Mata dan telinga
Sunday, July 17, 2011
Buku, apakah ceritamu?
Jika di tangan anda saat ini ada sebuah buku, mungkin sekali buku itu adalah buku teks sekolah atau kuliah anda. Mungkin pula adalah buku tentang cara bertani, beternak, merangkai bunga, atau memasak. Mungkin pula buku tersebut adalah sebuah novel, komik, atau roman seharga picis. Mungkin pula yang di tangan anda adalah buku tentang sejarah dunia, negara anda, kampung anda, atau biografi seseorang yang sangat sukses, berjasa, fenomenal atau jahat di masa lalu. Buku yang saat ini ada di tangan anda juga mungkin adalah buku tentang cara merangkai dan memperbaiki komputer atau ponsel, memilih investasi di pasar modal, atau teknik menulis yang baik dan menjual.
Konon di suatu masa seorang raja yang sangat berkuasa meminta kepada para cendekiawan di kerajaannya untuk menuliskan sejarah manusia, atau mungkin kerajaannya. Lalu, setelah beberapa tahun, sejarah itu selesai ditulis. Raja terkejut dan kaget melihat buku-buku yang dihaturkan ke hadapannya yang dibawa dengan kereta-kereta yang ditarik oleh kuda-kuda.
Ia kemudian bertanya tentang apakah buku-buku yang dibawa kepadanya. Para cendekiawan itu menjawab bahwa itu adalah seluruh sejarah yang ada.
Raja tidak puas. Ia menganggap buku-buku tersebut terlalu tebal dan banyak. Ia ingin agar sejarah itu ditulis lebih ringkas lagi. Para cendekiawan itu berlalu dan mematuhi perintah raja.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali lagi. Kali ini kereta pembawa buku tidak lagi sebanyak yang lalu. Namun, raja masih belum puas. Ia ingin mendapatkan versi yang lebih ringkas.
Kali ini, para cendekiawan tersebut kembali harus berupaya keras agar bisa menuruti perintah sang raja. Namun, tahun-tahun berlalu lebih cepat dan panjang. Sang raja terus menua, demikian juga para cendekiawan yang dulu ia tugaskan.
Ketika suatu hari raja dan para cendekiawannya bertemu, mereka sudah sama-sama tua. Raja menanyakan kembali tugas yang ia berikan kepada mereka. Lalu, salah seorang dari cendekiawan yang masih hidup menyerahkan secarik kertas kepada sang raja.
Sang raja kemudian bertanya kertas apakah itu. Cendekiawan renta itu menjawab, "Itulah sejarah kita, Paduka."
Sang raja tertegun membaca tiga kata yang tertulis di kertas itu: LAHIR, HIDUP, MATI.
LAHIR adalah masa lalu; HIDUP adalah hari ini; MATI adalah hari esok.
Buku-buku yang ditulis dan beredar di dunia saat ini tidak lepas dari ketiga masalah ini. Buku teks sekolah berbicara tentang apa yang telah dicapai di masa lalu untuk bisa dimanfaatkan di masa ini dan apa yang bisa diantisipasi untuk masa depan. Misalnya, buku tentang investasi di pasar modal. Di bagian awal buku kita mungkin akan disuguhkan tentang teori-teori investasi. Teori-teori itu adalah hasil dari penelitian di masa lalu. Mungkin jauh ke awal abad yang lalu. Lalu, paruh berikutnya bisa jadi berbicara tentang model-model yang bisa digunakan untuk memilih investasi dan bukti-bukti keberhasilan orang yang telah menggunakan salah satu atau lebih dari model-model tersebut. Anda kemudian akan diyakinkan bahwa model atau alat analisis tertentu lebih unggul dan bisa anda gunakan untuk kepentingan anda hari ini, jika anda hendak berinvestasi di pasar modal. Di paruh lain anda juga akan diberikan wejangan bahwa ada masalah-masalah tertentu yang harus anda antisipasi di masa depan karena, mungkin, hal yang telah terjadi di masa lalu. Misalnya, bahwa krisis ekonomi di dunia selalu berulang setiap sekitar 30-40 tahun sekali: 1930; 1970; 1997.
Buku tentang memasak, bertani, berkebun, merakit komputer, merangkai bunga, juga bicara tentang masa lalu, masa ini, dan, mungkin pula, masa depan. Biografi dan sejarah akan berbicara tentang masa lalu. Komik atau novel bisa menjadi cara lain bagi kita untuk melihat sesuatu yang berlaku di masa lalu. Namun, mereka juga bisa juga hanya untuk tujuan kehidupan hari ini: kesenangan atau kepuasan semata.
Selain daripada novel atau komik yang mungkin hanya memberikan keasyikan masa kini, setiap buku, atau setidaknya sebagian besar, akan berbicara tentang tiga perioda waktu. Kita mungkin tidak benar-benar menyadari bahwa buku seperti buku kumpulan puisi Kahlil Gibran atau kumpulan lukisan Renaissance menggambarkan karya mereka di masa lalu. Sebenarnya, di dalam tulisan dan lukisan tersebut tersirat apa yang terjadi di masa mereka dulu dan mungkin yang terjadi di masa sebelumnya yang kemudian mereka lukiskan di masa mereka.
