Mata dan telinga

Sunday, June 29, 2008

Si Kancil, Si Penjahat

Si kancil adalah binatang yang cerdik? Memang demikian cerita yang kita terima tentang binatang ini.

Kancil binatang yang nakal? Yah, memang demikian. Kenakalan si kancil sama dengan kenakalan anak kecil. Bukan kejahatan. Sehingga, kecerdikan si kancil bisa disamakan dengan kenakalan, belaka. Tidak lebih.

Sehingga, berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus tahun dongeng tentang si kancil yang cerdik dan nakal ini dituturkan secara berantai dari orang tua ke anak ke cucu ke cicit: kamu boleh nakal seperti kancil yang cerdik.

Tapi, mari kita lihat dari sisi yang berlawanan tentang perangai si kancil ini. Di dalam lagu-dongeng tentangnya kita diberitahu bahwa ia adalah binatang yang suka mencuri mentimun hasil kebun petani (perbuatan
mencarinya ini kita sebut kenakalan: “Si kancil anak nakal, suka mencuri mentimun”). Lalu ketika ia dijebak oleh pak tani yang kecurian dan terperangkap di dalam perangkap pak tani, si kancil berpura-pura mati. Ketika petani membuka pintu kerangkeng perangkap untuk mengubur si kancil, binatang itu kemudian lari menyelamatkan diri, meninggalkan pak tani yang kecele tertipu (di titik ini kita menyebut perilaku si kancil sebagai kecerdikan).

Sering kali moral dari cerita tersebut yang dituturkan di dalam masyarakat adalah sisi kecerdikan kancil memperdaya pak tani. Bukan berarti bahwa kenakalan si kancil tidak dijadikan hikmah. Ketika pertama diceritakan tentang kancil ini di taman kanak-kanak atau sekolah dasar, guru tetap mengajarkan kepada kita agar tidak meniru kenakalan si kancil.

Hanya saja sayangnya, kita lebih mengasosiasikan “kancil” sebagai kecerdikan. Mengapa kita tidak mengatakan bahwa kancil tersebut jahat, alih-alih nakal? Mengapa kita lebih suka menghubungkan perilaku “pura-pura matinya” dengan kecerdikan dan terpisah sama-sekali dengan kejahatannya? Bukankah tindakan berpura-pura mati itu bagian dari kejahatannya, sama seperti penjahat-penjahat yang suka berpura-pura berkelakuan baik agar tidak tertangkap?

Seorang teman berpendapat bahwa cerita tentang kecerdikan si kancil adalah bagian dari usaha kita untuk menyembunyikan sifat buruk masyarakat kita. Kecerdikan si kancil yang jahat (sekali lagi, bukan kenakalan!) dijadikan masyarakat untuk menjustifikasi tipa-tipu yang menguntungkan diri. Alhasil, kita tidak terlalu canggung berhadapan dengan kejahatan yang cerdik memperdaya karena itu adalah kecerdikan a la kancil. Kejahatan dengan demikian hanya milik pembunuh dan perampok, tidak milik politisi, tidak menjadi sifat pejabat, tidak melekat pada dosen, tidak pada guru, tidak pada pak haji.



Pulau Lombok, Juni 2008
posted by Rahmat Febrianto at 5:53 AM

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home