang akan kucari. Aku berjanji...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Desember 2009&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini untuk mengenang &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2008/12/in-memoriam-prof-masud-machfoedz.html"&gt;Guru&lt;/a&gt; saya yang berpulang ke rahmatullah setahun yang lalu. Seorang sahabat, pekan lalu, membawa kabar bahwa beliau pernah mencari-cari seorang muridnya yang (sangat) mungkin adalah saya. Penyesalan yang dalam bagi saya untuk tidak pernah menemui beliau di saat-saat akhir hidupnya, bermaaf-maafan dengannya secara langsung. Semoga kubur beliau dilapangkan Allah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-8041763300004604154?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/8041763300004604154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/12/elegi-buat-guruku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8041763300004604154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8041763300004604154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/12/elegi-buat-guruku.html' title='Elegi buat Guruku'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2762959297726508462</id><published>2009-11-26T10:20:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T07:54:45.562+07:00</updated><title type='text'>Kusir dan pedati tak berkusir</title><content type='html'>Siang tadi, setelah lama tidak bertemu, kami kembali berbincang. Maksud saya, saya dengan seorang kolega senior saya. Kami tidak selalu berbincang tentang hal-hal yang serius setiap kali bertemu, namun memang lebih sering saya mendengarkan beliau berbicara serius dengan banyak orang, tidak hanya dengan saya. Tapi kali ini demikian juga, setidaknya begitulah dampaknya bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita bahwa setelah 10 tahun “tidak berada di kampus”, ia merasa bahwa ia banyak hutang kepada kampus. Ia ingin kembali menikmati kehidupan kampus, diam lebih lama di ruang kerjanya berdiskusi dengan mahasiswa, mempersiapkan bahan ajar dengan baik, membimbing mahasiswa, tidak hanya skripsi, namun juga dalam pemelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya merindukannya, Mat,” katanya. Ia merindukan untuk memberi lebih banyak kepada mahasiswa, murid-muridnya. Selama 10 tahun ini, ia lebih banyak “menerima”. Sekarang sudah tiba masanya baginya untuk memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Tantangan pertama yang saya berikan kepada beliau adalah untuk menulis sebuah buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulislah buku teks, bukan terjemahan, untuk kemudian akan dikenang sebagai sebuah buku klasik”, pinta saya. Hingga saat ini, masih sangat jarang—benar-benar sangat jarang—buku teks. “Buku tentang topik apapun, adalah buku pertama, Pak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak menolak bahwa ide itu adalah ide yang memang ia pikirkan. Hanya saja saya tidak yakin bahwa beliau memang sedang menempatkan opsi itu pada urutan pertama. Mungkin yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kami kemudian terus kepada kesedihannya pada kenyataan banyak di antara kami yang sebenarnya tidak bekerja demi pekerjaan kami. Banyak di antara kami yang bekerja demi sesuatu yang sebenarnya telah kami hindari ketika memilih jalan ini bertahun-tahun yang lalu. Namun, sayangnya kami kembali dan terus kembali ke sana. Kami terus menerus bekerja untuk menerima, bukan untuk memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya”, saya mengulang, “tulislah buku, Pak. Sebagai pedati, Bapak”. Beliau tersenyum dan mengulang-ngulang, menggumamkan kata “pedati” tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pedati pun meninggalkan jejak, mengapa manusia tidak!”, itu yang pernah ia ajarkan kepada saya bertahun-tahun yang lalu. Kata-kata itu membekas dalam kepada saya dan terus memperbarui niat saya memilih jalur ini. Membantu saya menerabas belukar menemukan jalan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, saya mengakui bahwa salah satu alasan saya kecewa dengan kolega-kolega saya adalah karena mereka telah meninggalkan pedati mereka. Padahal banyak di antara mereka yang mengekori pedati itu sebelum mereka menemukan jalan yang lebih terang. Namun, alih-alih menjadi kusir dan meracak pedati baru mereka, pedati lama pun dibiarkan teronggok di depan pekan yang sudah lengang. Lapuk oleh hujan, lekang oleh panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sore itu berpisah, saya tahu bahwa pedati tua itu mendapatkan kusir lamanya kembali. Saya tidak yakin apakah ia akan meracaknya kembali. Yang saya tahu, ia sedang berusaha menunjukkan bahwa ia hendak mengajarkan, kembali, bagaimana  pedati itu bisa kembali meninggalkan jejaknya di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpisah sore itu, saya bertanya mengapa Allah memerintahkan manusia membaca jauh sebelum “menyampaikan satu ayat” pengetahuan kita. Membacalah, lalu ajarkanlah (misalnya, melalui tulisan) apa yang telah anda baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu juga saya ingat jawaban seorang guru saya alasan mengapa ia tidak pernah terlihat bekerja bagi perusahaan manapun. “Jika saya tidak menjaga kampus ini, apa jadinya kampus ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya melarang saya menolak pekerjaan di luar kampus nanti setelah tamat sekolah. Saya hanya berani menjawab, “Saya tidak ingin bekerja di sana karena saya ingin memilih untuk menjadi guru. Lalu mengapa saya harus meninggalkan murid-murid saya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, sejak beberapa tahun ini, saya ingin berhenti dari sekolah saya saat ini atau setidaknya nanti keluar dari pekerjaan saya setelah menyelesaikan sekolah ini. Saya berpikir bahwa lebih penting untuk meluruskan batang bambu selagi muda dibandingkan ketika ia sudah tua. Ide ini pernah saya utarakan kepada istri saya suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia diam sejenak lalu bertanya, “Mengajar di sekolah mana?”, tanyanya. “SMA atau SMP mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Saya ingin menjadi guru SD, saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SD? Lalu buat apa sekolah hingga setinggi itu, kalau hanya ingin menjadi guru SD setelahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Yang jelas, saya belum gila, kan, ‘Yang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2762959297726508462?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2762959297726508462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/kusir-dan-pedati-tak-berkusir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2762959297726508462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2762959297726508462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/kusir-dan-pedati-tak-berkusir.html' title='Kusir dan pedati tak berkusir'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4294845982263327482</id><published>2009-11-26T09:59:00.003+07:00</published><updated>2010-12-17T07:55:22.353+07:00</updated><title type='text'>Thanks Mister Postman</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;Aku tukang pos&lt;/blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;rajin sekali&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Surat kubawa naik sepeda&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;siapa saja aku layani&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;tidak kupilih&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;miskin dan kaya&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Kring … kring … pos!&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah lirik dari lagu yang, saya tidak terlalu yakin, judulnya Tukang Pos. Sudah lama sekali lagu itu singgah ke telinga saya walau hampir setiap bulan saya selalu berhubungan dengan tukang pos. Selalu ada saja kiriman yang harus saya titip ke kantor pos atau sebaliknya saya terima dari keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin yang lalu, juga demikian. Saya sedang berada di Padang untuk sebuah urusan dan seharusnya surat yang saya butuhkan sudah harus sampai hari Senin tersebut. Tapi hingga malam saya pulang ke rumah, saya tidak menemukan surat yang saya tunggu telah sampai ke rumah. Awalnya, saya masih berbaik-sangka bahwa surat itu mungkin belum sampai dan masih di perjalanan antara Sleman dan Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ibu saya yang penasaran mencoba bertanya kepada dua orang tukang yang sedang memperbaiki rumah kami setelah rusak karena gempa. Dan jawaban yang mereka berikan itu membuat saya menggerutu. Ternyata, menurut salah seorang dari mereka, siang tadi memang ada tukang pos yang datang dan menanyakan nama seseorang. Dia, saking lugunya, hanya menjawab bahwa ia tidak mengenal nama orang yang ditanyakan. Ia tidak berusaha memastikan bahwa alamat rumah kamilah yang tercantum di amplop surat tersebut. Jawabannya sebenarnya tidak seharusnya sedemikian lugu karena di amplop itu hanya ada nama saya dan adik saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan saya gelagapan. Saya butuh surat itu di Padang dan saya tidak ingin surat itu kembali lagi ke Sleman besok pagi. Saat itu masih kurang jam 7 malam dan saya tahu bahwa kantor pos masih buka hingga satu jam ke depan. Setidaknya itu yang saya tahu 10 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencari-cari nomor telpon kantor pos di buku telpon 2007, tapi tidak berhasil saya temukan. Sejak ponsel meraja, telpon rumah menjadi alternatif ke-sekian-belas. Barangkali yang menggunakannya di rumah kami tinggal Bapak. Yang lain lebih memilih ponsel. Sehingga tidak heran jika saya juga gagal menemukan nomor telpon kantor pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian meminta bantuan 108. Ada tiga nomor yang diberikan. Nomor pertama yang saya putar langsung menyahut, namun itu adalah nomor kantor wilayah. Si Bapak di seberang dengan ramah menyarankan saya menelpon kantor di jalan Bagindo Aziz Chan dan memberikan nomor telpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghubungi nomor tersebut namun berkali-kali tidak ada yang mengangkat. Dua nomor yang lain yang diberikan oleh operator 108 juga tidak ada yang menyahut. Yang saya butuhkan adalah sebuah nomor telpon bagian distribusi. Untuk menanyakan ke nomor yang pertama tadi saya sudah ragu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masih jam 7 malam, segera saya melarikan mobil ke kantor pos di jalan Bagindo Aziz Chan. Kantor itu masih buka dan terang-benderang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, bagian distribusi ada di bagian belakang kantor pos itu, masuk dari sisi sebelah utara. Namun, karena sudah gelap dan bukan jam kerja normal, saya langsung dulu ke kantor satpam. Maksud saya sebenarnya hanya agar bisa memastikan bahwa bagian distribusi ada di bagian belakang gedung. Namun, agar tidak banyak tanya dari mereka tentang maksud saya ke sana, tidak menanyakan di mana letak bagian itu, melainkan ke bagian mana saya harus mencari surat yang gagal dihantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bapak satpam itu dengan yakin mengatakan bahwa petugas bagian itu sudah pulang dan saya disarankan untuk kembali lagi besok pagi. "Jam 6", begitu perintahnya yakin. Dalam hati saya tidak percaya dengan informasi ini karena saat ini bagian penerimaan surat masih buka dan menerima surat hingga beberapa puluh menit ke depan. Pasti ada orang lain yang akan bekerja menyortir surat-surat tersebut malam ini agar bisa didistribusikan besok pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian mendesaknya dengan cara mengeluh bahwa surat yang saya tunggu itu tidak boleh kembali ke Sleman besok pagi. Ia kemudian menyarankan saya untuk menemui “penjaga” di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, benar saja seperti dugaan saya. Di bagian kantor di belakang, suasana masih sesibuk siang hari. Padahal sudah lewat jam 7.20 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ditunjukkan sebuah ruangan yang dihuni oleh tiga orang petugas. Dua orang telah separuh baya dan satu orang lain sedikit lebih muda, sedang memperbaiki pintu lemari. Kepada salah satu dari petugas yang lebih tua itu saya sampaikan masalah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambutnya putih dan sebatang rokok kretek, entah Gudang Garam Merah atau Dji Sam Soe, ia langsung menuju ke layar komputernya ketika saya menyebutkan nomor resi pengiriman dari Sleman. Ia sempat berpindah ke komputer yang lain karena tombol-tombol dari keyboard yang pertama tidak berfungsi sempurna. Ia sempat mengulang beberapa kali ketika apa yang kami cari tidak ada di komputernya. Ternyata, masalahnya sama: tombol komputer ada yang tidak berfungsi. Setelah berulang-ulang, di layar muncul dua baris data tentang surat dengan nomor resi yang saya sebutkan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana tercantum nama petugas hantar dan jam laporan ia buat tentang status surat saya. Si bapak tua tadi kemudian bertanya apakah saya sudah menerima surat panggilan dari kantor pos sambil berlalu ke lemari si petugas hantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, jadi, surat saya tidak akan langsung kembali ke Sleman besok pagi. Saya belum menerima surat panggilan dari kantor pos karena surat saya baru dihantar tadi pagi. Akhirnya ia meminta saya menunjukkan KTP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sempat ragu karena nama di KTP tidak sama dengan nama di amplop. Di amplop hanya tercantum nama panggilan saya. Untungnya, alamat persis sama. Setelah membubuhi tanda tangan, surat itu beralih ke tangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang saya terus bersyukur surat itu bisa sampai ke tangan saya malam itu dan saya terus bersyukur ada orang dengan pengabdian demikian yang bekerja untuk kepentingan orang lain. Orang-orang tersebut bekerja hingga larut malam untuk memastikan orang yang kita kasihi, atasan, bawahan, sahabat, keluarga, atau siapapun dia akan menerima kabar dari kita sesegera mungkin. Orang-orang tersebut mungkin tidak pernah kita hiraukan ketika mereka lewat di depan rumah atau ketika berpapasan di jalan. Mereka mungkin tidak pernah kita bukakan pintu ketika mereka mengetok pintu depan kita karena yang mereka bawa hanya selembar kertas tagihan telpon atau listrik yang telah kita lunasi lewat telpon atau transfer otomatis lewat bank. Mereka adalah orang-orang yang kita ingin agar secara tepat waktu dan tanpa cacat menyampaikan kiriman kita melintasi laut, hutan, gunung di tengah hujan dan panas terik, padahal kita hanya membayar seribu-dua-ribu rupiah untuk perjalanan sejauh itu. Mereka adalah orang-orang yang mendaki bukit, menuruni lurah, dan bahkan menyeberangi sungai agar setangkup doa bisa kita mohon dari si penerima surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih, pak pos. Sepedamu mungkin sudah sangat tua, tapi deringnya masih akan kami tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, November 2009&lt;br /&gt;P.S. Jangan pernah bertanya kepada satpam. Cukup buat mereka yakin bahwa anda memang butuh izinnya untuk masuk ke dalam sebuah gedung. &amp;nbsp;Tugas mereka memang untuk membatasi akses orang luar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4294845982263327482?