Buku, dengan demikian adalah gambaran tentang kita: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.
Pulau Lombok, 18 Juli 2011
Konon di suatu masa seorang raja yang sangat berkuasa meminta kepada para cendekiawan di kerajaannya untuk menuliskan sejarah manusia, atau mungkin kerajaannya. Lalu, setelah beberapa tahun, sejarah itu selesai ditulis. Raja terkejut dan kaget melihat buku-buku yang dihaturkan ke hadapannya yang dibawa dengan kereta-kereta yang ditarik oleh kuda-kuda.
Ia kemudian bertanya tentang apakah buku-buku yang dibawa kepadanya. Para cendekiawan itu menjawab bahwa itu adalah seluruh sejarah yang ada.
Raja tidak puas. Ia menganggap buku-buku tersebut terlalu tebal dan banyak. Ia ingin agar sejarah itu ditulis lebih ringkas lagi. Para cendekiawan itu berlalu dan mematuhi perintah raja.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali lagi. Kali ini kereta pembawa buku tidak lagi sebanyak yang lalu. Namun, raja masih belum puas. Ia ingin mendapatkan versi yang lebih ringkas.
Kali ini, para cendekiawan tersebut kembali harus berupaya keras agar bisa menuruti perintah sang raja. Namun, tahun-tahun berlalu lebih cepat dan panjang. Sang raja terus menua, demikian juga para cendekiawan yang dulu ia tugaskan.
Ketika suatu hari raja dan para cendekiawannya bertemu, mereka sudah sama-sama tua. Raja menanyakan kembali tugas yang ia berikan kepada mereka. Lalu, salah seorang dari cendekiawan yang masih hidup menyerahkan secarik kertas kepada sang raja.
Sang raja kemudian bertanya kertas apakah itu. Cendekiawan renta itu menjawab, "Itulah sejarah kita, Paduka."
Sang raja tertegun membaca tiga kata yang tertulis di kertas itu: LAHIR, HIDUP, MATI.
LAHIR adalah masa lalu; HIDUP adalah hari ini; MATI adalah hari esok.
Buku-buku yang ditulis dan beredar di dunia saat ini tidak lepas dari ketiga masalah ini. Buku teks sekolah berbicara tentang apa yang telah dicapai di masa lalu untuk bisa dimanfaatkan di masa ini dan apa yang bisa diantisipasi untuk masa depan. Misalnya, buku tentang investasi di pasar modal. Di bagian awal buku kita mungkin akan disuguhkan tentang teori-teori investasi. Teori-teori itu adalah hasil dari penelitian di masa lalu. Mungkin jauh ke awal abad yang lalu. Lalu, paruh berikutnya bisa jadi berbicara tentang model-model yang bisa digunakan untuk memilih investasi dan bukti-bukti keberhasilan orang yang telah menggunakan salah satu atau lebih dari model-model tersebut. Anda kemudian akan diyakinkan bahwa model atau alat analisis tertentu lebih unggul dan bisa anda gunakan untuk kepentingan anda hari ini, jika anda hendak berinvestasi di pasar modal. Di paruh lain anda juga akan diberikan wejangan bahwa ada masalah-masalah tertentu yang harus anda antisipasi di masa depan karena, mungkin, hal yang telah terjadi di masa lalu. Misalnya, bahwa krisis ekonomi di dunia selalu berulang setiap sekitar 30-40 tahun sekali: 1930; 1970; 1997.
Buku tentang memasak, bertani, berkebun, merakit komputer, merangkai bunga, juga bicara tentang masa lalu, masa ini, dan, mungkin pula, masa depan. Biografi dan sejarah akan berbicara tentang masa lalu. Komik atau novel bisa menjadi cara lain bagi kita untuk melihat sesuatu yang berlaku di masa lalu. Namun, mereka juga bisa juga hanya untuk tujuan kehidupan hari ini: kesenangan atau kepuasan semata.
Selain daripada novel atau komik yang mungkin hanya memberikan keasyikan masa kini, setiap buku, atau setidaknya sebagian besar, akan berbicara tentang tiga perioda waktu. Kita mungkin tidak benar-benar menyadari bahwa buku seperti buku kumpulan puisi Kahlil Gibran atau kumpulan lukisan Renaissance menggambarkan karya mereka di masa lalu. Sebenarnya, di dalam tulisan dan lukisan tersebut tersirat apa yang terjadi di masa mereka dulu dan mungkin yang terjadi di masa sebelumnya yang kemudian mereka lukiskan di masa mereka.
Buku, dengan demikian adalah gambaran tentang kita: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.
Pulau Lombok, 18 Juli 2011



0 Comments:
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home