Mata dan telinga

Monday, January 09, 2012

Hidup adalah sebuah pilihan? Keliru!


Anda pasti sudah pernah membaca kalimat tersebut: Hidup adalah sebuah pilihan. Sebuah kalimat yang sangat-sangat keliru dan dari dulu saya sudah gatal ingin mengatakan bahwa itu keliru. Mengapa?

Jika anda diberi sesuatu untuk dipilih, tersirat bahwa saat itu ada pilihan yang lain. Contoh, ketika kecil anda diajak ke toko untuk membeli baju untuk berlebaran. Jika orang tua anda mengatakan, "Pilihlah baju untukmu, Nak," maka artinya anda harus memilih satu atau dua baju di antara sekian banyak pilihan yang ada di toko. Contoh lain, suatu kali mungkin anda hendak masuk ke perguruan tinggi, maka saat itu anda pasti memilih salah satu--walau dalam praktiknya bisa lebih dari beberapa pilihan--dari sekian banyak pilihan yang ada.

Nah, kembali ke kalimat tersebut. Jika kehidupan adalah sebuah pilihan, maka ada opsi lain, dong, kalau begitu? Apakah opsi itu? Menurut hemat saya, jika opsi yang pertama adalah hidup, maka opsi yang lain, dan satu-satunya opsi lain yang tersedia adalah mati.

Opss...! Tunggu dulu. Jika anda mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, maka anda juga boleh memilih mati sebagai sebuah pilihan? Itukah yang anda maksudkan dengan hidup sebagai sebuah pilihan? Sama, kan, dengan jika di toko pakaian hanya tersedia dua merek baju, katakan merek ABC dan merek XYZ, maka jika anda memilih ABC, opsi yang tidak anda pilih adalah XYZ, kan? Bolehkah anda mengganti pilihan, dari ABC, ke XYZ? Boleh saja.

Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 8:50 PM 0 comments

Thursday, December 29, 2011

Keluh!


Dua puluh tahun yang lalu, butuh 10 hari untuk mengirim dan menerima balasan surat kilat khusus--Keluh!
Hari ini, butuh tidak lebih semenit untuk mendapatkan balasan SMS--Keluh!

Lima belas tahun yang lalu kadang-kadang harus mengantre lama untuk bisa mengakses internet--Keluh!
Hari ini tinggal pencet ponsel atau komputer sendiri--Keluh!

Sepuluh tahun yang lalu anda harus membayar Rp.3000 per jam untuk mengakses internet--Keluh!
Hari ini anda cukup membayar Rp.5000 untuk mendapatkan akses 24 jam penuh--Keluh!


Dua puluh tahun yang lalu anda harus bergantian dengan anggota keluarga membaca selembar koran--Keluh!
Hari ini dua puluh koran mengantre di linimasa twitter anda--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu anda harus punya paman yang banyak untuk tahu banyak--Keluh!
Hari ini anda cukup punya satu paman untuk menunjuki anda tempat mencarinya--Keluh!


Dua puluh tahun yang lalu anda harus ke wartel jam 10 malam untuk bisa menelpon SLJJ yang murah--Keluh!
Hari ini dengan Rp.300 hingga Rp.3000 anda sudah bicara bicara puas dengan ibu anda di rumah--Keluh!

Lima belas tahun yang lalu anda ngiler melihat orang menggenggam ponsel--Keluh!
Hari ini anda punya tiga nomor ponsel aktif--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu anda harus menunggu rumah kosong untuk bisa mencuri-curi telpon--Keluh!
Hari ini setiap anggota keluarga punya saluran telpon pribadi--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu gemerisik di telpon dianggap biasa--Keluh!
Hari ini kehilangan sinyal semenit bisa membuat sumpah serapah keluar--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu nonton dua saluran tv sudah luar biasa--Keluh!
Hari ini dua puluh kanal masih kurang banyak--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu dari Padang ke Jakarta lebih dari 30 jam diguncang-guncang bus--Keluh!
Hari ini anda bisa hanya akan makan siang di Jakarta untuk kembali istirahat di Padang--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu anda harus beli kamera dan film untuk bisa memotret--Keluh!
Hari ini anda cukup punya ponsel--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu mengirim telegraf masih canggih, walau telah ada sejak zaman koboi--Keluh!
Sepuluh tahun lalu mengirim telegraf lewat ponsel sudah canggih--Keluh!
Hari ini video dan suara bisa dikirim bersamaan--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu anda harus menabung sebulan untuk membeli satu kaset penyanyi kesayangan--Keluh!
Hari ini anda tidak perlu beli satupun asal punya akses ke internet--Keluh!

