Mata dan telinga
Wednesday, December 07, 2011
Tuhan Bertindak dan Anda Hanya Harus Paham
Di saat wisuda S1, di tengah lagu Padamu Negeri, saya menyadari jalan hidup saya. Di tahun yang sama dengan kelulusan itu saya melamar menjadi dosen di universitas saya. Walau itu bukan satu-satunya lamaran yang saya buat, namun itu satu-satunya panggilan yang saya penuhi.
Singkat cerita, dua tahun kemudian, satu di antara kesibukan saya adalah mencari beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. TOEFL mumpuni dan teratas dari semua dosen yang ada di Fakultas. Saat itu saya sangat yakin bahwa waktu hanyalah satu-satunya pembatas antara saya dengan sekolah manapun di luar sana. Kemudian, walau memang saya tidak pernah lulus beasiswa G-to-G Australia, Perancis, maupun AS, namun selembar surat penerimaan dari Birmingham telah ada di tangan saya di awal tahun 2000.
Mereka memberi waktu hingga Agustus bagi saya untuk melunasi SPP. Dan hingga batas waktu itu berlalu, saya tidak bisa mendapatkan satupun dana. Ada paket beasiswa yang bisa saya dapatkan sebenarnya, namun saya harus bisa mendapatkan satu surat lagi: penerimaan langsung ke S3.
Jelas ini tidak bisa saya dapatkan kemudian. Jika saat ini saya mengingat lagi momen itu, satu hari di bulan April di tahun 2000, saat saya kalang-kabut menyusun apa yang saya kira adalah outline proposal S3, saya hanya bisa menertawai keluguan saya saat itu. Bagaimana mungkin saya bisa menyusun sebuah outline seperti itu jika satu-satunya riset yang pernah saya tulis adalah skripsi?
Di tahun 2001 harapan saya muncul. Lamaran saya seperti akan berujung baik karena saya sudah mencapai tahap wawancara. Malang kemudian, saya tidak tahu persis korelasinya, malam setelah saya pulang dari wawancara, dua menara di NY runtuh dan AS kemudian menjadi takut dengan alien-alien yang akan masuk ke negara mereka.
Menyadari bahwa tahun itu saya sudah berusia 26 dan saya telah jauh dari cita-cita "usia 30 tahun" saya, maka tanpa benar-benar sadar dengan apa yang saya lakukan, saya kemudian telah berada di Jogja, di ruang ujian wawancara. Dan tanpa bisa saya cegah kemudian saya telah menjadi mahasiswa master dan tamat.
Pergelutan batin yang sama terjadi kembali saat saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Jogja. FYI, saya memutuskan kembali ke Jogja setahun setelah saya gagal melewati wawancara ADS. Saya duga masalah kegagalan saya hanya karena saya laki-laki, akuntansi, dan tidak bisa menunjukkan dua kardus bukti riset yang saya klaim telah saya selesaikan seperti yang tunjukkan oleh wanita insinyur sebelum saya. Walau tidak ingin menyalahkan orang lain karena kegagalan saya, namun saya sangat yakin bahwa ketiga alasan itu adalah yang membuat saya tidak bisa mendapatkan beasiswa itu. Saya memang tidak tahu, namun hanya jika ia memiliki IELTS 6.5 sama seperti saya, maka ia memang lebih baik mendapatkan beasiswa itu.
Empat tahun lebih saya di sini, saya baru mulai menyadari bahwa doa saya dahulu, yang meminta agar saya bisa bersekolah di Barat memang tidak dikabulkan Tuhan. Konon memang ada doa yang tidak dikabulkan Tuhan karena IA akan berikan di akhirat sana. Namun, doa saya untuk bersekolah di Barat memang tidak dikabulkan, namun IA merubahnya menjadi berupa ilmu-ilmu dari Barat.
Bagi kita yang menyadari beda dunia hari per hari, maka anda akan setuju dengan saya barat dan timur adalah imajinasi belaka. Pembatas yang kita ciptakan karena kita tidak bisa menyeberanginya seperti kita menyeberangi dunia hari ini, detik ini.
