Mata dan telinga

Saturday, May 14, 2011

Sekerat daging, sesuap nasi, dan seteguk air

Dalam sebuah kuliah, saya bertanya kepada mahasiswa bagaimana cara mengukur kelezatan sebuah makanan. Macam-macam jawaban mereka. Lalu saya mengusulkan satu, yaitu seberapa tandas makanan itu di piring. Menurut saya, semakin tandas makanan di piring, berarti (bisa) disimpulkan bahwa makanan itu lezat.

Seorang mahasiswa kemudian membantah karena menurutnya ia justru tidak menghabiskan makanan yang lezat. Baginya, makanan yang lezat tidak mesti dihabiskan.  

Saya membiarkan ia berpendapat begitu walau bagi saya itu tidak benar. Tapi dia bukan satu-satunya orang yang berperilaku begitu. Coba sesekali perhatikan tabiat makan seseorang. Kalau mau lihat yang lebih banyak, datanglah ke rumah makan atau restoran. Coba lihat piring-piring yang ditinggalkan oleh orang yang selesai makan. Seberapa banyak dari mereka yang benar-benar telah menghabiskan makanan mereka?

Sekerat daging mungkin saja masih ada di atas piring tersebut. Sepertiga es teh mungkin ada di gelas di meja yang lain. Sesuap nasi mungkin tidak disentuh di piring yang lain. Jika anda berpikir bahwa anda berhak berperilaku demikian karena anda yang membayar semua makanan dan minuman itu dan akan ada makhluk lain yang bisa menikmati sisa makanan anda, mulai dari kucing hingga jin, mari kita lihat dari perspektif yang lain.

Daging yang anda sisakan itu berasal dari seekor sapi seberat 200 kg. Ia disembelih di sebuah tempat dan ia berkorban nyawa hanya untuk memberi anda sekian kilo kalori dan sekian gram protein. Anda berhak membuang 1000 rupiah dari harga 10.000 rupiah potongan tersebut karena anda yang memilikinya. Namun, sadarkah bahwa pada saat yang sama, seseorang lain, di suatu tempat di sana, berharap mendapatkan protein walau hanya 10% dari protein yang anda konsumsi? 










Ah, masa bodoh. Saya masih bisa bersedekah.
Tentu saja, namun jumlahnya tetap kurang karena 1000 rupiah telah anda buang. Walaupun hanya sekerat daging, tapi untuk sekerat itupun satu nyawa seberat 200 kg harus melayang demi sekerat daging di piring anda--yang ternyata juga anda buang sebagian. Bayangkan betapa sia-sia pengorbanan si sapi (sesungguhnya memang ia telah berkorban demi manusia, kita!) seandainya itulah satu-satunya potongan tubuhnya dari 200 kg tubuhnya yang tersisa, karena, misalnya, yang lain hanyut ke sungai atau terbakar bersama toko penjualnya.

Seteguk air yang anda sisakan di gelas mungkin berasal dari sebuah mata air puluhan kilometer dari tempat anda meminumnya. Mata air tidak bisa memberikan anda segelas air kecuali di sana sudah ada kandungan air yang sangat mungkin membutuhkan puluhan atau ratusan tahun untuk bisa terkumpul, setetes demi setetes.

Tahukah anda bahwa memang setetes demi seteteslah air itu terkumpul karena ia harus melewati berlapis-lapisan saringan tanah agar air yang keruh di permukaan hutan yang berasal dari hujan bisa menjadi jernih di dalam tanah? 

Lalu, bisakah anda membayangkan berapa lama air harus menetes agar bisa terkumpul menjadi segelas air, segalon air, atau satu truk air dan bahkan bisa disedot bertahun-tahun? Kalau tidak percaya, coba saja menyaring seember air keruh sendiri menggunakan teknik penyaringan sederhana. Lihat berapa lama anda bisa mendapatkan seember air lagi--untung kalau benar-benar seember yang berhasil menetes ke ember anda. Sebagian mungkin tertinggal di ijuk, tanah liat, atau kerikil yang anda gunakan sebagai penyaring.

Ah, saya tidak mau membayangkan.

Pun demikian dengan sesuap nasi yang tersisa di atas piring anda. Lupakah anda bahwa sebatang rumput butuh 100-120 hari untuk bisa berubah menjadi padi dan kemudian beras?

Dan lupakah anda bahwa betapa kenikmatan suapan pertama saat anda berbuka puasa di awal malam setelah satu teguk yang melegakan?



  Sumber 
Sumber

Itulah kekuatan dari sekerat daging, seteguk air, dan sesuap nasi. Sayangnya kita lebih suka untuk lupa.



Sleman, May 2011 

Patut dilihat dan menjadi sumber setiap gambar di sini
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=420974152
http://bpmkotabandaaceh.wordpress.com/2010/09/20/penghamburan-makanan/
http://ashev-chenko.blogspot.com/2011/01/video-mengharukan-mereka-masih.html
http://fahmy319.wordpress.com/page/2/
http://bumikaryasenja.wordpress.com/2011/01/26/potret-kehidupan/
posted by Rahmat Febrianto at 10:58 AM

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home