Mata dan telinga

Tuesday, October 05, 2010

Tubuh, bayangan, dan sang waktu

Pagi hari:

Aku bertanya kepada bapakku,
"Mengapa bayanganku begitu panjang dan jauh, Bapak?"
Bapakku menjawab,

"Karena matahari masih ada di belakangmu.
Bayanganmu bukan jauh, Nak.
Ia panjang sehingga terlihat jauh.
Mari kita tetap di sini sejenak lebih lama.
Perlahan kau akan melihat hal berbeda."
"Benar, Bapak. Ia memendek."
"Bukan memendek. Ia menjadi lebih dekat dan lebih terang."
"Iya, Bapak." 
"Bapak, apakah ia akan semakin pendek dan terang jika kita menunggu lebih siang lagi?"

"Bukan memendek, Nak, tapi lebih dekat.
Dan, ya, akan lebih terang.

"Apakah kau hendak di sini lebih lama lagi?"
"Iya, Bapak, aku ingin tahu seperti apa bayanganku jika hari makin siang."

Ketika matahari telah tegak di atas kami:

"Sekarang, apa yang kau lihat, Nak?"
"Bayanganku memendek, Bapak.
Bahkan aku bisa menginjak bayangan kepalaku.
Padahal tadi pagi ia begitu jauh."

"Mari kita lihat apakah kamu akan tetap bisa menggapai bayangan kepalamu, Nak".

"Mengapa begitu, Bapak?"

"Kita lihat saja, Nak. Sebentar lagi".
"Bapak, mengapa sekarang bayanganku sekarang tidak lagi di depan. Ia sekarang ada di belakangku."
"Tapi, kamu masih bisa menjangkaunya, Nak?
Balikkan badanmu!"
"Masih bisa, Bapak.
Namun, coba lihat ini.
Bayanganku menjauh, Pak."
"Benar. Ia sekarang menjauh.
Coba amati lebih lama lagi, Nak.
Kita lihat apa yang akan terjadi."

"Hmm... sepertinya kita akan tetap di sini hingga malam menjelang."
"Bapak, aku mengerti sekarang.
Bayanganku semakin menjauh ketika matahari makin ke Barat."
"Lalu?"
"Ia menjauh, Pak.
Bayangan diriku menjauh dan menjadi lebih kabur daripada tadi siang."
"Ada lagi?"
"Ya.
Walaupun aku menghadapkan wajahku ke arahnya dan berusaha menggapai ujung bayanganku, ia semakin tak teraih, Pak."
"Jadi?"

"Aku tidak akan pernah lagi bisa berharap ia mendekat seperti tadi pagi, Bapak.
Sebentar lagi mungkin aku tidak akan bisa melihatnya lagi."
"Nah, sekarang aku sudah tidak bisa melihat lagi, Pak.
Matahari sepertinya sudah terbenam.
Ya, ia telah terbenam.
Di belakang kita."

"Adakah yang lain yang kau rasakan, Nak?"
"Ya.
Ketika pagi, udara dingin, sejuk, dan kemudian menghangat.
Di siang hari, panas terik.
Dan di sore hari, suasana mulai teduh namun masih menyisakan hangat."

"Sekarang?"

"Kehangatan siang tadi masih ada, Pak. Namun, sebentar lagi tentu akan dingin."

"Ayo, kalau begitu kita pulang."

Sumber gambar

5 Oktober 2010
Pulau Lombok dan Sleman

Perbaruan 14 Desember 2012
Apakah kamu tidak memerhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana DIA memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau DIA menghendaki niscaya DIA menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian KAMI jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,
kemudian KAMI menarik bayang-bayang itu kepada KAMI dengan tarikan yang perlahan-lahan.
(Al-Furqan: 45-46)
posted by Rahmat Febrianto at 8:15 AM

2 Comments:

Keren pak :)
terkadang kita lupa Kekuasaan Tuhan atas semua yang terjadi... dan pak Rahmat mengingatkan dan memberikan pelajaran Sejak dini :)

9:38 PM  

Ini dia orang yang mencorat-coret penuh makna. Thx Fik.

9:07 AM  

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home