Mata dan telinga
Sunday, October 09, 2011
...membaca saja aku sulit...
Setelah selesai menulis tentang Erdos-Bacon Number di artikel yang lalu, saya mencoba mencari tahu apakah di kalangan dosen di Indonesia ada yang punya Erdos Number atau tidak. Caranya, pertama saya tanyakan di grup di FB dan satu lagi saya tanyakan di mailinglist kampus saya. Tentu saja, ketika bertanya saya sampaikan sedikit apa yang saya tanyakan serta saya lengkapi dengan alamat artikel saya tersebut. Tujuan saya, ya, agar kalau ada yang belum tahu tentang Erdos Number dan tidak sadar bahwa ia mungkin saja punya Erdos Number sendiri jadi sadar.
Di artikel yang lalu tersebut, saya berusaha sebaik mungkin dan seringkas mungkin menjelaskan apa itu Erdos dan Bacon Number. Saya sendiri sangat takut keliru, terutama dalam memahami Erdos Number. Salah satu yang saya khawatirkan tersebut adalah bahwa ternyata Erdos Number itu tidak sesederhana pendeskripsian seberapa "jauh" jarak seseorang dari Paul Erdos. Misalnya, saya sangat berhati-hati dan takut kalau-kalau Erdos Number itu juga berarti sebuah koefisien atau solusi tertentu atau rumusan tertentu di dalam ilmu matematika, bukan seperti yang saya tulis di artikel tersebut.
Namun, setelah berkutat seharian menulis artikel tersebut, klik sana-sini, baca atas-bawah lengkap-lengkap, saya akhirnya yakin bahwa pemahaman saya tentang Erdos Number sudah benar. Lalu, artikel saya poskan dan di akhir hari saya tanyakan kepada orang-orang apakah ia memiliki Erdos Number atau tidak.
Nah, dua atau tiga hari setelah saya poskan tulisan tersebut datang balasan atas surel saya di mailinglist di kampus saya. Dari seseorang dosen matematika.
Namun, yang mengecewakan saya adalah bahwa ia mempertanyakan pengetahuan saya atas apa yang dimaksud dengan Erdos Number; atau lebih tepatnya, ia menuduh bahwa saya hanya berkicau tidak jelas menanyakan tentang angka itu tapi tidak paham: "Apakah anda paham apa yang dimaksud dengan Erdos Number?" Sebelum kalimat itu, ia malah menuliskan tempat dan tanggal lahir dan tanggal kematian Paul Erdos, serta kebangsaannya.
Bah!
Jelas bahwa ia tidak membaca lengkap surel yang saya kirimkan ke mailinglist dan tidak melihat bahwa di akhir surat saya ada tautan ke artikel saya. Bahkan kalaupun ia tidak melihat tautan tersebut, seharusnya ia tidak tidak melihatnya, alias melihatnya, karena saya tulis, "...yang tautannya ada di bawah ini."
Cukup jelas, bukan? Seharusnya ia sudah tahu bahwa ada tautan ke sebuah artikel dan seharusnya ia telah melihat dan membacanya, bukan, sebelum mempertanyakan apakah saya tahu atau tidak dengan Erdos Number itu?
Terus terang saya bukan penulis yang baik dan terdidik. Setidaknya itu yang saya pahami tentang cara saya menulis. Saya hanya belajar sambil jalan. Intip tulisan seseorang di koran, majalah, blog, atau di media lain; lalu membayangkan bagaimana cara si penulis, di antara beberapa hal penting, memilih gaya penulisan, alur, dan, yang paling penting, panjang tulisan.
Ya, saya sangat sadar bahwa saya tidak punya kemampuan untuk bertahan berlama-lama di depan sebuah teks. Saya akan cepat bosan dengan sebuah tulisan yang panjang dan setelah setengah jam saja saya akan melepasnya lalu mencari perhatian ke hal-hal yang lain sebelum kembali ke tulisan tadi. Itupun kalau saya harus kembali ke sana.
Itulah sebabnya saya juga berusaha menulis pendek-pendek di blog ini demi mempertahankan pembaca di sebuah tulisan, hingga ia bisa mendapatkan cerita utuh dari setiap tulisan.
Nah, kembali ke komentar si dosen tadi, terkesan bahwa ia sebenarnya tidak membaca apa yang saya tulis, lalu kemudian berkomentar. Dan, ia bukan yang pertama berkomentar tanpa membaca lengkap sebelumnya. Di beberapa tulisan di blog saya bertebaran bukti-bukti bahwa si penulis komentar tidak membaca apa yang seharusnya telah ia baca sebelum meninggalkan komentar.
Sebuah contoh, namun tidak ada di dalam komentar di artikel di blog saya, seorang pembaca artikel saya tentang Afganishtan, mempertanyakan bagaimana saya bisa membuat simpulan bahwa Afganishtan adalah negeri orang Pashtun.
