Mata dan telinga

Sunday, May 01, 2011

Seorang remaja di dua teater PD II



Perang Dunia II memiliki dua teater, European Theater of Operation (ETO) dan Pacific Theater of Operation (PTO). Dari nama keduanya jelas ETO mengambil tempat di Eropa, sedangkan PTO digelar di Pasifik. Teater Eropa sendiri secara kasar terdiri dari dua front besar, yaitu front Timur antara Jerman melawan Rusia dan front Barat adalah antara Sekutu melawan Jerman. Di teater Pasifik, Amerika Serikat menjadi pemimpin utama perang melawan Jepang. Di sana sebenarnya ada Inggris dan Belanda juga, misalnya, yang berperang karena memiliki banyak jajahan di Asia, namun AS adalah penyumbang pasukan terbesar. Selain kedua front tersebut, sebenarnya masih ada pertempuran lain antara Sekutu dengan Jerman, yaitu di Afrika Utara.

Selama PD II tersebut tidak banyak prajurit yang bisa mengambil bagian di semua front pertempuran. Sebagian besar malah mungkin tidak pernah sempat menembakkan satu butir pelurupun sebelum terbunuh, entah di Belgia,  Tunisia, Libya, Balkan, Normandia, atau di atol-atol di Pasifik.

Namun, pernahkah anda membayangkan bahwa ada satu orang remaja belum 20 tahun telah terlibat di dalam PD II di hampir semua front? Bahkan ia telah menjadi saksi kepengecutan penguasa Belgia terhadap Jerman yang menyerahkan diri dan harga diri mereka. Ia menyaksikan bagaimana Belgia menyerahkan dan menunjukkan semua perbekalan mereka kepada Jerman hanya agar tidak dilibas oleh Jerman. Dan ia harus membayar tindakannya itu dengan jatuh dari atap rumah dan nyaris terkurung di bawah tanah ketika Jerman masuk menyerang Jerman.

Selanjutnya, ia berjalan menyelinap di tengah pertempuran antara Jerman dan Inggris ke arah Barat demi menyampaikan kepada Tigger alias Winston Churchill. Si anak ini sendiri memiliki kode panggilan Christopher Robin. Selain itu ia memiliki atasan lain, yang mengendalikan dan mengawasinya, yaitu Pooh dan Owl.

Ketika itu ia tidak berhasil menemukan kontaknya di Belgia karena kemajuan Jerman yang tidak terbendung. Namun, ia bertekad harus menemukan pasukan Inggris untuk menyampaikan pesan radio ke London. Ketika itulah ia menjadi saksi pengunduran diri Inggris dari daratan Eropa di Dunkirk. Dan usianya, masih 15 tahun.

Ya, ia masih remaja tanggung ketika pertama kali bertugas sebagai mata-mata pribadi Tigger. Tugasnya sangat rahasia sehingga hanya ada dua orang lain selain Churchill yang tahu keberadaannya. Kisahnya ditulis bersama oleh Brian Garfield dan Christopher Creighton--yang juga bukan nama asli dari si anak itu.

Buku ini ibarat sebuah buku sejarah yang bercerita tentang sisi lain dari peperangan di tengah PD II. . Christopher Robin bahkan seperti menjadi aktor penentu jalan PD II. Misalnya, jika saja kontak radionya masih ada di tempat yang direncanakan, tidak lari karena serangan Jerman, maka ia bisa menyampaikan berita penting tentang rencana Belgia membiarkan Jerman melewati Belgia dan menjarah perbekalan pasukan Belgia dengan peta Belgia sendiri. Inggris yang saat itu telah masuk ke daratan Eropa bisa saja menekan Belgia untuk mempertahankan diri atau mungkin tidak menyerahkan perbekalan mereka kepada Jerman. Dan sangat mungkin Inggris dan sekutunya lain tidak harus menyeberang lari ke Inggris melalui Dunkirk. Tugas amatirnya yang kedua dan sangat menegangkan adalah ketika ia harus mencari tahu di mana di Irlandia pasukan U-Boat Jerman berpangkalan. Dengan menyamar sebagai seorang pramuka laut yang ingin berlibur, ia menyelinap di pedesaan Irlandia, lolos dari pemeriksaan pasukan Irlandia, masuk ke pangkalan U-Boat Jerman, dan bahkan menyaksikan sendiri bengkel pemeliharaan U-Boat di sana. Dan dalam tugasnya inilah ia pertama kali harus membunuh seorang tentara Jerman!

