Mata dan telinga
Saturday, December 17, 2011
Tua
Tua itu adalah ketika sesal sudah mulai datang
Dewasa adalah tentang makna
Tua bukan dewasa
Tua adalah kesadaran akan perjalanan
Dewasa adalah kesadaran akan pilihan-pilihan
Ketika tua, masa 10, 20, atau 30 tahun bagai kemaren yang jauh
"Ah...bagai baru kemaren"Ketika dewasa, 10, 20, atau 30 tahun adalah dulu yang jauh
"Dulu! Tidak lagi."Tak perlu tua untuk menjadi dewasa
"Lautan budi, tepian ilmu."Namun, tak dewasa bukan berarti tak tua
"Tua-bangka tak tahu diri."
****
Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya
(WS Rendra, 1972)
Aku tulis sajak ini untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
Kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita yang hampir rampung
Dan dengan lega akan kita lunaskan.
Kita tidaklah sendiri dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
Kerna setiap orang mengalaminya.
Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Bekerja membalik tanah
Memasuki rahasia langit dan samodra,
Serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
Kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.
Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
Meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
Dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
Ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.
Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
Melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
Bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
Menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.
Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib, dan kehidupan.
Lihatlah!
Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
Kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
Tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.
Aku tulis sajak ini
Untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
Kenangkanlah pula
Bahwa kita ditantang seratus dewa.
Sleman, 17 Desember 2011
Sajak dari sini
Gambar dari sini

2 Comments:
selamat malam pak :)
sudah lama tak berkunjung kesini di suguhi puisi yang luar biasa :)
Fik, itu bukan saya yang punya puisi lho, tapi almarhum Rendra. Terimakasih sudah mampir lagi.
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home