Mata dan telinga

Monday, February 28, 2011

The Kite Runner--Membaca Afghanistan dari Sebuah Buku

Saya buta dengan Afghanistan. Sama-sekali. Saya tahu bahwa negara itu ada di antara Pakistan dan Iran. Namun jangan tanyakan kepada saya di mana kira-kira posisi Kabul. Saya tidak tahu bahasa apa yang digunakan oleh mereka: apakah mirip dengan bahasa Pakistan atau justru Iran? Suku apa yang menjadi nenek moyang mereka? Lagi-lagi, apakah mereka sama dengan orang Iran atau Pakistan?

Pengetahuan saya tentang Afghanistan pertama kali dipasok oleh John Rambo dan film-film seputar perseteruan AS dengan Soviet di sana. Lalu kemudian, Soviet terusir dan digantikan oleh Taliban, yang kala itu saya tahu hanya milisi dari kelompok pelajar. Itu saja.

Bagi saya, negara itu, ya, tidak berbeda atau ada persamaan dengan Pakistan, yaitu sama-sama muslim. Tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya bahwa di sana ada patung Budha yang sangat besar, di Bamiyan, yang dihancurkan oleh Taliban. Bahkan saya tidak pernah menyangka bahwa di sana, di Afghanistan yang muslim, ada ladang opium yang besar yang memasok ke banyak negara, bahkan sangat mungkin hingga ke Indonesia.

 Setelah dihancurkan oleh Taliban

Sebelum dihancurkan oleh Taliban




Dan, saya juga tidak tahu bahwa orang-orang Afghanishtan memiliki mata yang sangat berkilau








Perang yang dikomandoi oleh AS telah memperpanjang status Afghanistan sebagai medan perang. Negara ini adalah sebuah negara yang telah menjadi ajang peperangan sebelum Abad Pertengahan. Iskandar Zulkarnaen dan Jengis Khan adalah di antara mereka di masa lalu yang pernah berperang di sini. Sejak tahun 1970 hingga sekarang, Afghanistan bukan lagi sebuah negara, namun adalah sasana pelatihan militer! Kawah Chandradimuka bagi prajurit dari berbagai penjuru dunia. Berseragam... 



maupun tidak.



Ketika mengamati foto di bawah ini, saya sadar bahwa buku yang sedang dibaca oleh prajurit tersebut adalah buku yang ditulis oleh Khaled Hosseini, penulis The Kite Runner.




Ketika membaca The Kite Runner, saya baru mengetahui bahwa Afghanistan adalah Tanah orang Pashtun (catatan: pashtun adalah ejaan lain dari afghan dan -istan artinya adalah tanah, sehingga Afghanistan adalah tanah orang Pashtun--silakan periksa tautan ke Wikipedia di bawah) dan yang lain adalah warga kelas dua. Amir adalah anak dari seorang Pashtun sedangkan Hassan adalah (setengah) Hazara, suku kecil, minoritas, dan (harus) berada di bawah Pashtun. Wikipedia menunjukkan bahwa Hazara adalah suku ketiga terbesar (9%) di Afghanistan sementara Pashtun 42%, jauh di atas Tajik (27%) di tempat kedua.


Persahabatan Amir dan Hassan adalah persahabatan murni anak-anak. Mereka tidak pernah tahu bahwa mereka adalah dari dua suku yang berbeda dan, oleh sebab itu, harus ada di derajat kemulian yang berbeda. Orang-orang dewasalah yang memberi makna terhadap perbedaan etnis tersebut. Dan sebagian dari mereka menekankan kepada anak-anak mereka hal tersebut. Seperti Assef yang bangga dengan apa yang telah dilakukan oleh Hitler.

Saya membayangkan, berandai-andai, jika saja Soviet tidak datang, Taliban tidak menang, AS tidak menyerbu, apakah Afghanistan akan pernah benar-benar damai? Jika akhirnya AS telah keluar dari Afghanistan, akankah Tanah Pashtun akan bisa ditinggali oleh semua etnis di Afghanistan?

Saya yakin bahwa Khaled Hosseini juga ragu dengan jawaban dari pertanyaan itu. Ia menunjukkan sendiri bahwa perbedaan itu telah ada dan sangat kuat mengakar di tengah masyarakat. Contohnya, ketika Amir hendak mencari Hassan yang belum kembali dari mengejar layang-layang, ia bertanya kepada orang di pasar bahwa ia mencari seorang Hazara. Ia tidak mencari seorang anak kecil yang berlari mengejar layangan karena sore itu pasti banyak yang mengejar layang-layang terakhir itu. Ia tidak mencari temannya. Dan dari semua yang berlari itu, mungkin hanya sedikit (atau mungkin hanya Hassan seorang) yang berasal dari suku Hazara. Kepengecutan Amir membela Hassan sore itu dari kebejatan Assef adalah jawaban atas pertanyaan itu. Pashtun tidak akan membela Hazara.

Empatpuluh tahun dalam peperangan yang tanpa jeda bisa dipastikan bahwa tidak ada lagi satupun dari golongan dewasa Afghanistan yang pernah mencium semerbak bau kedamaian. Saya tidak tahu kapan bayi pertama akan lahir di Afghanistan tanpa mendengar peluru berdesing, tanpa mencium bau mesiu, tanpa peduli ia Pashtun atau tidak.

Sudah sedemikian lamakah Tuhan memalingkan kepala dari Afghanistan dan meninggalkannya dalam peperangan?