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4294845982263327482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/thanks-mister-postman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4294845982263327482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4294845982263327482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/thanks-mister-postman.html' title='Thanks Mister Postman'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-7127197910142975224</id><published>2009-11-11T10:09:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T07:56:04.018+07:00</updated><title type='text'>Renungan bagi ahli gempa--terutama dari LIPI</title><content type='html'>Saya baru saja kembali ke Padang akhir pekan yang lalu. Dengan mata-kepala sendiri kali ini saya melihat betapa gempa akhir bulan lalu telah menghancurkan kota kami. Kehancuran bisa saya lihat mulai dari Simpang Haru hingga ke Tabing. Namun, yang paling menyedihkan adalah apa yang saya lihat di daerah Pondok, daerah yang dihuni secara mayoritas oleh suku Cina. Kampung yang sebagian dihuni oleh bangunan-bangunan tua itu telah hilang. Tidak hanya bangunan tua, bangunan yang lebih baru juga banyak yang telah rata dengan tanah. Seingat saya, mereka yang tinggal di daerah tersebut adalah pebisnis yang tangguh yang memasok berbagai barang kebutuhan di Padang dan kota-kota di sekitarnya. Jika demikian, maka banyak pasokan kebutuhan yang rusak. Mulai dari peniti hingga komputer, mulai dari tusuk gigi hingga traktor. Hampir semua yang dibutuhkan oleh warga Padang ada di sana, atau setidaknya dipasok oleh warga Pondok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum saya melihat bahwa warga kota sudah kembali bangkit. Masih ada kesedihan memang, &lt;br /&gt;terutama mereka yang ditimpa bencana. Siapa yang tidak akan sedih melihat apa yang dibangun selama puluhan tahun, apa yang telah diasuh belasan tahun, dan apa yang dicintai hingga ke sumsum tulang telah hilang. Namun, saya tetap salut dengan semangat penduduk Padang. Seorang sahabat saya masih menunggui anaknya di rumah sakit sejak kejadian tersebut menjadi salah satu ikon ketegaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Hanya saja, ada yang harus saya sampaikan juga di sini. Di balik semua ketegaran itu, kami semua masih memiliki tanda tanya tentang masa depan kota ini. Berkali-kali sejak gempa melanda Aceh warga selalu khawatir dengan ramalan akan terjadinya gempa berskala 9 dan tsunami belasan meter yang akan melanda kota Padang. Gempa yang akan terjadi itu adalah siklus 200 tahunan dan gempa terakhir adalah di tahun 1833 dan juga disusul dengan tsunami. Tinggal hitung sendiri kapan jatuhnya 200 tahun setelah tahn 1833.&lt;br /&gt;Pantaskah warga khawatir? &lt;br /&gt;Tentu saja. Apa yang terjadi di Aceh menciptakan teror bagi masyarakat. Sejak gempa yang juga mengguncang Padang di bulan April 2005, kota Padang selalu akan kosong di akhir tahun. Mereka menyederhanakan siklus kegempaan menjadi tahunan, yaitu setiap bulan Desember. Maka jangan heran jika pada akhir bulan Desember setiap tahun sebelum tahun ini, kota bagian pantai akan cenderung kosong ditinggal mengungsi ke daerah yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mereka khawatir? &lt;br /&gt;Ada tiga sumber yang harus bertanggungjawab terhadap kekhawatiran tersebut. Pertama adalah dukun-dukun yang sering muncul di televisi tersebut yang membuat ramalan tentang gempa di Padang. Mama Lorent pernah meminta maaf kepada walikota Padang atas ramalannya yang membuat warga kota panik. Kedua adalah para peneliti yang tidak memiliki &lt;strong&gt;&lt;em&gt;etika&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;—saya garis bawahi dan miringkan kata "etika"—dalam mempublikasi hasil penelitian mereka. Mereka datang kepada sumber kepanikan yang ketiga yaitu media dengan memberikan hasil penelitian mereka secara telanjang. Media massa, karena kekurangan sumber daya mereka dalam menginterpretasi hasil penelitian ilmiah, menyebarkan temuan itu apa adanya, bulat-bulat. Bagian masyarakat yang tidak mempercayai dukun seperti Mama Lorent, namun mempercayai bukti ilmiah, menjadi panik dengan berita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah gempa September lalu, tanpa peduli dengan dampak kehancuran yang demikian besar, baik terhadap fisik maupun mental warga kota, mereka, para peneliti itu, masih dengan gegap gempita menyatakan bahwa gempa 7,6 itu bukanlah gempa yang mereka tunggu-tunggu terjadi di Padang. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“…gempa tidak terjadi di segmen yang diramalkan…”; “..karena bukan di segmen Mentawai, gempa ini justru mempercepat dorongan terhadap segmen Mentawai…”; “…bukan gempa yang terakhir…”; dll&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari semua berita meneror itu, hanya ada satu atau dua berita yang sedikit menenangkan. Pertama seseorang menyatakan bahwa ia berharap bahwa gempa September itu adalah gempa besar yang ditunggu-tunggu. Menurutnya—saya lupa namanya, periksa saja di www.kompas.com--karena kompleksitas pergerakan lempeng bumi, maka ia berharap tidak akan ada lagi gempa berskala 9 itu. Pendapat yang kedua menyatakan bahwa terlalu naif untuk menyimpulkan sebuah tren hanya dengan data yang sangat pendek itu. Saya setuju dengan pendapat ini. Bagaimana bisa meramalkan bahwa gempa akan berulang setiap 200 tahun jika satu-satunya data yang ada hanyalah data pola siklus kegempaan di wilayah-wilayah lain, dengan pola pergerakan lempeng yang tidak homogen, lalu menyatakan bahwa di setiap wilayah akan terjadi juga siklus 200 tahunan? &lt;br /&gt;Contoh gampang, bagaimana menyimpulkan bahwa seseorang akan kembali ke sebuah tempat X jika satu-satunya data tentang kunjungannya adalah kunjungannya kemarin. Apakah ia akan kembali ke tempat itu? Mungkin saja. Kapan? Bisa besok, bisa pekan depan, bisa bulan depan, bisa tahun depan, bisa abad depan! Apakah mungkin ia tidak akan datang lagi? Bisa juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya sangat menghargai apa yang dilakukan oleh para ahli gempa tersebut. Peta patahan sangat penting untuk mengantisipasi korban gempa di masa depan. Namun, mereka tidak seharusnya membuat “&lt;strong&gt;gempa&lt;/strong&gt;” yang lain di wilayah di sekitar area penelitian mereka. Pertama, jika hendak menyebarkan hasil penelitian, hendaklah memperhatikan dampak dari penyebaran jika penerima berita tidak memahami bagaimana sebuah riset ilmiah dilakukan dan harus dipahami. Contohnya, peneliti harus menjelaskan bahwa riset mereka didasarkan, misalnya, atas dasar sebuah model berdasarkan pertumbuhan terumbu karang di pantai. Para peneliti harus dengan tegas menerangkan bahwa model yang mereka buat bukan sebuah model yang tidak memiliki kelemahan. Mereka harus menjelaskan bahwa derajat keyakinan mereka adalah, misalnya, 90%, 95%, 99%, atau 50%, bukan 100%! Jangan dengan sombong menyebar berita bahwa seakan-akan model tersebut punya derajat keyakinan 100%, dengan nol persen kekeliruan. Mengapa? Karena media akan dengan senang hati melahap setiap kabar buruk dan masyarakat akan dengan segera menyantap berita apapun yang disuapkan kepada mereka. Mohon maaf kepada media, para pewarta itu sangat tidak paham dengan tingkat alpha 1%, 5%, 10% ataupun 50%. Bagi mereka, semuanya hanya ada atau tidak. Dan itu juga yang akan dipahami oleh orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak percaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinihari sebelum sampai di Padang, kendaraan yang saya tumpangi menurunkan seorang penumpang pedagang Padang yang berkeliling mencari lokasi baru bagi tokonya di wilayah lain di Sumatera. Ia pagi itu memutuskan untuk turun di Muaro Bungo. “Pindah habis”, demikian penjelasannya tentang apa yang akan ia lakukan dengan bisnisnya di kota Padang. Ia kehilangan dua tokonya dan ia tidak berani lagi berinvestasi di kota yang diberitakan sedang menunggu gempa 9 skala Richter. Jika ada satu orang yang berpikir demikian, maka ada kemungkinan beberapa orang lain yang berpikiran serupa.&lt;br /&gt;Beberapa hari di Padang saya menemukan bukti dugaan saya. Saya pulang hanya dengan persiapan seadanya. Beberapa kebutuhan saya rencanakan akan saya beli di Padang. Namun, kenyataannya saya sangat kesulitan untuk mencari pakaian dalam bagi saya--sesuatu yang dengan gampang bisa saya lakukan dulu. Dari pedagang saya dengar bahwa sejak daerah Pondok hancur, banyak pebisnis di sana yang memindahkan usaha mereka keluar Padang. Mereka khawatir dengan masa depan bisnis mereka. Selain itu, sukar mencari pemasok dari pabrik dan pedagang besar di luar Padang yang mau memberi kredit kepada pedagang di Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Apakah mereka tidak percaya lagi dengan rekan bisnis mereka di Padang? Apa mereka tidak percaya dengan kemampuan orang Padang—Minang maupun Cina—untuk dengan ulet akan bangkit membangun dirinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu, sama-sekali tidak. Jawabannya hanya satu: mereka tidak mau membenamkan uang mereka di kota yang akan kembali hancur lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pertokoan memang hancur atau rusak sehingga ditutup oleh pengelolanya untuk sementara. Namun, ada bahaya lain yang mengancam. Mereka bisa saja akan tutup selama-lamanya karena kekhawatiran mereka dan pemasok atau investor mereka dengan gempa yang akan datang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya sedih dengan ketidakpedulian intelektual para pemilik informasi. Para sarjana di LIPI harus merubah cara mereka menyampaikan hasil penelitian mereka kepada masyarakat. Saya mengamati bahwa kebanyakan dari hasil penelitian tentang potensi gempa di Padang berasal dari sana, termasuk “&lt;strong&gt;bantahan&lt;/strong&gt;” bahwa gempa September 2009 adalah gempa yang mereka ramal akan terjadi. Secara telanjang informasi mereka dilahap oleh media dan menciptakan teror di masyarakat Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak percaya, datanglah anda ke Padang dan hiduplah sebagai warganya. Bawalah barang kebutuhan anda hanya untuk tiga atau empat hari tapi tinggallah lebih lama. Carilah kebutuhan anda setelah hari kelima di Padang. Lihatlah perubahan suplai di Padang saat ini dan bandingkan dengan apa yang ada dulu sebelum ada gempa. Tanyalah prospek suplai mereka di masa depan. Nanti anda akan tahu mengapa sulit mencari kebutuhan di Padang. Bukan karena pedagang kehilangan semangat untuk berdagang, bukan karena masyarakat takut untuk keluar rumah. Yang mereka khawatirkan adalah ketidakpastian tentang gempa yang dibuat seakan-akan merupakan kepastian oleh para peneliti gempa melalui media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah anda meneliti, karena temuan anda akan bisa menyelamatkan banyak orang. Namun, didiklah para pembaca informasi dari anda tentang bagaimana menginterpretasi temuan ilmiah anda. Akuilah terlebih dahulu bahwa model anda (tetap) memiliki kekeliruan dan jelaskanlah bahwa ada alat ukur lain yang bisa saja lebih akurat daripada model anda dan alasan anda tidak menggunakan alat ukur lain tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas semua itu, kami semua ingin bangkit di tanah yang menumbuhkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padang, November 2009&lt;br /&gt;Lihat tautan-tautan berikut ini untuk hasil penelitian yang saya maksud di atas:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/02/05371456/Gempa.Sumatera.Masih.Menyisakan.Misteri"&gt;Gempa Sumatera Masih Menyisakan Misteri&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/01/07190851/Tiba.Sudah.Giliran.Padang..."&gt;Tiba Sudah Giliran Padang...&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-7127197910142975224?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/7127197910142975224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/renungan-bagi-ahli-gempa-terutama-dari.