Dan Tuhan, saya sadari kemudian, tidak hanya memberikan ilmu-ilmu dari Barat kepada saya. Ia juga memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan ilmu ke Barat. Dalam empat tahun terakhir, paper saya telah sampai ke Jerman, Turki, dan Australia. Ketiga negara itu mengundang saya untuk datang, namun saya tidak memiliki kemewahan untuk datang. Sedih? Sangat! Namun, bukan itu yang lebih penting. Jika dahulu saya mencarinya ke Barat, sekarang sudah akan tiba masanya untuk berbagi ke Barat.
Tapi, di dalam hati, saya tahu, sebenarnya ada rahasia lain yang ingin disampaikan Tuhan kepada saya. Di dalam hati manusia ada api yang menjadi bahan dasar sifat iblis. Jika api itu besar, maka iblis akan menjadi raja. Padahal, menurut ahli suluk dan sufi, sifat itu adalah sifat Tuhan yang tidak boleh ditiru makhluk. Tuhan pengasih dan penyayang dan manusia juga harus demikian. Tuhan maha pemaaf dan manusia juga harus begitu. Tapi, Tuhan boleh sombong, namun manusia tidak boleh, sama seperti orang kaya boleh sombong--karena ia punya apa yang perlu ia sombongkan, orang miskin tidak boleh sombong; dan karena Tuhan Maha Kaya, maka Ia berhak menyombongkan diriNya.
Ketika saya berdoa agar saya bisa mencari ilmu ke Barat, IA tidak membiarkan saya mencari ke sana. Ia antar ilmu-ilmu yang ingin saya cari itu ke halaman rumah saya. Sekali waktu saya pernah berspekulasi mengapa IA "kejam" kepada saya. Mengapa ia tidak membiarkan saya melanglang buana ke tanah-tanah asing; mengapa IA tidak membiarkan saya berimajinasi bisa melambung setinggi orang-orang sana; mengapa ia tidak membiarkan saya pulang bersimpuh menunjukkan ijasah-ijasah saya kepada kedua orang tua saya; mengapa ia tidak membiarkan salju yang putih menyengat kulit tropis saya.
Dan jawabannya semuanya ternyata ada di dalam diri saya. Ada api besar di dalam diri saya dan api itu hanya butuh sedikit terik untuk menyala dan membakar habis semua. Dan IA tidak ingin itu terjadi.
Saya hanya harus paham.
Sleman, 7 Desember 2011
Singkat cerita, dua tahun kemudian, satu di antara kesibukan saya adalah mencari beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. TOEFL mumpuni dan teratas dari semua dosen yang ada di Fakultas. Saat itu saya sangat yakin bahwa waktu hanyalah satu-satunya pembatas antara saya dengan sekolah manapun di luar sana. Kemudian, walau memang saya tidak pernah lulus beasiswa G-to-G Australia, Perancis, maupun AS, namun selembar surat penerimaan dari Birmingham telah ada di tangan saya di awal tahun 2000.
Mereka memberi waktu hingga Agustus bagi saya untuk melunasi SPP. Dan hingga batas waktu itu berlalu, saya tidak bisa mendapatkan satupun dana. Ada paket beasiswa yang bisa saya dapatkan sebenarnya, namun saya harus bisa mendapatkan satu surat lagi: penerimaan langsung ke S3.
Jelas ini tidak bisa saya dapatkan kemudian. Jika saat ini saya mengingat lagi momen itu, satu hari di bulan April di tahun 2000, saat saya kalang-kabut menyusun apa yang saya kira adalah outline proposal S3, saya hanya bisa menertawai keluguan saya saat itu. Bagaimana mungkin saya bisa menyusun sebuah outline seperti itu jika satu-satunya riset yang pernah saya tulis adalah skripsi?
Di tahun 2001 harapan saya muncul. Lamaran saya seperti akan berujung baik karena saya sudah mencapai tahap wawancara. Malang kemudian, saya tidak tahu persis korelasinya, malam setelah saya pulang dari wawancara, dua menara di NY runtuh dan AS kemudian menjadi takut dengan alien-alien yang akan masuk ke negara mereka.
Menyadari bahwa tahun itu saya sudah berusia 26 dan saya telah jauh dari cita-cita "usia 30 tahun" saya, maka tanpa benar-benar sadar dengan apa yang saya lakukan, saya kemudian telah berada di Jogja, di ruang ujian wawancara. Dan tanpa bisa saya cegah kemudian saya telah menjadi mahasiswa master dan tamat.