Robin atau Creighton, setelah penugasan pertamanya dimasukkan ke kursus komando. Dalam pelatihan ini identitasnya sendiri disamarkan sebagai seorang Letnan bernama Peter Hamilton. Identitas ini yang juga sering ia gunakan di dalam penugasan-penugasan yang lain, seperti di Pasifik, Afrika Utara, dan Perancis.

Ketika ia akhirnya bersedia menjalani pelatihan komando, Churchill alias Tigger memintanya secara pribadi agar bersedia menjadi Paladin atau pejuang pribadinya. Robin tidak menolak permintaan Churchill tersebut karena ia sangat hormat dan menyayangi Tigger sejak ia masih anak kecil. Pertemuan mereka yang unik dan dilanjutkan dengan persahabatan jauh sebelum Churchill menjadi Perdana Menteri membuat hubungan mereka tidak biasa.

Misalnya, barangkali hanya Robin lah satu-satunya prajurit Inggris yang bisa menolak perintah pemimpinnya kecuali ia mendengar perintah langsung dari Churchill. Ia bahkan bisa meminta pertemuan empat mata dengan Churchill setiap kali ia marah sekembalinya dari penugasan yang telah menghancurkan sisi-sisi kemanusiannya.

Memang demikian, Robin pernah "menyelinap" ke dalam kapal selam Belanda, menipu seisi kapal dengan ide torpedo dengan kendali magnetis yang sebenarnya hanyalah bom waktu bagi sekutu utama Inggris itu sendiri. Akibat dari perbuatannya tidak hanya pasukan satu kapal selam itu yang tewas sia-sia, namun juga ribuan pasukan Amerika di Pearl Harbor. Semua itu hanya karena Inggris, sebagai komando Eropa tertinggi yang membawahkan armada Belanda dan sekutu lainnya, mendapat pesan radio dari kapal selam itu bahwa armada Jepang mendekati Pearl Harbor. Tigger tidak ingin AS tahu bahwa Jepang akan menyerang karena hanya dengan kehancuran AS sendirilah rakyat AS akan bersedia terjun di PD II. Makanya, Robin harus memastikan agar tidak satupun awak dari kapal selam itu sempat berbicara di darat. Ia bahkan harus membunuh tiga petugas sandi Inggris sendiri di London, salah seorang darinya justru adalah pacarnya.

Kita bisa bayangkan sendiri kehancuran seorang remaja 17-18 tahun karena tindakan yang harus ia lakukan itu. Dan apa yang kemudian ia dengar dari Churchill justru lebih mengejutkan, yaitu bahwa FDR sendiri tahu tentang gerakan Jepang ke Pearl Harbor dan justru mendiamkannya.

Saya telah banyak membaca sejarah PDII sebelumnya, lewat banyak buku. Namun, membaca cerita tentang Christopher Robin alias Peter Hamilton alian Christopher Creighton seakan melengkapi dan menjelaskan banyak hal yang telah saya ketahui. Dan, akibatnya, saya justru meragukan kelengkapan pengetahuan saya yang lalu.

Misalnya, di sini saya baru mengetahui bahwa untuk memutuskan pantai mana di Perancis yang akan didarati oleh Sekutu, Inggris menugaskan banyak orang, termasuk Hamilton untuk mendarat di sana, mengambil sampel pasir di berbagai tempat, dan meninggalkan jejak-jejak yang sangat jelas bagi Jerman bahwa Inggris telah menyusup ke sana dan merencanakan sesuatu untuk pendaratan. Di dalam film Female Agents, operasi penelitian tanah pantai-pantai di Perancis juga dikisahkan.

Bagi Hamilton tugas seperti ini sangat menyenangkan karena ia jelas-jelas menyerang Jerman. Sama dengan kenikmatan yang ia rasakan saat bergabung dengan French Resistance. Namun, tugas utamanya tidaklah berhadapan dengan Jerman, namun mengalahkan Jerman, dengan cara apapun.

Satu kali ia harus melatih seorang Perancis untuk membunuh seorang Jenderal Perancis hanya karena Jenderal tersebut tidak disenangi Sekutu. Ia harus membunuh seorang diktator untuk menggantinya dengan diktator yang lain.

Di tugas yang lain, ia harus menyamar menjadi Creighton, perwira sandi yang manja dan gila uang sehingga bersedia menjual informasi kepada Jerman. Untuk itu ia harus menyaksikan sendiri ribuan pasukan Kanada dan Sekutu yang lain, termasuk sahabatnya, Roberts, tewas di Dieppe. Tugas ini, hanya karena Churchill tidak senang dengan kengototan sekutunya untuk segera menginvasi Eropa ketika persiapan belum matang.