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7127197910142975224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/7127197910142975224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/renungan-bagi-ahli-gempa-terutama-dari.html' title='Renungan bagi ahli gempa--terutama dari LIPI'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-928704489220703518</id><published>2009-11-02T07:39:00.003+07:00</published><updated>2010-12-17T07:56:42.117+07:00</updated><title type='text'>Cris de coeur</title><content type='html'>Pagi ini, Senin pukul 07.37 WIB Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto telah mencapai 299.167 orang dan terus bertambah tiap detik. Ketika saya mengetikkan kalimat pertama itu angkanya menjadi 299.366. Jadi, kurang dari satu menit bisa bertambah 200 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa begini? Apakah karena masyarakat begitu yakin bahwa keduanya tidak bersalah ataukah karena masyarakat begitu yakin bahwa polisi (dan termasuk juga orang-orang yang mengendalikan polisi) keliru, zalim, dan lalim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam peribahasa Minangkabau dikatakan bahwa &lt;em&gt;raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah&lt;/em&gt;. Hari ini kabarnya akan ada demo di Monas untuk mendukung Chandra dan Bibit. Namun sebenarnya bukan hanya mereka yang didukung oleh masyarakat. Chandra dan Bibit hanya ikon dari perlawanan masyarakat terhadap kelaliman pemerintah saat ini. Bentuk kelaliman ini mungkin bukan barang baru dan tidak hanya ada di Indonesia. Pemerintah dahulu sangat mungkin juga telah mendapatkan dana dari industri (termasuk dana masyarakat yang dititip ke bank) dan menggunakan dana itu untuk kepentingan pelanggengan kekuasaan. Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara lain juga ada pemerintahan yang disokong oleh industri. Mereka menjadi pendana kampanye, memiliki akses lobi yang luas ke pemerintah, DPR-nya, mengatur kebijakan dari balik layar, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Jika hari ini ada demo, maka yang akan disanggah masyarakat adalah kelaliman pemerintah dalam hal perilaku korup diri pemerintah tersebut. Masyarakat sebenarnya sangat curiga bahwa sebenarnya polisi hanya bidak yang sedang dimainkan oleh aktor yang lebih besar. Aktor yang saat ini bersembunyi dan tidak berani menunjukkan dukungannya kepada kebenaran, namun tidak berani juga untuk terang-terangan menentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu akan seberapa besar demo hari ini akan berjalan. Seorang teman gundah kalau-kalau ini akan menjadi sebesar 1998 lagi. Namun menurut saya belum akan segitu. Pertama, walaupun masyarakat tahu siapa kemungkinan besar dalang di belakang kasus ini, siapa yang sekarang khawatir dengan keterbongkaran alasan penjebakan-penjebakan terhadap petinggi KPK, namun masyarakat belum memiliki bukti yang benar-benar kuat. Berbeda dengan 1998 ketika masyarakat sudah dengan terang melihat sepak terjang Suharto, kali ini masyarakat masih menduga-duga walau, sekali lagi, mereka sudah mulai tahu siapa di balik semua ini. Kedua, banyak politisi yang masih ragu-ragu di tengah arus ini. Mereka mungkin masih ragu, atau juga karena kaki dan tangan mereka telah dikunci oleh dalang besar ini karena masalah mereka sendiri di masa lalu. Seperti yang saya duga, politisi manapun akan sangat mungkin telah disokong oleh industri tertentu di masa lalu, dan si dalang mengetahui kelemahan-kelemahan tersebut. Keempat, kekuatan asing di luar masih menyukai pemerintahan yang santun kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya sekarang memang ada di dalam rekaman dan bukti-bukti yang telah dikumpulkan oleh KPK terhadap kasus Bank Century tersebut. KPK pasti punya bukti yang jauh lebih banyak daripada transkrip beberapa lembar itu. KPK pasti punya bukti yang jauh lebih luas daripada hanya nama-nama "kecil" di Kejaksaan dan di Kepolisian. Mereka berdua ini tidak akan sedemikian garang kalau jika tidak ada yang memerintahkan mereka untuk menggeram, mencakar, dan mencabik-cabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat film All the President's Men (1976). Si agen FBI yang menjadi pembisik, Deep Throat, kepada dua wartawan Bob Woodward dan Carl Bernstein, memberikan petunjuk yang mengarahkan keduanya kepada orang tertinggi: "&lt;em&gt;follow the money".&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Semalam saya ingat mengapa kata-kata itu berarti sehingga membuat presiden AS harus mundur. Dosen saya satu hari di sebuah seminar mengatakan bahwa air dan uang memiliki arah yang sangat berlawanan. "Air", katanya, "akan mencari tempat yang paling rendah. Selama masih ada tempat yang lebih rendah, maka ia akan terus ke sana. Sebaliknya, uang akan mencari tempat yang lebih tinggi. Ia akan terus mendaki hingga tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala itu ia hanya mencontohkan filosofi berinvestasi yang selalu harus mencari return tertinggi. Namun, mungkin saja filosofi itu dan petunjuk "follow the money" ini akan menuntun kita kepada raja lalim mana uang itu akan bermuara. Sekali lagi, uang bukan air yang mencari tempat yang rendah, ia akan mencari tempat yang tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2 November 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-928704489220703518?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/928704489220703518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/cris-de-coeur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/928704489220703518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/928704489220703518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/cris-de-coeur.html' title='Cris de coeur'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4057706560630328508</id><published>2009-10-30T19:28:00.004+07:00</published><updated>2010-12-17T07:57:03.937+07:00</updated><title type='text'>Cicak vs. buaya II: Resep panjang usia KPK</title><content type='html'>Saya punya resep agar usia KPK bisa sampai seribu atau sejuta tahun lagi tanpa harus ada perang tanding dengan buaya, komodo, biawak, serigala, atau bahkan ular.&lt;br /&gt;1. Mulai sekarang hanya usut pejabat setingkat camat ke bawah.&lt;br /&gt;2. Jangan pernah usut anggota DPR, cukup anggota DPRD saja, kalau bisa hanya anggota lembaga permusyawaratan desa.&lt;br /&gt;3. Jangan pernah usut mertua saya, besan saya, atau orang tua saya apalagi kalau saya adalah petahana.&lt;br /&gt;4. Hanya tangkap penyuap dengan nilai maksimal suap Rp.5 juta, jangan pernah yang Rp.5 milyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;5. Pokoknya pura-pura saja mengejar koruptor besar lalu biarkan mereka lari--karena dengan cara begitu maka buaya dan komodo tetap panjang usia.&lt;br /&gt;6. Jangan jadi cicak yang hanya makan nyamuk (musuh manusia), tirulah buaya dan kawan-kawan yang suka bangkai atau bahkan manusia sekalian. &lt;br /&gt;7. Apalagi...? (&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;tunggu saya lihat berita dulu...&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4057706560630328508?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4057706560630328508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/10/cicak-vs-buaya-ii-resep-panjang-usia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4057706560630328508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4057706560630328508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/10/cicak-vs-buaya-ii-resep-panjang-usia.html' title='Cicak vs. buaya II: Resep panjang usia KPK'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4805268786980472303</id><published>2009-10-11T09:15:00.005+07:00</published><updated>2011-10-03T20:45:47.455+07:00</updated><title type='text'>Kembali ke Jogja</title><content type='html'>Sabtu sore kemaren saya telah sampai kembali di Jogja. Ketika memasuki rumah, saya lihat debu sudah demikian tebal menempel di lantai. Bahkan setelah saya sapu pun, saya masih bisa melihat jejak telapak kaki saya di lantai yang baru saja saya sapu. Besok, janji saya, akan saya pel seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Jogja kali ini jauh lebih berat daripada sebelum-sebelumnya. Berat karena ada saat ini hati saya tidak sepenuhnya berada di Jogja. Di Timur ada anak saya yang berusaha memahami mengapa bapaknya selalu datang dan pergi. Bagaimana tidak berat meninggalkannya kembali jika saat pertama pulang kemaren, ia langsung minta digendong. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, ketika ia butuh satu-dua hari sebelum mau saya gendong. Dalam satu bulan saya bersamanya, ia menjadi makin akrab dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, suatu malam, ketika saya sedang membersihkan tahinya--ketika ia kena diare--ia memanggil saya: "bapak...". Mata dan bibirnya tersenyum, seakan keduanya berbicara bahwa ia meminta maaf telah sakit dan menebar kotoran tanpa bisa ia kendalikan dan bahwa bahwa ia senang saya ada malam itu untuk membersihkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya makin jatuh cinta kepadanya sejak saat itu--seperti sejak hari pertama ia menyimak azan saya di telinganya. Bahkan, apapun yang ditanyakan kepadanya, "Siapa yang naik bum", "Siapa yang punya buku?", "Siapa yang belikan baju?", ia akan menjawab "bapak" dan tidak membaginya lagi menjadi "bhubuk" dan "bapak". Setiap malam ia memilih tidur menghadap saya dengan satu tangan memeluk tangan saya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bagaimana tidak berat untuk meninggalkannya lagi? Bahkan, kemaren siang, ketika saya dalam perjalanan menuju Jogja, ia baru berhenti menangis dan tidur setelah kain sarung yang saya pakai diciumkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Barat ada keluarga saya yang sedang diuji masalah. Gempa telah membuat keluarga kami harus meninggalkan rumah kami sementara waktu. Walau saat ini mereka hanya berada di rumah dinas saya di malam hari dan kembali ke rumah kami di siang hari, namun tetap saja kondisi belum normal. Tidak hanya saya gelisah terhadap nasib mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gelisah karena Padang bagi saya adalah segalanya. Di sana saya dibesarkan, di sana saya dididik lahir-batin, di sana saya belajar tentang semua hal. Namun sekarang, kota itu porak-poranda. Lahir dan batin porak-poranda. Sebagai anak dagang di negeri orang, ada keinginan besar bagi saya untuk kembali ke sana, membangun kembali kota tersebut. Tidak peduli apakah ia telah tertinggal duapuluh, tigapuluh, atau seratus tahun sekalipun karena kehancuran ini. Di hari saya menyaksikan kehancuran itu, saya hanya bisa berbisik kepada anak saya, "Nak, kamu nanti kembali ke sana, bangun kembali kota itu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, saya punya beban untuk secepatnya menyelesaikan tugas saya. Akhir bulan ini adalah saat penentuan kelanjutan studi ini dengan harus melewati ujian besar ini. Terus-terang saya tidak bisa berharap banyak kecuali berserah kepada Allah. Ujian di depan terlalu berat untuk bisa saya tanggung sendiri. Kelulusan di ujian ini sangat krusial. Jika saya lulus, berarti perjuangan dua tahun telah bisa saya menangi; jika saya lulus, maka saya memasuki lahan perjuangan kedua; jika lulus, maka saya akan punya waktu yang lebih banyak lagi menjadi bapak, suami, dan pemimpin keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat sekali dan saya hanya bisa berharap langit dan bumi mendukung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4805268786980472303?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4805268786980472303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/10/kembali-ke-jogja.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4805268786980472303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4805268786980472303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/10/kembali-ke-jogja.html' title='Kembali ke Jogja'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-505319201304282501</id><published>2009-10-01T14:39:00.008+07:00</published><updated>2010-12-17T07:58:26.