Sepuluh tahun yang lalu pita kaset yang kusut bisa membuat anda mencak-mencak--Keluh!
Hari ini anda tinggal unduh kembali--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu anda harus keluar masuk pasar barang bekas untuk mencari kliping berita untuk tugas sekolah--Keluh!
Hari ini tinggal ketik kata kunci di portal pencarian--Keluh!

Dua puluh tahun yang lalu mengeluh!
Sepuluh tahun yang lalu mengeluh!
Kemaren mengeluh!
Hari ini masih mengeluh!
Besok tetap akan mengeluh!

Keluh!


Sleman, 29 Desember 2011

Sumber gambar: http://julieamarxhausen.wordpress.com/2011/06/15/complaining-a-terrible-waste-and-very-contagious/
posted by Rahmat Febrianto at 8:04 PM 0 comments

Saturday, December 17, 2011

Tua


Tua itu adalah ketika sesal sudah mulai datang
Dewasa adalah tentang makna
Tua bukan dewasa
Tua adalah kesadaran akan perjalanan
Dewasa adalah kesadaran akan pilihan-pilihan

Ketika tua, masa 10, 20, atau 30 tahun bagai kemaren yang jauh
"Ah...bagai baru kemaren"
Ketika dewasa, 10, 20, atau 30 tahun adalah dulu yang jauh
"Dulu! Tidak lagi."
Tak perlu tua untuk menjadi dewasa
"Lautan budi, tepian ilmu."
Namun, tak dewasa bukan berarti tak tua
"Tua-bangka tak tahu diri."

****

Sajak Seorang Tua Untuk Istrinya
(WS Rendra, 1972)

Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 9:23 AM 2 comments

Wednesday, December 07, 2011

Tuhan Bertindak dan Anda Hanya Harus Paham

Di saat wisuda S1, di tengah lagu Padamu Negeri, saya menyadari jalan hidup saya. Di tahun yang sama dengan kelulusan itu saya melamar menjadi dosen di universitas saya. Walau itu bukan satu-satunya lamaran yang saya buat, namun itu satu-satunya panggilan yang saya penuhi.

Singkat cerita, dua tahun kemudian, satu di antara kesibukan saya adalah mencari beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. TOEFL mumpuni dan teratas dari semua dosen yang ada di Fakultas. Saat itu saya sangat yakin bahwa waktu hanyalah satu-satunya pembatas antara saya dengan sekolah manapun di luar sana. Kemudian, walau memang saya tidak pernah lulus beasiswa G-to-G Australia, Perancis, maupun AS, namun selembar surat penerimaan dari Birmingham telah ada di tangan saya di awal tahun 2000.

Mereka memberi waktu hingga Agustus bagi saya untuk melunasi SPP. Dan hingga batas waktu itu berlalu, saya tidak bisa mendapatkan satupun dana. Ada paket beasiswa yang bisa saya dapatkan sebenarnya, namun saya harus bisa mendapatkan satu surat lagi: penerimaan langsung ke S3.

Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 10:50 PM 0 comments

Sunday, October 09, 2011

...membaca saja aku sulit...

Setelah selesai menulis tentang Erdos-Bacon Number di artikel yang lalu, saya mencoba mencari tahu apakah di kalangan dosen di Indonesia ada yang punya Erdos Number atau tidak. Caranya, pertama saya tanyakan di grup di FB dan satu lagi saya tanyakan di mailinglist kampus saya. Tentu saja, ketika bertanya saya sampaikan sedikit apa yang saya tanyakan serta saya lengkapi dengan alamat artikel saya tersebut. Tujuan saya, ya, agar kalau ada yang belum tahu tentang Erdos Number dan tidak sadar bahwa ia mungkin saja punya Erdos Number sendiri jadi sadar.