Dan tugas mematangkan persiapan itu akhirnya kembali dibebankan kepada Robin. Setelah dijejali dengan informasi yang sangat detil tentang rencana pendaratan di Normandia, termasuk dengan detil sandi setiap pantai yang akan didarati, ia diminta untuk menyesatkan Jerman yang telah mempercayai pengkhianatannya di Dieppe sebelumnya. Kali ini, ia justru menjual informasi yang keliru tentang rencana pendaratan di Calais, titik terpendek antara Inggris dan Perancis.

Tugasnya yang terakhir ini sebenarnya tugas sangat terencana dan penuh tipu muslihat. Ia diberitahu bahwa tugas itu tugas bunuh diri. Ia bahkan dibekali dengan sebuah gigi palsu yang berisi sianida--yang ternyata juga palsu. Ia memang dengan sengaja dikirim untuk disiksa dan agar seluruh informasi tentang rencana pendaratan keluar dari mulutnya. Awalnya ia bercerita tentang bahwa seakan-akan pendaratan adalah di Calais, namun Jerman yang curiga menyiksanya luar-dalam hingga akhirnya keluar dari mulutnya sendiri informasi Normandia, tentang Omaha, Utah, Juno, Sword, Gold, dan seluruh Operation Overlord. Namun, yang mengherankan Hitler tetap menganggap bahwa pendaratan di Normandia, walau telah berjalan sepekan, sebagai pengalih perhatian dari pendaratan sesungguhnya di Calais. Dan sepertinya, memang itulah inti dari operasi Robin yang terakhir itu: menyesatkan dengan informasi yang benar.

Buku ini sangat menarik dan menggelitik anda untuk bertanya: apakah memang demikian yang terjadi. Saya sendiri sangat penasaran apakah memang benar Belanda telah tahu tentang armada Jepang namun dicegah oleh Inggris dengan cara yang sangat memilukan. Jika benar demikian, maka Belanda patut marah kepada Inggris.

Kekurangan buku ini adalah penggunaan "-nya" yang tidak pada tempatnya. Berkali-kali di dalam teks ditemukan akhiran "-nya" yang tidak mengacu kepada kepemilikan. Misalnya, "tanknya Rommel" alih-alih "tank Rommel". Jika tank (milik) dia adalah Rommel, lalu Rommel itu siapa? Jelas, penggunaannya "-nya" ini berasal dari bahasa percakapan, terutama dari bahasa Jawa, sebagai pengganti "e" seperti "mak-e" atau "bapak-e". Jika kekeliruan "-nya" ini tiada, maka buku ini menjadi lezat.

Satu kekeliruan penerjemahan, adalah terjemahan dari "hundreds of thousand" menjadi "ratusan dari ribuan". Karena buku itu sedang tidak di tangan saya saat ini, saya hanya bisa menunjukkan bahwa terjemahan itu ada di bagian mana Creighton alias Robin alias Hamilton memikirkan nasib pasukan Sekutu yang akan mendarat menginvasi Eropa.

Kekurangan buku ini yang lain adalah pada kulit luarnya. Jika diperhatikan dengan cermat, maka tentara yang digambarkan di sana bukanlah salah satu dari pasukan Inggris di PD II. Ciri yang jelas adalah helm baja yang dikenakan, yang sangat mungkin itu adalah tentara AS. Tentara Inggris di PD II punya helm yang kurang-lebih seperti piring makan yang terbalik ini.

Sumber

Sumber

Bandingkan dengan seragam tentara AS di PD II di bawah ini

Sumber 

 Sumber


Siapapun yang suatu hari nanti ingin memenangi perang, menangilah tanpa harus membunuh jiwa seorang anak, apalagi jika belum mencapai usianya yang ke-20.




Sleman, 1 May 2011
posted by Rahmat Febrianto at 6:17 PM

4 Comments:

mantab pak resensi bukunya :)
saya suka kata-kata terakhir
"Siapapun yang suatu hari nanti ingin memenangi perang, menangilah tanpa harus membunuh jiwa seorang anak"
jadi tertarik untuk mencari dan membacanya...

8:29 PM  

Ah, terimakasih Fik. Bagaimana artikel politiknya? Masih nulis, kan?

8:38 PM  

Barusan semalam saya menamatkan buku ini, luar biasa sensasi yang ditimbulkan setelahnya...terlepas dari kebenaran sejarah yang ada di novel ini, saya benar2 menyukainya...^^

4:23 PM  

Terimakasih sudah berkunjung, bu Rosa

10:15 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home