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gempa Padang'/><title type='text'>Bundo Kanduang menangis</title><content type='html'>Gempa 30 September 2009 kemarin sebenarnya hanya sedikit lebih kuat dari gempa-gempa yang terjadi sebelumnya sejak gempa besar di Aceh 2004. April 2005, misalnya, kekuatannya 7,4 skala Richter dan terjadi di seberang kota Padang. Namun, masalahnya, gempa ini langsung di halaman depan kota Padang, hanya beberapa belas kilometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore, jam 19.51 WITA saya mendapat pesan singkat dari ibu saya: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"gempa besar sekali"&lt;/span&gt;. Satu menit kemudian saya sudah tidak bisa menghubunginya. Sebenarnya seperti biasa, kalau ada gempa besar, skala 7, telekomunikasi pasti putus. Saya dan ibu memakai Telkomsel. Dari pengalaman-pengalaman yang lalu, selalu ada penyedia jasa lain yang menyala. Masalahnya, saya tidak memiliki banyak teman di Padang yang menggunakan jasa yang lain dan kalaupun ada, saya tidak menyimpannya di dalam ponsel sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik saya memberitahu bahwa pusat gempa ada 57 km di perairan di barat daya Pariaman. Nah, kan, berarti &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;ada di depan kota Padang persis. Tapi, hingga itu saya masih belum terlalu khawatir karena gempa dengan skala tersebut telah berulang-kali terjadi dan, alhamdulillah, tidak menyebabkan kerusakan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, keyakinan saya goyah ketika dua teman dengan nomor XL memberitahu bahwa ia mengalami gempa yang lebih kuat daripada yang terakhir sebelum Ramadhan kemaren. Teman yang lain bahkan mengabarkan bahwa beberapa jembatan putus dan jalan teriris-iris. Makanya isi sms itu: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"gempa besar sekali"&lt;/span&gt; padahal biasanya hanya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"padang gempa"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh....Allah...kali ini saya pantas khawatir. Ketika ibu mengirimkan sms kepada saya, saya hanya bisa pastikan bahwa saat itu ia kemungkinan telah berada di kendaraan. Namun, siapa saja bersamanya? Siapa yang menyetir mobil? Jika bukan bapak, bapak di mana? Pada waktu di sekitar sms diterima itu kemungkinan besar bapak sudah di tempat praktiknya. Dan jika jembatan Air Tawar putus, maka terpisahlah bapak dan ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan adik di Kediri baru bisa memastikan status satu-persatu keluarga kami menjelang tengah malam. Bapak dan ibu bersama, kemenakan dan kakak saya ada bersama mereka dan ada di rumah kemenakan bapak. Adik perempuan saya telah lebih dahulu memberitahu keberadaannya di klinik temannya. Ibu yang saya hubungi kemudian memberitahu bahwa rumah kami mengalami kerusakan. Tidak tahu seberapa parah, namun ada beberapa pintu yang tidak bisa lagi ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi hari saya masih bisa menghubungi mereka dan memberitahukan bahwa adik saya minta dijemput. Hingga siang, sepertinya usaha itu belum berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya tidak bisa menghubungi mereka lagi. Saya sama-sekali terputus komunikasi dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari FB, akhirnya saya banyak mendapat informasi tentang apa yang terjadi di Padang. Beberapa teman juga gelisah menunggu kabar keluarga mereka sepanjang malam. Satu persatu kemudian masuk berita bahwa keluarga mereka selamat dan sebagian dari mereka kehilangan rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Video dan gambar yang masuk kemudian membuat saya merinding. Kota kami telah luluh-lantak. Benar-benar luluh-lantak! Semalam saya mendengar bahwa rumah teman saya di daerah Simpang Enam roboh. Siang ini saya melihat video bahwa kerusakan di daerah Pondok, Nipah, dan sekitarnya benar-benar luar biasa. Tigapuluh tahun lebih saya tinggal di kota yang selalu digoyang gempa, baru kali ini saya sadar bahwa kekuatannya akan bisa sedemikian hebat. Saya telah pernah ke Aceh setelah gempa 2004, namun yang saya lihat adalah sisa-sisanya. Saya melihat sisa kota Calang hingga Banda Aceh. Itupun masih menyisakan kengerian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Bundo Kanduang sendiri yang merintih kesakitan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada jauh dari rumah, saya merasakan bagaimana "anak-anak ayam" Bundo ingin kembali pulang, mengobati Bundo, membantu Bundo membangun kembali kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bundo Kanduang menangis, airmatanya berlinang memandang ke arah jalan, kalau-kalau si anak pulang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Lombok, Oktober 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-505319201304282501?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/505319201304282501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/10/bundo-kanduang-menangis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/505319201304282501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/505319201304282501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/10/bundo-kanduang-menangis.html' title='Bundo Kanduang menangis'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-1942031141621777190</id><published>2009-09-25T20:37:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T07:58:43.822+07:00</updated><title type='text'>Membesarkan anak = berkebun di pinggir jalan raya</title><content type='html'>Ibarat berkebun di pinggir jalan raya, demikianlah pengandaian yang tepat tentang membesarkan seorang anak. Pohon, baik yang ditanam karena bunganya maupun karena buahnya, adalah kewajiban kita untuk memeliharanya—karena kita ingin mendapatkan manfaat dari pertumbuhannya. Namun, jika kita menanamnya di pinggir sepenggal jalan yang dilalui oleh orang banyak, maka ia tidak hanya membutuhkan kita untuk bisa tumbuh. Ia sekarang membutuhkan setiap orang yang lewat di dekatnya agar ia bisa memberi bunga yang indah atau memberi buah yang ranum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebatang pohon yang anda tanam di pinggir jalan, anda hanya seorang penanam dan salah satu dari pemelihara dirinya. Siapapun yang melewatinya kemudian adalah pemeliharanya. Seseorang yang lewat begitu saja tanpa memandang tanaman itu sama-sekali adalah perawat tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan seseorang yang berhenti mengagumi namun memetik selembar daun dari pohon tersebut. Orang lain yang kemudian datang dan memetik bunga atau memetik putik buah adalah pemelihara yang lebih buruk—atau bahkan paling buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga memelihara seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Siapa yang tidak tertarik dengan seorang bayi montok, yang tersenyum ketika kita mengubah-ubah mimik wajah kita? Siapa yang tidak tergoda untuk kemudian mencium, mencubit, atau bahkan menggendongnya? Namun, itu adalah perilaku yang lebih buruk terhadap bayi dibandingkan dengan hanya memandangnya dari kejauhan atau bahkan mengabaikannya, membiarkan ia tumbuh. Mengapa? Karena bayi adalah sebuah tanaman yang sebenarnya akan tumbuh lebih baik jika kita tidak berpikir bahwa ia akan lebih baik jika kita mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat tanaman yang baru tumbuh, bayi juga sangat mudah layu, sangat mudah terserang hama. Daunnya akan mudah gugur dan tidak hanya satu, tidak harus berangsur-angsur. Jika itu yang terjadi, bagaimana ia akan berfotosintesis? Jika itu bayi, bagaimana ia akan bisa tumbuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika istri saya hamil, saya langsung berpesan kepadanya, dan pesan ini terus-menerus saya ulang kepadanya hingga bayi kami lahir, agar tidak ada seorangpun yang boleh mendekatkan alat-alat pernapasannya dengan alat pernapasan bayi kami. Alat pernapasan manusia dewasa tidak mungkin steril, namun ia memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan dengan bayi. Jadi, ketika seorang manusia dewasa bisa bertahan dengan batuknya dalam beberapa hari, bayi tidak akan bisa bertahan baik dalam satu malam. Seorang manusia dewasa akan bisa mengganti tidurnya yang terganggu karena batuk semalaman, namun seorang bayi tidak bisa karena ia membutuhkan tidur dua kali lebih banyak daripada manusia dewasa. Jika demikian, kapan ia akan menggantinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan saya kepada istri saya sangat beralasan. Saya memiliki riwayat kesehatan pernapasan yang tidak terlalu baik. Dan saya takut, saya akan menurunkan sebagian dari kelemahan itu ke diri anak saya. Hal ini terjadi karena saya mengalami sendiri masa-masa “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menjadi-sebatang- pohon-di-pinggir-jalan-yang-selalu-diganggu-oleh-orang-yang-lewat&lt;/span&gt;” tersebut.&lt;br /&gt;Namun, sebenarnya, bukan hanya orang lewat yang menjadi pengganggu bagi tanaman yang kita tanam. Kita sendiri adalah pengganggu potensial nomor satu. Saya contohnya. Setelah berpekan-pekan tidak bertemu dengan anak saya, maka keinginan untuk selalu ada di dekatnya justru bisa membuat kesehatannya terganggu. Terakhir kali saya menularkan pilek kepadanya hanya karena saya tidak mau mengalah tidur di kamar terpisah darinya. Terang saja kemudian ia demam dan kehilangan nafsu makan. Makanya, ketika pilek itu berlanjut dengan batuk, dua malam saya mengalah tidur di kamar lain hanya agar ia bisa memulihkan satu penyakitnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sekali lagi, membesarkan anak adalah ibarat berkebun di pinggir jalan raya. Walaupun saya telah memeliharanya, selalu saja ada orang lain yang akan lewat dan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menyempatkan&lt;/span&gt;” diri untuk menjadi “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pemelihara&lt;/span&gt;” lain. Namun, saya tidak pula bisa menyalahkan mereka jika mereka menjadi gemas dengan bayi yang bisa berkata “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;daddah&lt;/span&gt;” dan melambai kepada orang yang lewat di depannya, yang langsung membuka tangan untuk bersalaman dengan orang yang mengucapkan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;assalamu’alaikum&lt;/span&gt;” kepadanya, atau yang akan menjawab “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ada&lt;/span&gt;” atau “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak ada&lt;/span&gt;” ketika keberadaan seseorang ditanyakan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, saya tetap ingin agar pohon saya tetap bisa tumbuh kuat agar ia bisa menghasilkan buah yang ranum dan bunga yang wangi dan setiap orang yang lewat bisa menjadi pemelihara yang baik dengan cara yang paling mudah: membiarkan ia tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Lombok, September 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-1942031141621777190?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/1942031141621777190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/09/membesarkan-anak-berkebun-di-pinggir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1942031141621777190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1942031141621777190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/09/membesarkan-anak-berkebun-di-pinggir.html' title='Membesarkan anak = berkebun di pinggir jalan raya'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-1402829965968523256</id><published>2009-08-17T10:36:00.004+07:00</published><updated>2010-12-17T07:59:03.485+07:00</updated><title type='text'>Publish or perish!</title><content type='html'>&lt;i&gt;Publish or perish&lt;/i&gt;, frasa itu suatu hari saya temukan di sebuah artikel. Penulis di artikel tersebut mengutipnya untuk menunjukkan bahwa setiap ide, atau lebih tepatnya tulisan, punya dua pilihan: terbit atau menguap, mati sia-sia. Saya tidak percaya, pada awalnya, bahwa ada orang yang tidak ingin idenya diketahui oleh orang lain. Selalu ada cara untuk membuat satu ide sampai kepada orang lain. Mulai dari pembicaraan sambil lalu di jalan, di dalam rapat, di kelas, di ruang sidang, atau konferensi. Namun, ide tersebut tidak akan lama hidup, kecuali jika ia terbit dalam bentuk sebuah tulisan. Jika tidak maka ia akan binasa begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berpikir dengan gaya berpikir lama, maka sebuah tulisan dianggap terbit ketika tulisan tersebut muncul di dalam buku, koran, jurnal, atau majalah. Jika tidak demikian, maka tidak bisa dikatakan telah diterbitkan. Namun, itu kalau kita berpikir dengan gaya berpikir a la 70-an-80-an, atau abad yang lalu. Di zaman itu, ISBN atau ISSN adalah kata kuncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sekali lagi itu abad yang lalu. Internet, yang mulai marak di pertengahan 1990-an sebenarnya telah &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;membuka peluang agar setiap ide bisa menyebar-luas. Namun, baru pada awal abad ini internet benar-benar membuka peluang sebesar-besarnya kepada setiap orang agar bisa didengar. Pada masa-masa awal, memiliki sebuah situs adalah kemewahan, apalagi jika ingin menulis di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang? Beda. Web log atau kemudian disingkat lagi menjadi blog menjadi alternatif sakti yang memungkinkan setiap orang menulis di dunia maya dan menyebarkannya ke seluruh dunia. (Kata ini sendiri, blog, belum akan ditemukan di dalam kamus bahasa Inggris terbitan 2002 atau 2005 ke bawah, apalagi terbitan abad lalu. ) Blogger, sebutan bagi seseorang yang memiliki blog sendiri dan dengan aktif menulis di sana, adalah sebuah komunitas sendiri. Mereka menulis dan bercerita tentang apa saja yang mereka mau. Mulai hanya dari cerita harian, hingga opini politik. Apa saja. Publish or perish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng empat tahun terakhir saya telah memiliki sebuah blog. Sekarang telah menjadi enam (yang ketujuh sebenarnya ada, namun lebih senang saya sembunyikan karena tidak terlalu aktif). Setiap bulan saya perhatikan berapa kunjungan yang dilakukan ke sana. Tidak terlalu banyak, rata-rata 17 orang per hari. Dibagi 6 blog, berarti rata-rata satu blog dikunjungi sebanyak 3 orang per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menghitung pengunjung, saya juga memperhatikan, walau tidak setiap hari, apa yang dikunjungi oleh orang-orang tersebut di blog saya. Dan, saya lumayan senang juga kaget bahwa mereka yang datang berkunjung biasanya mencari tulisan-tulisan saya yang, ehem..., sedikit serius. Misalnya, blog saya yang mengenai akuntansi atau ide riset atau metodologi penelitian, adalah yang lebih sering dikunjungi daripada blog yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publish or perish?