Mata dan telinga

Sunday, February 07, 2010

Alasan mengapa umat muslim tidak membalas

Semalam saya menemukan kembali sebuah link ke sebuah blog yang membuat sakit hati kami para muslim. Blog itu http://beritamuslim.wordpress.com dengan judul blog "Berita Muslim Sahih". Karena penasaran saya datang ke sana. Dan yang saya temukan persis dengan apa yang saya kira akan saya temukan. Tidak jauh dari apa yang dulu ditampilkan di http://lapotuak.wordpress.com, yaitu menjelek-jelekkan Islam, terutama Rasulullah Muhammad SAW. Dengan membaca cepat saya juga tahu bahwa isinya sama dengan mailing list atau situs diskusi lain di internet yang lain. Sampah dan sumpah serapah.

Jika anda menyukai seseorang, yang walau tidak pernah anda temui, hanya anda lihat di layar kaca misalnya, sangat menyebalkan jika ada orang lain yang membicarakan hal-hal buruk tentang orang yang anda sukai tersebut. Masalah agama, apalagi.

Dulu saya merasa geram dan terpancing untuk membalas dengan cara yang saya bisa. Beberapa orang memang saya lihat membalas semua argumen palsu seperti yang diajukan di blog tadi. Namun, sebagian besar dari umat muslim saya lihat lebih memilih membiarkan penghinaan itu terjadi dan tidak membalas penghinaan kepada nabi atau tuhan orang-orang-yang-nenek-moyangnya-dulu-memeluk-agama-samawi itu.

Hal yang sama juga saya lakukan semalam. Bagi saya, dan mungkin demikian juga bagi muslim yang lain, alasan untuk diam ada beberapa.

Pertama, tidak ada perlunya dan tidak ada hebatnya untuk meyakinkan orang lain dengan cara menghina keyakinan orang lain tersebut. Blog di atas dan blog-blog lain hanya berisi penghinaan terhadap Islam dan Rasulullah. Sepanjang hidup saya, saya tidak pernah menemukan seorang sahabat muslim yang menghina temannya dari agama yang lain untuk menyatakan bahwa ia adalah pemeluk agama yang benar. Sejak awal perbedaan keyakinan dari pemeluk agama samawi ini muncul, tidak pernah muslim berusaha meyakinkan bahwa ia benar dengan cara mencaci-maki pemeluk agama lain. Misalnya, tidak pernah ada pertanyaan menghina dari muslim dari mana kemiripan yang-dikira-anak-tuhan itu dengan Zeus? Saya justru tahu itu dari Dan Brown!

Kedua, umat Muslim lebih berhak terhadap Isa 'alaihissalam, Musa 'alaihissalam, Sulaiman 'alaihissalam, dan Ibrahim 'alaihissalam dibandingkan dengan siapapun yang hidup di dunia hari ini. Ketika agama lain menjadikan Isa tuhan, umat Islam tidak pernah tega menertawakan keyakinan tersebut--justru umat muslim tetap bershalawat kepada beliau: 'alaihissalam.

Mengapa?

Karena umat muslim tahu bahwa beliau adalah manusia yang lahir dari rahim manusia. Walaupun sudah lama heran mengapa Adam 'alaihisalam tidak pernah difitnah sebagai anak tuhan oleh umat agama lain padahal ia tidak berbapak dan beribu, umat Islam tidak pernah mau mempermasalahkan kecacatan keyakinan itu. Jika Adam saja yang "yatim-piatu" adalah manusia dan apalagi hanya Isa yang hanya "yatim".

Mengapa tidak mau menertawakan kedua nabi tersebut? Karena umat Islam lebih berhak terhadap mereka daripada siapapun di muka bumi ini dan karena suatu hari nanti, ketika huru-hara di Padang Mahsyar terjadi, umat manusia akan memohon kepada Nabi Adam 'alaihissalam, bapak para manusia, untuk memohon kepada Allah untuk segera mengakhiri huru-hara itu dan mulai mengadili manusia. Adam 'alaihissalam akan menolak karena ia malu dengan dosanya dulu. Lalu manusia terus berjalan mencari para rasul yang lain meminta agar mereka memohon kepada Allah agar pengadilan segera dibuka. Namun, hingga manusia bertemu dengan Isa 'alaihissalam, beliau pun akan menolak permohonan manusia itu karena ia malu dengan fitnah yang telah diberikan oleh manusia kepadanya sebagai tuhan dan anak tuhan. Ia bahkan tetap menolak untuk itu walau yang memintanya adalah umat muslim yang tidak pernah memfitnahnya. Barulah setelah sampai kepada Muhammad SAW, Rasulullah memberanikan diri meminta kepada Allah untuk memulai pengadilan.

