Mata dan telinga

Thursday, March 10, 2011

Selamat menempuh usia yang baru, Ayah

Saya ingin mengenang kembali ingatan saya tentang ayah saya, yang insya ALLAH akan berusia 70 tahun besok.  Jujur, saya tidak tahu apakah memang ada besok bagi saya maupun ayah saya. Namun, saya masih berharap bahwa kami masih bisa bertemu lagi. Mengapa? Karena ada satu janji lagi yang harus saya penuhi. Janji yang hanya saya dan ayah yang pahami. Tidak usah bertanya.

Ada beberapa kenangan yang cukup membekas, dan yang ingin saya ingat berhubungan dengan sekolah.

Pertama adalah ketika suatu hari saya diantar ke SD 44 Padang Utara (sekarang ada di belakang Polsek Padang Utara, dulu masih di halaman BPG). Kalau saya tidak salah ada satu teman yang bersama saya saat itu. Namun saya tidak ingat itu siapa. Seingat saya kalau tidak Agus Salim atau Afrenaldi (maaf saya lupa nama panjangnya kecuali nama panggilannya Ren). Di atas mobil Hardtop, ayah saya mengajarkan teknik menghapal perkalian 9 menggunakan teknik yang sederhana.

"Jika ingin tahu hasil perkalian 4 x 9, maka cari angka pertama di bawah angka 4, yaitu 3. Lalu, angka berapa yang kalau ditambahkan dengan 3 akan menghasilkan 9?"

Kami lalu menghitung, "enam".

"Nah, kedua angka tadi, 3 dan 6, disusun berurutan dari 3 dan 6. Dibaca tigapuluh enam".

"Sekarang, kalau 7 x 9, berapa?"

"Angka di bawah 7 adalah 6 dan enam ditambah tiga hasilnya sembilan. Jadi, enampuluh tiga."

Saya dan teman saya kemudian terkesima. Saat itu memang kami masih disuruh menghapal semua perkalian 1 hingga 10. Jadi, satu teknik seperti ini sangat berguna bagi kami.

Itulah ayah saya. Beliau sangat kuat di dalam berhitung. Jangan ragukan beliau dalam hal ini. Ketika dulu meteran SPBU masih memakai jarum, beliau dengan cepat menghitung berapa rupiah uang yang harus beliau bayar jika meteran menunjukkan 35,3 liter, misalnya--dan tidak lupa memberitahu saya berapa uang kembalian yang harus saya terima dari kasir. Tidak hanya matematika, beliau juga pemahaman yang baik tentang ilmu kimia. (Ada cerita unik yang selalu diceritakan ibu saya tentang ayah yang mengajarkan ilmu kimia kepada ia dan teman-temannya semasa SMA, namun tidak ingin saya bicarakan di sini.)

Kedua adalah ketika saya meminta secara khusus kepada beliau untuk mengantar saya mendaftar ke SMP 2 Padang. Saat itu, kami, siswa baru, harus mendaftar ulang. Seingat saya Rp.27 ribu saat itu. Namun, kami harus membawa orangtua untuk pendaftaran itu--mungkin karena jumlahnya yang besar saat itu. Dan saya kali itu sangat ingin membawa ayah saya. Beliau sebenarnya sedang sibuk siang itu di RS Ibnu Sina, namun beliau bersedia. Sempat beliau bertanya mengapa saya tidak meminta ibu saja yang menemani.

Saat itu saya tidak menjawab. Saya tidak pernah bermanja-manja kepada beliau--kecuali mungkin di masa kecil yang saya tidak ingat--namun saya punya alasan khusus untuk permintaan itu. Beberapa bulan sebelumnya, sakit keras yang saya alami memaksa saya nyaris menyelesaikan SD saya dalam perawatan di dua rumah sakit. Saya bahkan harus belajar berjalan lagi setelah sembuh karena lama berbaring. Dan bahkan saya harus mengikuti ujian Ebtanas susulan karena kemudian sempat sakit lagi. Namun, ALLAH memberikan kepada saya jalan yang sangat lapang untuk bisa berada di peringkat atas di SD saya dan bisa dengan mudah melenggang pindah rayon ke SMP manapun di Padang. Dan saya memilih SMP 2.