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan di Indonesia, dan di seluruh dunia saya yakin, menilai karya seorang dosen hanya dari tulisannya yang terbit di media tradisional (kalau tidak ada yang marah, saya lebih suka bilang media kuno karena berhubungan dengan abad yang lalu dan abad-abad sebelum abad yang lalu sejak kertas digunakan pertama kali di Cina). Maksud saya, prestasi seorang dosen diukur dari seberapa banyak ia telah menerbitkan buku yang memiliki ISBN (yang ternyata bisa diperoleh juga dengan mudah dan murah). Semakin banyak bukunya, semakin baik. Mujur-mujur juga semakin banyak pembelinya. (Kalau tidak ada juga tidak masalah, karena yang penting sudah terbit, toh?). Selain buku, dosen yang berprestasi adalah dosen yang memiliki artikel ilmiah yang banyak dan terbit di jurnal yang berkelas. Bahkan ada persyaratan di sebagian universitas agar setiap dosen menerbitkan sejumlah artikel dalam jangka waktu tertentu sebelum diberi jabatan sebagai dosen tetap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, tidak ada, atau mungkin belum ada, universitas yang mengukur prestasi dosen dari keterbacaan ide si dosen. Demski (2007) dan Fellingham (2007) sebenarnya menyayangkan hal tersebut karena itulah yang membuat dosen sering lupa bahwa ia adalah akademisi bukan seorang pegawai biasa. Dosen sendiri lebih senang berpikir bahwa karirnya ditentukan dari publikasinya. Jarang sekali yang senang berpikir bahwa sebagai akademisi, ketersebaran ide adalah hal yang lebih utama. Misalnya, mana ada dosen yang mau berpikir untuk menerbitkan bukunya menjadi buku elektronik yang bisa diunduh secara gratis melalui internet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lima tahun menulis, seribu lebih referensi, lalu akan saya biarkan orang membaca gratis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu, seorang teman kolega yang saya hormati, meminta izin kepada saya untuk meminjam buku-internet saya yang ada di blog saya. Ia juga menanyakan mengapa tidak menerbitkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malu-malu dan sok mulia, saya jawab bahwa keterbacaan lebih penting daripada penerbitan. Saat ini, dengan rata-rata tiga pengunjung per hari, berarti "buku" saya telah dibeli oleh 900 orang per tahun. Kalau dalam ukuran penerbit buku, penjualan buku sebanyak itu sudah disebut "best seller" dan dipajang di rak paling depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyesal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak juga. Pertama, ide saya sudah publish, not perish. Tulisan-tulisan dodol saya dikunjungi dari berbagai negara--walau Indonesia adalah penggemar utama. Kedua, saya tidak menyianyiakan kapasitas bandwidth saya untuk mempublikasi status di facebook. Ketiga, saya lebih berani daripada jamaah al-facebookiyah yang beraninya cuma meluncurkan pikirannya, perasaannya di satu baris status di Facebook. (Mengapa tidak berani dan mau menulis lebih panjang, sih? Kan bayar internetnya juga sama? Pakai BB, pula! Toh, sama dengan FB, tidak ada biaya sama-sekali untuk punya blog! Kan, sama-sama ada 24 jam sehari?) Keempat, tanya saja nama saya ke oom google, pasti dia lebih kenal saya. Kelima, layaknya berlian, internet is forever. Dengan baik hati internet akan menyimpan seluruh karya anda di dalam memorinya dan akan membuatnya terus ada hingga ke abad-abad mendatang. Tidak akan ada istilah "out of print" atau "old books, on-sale".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What will you choose: to publish or to perish?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirgahayu Indonesia, dirgahayu Ismail Akhtar Abdelkhalik.&lt;br /&gt;Sleman, Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-1402829965968523256?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/1402829965968523256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/08/publish-or-perish.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1402829965968523256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1402829965968523256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/08/publish-or-perish.html' title='Publish or perish!'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-5109169605623028616</id><published>2009-08-15T09:52:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T07:59:24.504+07:00</updated><title type='text'>Bukan, mereka bukan muslimin. Hanya penjahat!</title><content type='html'>Yang pertama ingin saya katakan dan ulangi lagi adalah bahwa saya tidak percaya kemusliman para pembom dan semua orang-orang yang mendukung, membantu, mendalangi, atau bahkan sekadar berkata, "saya tidak bisa menyalahkan ijtihad mereka itu" dan tidak berani mengatakan bahwa mereka adalah penjahat, teroris. Saya juga ingin mengatakan (silakan debat!) bahwa anda sekalian yang melihat bahwa mereka adalah syuhada adalah sama saja dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, saya termasuk yang tidak terlalu yakin dengan apa yang bisa dilakukan oleh Amrozi dkk di Bali. Saya lebih condong berhipotesis bahwa ada orang lain yang melempar batu yang lebih besar ke Kuta ketika Amrozi dkk melempar kerikil di sana. Pendapat saya itu didasarkan, salah satunya, dari komentar seorang kolonel (atau mayor) penerbang yang menjadi instruktur pengeboman TNI di kala itu ketika ia diwawancara oleh tv. Saya lupa siapa dan di mana ia diwawancara. Tapi saya sangat ingat bahwa ia bekas pilot jet F-16 ketika jet tersebut pertama datang ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berpendapat, dari amatannya atas bentuk kawah di lokasi pemboman di Kuta, bahwa bom tersebut kemungkinan adalah bom udara. Artinya, ada sebuah bom yang jatuh dari pesawat udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Saya kemudian, selama beberapa waktu, lebih percaya pada hipotesis tersebut. Apalagi, dari kedua pemboman itu, para pelaku hanya mengakui bahwa mereka melakukan pemboman di salah satu dari kedua lokasi saja. Lalu siapa yang membom yang lain? Itulah yang saya duga sebagai pelempar batu yang membonceng Amrozi yang melempar kerikil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lama-kelamaan saya makin meragukan keyakinan itu. Pertama, jelas bahwa mereka bersalah dan mereka mengaku demikian. Kalau mereka tidak bersalah, mengapa di hari-hari terakhir hidup mereka, mereka masih berkoar-koar tentang hal itu? Saya yakin sekali bahwa mereka memang melempar kerikil--terserah kemudian bahwa ada batu besar atau tidak. Yang jelas ada orang yang mati karena perbuatan mereka. Kedua, pemboman tidak berhenti dan terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian terakhir di kedua hotel di Kuningan memang kurang-ajar sekali. Jihad apa? Jangan mentang-mentang mengerti dengan bahasa Arab lalu mengklaim paham dengan agama Islam. Tidak ada yang lebih rugi dari hal ini daripada bangsa ini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, coba lihat. Siapa yang sebenarnya mengacak-acak bangsa ini? Dua orang yang dicari tersebut berasal dari Malaysia. Berguru dengan orang Indonesia yang bukan pula asli Indonesia. Lalu, dengan gagah-berani masuk ke Indonesia dan tidak bersedia membentak murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat yakin bahwa setiap guru akan mendapat balasan dari setiap kebajikan yang ditebar oleh muridnya jika si murid mendapatkan ajaran kebajikan itu dari sang guru. Sebaliknya, saya yakin juga bahwa sang guru akan mendapat hukuman atas setiap kejahatan yang ditebar oleh si murid yang dengan keliru menafsirkan ajaran gurunya. Keliru penafsiran saja sudah berdosa, apalagi kalau memang tidak mengajarkan kebajikan dan lebih suka menghasut belaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ijtihad murid tidak bisa disalahkan?" Ah, yang benar saja. Bagaimana bisa murid menarik pemahaman yang benar kalau guru tidak pernah mendidiknya agar tidak keliru? Yang benar sajalah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah negara yang aman. Negara ini adalah sebuah contoh sederhana--yang mungkin sangat jauh dari ideal--Madinah di zaman Rasulullah. Tidak ada umat selain Islam yang diganggu selama negara ini ada. Walaupun sedemikian banyaknya umat Islam, umat lain tidur dengan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga mereka datang ke Indonesia. Mengaku islam, mengaku mujahid!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu dulu. Mungkin pelajaran agama saya sangat dangkal. Namun, saya tetap tidak bisa menemukan satu amalan yang harus dijalankan lebih panjang daripada shalat. Rasulullah mewajibkan setiap umat Islam (dan manusia saya kira) untuk menuntut ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat? Itu hanya wajib setelah anda akil-baligh. Umur berapa? Ya, 12-17 tahun. Jadi, bukankah belajar 12-17 tahun lebih awal diwajibkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa belajar diwajibkan? Karena "tinta para pelajar lebih mulia daripada darah para syuhada di medan perang"--ingat "medan perang"! bukan perang-perangan pribadi kalian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian pentingnya belajar, hingga beliau juga mengharuskan umat manusia belajar walau hingga ke negeri (yang sangat jauh) Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya sangat heran. Kapan sebenarnya Rasulullah pernah menyuruh memerangi kaum lain, yang tidak mengangkat senjata melawan umat Islam? Mengapa beliau justru mewajibkan belajar seumur hidup dan belajar walaupun harus bersusah-payah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan beliau pernah membunuhi para Yahudi dan Nasrani di dalam masa damai? Padahal di dalam Alquran dan kitab-kitab suci ada sejarah panjang permusuhan di antara mereka dan bahwa banyak nabi-nabi yang dibunuhi oleh Yahudi? Lalu mengapa Rasulullah tidak pernah membunuh mereka selain di medan perang? Mengapa beliau tidak mengusir mereka hingga jauh meninggalkan tanah Arab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang. Lihat Indonesia. Begitu sombong mereka mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah perintah agama. Membawa bom bunuh diri adalah kesyahidan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weiitt.....! Tunggu dulu. Rasulullah mengharamkan setiap prajurit yang berharap mati di medan perang dengan tidak membela diri. Khalid bin Walid berdoa di setiap kali ia mengikatkan pedang di pinggangnya agar ia syahid di pertempuran yang akan ia songsong. Namun, ia tidak pernah membiarkan dirinya dilukai dan dibunuh di setiap saat ia maju ke medan perang. Ia sendiri akhirnya wafat di tempat tidurnya, bukan di medan perangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya sedih dengan pandangan teman-teman saya bahwa kaum shaleh muslim adalah mereka yang berteriak-teriak mengelukan mayat-mayat teroris tersebut. Beberapa kali saya harus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka itu bukan muslim dan apa yang mereka lakukan bukan keislaman. Penjahat-penjahat dari negeri asing yang datang ke Indonesia yang telah menghasut mereka. Mengajarkan kejahatan, permusuhan. Memerintahkan anak-anak Nusantara membunuhi dirinya sendiri dan saudara-saudaranya, sementara mereka bersembunyi di balik dinding kamar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kalian hendak dicintai penghuni langit, sayangilah penghuni bumi. Hanya itu yang harus kalian lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Agustus 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-5109169605623028616?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/5109169605623028616/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/08/yang-pertama-ingin-saya-katakan-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5109169605623028616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/5109169605623028616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/08/yang-pertama-ingin-saya-katakan-dan.html' title='Bukan, mereka bukan muslimin. Hanya penjahat!'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-8662183223094843872</id><published>2009-08-10T23:13:00.013+07:00</published><updated>2010-12-17T08:00:30.264+07:00</updated><title type='text'>Duh...pak guru mengapa engkau menjadi penjiplak?</title><content type='html'>Hari Sabtu lalu (8 Agustus) saya iseng-iseng mencari-cari lewat &lt;a href="http://search.blogger.com/"&gt;fasilitas pencarian Google&lt;/a&gt; kalau-kalau ada orang yang menulis dengan ide yang sama dengan saya. Saya punya beberapa blog. Jadi saya hanya iseng-iseng mencari-cari menggunakan beberapa kata kunci di artikel-artikel yang potensial juga ditulis oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu....Ada kesamaan ide, namun bukan penjiplakan karena memang semata-mata membicarakan masalah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua....Juga masih sama....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga....Wah...Ini luar biasa. Saya bisa menemukan beberapa sidik jari saya di dalam paragraf-paragraf di blog itu. Saya bergegas mencari-cari arsip tulisan asli di dalam komputer saya. Ternyata benar. Luar biasa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Kenapa luar biasa? Setelah saya baca-baca lagi, ternyata tidak hanya ada satu artikel saya yang dibajak, namun tiga! Dan itu disatukan di bawah satu judul. Padahal, satu dari ketiganya adalah tentang hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SoBX9QZ3KvI/AAAAAAAAATw/Ae9vLr16JTA/s1600-h/Penjiplakan_3.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368387465712708338" src="http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SoBX9QZ3KvI/AAAAAAAAATw/Ae9vLr16JTA/s400/Penjiplakan_3.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 250px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SoBX8-TYuSI/AAAAAAAAATo/kBZqa7wUI-A/s1600-h/Penjiplakan_2.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368387460853709090" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SoBX8-TYuSI/AAAAAAAAATo/kBZqa7wUI-A/s400/Penjiplakan_2.