Duhai...sesungguhnya apa yang ia tanyakan tersebut ada dengan jelas terpampang di depan matanya jika ia bersedia "menyusahkan diri" barang dua-tiga menit membaca baik-baik.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah bangsa kita benar-benar bisa memahami apa yang ia dengar, baca, dan apakah benar-benar ia bisa membaca. Adik saya, setelah kematian Steve Jobs kemaren, menunjukkan contoh komentar orang di sebuah media sosial.
Silakan anda nikmati dan mari bercermin...
Sleman, 9 Oktober 2011
Di artikel yang lalu tersebut, saya berusaha sebaik mungkin dan seringkas mungkin menjelaskan apa itu Erdos dan Bacon Number. Saya sendiri sangat takut keliru, terutama dalam memahami Erdos Number. Salah satu yang saya khawatirkan tersebut adalah bahwa ternyata Erdos Number itu tidak sesederhana pendeskripsian seberapa "jauh" jarak seseorang dari Paul Erdos. Misalnya, saya sangat berhati-hati dan takut kalau-kalau Erdos Number itu juga berarti sebuah koefisien atau solusi tertentu atau rumusan tertentu di dalam ilmu matematika, bukan seperti yang saya tulis di artikel tersebut.
Namun, setelah berkutat seharian menulis artikel tersebut, klik sana-sini, baca atas-bawah lengkap-lengkap, saya akhirnya yakin bahwa pemahaman saya tentang Erdos Number sudah benar. Lalu, artikel saya poskan dan di akhir hari saya tanyakan kepada orang-orang apakah ia memiliki Erdos Number atau tidak.
Nah, dua atau tiga hari setelah saya poskan tulisan tersebut datang balasan atas surel saya di mailinglist di kampus saya. Dari seseorang dosen matematika.
Namun, yang mengecewakan saya adalah bahwa ia mempertanyakan pengetahuan saya atas apa yang dimaksud dengan Erdos Number; atau lebih tepatnya, ia menuduh bahwa saya hanya berkicau tidak jelas menanyakan tentang angka itu tapi tidak paham: "Apakah anda paham apa yang dimaksud dengan Erdos Number?" Sebelum kalimat itu, ia malah menuliskan tempat dan tanggal lahir dan tanggal kematian Paul Erdos, serta kebangsaannya.
Bah!
Jelas bahwa ia tidak membaca lengkap surel yang saya kirimkan ke mailinglist dan tidak melihat bahwa di akhir surat saya ada tautan ke artikel saya. Bahkan kalaupun ia tidak melihat tautan tersebut, seharusnya ia tidak tidak melihatnya, alias melihatnya, karena saya tulis, "...yang tautannya ada di bawah ini."
Cukup jelas, bukan? Seharusnya ia sudah tahu bahwa ada tautan ke sebuah artikel dan seharusnya ia telah melihat dan membacanya, bukan, sebelum mempertanyakan apakah saya tahu atau tidak dengan Erdos Number itu?
Terus terang saya bukan penulis yang baik dan terdidik. Setidaknya itu yang saya pahami tentang cara saya menulis. Saya hanya belajar sambil jalan. Intip tulisan seseorang di koran, majalah, blog, atau di media lain; lalu membayangkan bagaimana cara si penulis, di antara beberapa hal penting, memilih gaya penulisan, alur, dan, yang paling penting, panjang tulisan.
Ya, saya sangat sadar bahwa saya tidak punya kemampuan untuk bertahan berlama-lama di depan sebuah teks. Saya akan cepat bosan dengan sebuah tulisan yang panjang dan setelah setengah jam saja saya akan melepasnya lalu mencari perhatian ke hal-hal yang lain sebelum kembali ke tulisan tadi. Itupun kalau saya harus kembali ke sana.
Itulah sebabnya saya juga berusaha menulis pendek-pendek di blog ini demi mempertahankan pembaca di sebuah tulisan, hingga ia bisa mendapatkan cerita utuh dari setiap tulisan.
Nah, kembali ke komentar si dosen tadi, terkesan bahwa ia sebenarnya tidak membaca apa yang saya tulis, lalu kemudian berkomentar. Dan, ia bukan yang pertama berkomentar tanpa membaca lengkap sebelumnya. Di beberapa tulisan di blog saya bertebaran bukti-bukti bahwa si penulis komentar tidak membaca apa yang seharusnya telah ia baca sebelum meninggalkan komentar.
Sebuah contoh, namun tidak ada di dalam komentar di artikel di blog saya, seorang pembaca artikel saya tentang Afganishtan, mempertanyakan bagaimana saya bisa membuat simpulan bahwa Afganishtan adalah negeri orang Pashtun.
Duhai...sesungguhnya apa yang ia tanyakan tersebut ada dengan jelas terpampang di depan matanya jika ia bersedia "menyusahkan diri" barang dua-tiga menit membaca baik-baik.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah bangsa kita benar-benar bisa memahami apa yang ia dengar, baca, dan apakah benar-benar ia bisa membaca. Adik saya, setelah kematian Steve Jobs kemaren, menunjukkan contoh komentar orang di sebuah media sosial.
Silakan anda nikmati dan mari bercermin...
Sleman, 9 Oktober 2011

0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home