Sleman, 28 Februari 2011

Sumber foto Patung Budha: http://sandalkumu.com/?p=521
Sumber foto: http://www.boston.com/bigpicture
Sumber sejarah Afghanistan yang lain: http://en.wikipedia.org/wiki/Afghanistan

Catatan dari penulis:
Jika anda sudah menonton filmnya, sebaiknya baca sendiri bukunya. Ada banyak penjelasan yang hilang di sana dan itu sangat penting untuk menjelaskan mengapa Ali dan Hassan harus difitnah oleh Amir. 
posted by Rahmat Febrianto at 3:43 PM

6 Comments:

Buku wajib dikoleksi. Dulu awal baca bukunya minjam. Setelah baca, langsung ke gramedia. Beli untuk koleksi pribadi. Udah lama banget padahal bacanya. Waktu hamil zora kalau gak salah. Mungkin pengaruh hormon juga sampai tersedak-sedak. :))

4:37 PM  

Mengapa tidak menulis resensinya buk dari dulu? Atau setidaknya beritahu saya tentang buku itu.

7:39 PM  

Soalnya dulu blum nge- blog.... ;p

7:57 PM  

Saya malah membaca berita yang sebaliknya. Benda-benda bersejarah seperti patung Buddha, mungkin saja Amerika yang menghancurkannya, dengan tujuan mendapat dukungan internasional terhadap kampanye perangnya di Afghanistan tsb. Mengenai ladang opium? Malah Taliban yang menghancurkannya dulu. Taliban justru memerangi maksiat/opium ini. Yang membuat ladang opium adalah orang-orang kafir afghan, mantan komunis dulu. Jadi dengan kampanye perang Amerika, tuduhan-tuduhan keji dengan mudahnya dilemparkan terhadap Taliban. Ingat, waktu Amerika dan sekutu menyerang Irak, banyak bom dijatuhkan secara membabi-buta oleh Amerika dan sekutunya sehingga menghancurkan banyak sekali situs kuno yang bersejarah.

Wallahu'alam.

Badrul Mustafa (Univ Andalas)

4:23 PM  

Saya juga mengetahui afganistan dari film Rambo III :), dimana amerika membantu pejuang afgan dari USSR. Sekarang malah Amerika yang menjajah afganistan, perang yang dimulai ketika taliban menang pemilu.
Afganistan mungkin tempat latihan perang. Pemuda di barat (spt Inggris) belum boleh main gim perang 'call of duty' kalau belum 18tahun, tapi kalau sudah umur 16 sudah bisa bertempur di afganistan. ngacak2 negeri orang dan pulang bisa menjadi Hero.
Saya belum baca buku kite runner. Sepertinya sangat bagus.

4:53 PM  

Izinkan saya turut berbagi pendapat.

Sungguh mengagumkan melihat apa yang bisa dilakukan sebuah karya sastra kepada pembacanya: membuka wawasan, mengubah pikiran, dan hal-hal lain semacam itu. Namun ada satu hal yang harus kita sadari bersama, sebuah
karya sastra tidak pernah lepas dari ideologi penulisnya. Pak Rahmat
mungkin telah terpesona dengan narasi Khaled Hosseini dalam novel ini. Dan akhirnya bertanya-tanya, kenapa si Pashtun tidak melakukan apa-apa untuk membela si Hazara temannya? Apakah sahabat sejati itu nyata adanya, atau hanya impian di siang hari saja? Dan akhirnya, muncul pertanyaan, apa orang Afghan memang begitu sifatnya? Pantas saja Allah menghukum mereka dengan kekacauan sepanjang masa.

Namun saya khawatir, kita semua akhirnya digiring pada kesimpulan (yang belum tentu benar) bahwa perang dan carut-marut di Afghanistan saat ini disebabkan oleh orang-orang Afghanistan sendiri yang tidak pernah mau bersahabat satu sama lain. Kekhawatiran saya didasari pada fakta bahwa Khaled Hosseini sendiri menghabiskan sebagian besar hidupnya di Amerika. Lahir tahun 1965 di Kabul, sejak tahun 1976 ia dan keluarganya tidak lagi
tinggal di Afghanistan. Bagaimana kita bisa menerima narasinya tentang persahabatan dua suku, jika ia sendiri hidup ditengah masyarakat Amerika?
Mungkin berita tentang Afghan selama puluhan tahun ia dapatkan hanya dari media-media Amerika (yang objektifitasnya, dalam hal ini, patut dipertanyakan). Tentang patung buddha dan ladang opium itu saja, misalnya, Pak Badrul telah menyampaikan pendapat yang berbeda dari. Bisa saja Amerika yang membombardir, kemudian menjadikan kekacauan pasca bombardir itu sbg alasan untuk mengirim pasukan ke Afghanistan.

Untuk ibu Elli, tentang A Thousand Splendid Suns. Novel ini memang menarik. Tapi satu lagi, tidak terlepas dari ideologi si pengarang. Saya dan teman-teman di Sastra 'mencurigai' adanya ideologi mysoginy (a hatred of woman) dalam diri Hosseini. Coba ibu perhatikan nasib semua perempuan dalam novel ini: menderita setelah melakukan dosa besar, apakah itu zina atau membunuh. Sementara zina adalah dosa yang dilakukan oleh dua orang
(pezina perempuan dan pezina laki-laki), tapi Hosseini hanya menghukum yang perempuan saja, sementara yang laki-laki melenggang bebas (dari hukuman sipengarang).

Jadi Pak Rahmat, saya lebih suka mengatakan 'The Kite Runner: membaca pikiran Hosseini tentang Afghanistan' daripada 'The Kite Runner: membaca Afghanistan'

Demikian dari saya, Mohon maaf jika kepanjangan.

Salam,
Marliza Yeni, Univ Andalas

10:33 PM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home