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 250px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mendapat email keluhan dari seorang blogger ketika cerita pendeknya dibajak oleh orang lain. Segera setelah email itu masuk ke grup yang sama-sama kami ikuti, blogger-blogger lain segera "menyerbu" ke blog penjiplak itu. Saya tidak tahu apa yang disampaikan oleh para blogger itu semua. Namun yang jelas, si pencuri kemudian meminta maaf dan berubah menjadi peminjam. Kasus selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam kasus ini, saya kemudian menyurati si pemilik blog. Kebetulan ada alamat emailnya. Dua pula. Ketika melihat alamat yang kedua, saya tertegun. Ekstensi emailnya menunjukkan ia berafiliasi ke sebuah perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya sedang berhadapan dengan seorang dosen yang menjadi plagiator? Saya telusuri lagi dan kemudian menemukan namanya di sebuah mailing list tentang beasiswa dan namanya sebagai mahasiswa master di sebuah perguruan tinggi. Jadi benar ia seorang dosen yang sedang belajar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mengapa menjadi begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin pagi lusa setelah Sabtu, saya mengirim pesan lewat ponsel kepadanya. Ia langsung membalas, meminta maaf dan mengaku bahwa ada kesalahan di dalam blognya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ok...saya maafkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian menyatakan bahwa nama saya sudah ia cantumkan di bawah judul artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya cek ke blognya, memang sudah ada di sana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ia juga mengaku kesulitan mencari tahu siapa pemilik blog tempat ia mendapatkan artikel dan lembaga asal saya sehingga ia tidak mencatumkan nama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah, yang benar. Begitu terbukanya saya dengan identitas saya di sana. Buta, apa?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian menyatakan bahwa bukan hanya dirinya yang menjadi penulis di blog tersebut sehingga ia tidak bisa tahu siapa yang memposkan artikel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang saya tidak suka. Hanya ada dua penulis di sana. Dan penulis yang kedua bukan penulis yang diidentifikasi di bawah artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bohong, lu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian meminta ia untuk mencantumkan setiap link ke artikel asli yang ia ambil. Saya tidak bersedia hanya ada nama saya di bawah judul tersebut karena kaidahnya bukan demikian. Sebagai seorang akademisi(?) ia seharusnya tahu bagaimana seharusnya ia mengutip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Bagaimana caranya, pak? Apa link-link tersebut? Saya masih gaptek".&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seseorang dengan profil: "ingin menjadi hacker no. 1",  mengaku gaptek? Kiamat......!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lugu saya memberikan link-link tersebut. Sesaat kemudian saya sadar bahwa ini orang sama sekali tidak berniat untuk mengaku bersalah dan meminta maaf. Laman blognya penuh dengan link, namun ia pura-pura tidak berdosa. Topeng keluguannya melindungi tindakan mencuri-dengan-tidak-sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya ada link di laman depan saja. Di &lt;a href="http://perpusol-samsam.blogspot.com/search/label/KEBIJAKAN%20DIVIDEN"&gt;halaman dalam&lt;/a&gt; saya menemukan ada link ke laman&lt;a href="http://spicaalmilia.wordpress.com/2007/03/31/analisis-kebijakan-dividen-dan-kebijakan-leverage-terhadap-prediksi-kepemilikan-manajerial-dengan-tehnik-analisis-multinomial-logit/"&gt; blog seorang kenalan saya&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SoBSskKBO0I/AAAAAAAAATg/lL6cTV3OeD4/s1600-h/Link+yang+ada+dari+penjiplak.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368381681399053122" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SoBSskKBO0I/AAAAAAAAATg/lL6cTV3OeD4/s400/Link+yang+ada+dari+penjiplak.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 250px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar pembohong!!!!!!!! Saya sudah periksa siapa pengepos di bawahnya (yaitu si plagiator) dan bahwa link itu hidup. Nah, gaptek jenis apa sebenarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari saya memeriksa lagi dan menemukan bahwa artikel saya telah dihapus dari blog tersebut. Jelas sekali bahwa ia tidak berniat meminta maaf, pura-pura tidak melakukan kesalahan dengan perbuatan bejatnya. Jika ia bermaksud baik tadi, maka malam ini artikel itu akan masih di sana. Saya tidak pernah melarang satupun ide saya dipinjam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar maling, ketahuan lalu lari meninggalkan curian. Saya tidak tahu seberapa banyak, namun beberapa blogger karib saya memang mungkin telah meneriaki maling tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa, dan tidak akan menghapus pengumuman di &lt;a href="http://ideriset.blogspot.com/"&gt;halaman artikel-artikel&lt;/a&gt; yang ia curi itu bahwa ia telah mencuri artikel-artikel saya dari sana. Memang tidak ada niat baiknya. Maling yang meninggalkan barang curian, tetap adalah maling. Demikian juga plagiator. Biar saja pengunjung blog saya kemudian menelusuri ke sana--walau sudah tidak ada. Siapa tahu salah satu dari penelusur itu adalah penulis dari artikel lain yang dipampang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa sedih dengan seorang dosen (setidaknya demikian yang tersirat dari alamat emailnya) berperilaku begitu. Bagaimana di kelas ketika menemukan mahasiswa mencontek, membeli skripsi, atau mencuri karya orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan kemarahannya lebih besar daripada kemarahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya benar-benar kesal. Untung saja saya tidak punya alamat email pak Ciputra. Coba saya punya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS.&lt;br /&gt;Saya ingin menjadikan ini pelajaran bagi siapapun yang ingin menjadi penjiplak karya orang lain. Thanks to internet, karya-karya yang dijiplak dengan mudah dilacak. Saya mendapat pelajaran itu dari &lt;a href="http://yuknulis.com/g-lini-hanafiah/mental-pendidikan-plagiat"&gt;blogger lain&lt;/a&gt;. Mari kita berkarya dan kalau tidak bisa, menjadi penikmat pun bukanlah aib. Justru bergagah-gagahan tidak ada gunanya. Saya bukan sekali ini menghadapi penjiplak. Senior saya di kampus pun telah pernah saya "hardik" karena kelakuan bejat begini--walau bukan atas karya saya. Sekali lagi, menjadi penikmat karya orang lain bukanlah aib, sama-sekali tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-8662183223094843872?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/8662183223094843872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/08/duhpak-guru-mengapa-engkau-menjadi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8662183223094843872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/8662183223094843872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/08/duhpak-guru-mengapa-engkau-menjadi.html' title='Duh...pak guru mengapa engkau menjadi penjiplak?'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SoBX9QZ3KvI/AAAAAAAAATw/Ae9vLr16JTA/s72-c/Penjiplakan_3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-1808133131057743103</id><published>2009-07-17T22:23:00.004+07:00</published><updated>2010-12-17T08:02:10.976+07:00</updated><title type='text'>Bom Jum'at Kelabu dan apa yang mengikutinya</title><content type='html'>Hari ini, 17 Juli 2009, ada dua kejadian besar di Indonesia, khususnya di Jakarta. Kejadian pertama adalah (kemungkinan) peledakan bom di hotel J.W. Marriot dan Ritz-Charlton pada pagi hari, sebelum jam 8 pagi. Kejadian yang kedua adalah konferensi pers alias curhat SBY tentang masalah dirinya yang ditumpangkan kepada kasus pertama. &lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;Berkali-kali bom di Indonesia selalu dihubungkan dengan Islam. Memang para pelaku yang ditangkap adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam, tidak ada yang beragama selain Islam. Namun, pengakuan keislaman mereka bukan berarti mereka adalah muslim yang berjuang dengan cara-cara yang islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tidak islami? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Rasulullah ada peraturan perang yang harus dipatuhi oleh setiap prajurit muslim yang pergi &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;berperang: Jangan membunuh, atau bahkan mengganggu sekalipun, anak-anak, wanita, dan orang-orang tua; jangan membunuh hewan; jangan merusak tumbuhan.  Setiap prajurit di medan perang, jika harus membunuh, hanya diizinkan membunuh musuh hanya karena Allah, bukan karena dendam atau hawa nafsu. Ali bin Abi Thalib pernah diludahi oleh seseorang di medan perang ketika ia hendak membunuh lawannya itu. Ali merasa terhina karena ludah lelaki itu membasahi wajahnya, dan hendak menghujamkan pedangnya ke lelaki itu. Saat itulah ia sadar bahwa jika ia melakukan hal tersebut, maka ia melakukannya karena wajahnya diludahi dan ia marah. Akhirnya ia melepaskan musuhnya itu, tidak jadi membunuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, setiap prajurit muslim yang membunuh musuh Islam hanya diizinkan membunuh dengan satu pukulan yang mematikan pada bagian tubuhnya. Prajurit Islam tidak boleh membunuh lawan dengan merusak atau melukai wajah lawannya. Tidak pula boleh membunuh lawan dengan menyakitinya secara perlahan-lahan. Hanya diizinkan satu pukulan dan langsung membunuh. Titik. Rasulullah memerintahkan itu agar keluarga si prajurit tidak terlalu berduka dengan kematian dan untuk menghargai si musuh sebagai manusia. &lt;br /&gt;Di dalam pertempuran di zaman Rasulullah hingga di zaman kekhalifahan dan kesultanan Islam setelahnya, etika perang ini tetap dipatuhi. Bahkan di suatu masa, seorang sultan menolak usul seorang ilmuwan yang menunjukkan temuannya. Dengan alat yang ditemukan itu, umat Islam bisa mengalahkan banyak musuh. Saya tidak ingat siapa musuh Islam di saat itu dan siapa sultan itu. Yang jelas, sang sultan menolak untuk menggunakan alat perang tersebut. Si ilmuwan tersebut kemudian menjual alat itu ke musuh Islam dan dengan gembira diterima dan dipakai di dalam pertempuran berikutnya dengan umat Islam. Dan dengan alat itu pulalah prajurit Islam banyak yang mati. Alat perang tersebut adalah bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya sekali bahwa sang sultan tidak bersedia menggunakan bom yang ditawarkan kepadanya karena penggunaan dan dampak bom tidak sesuai dengan etika perang yang digariskan oleh Rasulullah. Bom bisa saja membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua, membunuh hewan, dan menghancurkan tumbuhan. Lebih buruk lagi, bom akan menghancurkan lawan dalam arti yang sebenarnya. Saya sangat yakin etika perang itulah yang digunakan sang sultan menolak penggunaan bom, walau dengan risiko ia kehilangan banyak prajurit Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saya bisa pastikan bahwa siapapun yang membom di Indonesia, seberapapun banyaknya mereka menghapal Al Qur’an, seberapapun banyaknya mereka beribadah wajib maupun sunat, betapapun mereka mengaku bahwa mereka adalah umat Rasulullah dan mereka memperjuangkan umat Islam, jika mereka membunuh bukan prajurit lawan yang ingin membunuh mereka, jika mereka membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua, dan membunuh manusia lain dengan cara-cara yang kejam, maka mereka sama-sekali bukanlah prajurit muslim. Dan tidak ada prajurit lain yang masuk ke dalam golongan syuhada selain prajurit muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah tidak pernah membenci musuh-musuhnya dan tidak pernah menyuruh umatnya membunuh orang lain hanya semata-mata agama mereka berbeda. Rasulullah sendiri adalah orang yang sangat menghormati umat lain. Beliau pernah ditahan malaikat agar tetap berada dalam posisi ruku’ di rakaat terakhir shalat Subuh (atau Isya) yang ia imami agar seorang makmum yang terlambat di jalan bisa tetap mendapatkan satu rakaat terakhir tersebut. Si makmum terlambat karena ia harus mengekor seorang pria Yahudi tua yang berjalan terseok-seok di sebuah gang sempit. Ia bisa saja meminta izin dengan baik-baik atau dengan kasar dengan alasan ingin mengejar shalat yang sedang berlangsung, namun ia tidak melakukannya. Untuk itulah Allah memerintahkan malaikat menahan Rasulullah di ruku’ terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sendiri setiap hari menyuapi seorang Yahudi tua dan buta di pasar hingga akhir hayatnya walau si Yahudi itu selalu memaki Rasulullah—yang tidak ia sadari adalah orang yang menyuapinya sepotong roti setiap hari dan kemudian ia rindukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, tidak ada pembom yang muslim dan tidak akan ada di antara mereka yang akan menjadi syuhada karena syuhada hanyalah tentara muslim yang berperang dengan etika perang muslim. Bom bukan alat perang yang islami.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Di suatu zaman, ada seorang pemrotes yang tidak senang dengan rajanya yang ia kira selalu hidup bersenang-senang. Sang raja dengan arif kemudian menawarkan jabatannya kepada si lelaki pemrotes tersebut. Syaratnya cukup mudah: tidur seharian di bawah beberapa pedang yang digantungkan dengan rambut. Si lelaki itu menyanggupi.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pagi ia merasa bahwa tantangan itu tidak ada apa-apanya dan ia akan bisa mendapatkan tahta sang raja di sore hari. Namun, ketika hari makin siang, angin mulai bertiup kencang. Saat itu pedang-pedang itu mulai bergoyang. Satu pedang tidak bisa ditahan lagi oleh rambut yang mengikatnya ke kayu yang melintang di atas sang lelaki. Pedang itu jatuh di sebelah luar pahanya. Untung tidak mengenainya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Namun, lama-kelamaan angin makin kencang dan semua pedang bergoyang, saling bertubrukan sehingga setiap saat seperti akan jatuh. Satu pedang lagi jatuh, kali ini di dekat perut si lelaki dan menggores perutnya. Ia kemudian memperhatikan bahwa pedang yang ada di atas dada dan lehernya, yang saling bertubrukan, bisa jatuh setiap saat. Saat itulah ia berteriak meminta agar sang raja menghentikan kontes tersebut.