Ketiga, agama adalah masalah hidayah, masalah apakah selubung yang menyongkok hati akan terbuka atau tidak. Saya memiliki seorang teman yang agnostik dan ia mengakui kepada saya tentang keyakinannya itu. Namun, "Mat, saya tahu bahwa tuhan itu ada! Yang saya tidak lakukan adalah memilih satu agama, tidak memilih tuhan yang mana."

Dari pembicaraan kami kemudian di malam itu di sebuah hotel di Palembang akhir tahun 2009, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa memilih satu agamapun karena ia melihat bahwa banyak sekali peperangan yang dibawa oleh agama-agama. Setidaknya itu yang ia lihat terjadi di India dan Pakistan, tanah leluhurnya. Setiap kali peperangan terjadi, mereka berteriak bahwa "tuhan bersama kami".

"Padahal, Mat, manusia ini hanya 0,001% saja berbeda dari manusia yang lain. Jika kamu mengupas kulit tubuhmu dan saya mengupas kulit tubuh saya, maka kita persis sama. Tidak ada lagi kulit putih, hitam, merah, kuning. Di bawah lapisan jangat ini, kita sama putihnya. Bahkan, tanda bahwa kita adalah spesies yang sama adalah kemungkinan kita saling bertukar darah, jantung, mata, hati, dan ginjal ketika yang lain membutuhkan".

"Saya sudah membaca tentang sejarah manusia dan perpindahan manusia yang terjadi mulai dari Afrika ke seluruh dunia. Manusia cerdas itu telah bermigrasi ratusan ribu tahun yang lalu dari Afrika Timur ke seluruh dunia. Dan saya tidak menemukan penjelasan tentang kebenaran sejarah manusia itu di dalam kitab suci manapun", katanya lagi.

Saya ingat tentang sebuah buku, Mapping Human History, yang menjelaskan hal yang sama. Saya tahu bahwa satu hal yang tidak disampaikan kepada saya oleh sahabat saya ini adalah mengapa sebuah kitab suci bisa mengatakan bahwa Adam lahir hanya beberapa ribu tahun yang lalu, sementara salah satu fosil manusia tertua berumur lebih daripada 150 ribu tahun yang lalu. (Perhatikan bahwa Penerbit Serambi melunakkan bahasa-fakta Olson di laman webnya--namun tidak di dalam buku Olson ini--dengan menggunakan ukuran waktu 7500 generasi yang lalu. Jika satu generasi setara 20 tahun, maka 7500 generasi = 150.000 tahun lalu.) Mengapa ada perkataan tuhan yang keliru bin ngawur dengan angka hanya "beberapa ribu tahun"?

Al Qur'an, sama untuk masalah-masalah ilmiah lain, hanya memberikan petunjuk-petunjuk tersirat untuk dipecahkan oleh manusia. Ia, teman saya ini, sepertinya berharap bahwa ia bisa menemukan hal yang seeksplisit itu di dalam Al Qur'an dan ia berharap bisa memverifikasinya dengan temuan manusia.

Sama dengan semua umat Islam yang lain yang tahu dengan fakta ini, saya hanya diam. Saya sadar bahwa kalau sudah di tahap ini, ketiadaan hidayah adalah jawabannya. Karen Armstrong tahu pasti bahwa agama lamanya keliru dan Islam adalah yang benar, namun kepadanya tidak turun hidayah--setidaknya belum hingga terakhir saya baca tentang dirinya. Teman saya ini tahu bahwa jika ia melihat lebih dalam lagi kepada agama ayahnya, maka ia akan tahu kebenaran di sana. Namun, sama dengan Armstrong, hidayah itu bukan lagi urusan saya untuk meyakinkan.

Kembali lagi kepada kediaman umat Islam terhadap penghinaan tersebut.