Pergelutan batin yang sama terjadi kembali saat saya kemudian memutuskan untuk kembali ke Jogja. FYI, saya memutuskan kembali ke Jogja setahun setelah saya gagal melewati wawancara ADS. Saya duga masalah kegagalan saya hanya karena saya laki-laki, akuntansi, dan tidak bisa menunjukkan dua kardus bukti riset yang saya klaim telah saya selesaikan seperti yang tunjukkan oleh wanita insinyur sebelum saya. Walau tidak ingin menyalahkan orang lain karena kegagalan saya, namun saya sangat yakin bahwa ketiga alasan itu adalah yang membuat saya tidak bisa mendapatkan beasiswa itu. Saya memang tidak tahu, namun hanya jika ia memiliki IELTS 6.5 sama seperti saya, maka ia memang lebih baik mendapatkan beasiswa itu.
Empat tahun lebih saya di sini, saya baru mulai menyadari bahwa doa saya dahulu, yang meminta agar saya bisa bersekolah di Barat memang tidak dikabulkan Tuhan. Konon memang ada doa yang tidak dikabulkan Tuhan karena IA akan berikan di akhirat sana. Namun, doa saya untuk bersekolah di Barat memang tidak dikabulkan, namun IA merubahnya menjadi berupa ilmu-ilmu dari Barat.
Bagi kita yang menyadari beda dunia hari per hari, maka anda akan setuju dengan saya barat dan timur adalah imajinasi belaka. Pembatas yang kita ciptakan karena kita tidak bisa menyeberanginya seperti kita menyeberangi dunia hari ini, detik ini.
Dan Tuhan, saya sadari kemudian, tidak hanya memberikan ilmu-ilmu dari Barat kepada saya. Ia juga memberi kesempatan kepada saya untuk menyampaikan ilmu ke Barat. Dalam empat tahun terakhir, paper saya telah sampai ke Jerman, Turki, dan Australia. Ketiga negara itu mengundang saya untuk datang, namun saya tidak memiliki kemewahan untuk datang. Sedih? Sangat! Namun, bukan itu yang lebih penting. Jika dahulu saya mencarinya ke Barat, sekarang sudah akan tiba masanya untuk berbagi ke Barat.
Tapi, di dalam hati, saya tahu, sebenarnya ada rahasia lain yang ingin disampaikan Tuhan kepada saya. Di dalam hati manusia ada api yang menjadi bahan dasar sifat iblis. Jika api itu besar, maka iblis akan menjadi raja. Padahal, menurut ahli suluk dan sufi, sifat itu adalah sifat Tuhan yang tidak boleh ditiru makhluk. Tuhan pengasih dan penyayang dan manusia juga harus demikian. Tuhan maha pemaaf dan manusia juga harus begitu. Tapi, Tuhan boleh sombong, namun manusia tidak boleh, sama seperti orang kaya boleh sombong--karena ia punya apa yang perlu ia sombongkan, orang miskin tidak boleh sombong; dan karena Tuhan Maha Kaya, maka Ia berhak menyombongkan diriNya.
Ketika saya berdoa agar saya bisa mencari ilmu ke Barat, IA tidak membiarkan saya mencari ke sana. Ia antar ilmu-ilmu yang ingin saya cari itu ke halaman rumah saya. Sekali waktu saya pernah berspekulasi mengapa IA "kejam" kepada saya. Mengapa ia tidak membiarkan saya melanglang buana ke tanah-tanah asing; mengapa IA tidak membiarkan saya berimajinasi bisa melambung setinggi orang-orang sana; mengapa ia tidak membiarkan saya pulang bersimpuh menunjukkan ijasah-ijasah saya kepada kedua orang tua saya; mengapa ia tidak membiarkan salju yang putih menyengat kulit tropis saya.
Dan jawabannya semuanya ternyata ada di dalam diri saya. Ada api besar di dalam diri saya dan api itu hanya butuh sedikit terik untuk menyala dan membakar habis semua. Dan IA tidak ingin itu terjadi.
Saya hanya harus paham.
Sleman, 7 Desember 2011
0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home