&lt;br /&gt;Sang raja kemudian menjelaskan bahwa seperti itulah hidupnya setiap hari. Sebanyak rakyat yang menyukainya, sebanyak itu pula rakyat yang tidak menyukainya. Ancaman setajam pedang terjadi kepadanya setiap hari, sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Saya tidak tahu apakah SBY pernah membaca kisah ini sebelum ia menjadi presiden. Bu Mega menyindir perilaku SBY yang memamerkan ancaman terhadap dirinya itu dan menyatakan bahwa tidak ada pemimpin negara di dunia yang tidak terancam jiwanya. Pasukan yang ada di sekeliling diri setiap presiden adalah hasil dari interpretasi atas keamanan diri pemimpin negara. Jadi aneh jika presiden membeberkan ancaman kepada dirinya di depan orang ramai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat setuju dengan Andi Wijayanto di Metro TV sore hari setelah konferensi presiden di istana. Konferensi pers itu sebenarnya adalah dua konferensi pers yang seharusnya berbeda, namun dilakukan di dalam satu acara. Dan sangat disengaja bahwa momen itu adalah sehubungan dengan ledakan bom di pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemboman adalah satu hal dan ancaman terhadap presiden adalah hal yang lain. Untuk apa orang yang ingin mengancam presiden harus membom selain istana atau rumahnya? Pemboman selalu membawa pesan dan pesan itu tidak bisa dikatakan berhubungan dengan pemilihan umum hanya karena waktunya berdekatan. Presiden tidak berada di sana dan mungkin tidak akan ke sana dalam waktu dekat, sehingga untuk apa membom sebuah tempat yang tidak akan didatangi oleh presiden?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang ancaman terhadap presiden di mana ada dua orang yang menembakkan pistol ke arah fotonya, bukankah setiap kali demo terjadi pada saat itu foto sang presiden dan wakil presiden, bahkan menteri-menteri, seringkali diseret-seret, diinjak-injak, lalu dibakar? Bedanya, kali ini ada foto (yang dikatakan dari tangkapan video) orang yang menembak foto dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling berbahaya dari pernyataan presiden adalah pernyataannya tentang adanya hubungan peledakan ini dengan pemilihan umum: pendudukan KPU, penyabotan pelantikan SBY kelak (emang SBY sudah dinyatakan menang?), revolusi jika SBY terpilih (sekali lagi, emang SBY sudah terpilih?), dan bisik-bisik bahwa Indonesia akan meniru kerusuhan pasca-pemilihan umum seperti di Iran. Satu lagi yang lebih berbahaya adalah bahwa kata (yang kurang-lebih isinya begini) “orang-orang yang pernah melakukan penghilangan terhadap orang lain di masa lalu” sangat mengarah (itu menurut dugaan saya dan isyarat Andi Wijayanto di Metro TV) kepada dua orang jendral W dan, terutama, PS. Perlu diingat bahwa baik SBY, W, maupun PS pernah berdinas di masa yang sama dan peristiwa yang dimaksud SBY tersebut, jika benar itu berhubungan dengan peristiwa 1997-1998, adalah di masa dinas SBY di ketentaraan. Tidak mungkin ia sendiri tidak tahu dengan peristiwa yang, sepertinya, dituduhkan kepada dua jendral lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, Andi Wijayanto di Metro TV menyayangkan dua pernyataan presiden terakhir tadi. Dengan pernyataannya itu ia membuka wacana kepada masyarakat bahwa dirinya kembali dizalimi oleh dua pasang lawannya yang tidak puas dengan pemilihan umum yang lalu. Dalam hal ini ia, SBY, menyiratkan bahwa ada kepentingan JK-W dan MSP-PS di dalam pemboman tersebut. JK, MSP, dan PS bahkan merasa perlu menjawab tembakan pantul presiden tersebut—dengan hati-hati. (&lt;em&gt;Di malam hari Menkopolhukam perlu mengklarifikasi hipotesis hubungan sebab-akibat ini dan menjelaskan bahwa hanya ada urutan waktu saja antara pemilihan umum dan pemboman. Makanya hati-hati kalau bikin hipotesis!&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah ia sebagai calon presiden—bukan sebagai presiden petahana—tidak berkepentingan untuk bisa bertahana? Hingga sekarang ia belum ditetapkan sebagai pemenang sehingga pendudukan KPU dan peristiwa seperti Iran yang disampaikan oleh presiden tadi siang bisa saja akan menjadi rencananya sendiri nanti jika kalah. (&lt;em&gt;Benar, kan? Kan, SBY berkata bahwa hal itu karena ada ketidakpuasan dari yang kalah. Kan, SBY bisa saja kalah hingga dinyatakan sebaliknya oleh KPU nanti.&lt;/em&gt;) Mengapa membuat pernyataan bahwa akan ada revolusi jika SBY terpilih dan ada penggagalan atas pelantikan dirinya nanti? Sekarang, siapa sih yang sudah mengkudeta pemerintahan tahun 2009-2014 dengan menyatakan bahwa yang pemboman berhubungan dengan orang-orang yang tidak puas dengan hasil pemilihan umum? Sekali lagi, siapa, sih, yang telah memenangi mandat rakyat? Belum ada, kan? Saat ini presiden adalah SBY, wakil JK. Untuk tahun 2009-2014, belum ada. Jadi siapa yang akan menggagalkan siapa yang akan dilantik?&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;Saya tidak pernah setuju dengan pemboman tersebut apalagi jika mereka menyatakan bahwa mereka adalah bagian dari tentara muslim. Sekali lagi, muslim tidak berperang dengan cara-cara demikian. Kembalilah kalian ke langgar, mushala, masjid, pesantren. Belajarlah dari orang-orang yang benar-benar berilmu. Belajarlah menyayangi penghuni bumi agar penghuni langitpun menyayangi kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja alim, raja disembah; raja lalim, raja disanggah. Mulutmu harimaumu yang akan menerkam kepalamu. Pernyataan-pernyataan seperti itu justru tidak akan menumbuhkan simpati siapapun. Rakyat tidak bodoh dan bukan tidak bisa menerjemahkan pesan-pesan yang disampaikan, melalui presiden maupun melalui orang-orang di sekelilingnya. Sepanjang sore saya memperhatikan pendapat-pendapat orang di televisi dan di jejaring internet. Kebanyakan dari mereka eneg dengan sikap seakan-akan presiden selalu merasa teraniaya. Sebagai presiden, siapapun dia, memang akan selalu terancam, seperti cerita di atas.&amp;nbsp;Yang teraniaya di sini adalah saya, tetangga saya, orang-orang kecil &amp;nbsp;di jalanan, bukan presiden yang ingin terpilih menjadi presiden lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilih SBY tidak semuanya memilih SBY karena kegantengan atau kesantunan cerapan. Sebagian dari mereka memilih SBY, setidaknya lima tahun yang lalu, adalah karena perasaan kasihan ketika SBY dicerap mereka telah dianiaya. Namun yang penting, sebagian dari mereka memilih SBY karena hasil kerja keras yang mereka, pemilih, cerap telah dicapai melalui pemerintahan SBY. Mungkin hal yang terakhir ini pula yang menjadi dasar sebagian pemilih memilih SBY.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemboman itu memang membawa pesan. Namun, jangan langsung mencampur aduk peristiwa itu dengan ketidakpuasan calon-calon yang kalah. Sekali lagi, tidak ada dasar hukum yang menyatakan bahwa calon-calon selain SBY adalah calon yang kalah. Hingga saat ini belum ada pemenang secara legal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa setelah tahun 2000, tiba-tiba pemboman tidak dilakukan oleh organisasi teroris, namun oleh penantang petahana di dalam sebuah ajang yang demokratis? Dan mengapa pernyataan ini muncul dari seorang calon presiden yang sedang bertanding yang kebetulan adalah petahana? Polisi harus independen dalam pengusutan, tidak bisa didikte calon presiden begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, sekarang kamera dan mata berpindah ke sisi lain bilangan Kuningan. Sejak pagi ini, sisi lain dari bilangan Kuningan kini berada di belakang kilatan dan sorotan lampu kamera. Sesuatu yang lain mungkin saja akan berlaku di dalam kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Juli 2009, di sepanjang hari Jumat yang terik namun kelabu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-1808133131057743103?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/1808133131057743103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/bom-jumat-kelabu-dan-apa-yang.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1808133131057743103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/1808133131057743103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/bom-jumat-kelabu-dan-apa-yang.html' title='Bom Jum&apos;at Kelabu dan apa yang mengikutinya'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-2212071353340690165</id><published>2009-07-10T17:53:00.010+07:00</published><updated>2010-12-17T08:02:22.773+07:00</updated><title type='text'>Cicak Vs Buaya: Insiden Polisi Serbu KPK di Hong Kong Jangan Terjadi di Indonesia*</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SlceX0CN63I/AAAAAAAAASo/vi-Bcu0jlpQ/s1600-h/saya-cicak-dalam.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356783676234263410" src="http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SlceX0CN63I/AAAAAAAAASo/vi-Bcu0jlpQ/s400/saya-cicak-dalam.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 212px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 285px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; - Apa yang terjadi dalam hubungan KPK dan Polri yang ditengarai tengah menegang diharapkan tidak sampai terjadi seperti peristiwa di Hong Kong. Saat itu, pada Oktober 1977, ribuan polisi menyerbu kantor KPK Hong Kong, Independent Commission Against Corruption (ICAC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan sampai hal seperti itu terjadi di Indonesia," tutur anggota badan pekerja Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Diansyah dalam surat elektoniknya, Jumat (10/7/2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dia menerangkan, saat itu polisi Hong Kong turun ke jalan melakukan demonstrasi, mereka merusak Gedung ICAC dan melukai para pegawai ICAC. Hal itu terjadi karena Komisi Antikorupsi Hongkong menangkap dan menyeret ribuan polisi yang terlibat dalam korupsi dan pemerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ICAC saat itu berhasil menangkap dan membawa pulang Peter Fitzroy Godber, kepala polisi yang punya aset 4,3 juta dollar Hong Kong dan menyembunyikan US$ 600.000 di sebuah bank di Kanada. Tindakan agresif ICAC menimbulkan perlawanan dari polisi dan tekanan luar biasa dari polisi," jelas Febri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga, para polisi menuntut kepada Gubernur Hong Kong saat itu, Sir Murray McLehose agar mengeluarkan amnesti untuk korupsi. Dan kemudian Hong Kong menjadi tempat bersih dari korupsi, hingga akhirnya ICAC menjadi percontohan banyak negara yang punya komitmen memberantas korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kejadian KPK saat ini mengingatkan kita pada peristiwa di Hong Kong," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri kemudian menerangkan bila hal seperti di Hong Kong bisa saja terjadi di Indonesia, mengingat saat ini KPK sudah mulai menyentuh banyak lapisan mafia korupsi, terutama kekuataan politik dan penegak hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Febri menjelaskan, pernyataannya ini bukan tanpa alasan. Pernyataan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duaji yang mengaku dirinya disadap terkait kasus Bank Century, hingga pernyataan cicak melawan buaya, meski Susno membantah hal itu tidak menunjuk lembaga tertentu, tetapi publik menduga tudingan mengarah kepada KPK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk itu peran Presiden SBY sebagai Kepala Negara sangat dibutuhkan di sini, untuk memastikan dan kontrol penegakan hukum di Kepolisian agar tidak ditunggangi oleh pihak yang ingin mematikan KPK," tutupnya. &lt;b&gt; (ndr/iy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;&lt;a href="http://www.detiknews.com/read/2009/07/10/171300/1162902/10/insiden-polisi-serbu-kpk-di-hong-kong-jangan-terjadi-di-indonesia"&gt;&lt;span class="judul"&gt;http://www.detiknews.com/read/2009/07/10/171300/1162902/10/insiden-polisi-serbu-kpk-di-hong-kong-jangan-terjadi-di-indonesia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita-cerita lain tentang "cicak vs. buaya" bisa dilihat di:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;&lt;a href="http://kamicicak.blogspot.com/"&gt;http://kamicicak.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://politikana.com/baca/2009/07/06/ayo-dukung-cicak-lawan-buaya.html"&gt;http://politikana.com/baca/2009/07/06/ayo-dukung-cicak-lawan-buaya.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/07/14/grf,20090714-188,id.html"&gt;http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/07/14/grf,20090714-188,id.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/06/LU/mbm.20090706.LU130792.id.html"&gt;http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/07/06/LU/mbm.20090706.LU130792.id.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red; font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Untuk pertama kali saya memutuskan untuk meminjam artikel dari sumber lain karena pentingnya isu ini. Sangat mengherankan jika akh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style="color: red; font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;irnya polisi merasa dia adalah buaya yang harus menghabisi cicak-cicak, seakan-akan ada rantai makanan di antara keduanya. Yang menarik juga adalah apakah Kapolri sekarang akan bertanggungjawab dengan pilihannya terhadap Kabareskrim, yang dengan pongah tersebut mengaku berkekuatan dan berperilaku buaya, karena saya pernah mendengar bahwa Kapolri sebelum terpilih memang meminta agar dirinya didampingi oleh Susno sebagai Kabareskrim. Artinya, mereka adalah sahabat dekat sehingga wajar untuk bertanya apakah Kapolri bertanggungjawab dengan perangai sahabat akrabnya ini?