Di artikel yang lalu tersebut, saya berusaha sebaik mungkin dan seringkas mungkin menjelaskan apa itu Erdos dan Bacon Number. Saya sendiri sangat takut keliru, terutama dalam memahami Erdos Number. Salah satu yang saya khawatirkan tersebut adalah bahwa ternyata Erdos Number itu tidak sesederhana pendeskripsian seberapa "jauh" jarak seseorang dari Paul Erdos. Misalnya, saya sangat berhati-hati dan takut kalau-kalau Erdos Number itu juga berarti sebuah koefisien atau solusi tertentu atau rumusan tertentu di dalam ilmu matematika, bukan seperti yang saya tulis di artikel tersebut.

Namun, setelah berkutat seharian menulis artikel tersebut, klik sana-sini, baca atas-bawah lengkap-lengkap, saya akhirnya yakin bahwa pemahaman saya tentang Erdos Number sudah benar. Lalu, artikel saya poskan dan di akhir hari saya tanyakan kepada orang-orang apakah ia memiliki Erdos Number atau tidak.

Nah, dua atau tiga hari setelah saya poskan tulisan tersebut datang balasan atas surel saya di mailinglist di kampus saya. Dari seseorang dosen matematika.


Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 12:35 PM 0 comments

Sunday, October 02, 2011

Paul Erdos, Kevin Bacon, dan Erdos-Bacon Number

Bagi saya, dan mungkin bagi sebagian orang yang lain, lelaki tua ini mungkin bukan wajah yang familiar, bukan?



Bagaimana dengan foto yang kedua ini? Ah, mungkin anda bisa menebaknya langsung: Kevin Bacon.


Dan, yang terakhir, anda yang telah menonton film Thor akan langsung mengenali wajah pemeran Jane Foster: Natalie Portman ini.


Namun, mungkin sangat sedikit yang sadar bahwa Natalie Portman adalah satu dari (SANGAT) sedikit aktris yang terhubung dengan Paul Erdos dan Kevin Bacon.

Mengapa demikian? Ini sedikit ceritanya, yang secara kebetulan saya dapatkan dari berbagai sumber.

Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 9:07 AM 2 comments

Saturday, September 24, 2011

Dunia dan dominasi pengguna tangan kanan

Manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam menggunakan tangan kiri atau kanannya. Sebagian besar manusia (70-90%) adalah pengguna tangan kanan. Sementara itu, pengguna tangan kiri adalah antara 8-15%. Jenis yang ketiga disebut dengan mixed-handheadedness adalah orang yang memiliki kecakapan yang berbeda untuk tangan yang berbeda. Misalnya, untuk menulis ia lebih senang menggunakan tangan kiri sementara untuk melempar bola ia akan menggunakan tangan kanannya. Dan jenis yang keempat disebut dengan ambidexterity, yaitu orang yang bisa menggunakan kedua belah tangannya untuk melakukan tugas-tugas yang sama dengan sama baiknya. Misalnya, ketika menulis dengan pena, ia bisa menulis sama rapinya jika ia menggunakan tangan kanan maupun kiri.

Dengan dominasi yang tinggi tersebut, yang konon telah terjadi sejak 500.000 tahun yang lalu, maka tidak heran jika sebagian besar benda-benda kebutuhan manusia di dunia dibuat dengan asumsi penggunanya adalah orang yang dengan dominan menggunakan tangan kanan. Daftar di bawah ini tidak lengkap, namun menunjukkan sebagian dari benda-benda tersebut. Dan daftar ini akan terus tumbuh.





Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 8:35 AM 0 comments

Sunday, July 17, 2011

Buku, apakah ceritamu?