Kami diam karena tidak ada gunanya bagi kami untuk membalas. Jika kami membalas, maka yang akan dirasakan oleh mereka adalah rasa sakit hati, yang kemudian akan menjauhkan mereka dari peluang hidayah muncul. Siapa yang akan mau bersahabat dengan orang yang telah menghina-hinanya? Siapa yang mau memeluk agama yang telah menghina agamanya juga?

Ini yang tidak dilakukan oleh muslim kepada mereka yang menghina-hina tersebut dan ini yang dilakukan oleh mereka terhadap Islam dan umat muslim mendiamkan saja. Suatu hari jika kebenaran muncul di dunia bagi mereka, maka mereka akan datang. Jika kebenaran itu datang di pintu sebelah sana, maka mereka akan menyesal sendiri. Pintu hanya membuka ke satu arah.

Jika berandai-andai bahwa mereka benar dan Isa adalah anak dari tuhan, apakah orang Islam yang tidak pernah menghina Isa akan dibenci oleh Isa nanti? Apakah anda akan membenci orang yang sama-sekali tidak pernah menggunjingkan anda, walaupun tidak pernah memuji anda? Sebaliknya, jika Islam benar tentang Muhammad SAW, apakah nanti mereka akan dicintai oleh Muhammad SAW?

Blog di atas adalah satu dari entah-berapa situs lain yang berusaha memvisualisasi Rasulullah untuk tujuan penghinaan. Beberapa kali di waktu yang lalu beberapa teman mengajak mengajukan petisi online terhadap, misalnya, Wikipedia yang memuat gambar Rasulullah. Saya tidak berminat untuk bergabung.

Mengapa? Jangan dulu berpikiran negatif.

Setiap kali ada berita bahwa di sana ada gambar Rasulullah atau di situ ada lukisan Rasulullah, seberapapun positif atau seberapapun negatifnya beliau divisualisasi, saya akan mencoba untuk melihat. Bagi saya, seperti juga umat muslim lain, ada kerinduan untuk bisa melihat lebih awal roman muka Rasulullah. Hanya orang-orang yang terpilih sajalah yang akan bisa lebih dahulu melihat wajah beliau di dalam mimpi sebelum nanti di Padang Pengadilan. Bahkan sebagian besar muslim hanya akan bermimpi akan bertemu dengannya namun tidak berhasil menemukannya. Sama dengan yang lain, saya tidak berhasil menemukan Sang Alasan-Allah-dalam-Penciptaan-Langit-dan-Bumi di tengah mimpi saya.

Oleh karena itu jangan salahkan saya yang ingin menemukan wujud lelaki itu di coretan manapun di muka bumi ini dan diam saja jika penggambaran itu tidak menghina seperti yang ada di Wikipedia. Jika foto istri dan anak saya yang ada di dinding di depan meja kerja saya bisa mengobati kerinduan saya, apalagi gambaran tentang Rasulullah yang entah kapan akan bisa saya temui.

Jadi, menurut saya, biarkanlah saja mereka dengan lelah menghina Islam dan Rasulullah. Jika mereka lelah, mereka akan berhenti sendiri. Orang mulia tidak akan menghina orang lain dan hanya yang hina-dina dan bodoh yang sibuk mengatakan orang lain salah. Tidak usah repot-repot membela diri dari orang yang tidak pernah akan bersua dengan satu petunjuk pun di dalam kitab sucinya tentang siapa nama tuhannya dan wujud tuhannya. Usaha terbaik mereka hanya meminjam wajah dewa dari agama lain dan nama tuhan dari agama lain.



Sleman, Februari 2010

P.S. Saya memiliki banyak teman dari agama-agama samawi yang lain dan agama non-samawi. Tulisan ini tidak bermaksud menyerang keyakinan teman-teman saya. Tulisan ini justru untuk teman-teman muslim saya, agar mereka menghemat energi mereka.
posted by Rahmat Febrianto at 7:01 AM 0 comments

Monday, February 01, 2010

Karena ini yang saya bisa!



Hari ini:

Mengapa anda memilih pekerjaan ini?

Dokter: Saya ingin mengabdikan ilmu saya bagi kesehatan bangsa.

Pegawai negeri: Saya ingin berbakti kepada bangsa dan negara.

Wiraswasta: Saya ingin menjadi pengusaha yang sukses.

Pegawai swasta: Gajinya, bo….

Pengemis: Cuma ini yang bisa saya kerjakan.


Limabelas tahun kemudian:

Apa alasan anda tetap pada pekerjaan anda?