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="color: yellow;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cerita lain, tentang resep panjang umur bagi KPK di &lt;a href="http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/11/cris-de-coeur.html"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-2212071353340690165?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/2212071353340690165/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/cicak-vs-buaya-insiden-polisi-serbu-kpk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2212071353340690165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/2212071353340690165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/cicak-vs-buaya-insiden-polisi-serbu-kpk.html' title='Cicak Vs Buaya: Insiden Polisi Serbu KPK di Hong Kong Jangan Terjadi di Indonesia*'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/SlceX0CN63I/AAAAAAAAASo/vi-Bcu0jlpQ/s72-c/saya-cicak-dalam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-3309047725368358937</id><published>2009-07-08T11:12:00.006+07:00</published><updated>2010-12-17T08:03:38.838+07:00</updated><title type='text'>Nasihat perkawinan bagi calon presiden</title><content type='html'>"Harusnya semalam ada pertemuan para calon presiden dengan orang-orang bijak negeri ini."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Mengapa begitu, oom?"&lt;/blockquote&gt;"Dulu sebelum oom menikah, oom dan tante harus datang ke seorang ulama untuk mendapat nasihat perkawinan."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Memangnya mereka mau menikah, oom? Kan, semuanya sudah menikah atau pernah?"&lt;/blockquote&gt;"Mirip, kan? Salah satu dari mereka nanti akan "mengawini negeri" ini. Mereka nanti akan menjadi kepala &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;keluarga negeri ini. Nah, sama dengan orang yang akan menikah, mereka perlu diingatkan bahwa menjadi pemimpin keluarga itu harus memperhatikan aturan-aturan tertentu. Apa yang boleh dan tidak boleh sebagai pemimpin."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Lalu mengapa tidak harus ke ulama saja mereka datang, oom? Bukankah dari awal-awal mereka sudah datang ke pondok-pondok pesantren?"&lt;/blockquote&gt;"Kalau itu cuma sekadar mencari dukungan saja. Yang oom maksud adalah mereka datang kepada sekelompok orang bijak di negeri kita dan mendengar nasihat mereka."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Kan, ada MPR?"&lt;/blockquote&gt;"Beda. MPR walau diisi oleh orang-orang hebat, belum tentu akan bijak. Mereka punya hubungan dengan salah satu dari calon presiden tersebut. Jumlah mereka juga terlalu banyak untuk didengar satu per satu."&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Lalu berapa orang bijak itu yang harus didatangi, oom?"&lt;/blockquote&gt;"Nah, itu dia. Ada ndak di Indonesia orang seperti itu?"&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"Waduh, oom ini bagaimana, sih? Ngusul tapi asal!"&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Juli 2009 (hari ketika pemilih memilih)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-3309047725368358937?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/3309047725368358937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/nasihat-perkawinan-bagi-calon-presiden.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3309047725368358937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/3309047725368358937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/nasihat-perkawinan-bagi-calon-presiden.html' title='Nasihat perkawinan bagi calon presiden'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-4035815621762058580</id><published>2009-07-06T16:28:00.005+07:00</published><updated>2010-12-17T08:03:58.231+07:00</updated><title type='text'>Sorry for this incompetence</title><content type='html'>Ahad lalu, 5 Juli, saya telah datang dan melapor tepat waktu: jam 5 WITA agar bisa terbang dengan Lion Air JT641 dari Mataram ke Surabaya. Tujuan saya agar bisa sepagi mungkin melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan bis. Namun, ketika hampir giliran saya untuk melapor, saya mendengar seseorang sekelas penyelia Lion Air memerintahkan kepada petugas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check&lt;/span&gt;-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in counter &lt;/span&gt;agar memberitahu kepada penumpang bahwa JT641 terlambat dan akan terbang ke Surabaya nanti jam 9.30 WITA. Alasannya, pesawat tersebut gagal mendarat tadi malam. Tidak ada penjelasan tentang apa itu "gagal mendarat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian pulang, tidur lagi, ikut memandikan anak saya, dan berpamitan lagi--kali ini ketika ia telah bangun--kepada dia. Kali ini dia, setelah berkali-kali saya meninggalkannya, ia bisa mengantar saya hingga ke bandar udara (bandara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Jam 9 saya tiba lagi di bandara. Layar pengumuman di bandara hanya mengatakan bahwa penerbangan akan dilakukan jam 9.15. Namun, hingga jam 9 pagi itu pesawat belum mendarat dari Surabaya. Menurut pengalaman saya, butuh 30 menit untuk membongkar penumpang dan barang sebelum penumpang diminta naik ke pesawat. Setelah itu butuh 30 menit lagi untuk pesawat siap berangkat, ada di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;runway&lt;/span&gt;. Artinya, dengan kondisi saat itu, saya belum akan terbang hingga satu jam ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Pembayan saya memberitahu bahwa saat itu penumpang baru saja naik pesawat di Surabaya. Jadi, 45 terbang plus 30 menit bongkar plus 30 menit persiapan terbang, maka saya baru akan terbang sekitar 2 jam lagi. Dan....eng...ing...eng...benar saja. Baru jam 11 WITA saya kemudian benar-benar terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari petugas Angkasa Pura saya tahu bahwa semalam Lion Air telah mengudara dari Surabaya menuju Mataram. Mereka mengudara sekitar pukul 00.00 WIB atau 01.00 WITA. Karena sudah telat satu hari, ya, kan!, maka pihak bandara di Mataram menolak untuk memperpanjang operasi bandara hari itu. Sehingga... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;RTB&lt;/span&gt;-lah pesawat itu semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mereka terlambat terbang jika sebenarnya jadwal terbang mereka seharusnya adalah pukul 8 (saya lupa jam berapa karena keseringan memang tidak tepat waktu untuk jadwal terbang malam itu)? Ternyata, mereka, menurut keterangan mereka, sih, harus menunggu penumpang dari tempat lain yang hendak ke Mataram juga namun belum sampai di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Kalau benar, berapa puluh penumpang yang harus ditunggu sehingga seratusan orang terlantar berjam-jam keesokan harinya. Seperti biasanya, operator hanya akan mengumumkan, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...karena alasan operasional...bla..bla...kami mohon atas ketidaknyamanan ini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan operator bersedia mengubah pengumuman itu menjadi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"...atas ketidakprofesionalan kami ini"&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"...for this incompetence"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa seharusnya demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bukan perkara baru bahwa operator di Indonesia seringkali tidak bisa menepati jadwal mereka sendiri dan menghukum penumpang jika terlambaar hanya beberapa kejap saja. Saya tidak pernah mengeluh jika keterlambatan itu adalah demi keselamatan karena ada masalah yang belum pasti aman sebelum terbang. Contohnya, awal April lalu, Lion Air dari Surabaya ke Lombok yang saya tumpangi sudah menuju &lt;span style="font-style: italic;"&gt;runway&lt;/span&gt;, namun berbalik lagi karena ada instrumen yang menunjukkan suatu masalah. Kami terlambat beberapa belas menit karenanya. Namun, karena itu untuk keselamatan, maka tidak masalah. Namun, jika berkali-kali pesawat terlambat dengan alasan sama: operasional, maka masalahnya bukan hanya aspek operasional atau teknis saja, direktur operasionalnya atau direktur tekniknya yang bermasalah. Mereka itu yang harus diperbaiki di bengkel!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, operator seperti Lion Air kemaren itu suka menggunakan aturan tentang kompensasi yang harus diterima oleh penumpang karena keterlambatan penerbangan. Kompensasi atas keterlambatan satu jam dengan lima jam jelas berbeda. Agar tidak harus "rugi" maka mereka sering sekali memperpendek masa keterlambatan. Contoh kemaren, mereka bilang bahwa pesawat telat 3 jam 15 menit. Faktanya 5 jam! Saya tidak ingat semua aturan tersebut, namun jika memang akan terlambat 5 jam, seharusnya mereka menawarkan kepada penumpang untuk dialihkan ke pesawat lain. Namun, sekali lagi, mereka jelas-jelas tidak mau rugi. Anda yang pernah mengalami keterlambatan penerbangan coba ingat-ingat lagi beda antara lama keterlambatan menurut petugas operator dengan lama waktu sebenarnya anda menunggu hingga terbang. &lt;a href="http://iqril.blogspot.com/2008/07/departmen-perhubungan-kompensasi-bagi.html"&gt;(Baca link ini)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sebenarnya kemaren tidak begitu mempermasalahkan ketiadaan kompensasi tersebut karena memilih pulang dan kompensasi di sana lebih menyejukkan hati. Selain itu, moda ini belakangan ini bukanlah moda yang membuat saya bisa merasa nyaman. Sehingga setiap keterlambatan adalah penundaan terhadap perasaan stres--walau sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pertama kali menggunakannya, saya merasa tidak nyaman dengan sebuah benda berruang sempit yang akan membawa saya terbang. Saya tidak pernah mengalami masalah yang sangat meneror perasaan ketika menggunakan pesawat. Bahkan ketika pesawat Mandala (PK-RIL) yang saya naiki dari Padang ke Medan setelah lebaran tahun 2006 lalu yang mesinnya mati setelah 20 menit terbang sehingga harus kembali ke Padang (RTB), saya masih bisa merasa tenang. FYI, pesawat ini, PK-RIL, Boeing 737/200, ini kemudian beberapa bulan tidak terbang dari Padang dan ketika terbang jatuh di Malang. Saya tidak tahu apakah PK-RIL ini masih bisa terbang sekarang. Namun, jelas sekali bahwa pesawat itu masih dipaksakan terbang walau berbulan-bulan tidak tidur di Padang. (Ikuti link ini tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan PK-RIL ini.  &lt;a href="http://www.dephub.go.id/knkt/ntsc_aviation/PK-RIL%20050499%20Final%20Report.PDF"&gt;Klik ini&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://64.203.71.11/photos/NUSANTARA/20071101dia7.jpg"&gt;klik ini&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://media.photobucket.com/image/mandala%20pk-ril/r4ld1/cerah/P1046371_resize_resize.jpg"&gt;klik ini&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://www.airfleets.net/ficheapp/plane-b737-22137.htm"&gt;klik ini&lt;/a&gt;. Anda bisa mencari berita lain dengan menggunakan kata kunci "Mandala PK-RIL" dan akan menemukan beberapa kecelakaan seputar pesawat tersebut.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu, saya selalu memastikan bahwa pesawat yang akan saya tumpangi bukan dari Boeing seri 200. Beberapa operator di Indonesia masih mengoperasikan pesawat seri ini. Di antaranya yang saya perhatikan adalah Merpati, Batavia dan Sriwijaya Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang bukan Superman atau Gatotkaca yang menjadi anggota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frequent flyer&lt;/span&gt;, namun frekuensi terbang saya dua tahun terakhir ini cukup tinggi--setidaknya menurut ukuran saya. Sehingga, mau tidak mau, setiap kali harus menaiki tangga pesawat, perasaan yang tidak tenang selalu merambati punggung saya dan mempengaruhi jumlah detak jantung saya per menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali terbang, hanya satu penggembira perasaan saya: pilot pun ingin agar kembali berkumpul dengan keluarganya. Oleh karena itu, saya hanya bisa berharap bahwa ketidakkompetenan di darat tidak menjalar hingga ke udara. Jatuh dari dipan dari ketinggian 2 kaki saja begitu menyakitkan, apalagi dari 33.000 kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleman, Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15354100-4035815621762058580?l=2eyes2ears.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/feeds/4035815621762058580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/sorry-for-this-incompetence.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4035815621762058580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15354100/posts/default/4035815621762058580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://2eyes2ears.blogspot.com/2009/07/sorry-for-this-incompetence.html' title='Sorry for this incompetence'/><author><name>Rahmat Febrianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02057640101714615511</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/S9F-ikzPqkI/AAAAAAAAAj4/_3bkYpuCjMU/S220/DSC00257.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15354100.post-330060286426616228</id><published>2009-06-10T19:48:00.004+07:00</published><updated>2010-12-17T08:04:35.496+07:00</updated><title type='text'>Bodoh, Suramadu bukan terpanjang di Asia Tenggara!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/Si-tZ458yhI/AAAAAAAAASg/rxs5X-06YBk/s1600-h/Jembatan+pulau+Penang.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345681942995847698" src="http://1.bp.blogspot.com/_bfgkC1or6z8/Si-tZ458yhI/AAAAAAAAASg/rxs5X-06YBk/s400/Jembatan+pulau+Penang.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 250px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya hendak mengatakan