Jika di tangan anda saat ini ada sebuah buku, mungkin sekali buku itu adalah buku teks sekolah atau kuliah anda. Mungkin pula adalah buku tentang cara bertani, beternak, merangkai bunga, atau memasak. Mungkin pula buku tersebut adalah sebuah novel, komik, atau roman seharga picis. Mungkin pula yang di tangan anda adalah buku tentang sejarah dunia, negara anda, kampung anda, atau biografi seseorang yang sangat sukses, berjasa, fenomenal atau jahat di masa lalu. Buku yang saat ini ada di tangan anda juga mungkin adalah buku tentang cara merangkai dan memperbaiki komputer atau ponsel, memilih investasi di pasar modal, atau teknik menulis yang baik dan menjual.

Konon di suatu masa seorang raja yang sangat berkuasa meminta kepada para cendekiawan di kerajaannya untuk menuliskan sejarah manusia, atau mungkin kerajaannya. Lalu, setelah beberapa tahun, sejarah itu selesai ditulis. Raja terkejut dan kaget melihat buku-buku yang dihaturkan ke hadapannya yang dibawa dengan kereta-kereta yang ditarik oleh kuda-kuda.

Ia kemudian bertanya tentang apakah buku-buku yang dibawa kepadanya. Para cendekiawan itu menjawab bahwa itu adalah seluruh sejarah yang ada.





Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 12:17 PM 0 comments

Monday, July 11, 2011

Tiga puluh tahun yang lalu

Ya, kurang-lebih pekan-pekan ini, tiga puluh tahun (sekitar 13 Juli 1981 kalau perhitungan di sini benar) yang lalu adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di sekolah formal, di sekolah dasar. Kenangan akan saat-saat pertama datang ke sekolah itu masih saya ingat. Saya masih ingat bagaimana saya ragu-ragu masuk ke dalam "gerbang" sekolah--sebuah pintu di antara barisan seng yang dipakukan ke tiang-tiang kayu. Takut dengan suasana baru yang jauh dari "lingkaran kenyamanan" saya sebelumnya. Saya juga masih ingat bahwa saat itu pula seorang guru datang "menjemput" saya, menghapus keragu-raguan itu. Mungkin karena suasana di hari pertama itulah makanya kenangan hari pertama itu masih sangat jelas. (Cerita itu ada di artikel ini.)

Semua yang telah beruntung--yang memang harus beruntung untuk bisa bersekolah di Indonesia bahkan hingga hari ini--mendapatkan pendidikan dasar, SD adalah ibarat sebuah peristiwa terbesar selain pernikahan. Di sana, di SD-lah, pertama kali kita sesungguhnya mengerti bahwa bunyi bisa dilukis dalam rangkaian beberapa simbol. Di sana pula kita pertama kali tahu bahwa setiap benda bisa diwakili dengan sebuah sebuah gundal dan gundal-gundal tersebut akan menunjukkan jumlah benda-benda tersebut.

Tidak hanya huruf-huruf yang kemudian menjadi kata, frasa, kalimat; dan gundal yang menjadi angka; di SD pula setiap bunyi, warna, rasa, dan bau memiliki nama, makna, dan mengetahuinya semua membuat kita menjadi manusia.


Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 9:49 AM 1 comments

Sunday, June 12, 2011

Rahasia kesuksesan orang Minangkabau

Bagi anda yang pernah singgah di berbagai kota di Indonesia, cobalah cari di mana orang Minang (yang secara keliru direduksi menjadi "orang Padang" saja) tidak bisa ditemukan. Setidaknya, carilah di sudut jalan mana di sebuah kota di Indonesia di mana anda tidak dapat menemukan rumah makan Padang.

Saya yakin tidak akan bisa karena sepanjang ada jalan yang bisa bisa dilalui pedati, di sana akan ada orang Minang membuka warung nasinya.

Pertanyaannya, mengapa orang Minang begitu jauh meninggalkan kampung halaman mereka?


Karatau madang di hulu
Babuah, babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah baguno balun


Read more »
posted by Rahmat Febrianto at 9:30 AM 5 comments