Dokter: Memang ini adalah jalan hidup yang saya pilih. Saya senang melayani masyarakat. Anda harus tahu rasa bahagia melihat pasien anda sembuh.

Pegawai negeri: Saya bangga bisa membaktikan hidup saya bagi pembangunan bangsa kita. Setiap saat kebijakan yang kita buat bisa membuat masyarakat menjadi lebih makmur.

Wiraswasta: Usaha saya makin berkembang. Saya bisa memberi kerja bagi lingkungan saya. Anda bisa lihat bahwa karyawan saya bekerja dengan riang

Pegawai swasta: Karir makin baik, bro….

Pengemis: Cuma ini yang bisa saya kerjakan.

Tigapuluh tahun kemudian

Setelah tigapuluh tahun, apa alasan anda tetap pada pekerjaan anda?

Dokter: Coba anda pikir. Saya lulusan fakultas kedokteran. Memangnya anda pikir saya akan ke mana? Memang saya bisa membantu masyarakat. Namun, setelah saya pikir-pikir, saya tetap melakukan pekerjaan ini, ya, karena memang cuma ini yang bisa saya lakukan.

Pegawai negeri: Anda pikir mencari kerja saat itu mudah? Saya sudah pernah ditempatkan di kantor lurah di pelosok, pernah di kantor walikota yang mewah. Saya pernah hanya mengantar surat antar kantor hingga sekarang bisa duduk di biro ini. Anda bertanya saya mau ke mana? Memang ini yang bisa saya lakukan.

Wiraswasta: Tigapuluh tahun jatuh-bangun di bisnis ini membuat saya makin tahu dengan seluk-beluknya. Saya tahu bagaimana mengelola uang, mengelola karyawan, mengelola pelanggan. Apakah anda pikir saya akan beralih ke pekerjaan yang lain? Di sini keahlian saya. Ini yang bisa saya lakukan!

Pegawai swasta: Saya memulai karir di sini sebagai akuntan. Kemudian saya diangkat menjadi penyelia. Tidak hanya di kantor pusat, saya telah berkeliling di berbagai kantor cabang hingga sekarang menjadi manajer keuangan. Mengapa saya masih di sini? Karena memang di sini keahlian saya.

Pengemis: Memang saya bisa apa lagi? Saya cuma bisa ini!


Sleman, Februari 2010

(Gambar-gambar dari www.boston.com/bigpicture)


posted by Rahmat Febrianto at 5:46 PM 0 comments

Monday, January 25, 2010

Puisi untuk si Buyung

Buyung,
Aku ingin kau mendengar bisikanku: Tidurlah yang pulas, biarkan hatimu tetap merindu karena di sana ada aku, ada Ibumu.

Tahukah engkau, Buyung, betapa berbedanya duniaku ketika engkau pertama kali menangis di telingaku?
Tahukah engkau juga, Buyung, betapa aku menjadi ayah ketika azanku engkau simak dengan khusyuk.
Dan tahukah engkau, Buyung, betapa aku lintuh ketika engkau mengucapkan: Pak! Bapak…! ketika siang itu engkau 'ku pangku.
Engkau harus tahu Buyung bahwa aku akan tetap ingat tatap mata bulatmu bertanya siang itu: Mengapa tinggalkan ‘ku?

Buyung,
Jangan kau mengira kala kau sendiri menendang-nendang bola itu aku tak ingin membiarkan peluh membasuh punggung kita.
Jangan kau mengira kala kau menyandarkan dirimu di sepedamu aku tak ingin kita meracaknya sekadar mengantarmu melihat pipit bermain di sawah.
Jangan kau mengira kala kau haus di malam hari aku tak ingin mengusap mataku, menegakkan badan walau letih.
Jangan kau mengira kala kau mendengar derum motor di pagar aku tak ingin wajahku yang melongok melihat tanganmu menggapai.

Kala kau merindu, Buyung, kala itu aku terampas.
Kala kau merindu, Buyung, kala itu aku berharap bumi terlipat, lautan mengering, selat mendangkal.

Suatu saat, Buyung, ketika sebentuk bunyi bisa kau gambar, kala itu kau akan tahu mengapa rindumu menjadi rinduku dan rinduku adalah rindumu.


Sleman, Januari 2010
posted by Rahmat Febrianto at 11:13 PM 0 comments