Itulah alasan saya. Saya ingin menunjukkan kepada beliau betapa saya bangga dimilikinya dan ingin menunjukkan bahwa kasih-sayangnya telah membantu saya berprestasi lagi.
Suatu hari saya baru tahu bahwa malam pernah hampir menjadi malam yang sangat panjang. Hari itu saya baru juga tahu betapa tabah beliau menyalakan suluh saat itu dan di hari-hari setelahnya. 

Ketiga adalah ketika saya menyelesaikan pendidikan magister saya. Kala itu suasana di rumah tidak memungkinkan bagi ibu saya untuk meninggalkan kemenakan saya yang masih kecil-kecil di rumah untuk menghadiri wisuda saya. Apalagi jika beliau harus meninggalkan ayah dengan dua kemenakan tersebut. Sementara itu, ayah sendiri tidak akan bisa bepergian sendirian tanpa teman sejatinya. Makanya, saya kemudian menyarankan agar mereka tidak usah datang ke wisuda saya.

Awalnya mereka tidak keberatan. Namun, kemudian ibu saya tahu bahwa saya lulus dengan predikat cum laude. Saya tidak sengaja memberitahu ibu saya tentang hal ini karena saya pernah dengar isu bahwa ada kemungkinan bahwa orangtua dari lulusan yang berpredikat itu akan dipanggil oleh senat--walau itu tidak terjadi kemudian. Namun, itu sudah cukup untuk membuat ayah saya menangis di kamar jika ia tidak bisa datang ke wisuda saya. Ibu yang bercerita belakangan tentang hal ini.

Besoknya ayah saya memutuskan untuk berangkat sendiri ke Jogja. Masalahnya adalah itu. Ayah saya sudah sangat lama tidak terbang dan belum pernah sekalipun harus menggunakan dua penerbangan. Jangan tertawa dengan kekunoan ayah saya ini karena memang demikianlah beliau. Beliau akan lebih senang menempuh perjalanan darat yang melelahkan karena dengan demikian ia bisa mengajak kami semua dan melihat lebih banyak.

Kala itu beliau dibekali satu ponsel oleh ibu saya (jangan juga tanya mengapa beliau saya sebut "dibekali"). Namun, berkali-kali saya telpon mengecek posisinya, berkali-kali pula beliau menelpon kembali menanyakan siapa yang menelpon sebelumnya.

Terakhir adalah ketika pertengahan tahun lalu beliau bicara di telpon dengan saya. Ayah saya bukan orang yang banyak bicara dan--seperti tadi--jauh dari telpon. Namun malam itu beliau dengan sengaja meminta bicara dengan saya. Hanya satu pertanyaannya, "Kapan perkiraanmu lulus dan seberapa lama lagi?"

Yah, itulah ayah saya, ayah kami. Yang rela jarang kami manjai di rumah, namun selalu mengantar kami ke kehidupan yang lebih baik, yang sebagian besar hanyalah impian baginya. Yang rela harus kami tinggalkan dan berdoa sendirian di rumah bagi kami setiap kali kami hendak mengejar sesuatu-yang-kami-kira adalah impian kami.

Beliau adalah orang sederhana yang rela mandi peluh hanya untuk melengkapi rumah kami dengan buku yang bahkan tidak kami butuhkan hari itu. Di Mekkah kemaren beliau bergegas masuk ke toko mencari sebuah Alqur'an dengan terjemahan bahasa Inggris. Ketika saya tanya untuk apa, "Kemenakanmu akan memasuki pergaulan internasional suatu hari". Saya hanya bisa malu karena telah bertanya dengan kebodohan yang luar biasa. Impiannya demikian tinggi dan jauh...

Ya, masih ada satu impian dan janji kami berdua. Dan saya ingin kami berdua sama-sama menikmati janji itu.

Selamat menempuh usia yang baru, Ayah. Tetaplah tegak bersama kami--duh, masih saja saya meminta!


Sleman, 10 Maret 2011
posted by Rahmat Febrianto at 9:20 PM

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home